Melihat Kasus-kasus Ahmadiyah Secara Ilmiah

Terjadi lagi penyerangan terhadap Ahmadiyah! Ini membuat saya bingung. Speechless. Ga bisa ngomong! Tapi, saya harus bertanya kepada anda!

Lho, kok bertanya kepada saya? Memangnya anda tidak mendengar, menonton, atau membaca beritanya?

Tentu saja saya mendengar, menonton, dan membaca! Tapi hasilnya… ya itu tadi. Bingung! Tak bisa bicara. Terutama ketika ditanya oleh anak-anak saya: “Kenapa sih orang-orang Ahmadiyah harus diserang dan dibunuh?”

He he… Saya kira, pertanyaan anda itu mewakili pertanyaan manusia sedunia! Mungkin termasuk anak-anak mereka yang melakukan penyerangan itu sendiri. Tapi, masalahnya, dengan mengajukan pertanyaan itu, apakah mereka, terutama orang-orang yang pintar-pintar itu, yang bukan anak-anak kecil, … apakah mereka siap menerima jawabannya?

Maksud anda?

Maksud saya, kalau bisa, janganlah anda atau siapa pun, mengajukan pertanyaan tanpa minta jawaban; karena dengan bertanya itu sebenarnya anda hanya ingin mengungkapkan penentangan.

Lho, memangnya perbuatan para penyerang itu tidak boleh ditentang?

Nah! Bila anda bertanya begitu, saya juga bisa bertanya, “Memangnya Ahmadiyah tidak boleh diserang?”

Yaa jelas tidak boleh lah!

Mengapa?

Karena… Karena… mereka punya hak asasi, punya kebebasan memilih, punya wewenang untuk menganut keyakinan sendiri, dan… tokh mereka tidak mengganggu pihak lain!

Ooh, begitu ya? Bila yang anda sebut “mengganggu” itu mengganggu secara fisik, mungkin anda benar. Ahmadiyah ‘tidak pernah’ mengganggu secara fisik pihak mana pun di luar kelompok mereka. Tapi, coba anda renungkan hal ini baik-baik! Seorang wartawan majalah kalisa mengisahkan pengalamannya berbincang-bincang dengan seorang warga Cikeusik. Ketika ditanya bagaimana perasaannya terhadap Ahmadiyah, dia mengatakan, “Kalau anda ingin tahu perasaan kami, coba bayangkan bahwa anda tinggal di sini sejak lahir, setelah anda dewasa, dan menjadi orangtua, tiba-tiba anda menyaksikan istri, suami, anak, kakak, adik, keponakan, sahabat, tetangga dan lain-lain, satu demi satu masuk Ahmadiyah… Bagaimana perasaan anda?”

Owh, begitu ya? Kalau begitu, saya mengerti perasaan mereka… Mereka sedih dan kemudian marah, karena ada orang-orang dekat mereka yang beralih ke Ahmadiyah. Tapi, tetap saja… itu kan bukan alasan untuk melakukan kekerasan!

Ha ha! Kalau begitu, anda belum mengerti, dan ada kecenderungan menyederhanakan masalah.

Apa yang saya belum mengerti? Masalah apa yang saya sederhanakan?

Perasaan mereka! Terutama ketika perasaan itu dikaitkan dengan agama!

Jelasnya?

Pernahkah anda merasa kehilangan anggota keluarga?

Hm, ya! Ada anggota keluarga saya yang meninggal… Ada juga yang lama merantau di luar negeri… sampai kini belum kembali.

Sekarang coba anda bayangkan bagaimana pereasaan anda bila anggota keluarga anda itu tidak meninggal, tidak merantau lama di luar negeri. Mereka anda di dekat anda, tapi mereka pindah agama, atau – sebutlah – mereka meninggalkan keyakinan lama dan masuk Ahmadiyah! Bagaimana perasaan anda?

Saya… Saya pasti sedih!

Hanya sedih? Tidak marah?

Kenapa harus marah?

Tidakkah anda sadari bahwa kesedihan anda itu sebenarnya terjadi karena ada sesuatu yang dirampas dari diri anda?

Hm, ya, ya! Mungkin saya akan marah juga…

Itu sebuah keniscayaan. Sesuatu bisa dipastikan dapat terjadi.

Anda benar. Tapi, bukankah kemarahan itu juga bisa terjadi karena hasutan? Misalnya dari tokoh-tokoh agama setempat?

Dengan demikian, anda meremehkan masyarakat setempat; menganggap mereka seperti anak kecil yang mudah dihasut!

Kenyataannya masyarakat kita masih seperti itu kan?

Tidak semua. Selain itu, bila benar kemarahan mereka terjadi karena hasutan tokoh-tokoh agama setempat, lalu mengapa mereka harus menghasut?

Mungkin karena mereka takut kehilangan pengikut!

Tidak sesederhana itu! Anda harus pikirkan juga bagaimana para tokoh agama itu berda’wah dan berjuang belasan tahun, puluhan tahun, untuk mengajar dan membina umat. Tiba-tiba, umat mereka diambil orang!

Nah! Jadi, benar kan perkataan saya, bahwa mereka takut kehilangan pengikut?

Itu salah satu bentuk penyederhaan masalah yang saya maksud. Bila anda berempati sedikit saja kepada mereka, anda akan tahu bahwa kemarahan mereka terjadi bukan karena alasan-alasan yang boleh diremehkan begitu saja; termasuk alasan ‘takut kehilangan pengikut itu’. Itu juga bukan sesuatu yang bisa diremehkan.”

Bila mereka benar-benar membina umat, mengapa harus takut kehilangan umat?

Pertanyaan anda itu menunjukkan bahwa anda tidak memahami masalah!

Begitulah kenyataannya. Saya memang tidak memahami masalah ini. Karena itulah saya bertanya kepada anda.

Begini sobat! Bila anda melihat sebuah rangkaian peristiwa, janganlah perhatian anda hanya difokuskan pada ujung peristiwa itu, tapi lihat juga rangkaiannya ke belakang, sampai ke pangkal. Bila tidak demikian, anda akan gagal melihat celah-celah penyelesaian!

O, ya? Menarik juga tuh. Bisa anda uraikan?

Sebelum kita ngobrol ini, seorang teman mengajak saya melihat gambar adegan-adegan pembantaian itu dan korban-korbannya. Terus-terang, saya merinding! Saya tidak bisa membenarkan kekejaman itu. Tapi, sekali lagi, ini ujung peristiwa. Ini adalah sebuah akibat dari rantai sebab-akibat yang cukup panjang. Bila kita hanya menjatuhkan penilaian pada akibat yang di ujung, bisa jadi kita memuaskan satu pihak sambil mengecewakan pihak yang lain. Bisa jadi anda memuaskan Ahmadiyah karena anda mengecam penyerangnya, tapi seiring dengan itu anda mengecewakan pihak penyerang karena anda tidak memahami latar belakang penyerangan itu.

Saya khawatir, sepanjang apa pun uraian anda, ujung-ujungnya anda hanya ingin membenarkan penyerang Ahmadiyah!

Mungkin anda benar! Dan seandainya benar demikian, saya tak ingin membenarkan atau menyalahkan secara emosional, dengan hanya mengandalkan perasaan. Saya ingin, mudah-mudahan bisa, membenarkan atau menyalahkan secara ilmiah, berdasar tinjauan ilmu.

Wah, anda pasti akan sulit melakukannya!

Memang! Tapi saya harus mencoba.

Saya senang, dan akan mendengarkan.

Pertama, anda harus camkan dalam ingatan bahwa kita, secara umum, dalam beragama itu memang cenderung menggunakan perasaan. Padahal Allah, melalui Al-Qurãn, menyuruh kita beragama secara ilmiah, rasional.

Anda tahu dalilnya?

Ada beberapa ayat yang berulang-ulang menyebut perbedaan orang berilmu dan tidak berilmu, baik secara langsung maupun melalui sindiran. Samakah orang berilmu dengan yang tidak berilmu? Samakah orang buta dengan orang melek?  (Surat Az-Zumar ayat 9, Al-An’ãm ayat 50 dll.).

Baiklah. Sekarang, bagaimana cara melihat kasus-kasus yang menimpa Ahmadiyah secara ilmiah?

Pertama, anda harus menyadari bahwa kita adalah sebuah bangsa penganut dualisme cara pandang.

Dualisme cara pandang? Apa pula itu?

Kita sebagai warga negara maupun pejabat negara, selalu menggunakan tiga isme (paham; konsep; ajaran) dalam memandang masalah. Dalam memandang kasus Ahmadiyah, misalnya, satu pihak melihatnya dengan undang-undang dasar negara; dan pihal lainnya menggunakan agama; sementara pihak lainnya lagi menggunakan politik.

Pihak yang menggunakan undang-undang dasar – secara murni – akan bicara demi kepentingan negara. Yaitu demi keutuhan NKRI dan kedamaian serta keamanan bangsa. Pihak yang menggunakan agama – apakah Islam atau apa – bicara demi kepentingan agama. Yaitu demi eksistensi dan keamanan para pemeluk agama yang bersangkutan. Pihak yang menggunakan tinjauan politik, tentu akan bicara – atau diam –  berdasarkan kepentingan politik masing-masing.

Dalam kaitan dengan Ahmadiyah?

Pihak yang menggunakan UUD mengatakan bahwa negara ini memberi kebebasan – bahkan melindungi – setiap warga negara untuk menganut agama dan kepercayaan masing-masing. Pihak yang menggunakan agama, dalam hal ini Islam, lebih-lebih setelah ada vonis sesat bagi Ahmadiyah, tentu merasa berhak untuk mengharamkan keberadaan Ahmadiyah. Sedangkan yang menggunakan cara pandang politik, biasanya mereka akan bicara atau tidak bicara semata-mata dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan pragmatis (sesaat) mereka. Bila mereka lebih membutuhkan Ahmadiyah, mereka akan membela Ahmadiyah. Bila lebih membutuhkan lawan Ahmadiyah, mereka akan membela lawan Ahmadiyah. Bila bingung, mereka akan diam. Atau, bila merasa perlu, mereka akan menggunakan pihak-pihak tertentu untuk melakukan hal-hal yang memberi manfaat politis kepada mereka.

Oh, begitukah? Kalau benar begitu, lantas menurut anda pihak mana yang benar?

Ha ha! Pertanyaan lucu! Semua pihak pasti merasa benar dong!

Kalau itu lucu, saya ganti pertanyaannya. Pihak mana yang paling kuat, dan mampu mengatasi masalah?

Ha ha! Saya kira, semua kuat! Tapi, semua tidak bisa mengatasi masalah. Lebih-lebih mereka yang berpikir politis. Alih-alih mengatasi masalah, bisa-bisa mereka malah membuat atau menambah masalah.

He he. Saya jadi ingat pepatah atau apa… yang mengatakan bahwa politik adalah pekerjaan kotor (politic is a dirty business).

Ya. Ada yang mengatakan demikian karena kecewa menyaksikan praktik-praktik politik (politik praktis) yang cenderung menghalalkan segala cara demi kepentingan.

Lalu, bila kita menggunakan cara pandang ilmiah, bisakah masalah Ahmadiyah itu diselesaikan?

Bisa. Tapi sulit.

Bagaimana. Dan apa kesulitannya?

Harus ada penguasa yang kuat, yang berpikir ilmiah, dan juga bersikap jujur ilmiah.

Kenapa harus ada penguasa yang kuat?

Supaya bisa benar-benar melakukan penegakan hukum (law enforcement) tanpa ada yang mampu menghalangi.

Kenapa penguasa yang kuat itu harus berpikir ilmiah?

Supaya bertindak berdasar ilmu, bukan hanya mengandalkan kekuasaan. Lagi pula, tolong anda catat, pemerintah itu pada hakikatnya adalah hakim, dalam arti penegak hukum yang sudah disepakati. Karena itulah, mungkin, dalam bahasa Arab pemerintah itu disebut hukumah. Dengan bertindak berdasar ilmu – sama dengan berdasar hukum – semua pihak seharusnya menerima apa yang diputuskan (kebijakan) pemerintah.

Hmh, tungu, tunggu!

 

 

(BERSAMBUNG)

Advertisements
Comments
5 Responses to “Melihat Kasus-kasus Ahmadiyah Secara Ilmiah”
  1. harta sujarwo says:

    Brilliant…kalau badan mau selamat pandai2lan meniti buih. kalau tak pandai bisa dibantai kayak pendukung ahmadiyah. kalau dibantai kayak sahabat nabi itu syahid karena membela yg haq, kalau membela aliran yg gak jelas dan melawan arus tapi mengada2 ya tanggung aja akibatnya. kalau yg membantai ya tunggu aja serangan baliknya, siapa yg bersikap biadab kan akan dibalas biadab. jadi itu hal yg wajar. yg gak wajar kalau kita bingung mana yg benar mana yg salah dalam satu bingkai yg sama2 salah

  2. Andi Purwanto says:

    sekarang saatnya bertindak tegas,bukan bicara ttg HAM.. melainkan harus mengerti(paham) mana yg Haq dan mana yg Bathil!

  3. Andi Purwanto says:

    jangan bicara masalah Ham, perlu ketegasan mana ttg yg Haq dan mana yg Bathil….!!

  4. cak nan says:

    menurut ahmadiyah kita batil menurut kita ahmadiyah batil kalau begitu kita sama sama batil dong.
    bisakah kita bunuh ajaran tanpa membunuh yang mengajar ? kalau bisa ahmadiyah adalah ladang da,wa
    bagi bapak bapak ustad kita.

  5. Abi Dzar says:

    Kalau diujung airnya keruh coba kita telusuri kesumber mata airnya pastilah akan kita dapati kejernihannya! ”Selamat menelusuri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: