Revolusi Mesir Merembet ke Aljazair!

Ratusan orang ditahan ketika 30.000 polisi antihuru-hara berusaha membubarkan aksi massa yang diilhami kejatuhan Husni Mubarak

Daily Mail Reporter
updated teakhir pukul 12:24 siang, 13 Februari 2011

  • Diperkirakan jumlah polisi yang dikerahkan tiga kali lebih banyak dari demonstran
  • Aktifis HAM mengatakan lebih dari 400 orang ditahan
  • Pemerintah menurunkan harga-harga dan berjanji mengakhiri undang-undang darurat untuk meredakan kemarahan demonstran

Ribuan polisi huru-hara menahan ratusan demonstran di ibukota Aljazair kemarin, ketika mereka berusaha menghentikan barisan pro-demokrasi, sehari setelah pemimpin otoriter Mesir dijatuhkan.

Polisi bersenjata mehadang di jalan-jalan di Aljazair dan memasang barikade di tempat-tempat strategis sepanjang rute demonstran dan di luar kota, untuk mencegah demonstran dari luar memasuki ibukota.

Polisi bersenjata lengkap juga ditempatkan di kantor-kantor surat kabar.

Para penggerak massa memperkirakan sekitar 10.000 orang telah membanjiri ibukota dan bentrok dengan polisi yang berusaha menghadang dan membubarkan mereka.

Laporan-laporan yang beredar menyebut bahwa jumlah polisi lebih banyak dari demonstran. Harian Aljazair, La Liberte (kemerdekaan), menyebut jumlah 30.000 dikerahkan di ibukota.

Ali Yahia Abdenour, seorang aktifis HAM, mengatakan lebih dari 400 orang, termasuk wanita dan para wartawan asing, ditahan.

Abdenour, yang mengepalai Liga Aljazair untuk Membela HAM, mengatakan sekitar 28.000 pasukan keamanan dikerahkan di Aliers untuk menghadang massa.

Mereka melantunkan slogan-slogan, termasuk teriakan ‘Tidak untuk polisi negara’ dan ‘Bouteflika keluar’, yang ditujukan kepada Presiden Abdelaziz Bouteflika, yang telah memerintah sejak tahun 1999.

Undang-undang darurat yang telah lama diberlakukan melarang demonstrasi di Algiers, ibukota Aljazair, tapi peringatan berulang-ulang dari pemerintah agar rakyat tidak turun ke jalan kini seperti membentur telinga-telinga yang tuli.

Demo terjadi pada saat sensitif di Aljazair – hanya sehari setelah di Mesir  Husni Mubarak dijatuhkan. Aksi itu juga muncul setelah ‘revolusi rakyat’ di negara tetangga, Tunisia, mendepak Presiden Zine El Abidine Ben Ali ke pengasingan pada tanggal 14 Januari lalu.

Sejumlah pengamat meramalkan Aljazair akan menjadi negara Arab berikutnya yang dilanda protes rakyat.

Efek domino gerakan demokrasi telah menyetrum dunia Arab yang dikuasai pemerintah otoriter, dan kemarahan rakyat kini muncul sebagai hukum.

Dioranisir oleh Koordinasi untuk Perubahan Demokratis di Aljazair, yang memayungi para aktifis HAM, pengacara, dan lain-lain, demonstrasi Sabtu itu ditujukan untuk menuntut reformasi, termasuk kebebasan-kebebasan demokratis yan lebih besar, perubahan pemerintahan, dan peluang pekerjaan yang lebih banyak. Mereka tidak membuat seruan khusus untuk menumbangkan Bouteflika, sang presiden.

Dampaknya

Kerusuhan yang meluas di Aljazair dapat mempengaruhi ekonomi dunia. Meski angka pengangguran tinggi dan kemiskinan merupakan keadaan umum negara salah satu pengekspor minyak terbesar itu, para pengamat mengatakan bahwa revolusi gaya Mesir tidak akan terjadi di sana, karena pemerintah bisa memanfaatkan kekayaan minyak mereka untuk menghibur rakyat.

“Kami siap melakukan demo,” kata Mohsen Belabes, juru bicara RCD, sebuah partai oposisi kecil yang merupakan salah satu penggerak demo. “Ini akan menjadi hari besar demokrasi di Aljazair.

Kehadiran sangat banyak polisi adalah biasa (rutin) di Aljazair, demi menghadapi ancaman serangan-serangan al Qaeda (Al-Qa’idah), tapi kali ini berjam-jam sebelum demo, polisi dalam jumlah jauh lebih banyak sudah disebarkan.

Di Lapangan 1 Mei, yang direncanakan menjadi awal keberangkatan demonstran, yang letaknya tak jauh dari pelabuhan Mediterranean, sedikitnya 15 van (mobil besar) polisi duah disiapkan, mobil-mobil jeep dan bus juga sudah dibariskan.

Kendaraan-kendaraan dalam jumlah yang sama juga ditempatkan di tepi jalan di rumahsakit kota itu, Mustapha.

Di beberapa persimpangan jalan, polisi juga sudah memarkir kendaraan-kendaraan militer yang lebih kecil, yang biasanya jarang kelihatan di kota. Sedangkan di lebih satu mil dari situ polisi-polisi berjaket antipeluru berdiri mengawal sebuah pom bensin.

Negara-negara Arab yang lain juga telah merasakan riak-riak revolusi Mesir dan Tunisia. Raja Yordania, Abdullah, mencopot PM-nya setelah muncul demo-demo. Di Yaman, Presiden Abdullah Saleh berjanji di hadapan para oposisinya untuk tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilu yang akan datang.

Para penggerak protes di Aljazair – yang mengatakan bahwa gerakan mereka sebagian diilhami peristiwa di Mesir dan Tunisia – mengatakan bahwa polisi Aljazair mungkin dapat mengusir massa sebelum mereka beraksi di ibukota, atau demo-demo yang sama muncul di kota-kota lain.

“Rakyat Aljazair harus diijinkan untuk mengekpresikan diri secara bebas, dan melakukan demo damai di Algiers serta di tempat-tempat lain.” Demikian sebuah pernyataan yang dikeluarkan Amnesty International (yang berpusat di Inggris). “Kami mendesak para penguasa Aljazair untuk tidak menyambut tuntuta rakyat dengan kekuatan yang berlebihan.”

Banyak orang Aljazair khawatir terjadi kembali konflik brutal beberapa tahun lalu, yang memakan 200.000 korban.

Para pemrotes kali ini memang tidak menyerukan untuk menjatuhkan Presiden Abdelaziz Bouteflika. Namun, napas antipemerintah sudah terasa memenuhi udara. Sebuah gambar karikatur di koran La Liberte menyindir bahwa Aljazair kalah 1-0 dari Mesir, dan harus menyamakan skor itu.

Dengan terjadinya pemogokan dan kerusuhan di beberapa tempat, termasuk lima hari kerushan pada bulan Januari, suasana Ajazair memang sedang tegang.

Sudah terjadi aksi dan usaha bunuh diri, termasuk usaha bakar diri oleh seorang pemuda yang mengawali protes-protes di Tunisia di pertengahan Desember.

Pemerintah Aljazair mengatakan pelarangan demo dilakukan demi kepentingan umum, bukan sebagai usaha menentang protes. Mereka mengatakan bahwa pemerintah telah berusaha keras untuk menyediakan lapangan kerja baru dan memperbaiki pelayanan-pelayanan publik.

Dalam rangka mengatasi ketegangan, penguasa telah menurunkan harga gula dan minyak goreng, membeli banyak tepung untuk menjamin pasokan roti, dan berjanji akan menghapus undang-undang keadaan darurat yang telah berlaku selama 19 tahun, dalam ‘waktu yang sangat dekat’.

Protes tersebut tidak didukung oleh organisasi-organisasi perdagangan Aljazair, partai-partai oposisi terbesar atau kelompok-kelompok radikal Islam yang dilarang pada tahun 1990an. Namun masih tetap mempengaruhi akar rumput.

Gerkan protes itu tampaknya akan berlangsung keras, tapi tak akan mengoyahkan kestabilan rejim berkuasa,” kata Eurasia Group, sebuah lembaga konsultan politik.
(Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1356220/Algeria-protests-Police-arrest-hundreds-inspired-Egypts-Hosni-Mubarak-downfall.html#ixzz1DqOBlrDi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: