Indeks Al-Qurãn

Gbr dari flicker.com

Naquib Alatas dan Nurcholis Madjid

Pernah berdebat tentang Allah musytaq atau jamid

Recok yang demikian

mereka bilang kemajuan

Omong tak keruan

mereka bilang pembaharuan

Mereka pun mengatakan bahwa Al-Qurãn belum membumi

Lalu sambil kasak-kusuk begitu-begini

Mereka sibuk menggali kuburan

untuk mengebumikan Al-Qurãn!

Banyak orang bicara tentang Al-Qurãn

tapi tak bicara menurut Al-Qurãn

Banyak orang berbicara bagaimana memahami Al-Qurãn

tapi tak ada yang mau meng-Al-Qurãn-kan paham

Al-Qurãn tak lagi jadi imam, tapi sudah lama jadi ma’mum

Manusia tak berjalan mengikuti Al-Qurãn

Al-Qurãnlah yang harus berjalan sesuai kemauan insan

Ada yang gembar-gembor soal reaktualisasi

seolah Al-Qurãn sudah basi

Al-Qurãn yang mestinya jadi subjek malah dibuat objek

Ya! Apa boleh buat, tahi kambing jadi obat

Orang sinting ambil Al-Qurãn, untuk dibuat ganjal pantat!

Maka Al-Fatihah, sang pembuka, tidak membuat mata hati terbuka

Al-Baqarah pun jadi sapi betina yang mandul

Ali ‘Imran, keluarga Imran, bukan lagi pelaku sejarah mengandung ‘ibrah, dan

An-Nisa, kaum wanita, seolah rela jadi suluh neraka

Al-Maidah, hidangan langit, dianggap makanan getir dan pahit

Al-An’am, sang hewan, muncul sebagai teladan kehidupan

Al-A’raf, tempat tertinggi, tak pernah didaki; sehingga kearifan yang tinggi tak pernah dimiliki

Maka seperti Al-Anfal, pampasan perang, begitulah umat Islam sekarang!

At-Taubah, seruan kembali, tak pernah menjadi panggilan pulang

Yunus, Hud dan Yusuf hanya jadi tokoh-tokoh dongengan

Ar-Ra’du, sang guruh, seolah berhenti menggemuruh di tengah amuk nafsu yang riuh

Ibrahim seperti sia-sia berdoa mengimbau anak-anaknya

Al-Hijr, sang bukit keangkuhan, telah membelenggu mereka semua

Al-Isra, perjalanan agung sang rasul, tak lagi membias-memantul

Al-Kahfi, penghuni goa, terkuburlah dalam goa yang panjang dan gulita

Maryam putus asa menggoyang batang kurma kering, sia-sia

Thãhã seolah seruan di tengah malam di gurun sahara

Al-Anbiya, para nabi yang mulia tentu berduka semuanya

Karena “Al-Hajj” tidak berjihad

Dan yang mengaku “Al-Mu’minun” hanya melamun

Wahai, sudah kaburkah pancaran cahayamu, An-Nur?

Sehingga Al-Furqan tidak lagi jadi pemilah antara benar dan salah?

Asy-Syu’arã, para penyair, kata-kata merekalah yang kini ramai disitir

Gigitan An-Naml, semut, hanya membuat mereka bersungut-sungut

Al-Qashas, kisah-kisah sejarah, tak berhasil membuka mata hati buta parah

Seolah semua manusia kalang-kabut alias kal-Ankabut,

seperti laba-laba, bikin sarang dari kentut

Mereka tak mau belajar dari sejarah Ar-Rum

Sehingga As-Sajdah, kepatuhan, mereka tujukan kepada setan

Mereka terjerembab menjadi Al-Ahzab,

golongan yang bersekutu dengan iblis biadab

Mereka enggan seperti ratu Saba, menyambut da’wah Sulaiman dengan rela

Ya Fãthir! Sang Mahapencipta! Masih tetapkah Engkau memanggil nurani mereka?

Kini Yaasin cuma bacaan malam Jum’at dan dijadikan jimat

Sedangkan Ash-Shaffat, umat yang berbaris bershaf-shaf tak lagi terlihat

Ketika surat Shãd menegaskan Al-Qurãn sebagai pemberi peringatan,

manusia asyik membentuk Az-Zumar, rombongan-rombongan pembuat kebohongan

sambil mendabik dada mengaku ana Al-Mu’min!

Fushilat, wahyu yang dijelaskan Tuhan, dicemari aneka penafsiran

Asy-Syura, musyawarah, diadakan untuk melahirkan teori-teori mentah

Kesarjanaan menjadi Az-Zukhruf, perhiasan kebanggaan

Tak sadar bahwa itulah Ad-Dukhaan! kabut penyamar kebenaran

Ah, mengapa kita jadi Al-Jatsiyah setengah-setengah,

badan kita bersimpuh tapi hati kita angkuh?

Padahal di mata-Nya kita hanya umpama Al-Ahqaaf , bukit pasir

yang mudah dibuyar angin semilir!

Ya, Muhammad Rasulullah! tiap tahun orang memestakan kelahiranmu

tapi ogah menghidupi Sunnahmu!

Maka tak aneh jika Al-Fath kemenangan – itu tak kunjung datang

Karena dada umat telah menjadi Al-Hujuraat,

kamar-kamar yang disesaki ajaran sesat

Surat Qaaf menyebut kemulian Al-Quran

Tapi setan pun meniupkan Adz-Dzariyaat, angin yang menerbangkan kesadaran

Ataukah At-Thur, sang bukit membuat kesadaran sulit bangkit?

Sehingga An-Najm, sang bintang, juga tak mampu mengusir gulita kelam?

Sehingga ajaran Ar-Rahman, sang pemurah dipandang murah?

Oh! bilakah datangnya Al-Waqi’ah, kiamat pemusnah?

Di tengah Al-Hadid, sang besi, menjadi penunjang tekhnologi pelupa diri

Dan wanita sudah menjadi Al-Mujaadilah yang menggugat iradah

Al-Hasyr, pengusiran, dilakukan bagi penyeru kebenaran

Al-Mumthahanah, wanita yang diuji, ramai-ramai berbuat keji menjual diri

Di seantero bumi terpancang Ash-Shaf, barisan perlawanan ajaran

Dan Al-Jumu’ah, hari Jum’ah, hanya diberisiki khotbah-khotbah murah

Di tengah Al-Munafiqun, orang-orang munafik, bebas berlomba menyebar syirik

Bilakah datangnya At-Taghãbun, penelanjangan, saat terangnya mata rabun dan kuping pikun?

Sedangkan At-Thalaq sudah dijatuhkan kepada pembangun akhlak?

Manusia ramai memaklumkan At-Tahrim, pengharaman, atas kebenaran,

untuk membentuk Al-Mulk, kerajaan, yang dikomando setan

Maka peringatan lewat Al-Qalam pantas tak mempan

Mungkin mereka menanti bukit Al-Hãqah, kiamat penyudah

Sambil membuat Al-Ma’rij, tempat-tempat naik

Tak ubahnya kaum Nuh yang menantang dakwah dengan pongah

Mereka dukung Al-Jin jadi pemimpin

Menjadikan mereka Muzzamil dan Mudatsir

yang merasa nyaman berselimut kezhaliman

Wahai, kapankah Al-Qiyãmah datang memusnahkan semua?

Al-Insan makin tenggelam dalam kelupaan

mengabaikan Al-Mursalat, para utusan

yang membawa An-Naba, berita luar biasa

Mereka tidak ingat bakal tiba An-Naazi’at, malaikat pencabut hayat

Bahkan mereka menjadi ‘Abasa, bermuka masam pada penguasa jagat raya

Wahai Gusti Yang Agung, kapan datangnya At-Takwir menggulung manusia linglung?

Kapan saatnya Al-Infithaar, langit terbelah menggelegar?

Al-Muthaffiffin, orang-orang curang, sudah lama menantang

Kapan saatnya Al-Insyiqaaq, saat langit terkuak?

Dan Al-Burûj, gugusan bintang, berguguran menimpa manusia binatang?

Pada saat Al-A’laa, posisi paling tinggi ditempati orang-orang tak berbudi,

bukankah sudah pantas Kau datangkan Al-Ghaasyiyah, peristiwa dahsyat pemusnah?

NabiMu dulu datang menguak gelap Al-Fajr

Tapi manusia memilih dunia jadi Al-Balad, neeri tempat murtad

Bakan ketika Al-Fajr menjadi Asy-Syams, matahari yang menerangi bumi,

manusia-manusia keji malah bersembunyi

Mereka malah girang ketika Al-Lail, sang malam, mengkelamkan kehidupan

Tapi benarkah, ya Allah, bahwa Ad-Dhuha, sang surya pagi sedang naik lagi?

Ah, mana mungkin demikian, jika Al-Qurãn sebagai Insyirah, pelapang kehidupan tidak difungsikan

Dan At-Tĩn – seperti juga yang lain –

disebutkan sebagai perumpamaan bukti kebenaran firman

Bahwa manusia hanya dari Al-Alaq, segumpal darah

yang bisa mendapatkan Al-Qadr, kemuliaan, jika hanya padaNya pasrah

Dan sudah terbentang Al-Bayyinah, bukti yang pasti

Dan itu telah menimbulkan Az-Zalzalah, kegoncangan

Tapi manusia bergegas memanjat Al-‘Adiyaat, kuda perang,

lalu menghadang seruan iman dengan garang

Begitulah kenyataan sejarah; manusia tak takut Al-Qaari’ah, kiamat pemusnah

Mereka terus ber-Takãtsur,

bermegah dan pongah sepanjang umur

Padahal Al-Ashri, sang waktu, pasti datang menagih utang

Namun masih saja manusia jadi Al-Humajah, pengumpat keparat

Dan hidup sebagai Al-Fiil, gajah, bagi orang-orang kecil

Atau seperti Quraisy yang kepada nabiMu dulu begitu bengis?

Mereka serakahi Al-Maa’ûn, barang-barang berguna,

yang mestinya jadi milik bersama

Mereka mau Al-Kautsar, nikmat yang banyak,

hanya untuk mereka anak-beranak

Mereka memang Al-Kaafirûn, kafir turun-temurun!

Sebenarnya mereka perlu An-Nashr, pertolongan Tuhan

Tapi Al-Lahab, gejolak api nafsu mereka selalu membakar benih iman

Mereka tak pernah peduli Al-Ikhlash yang mengajak hidup tulus iklas

Begitulah keadaan Al-Falaq

makhluk bernama An-Nãs, manusia, dari masa ke masa

***

Ditulis pertama kali di Pondok Pinang, tanggal 5 Nov. 1988

Advertisements
Comments
11 Responses to “Indeks Al-Qurãn”
  1. Abi Dzar says:

    Luar biasa saya sampai merinding dibuatnya..

  2. nuhungusti says:

    wihh…ini tulisan abang waktu muda bang???

  3. Ahmad Haes says:

    Ya geetoo dech… Waktu itu setelah ditulis dimuat oleh teman di buletin Rohis SMA-nya, dan katanya dikagumi oleh Motinggo Busye, salah satu sastrawan kita tempo dulu. Wahh, saya jadi ge-er tuh!

  4. harta sujarwo says:

    semua tulisan yg saya anggap Alhaqqu min rabbika saya usung jadi catatan saya ya bang..
    kalau gak setuju gak apa2. soalnya kan ilmu Allah itu kan punya Allah, cuma abang mampu menangkapnya dan menyajikannya sesuai dengan sistematika ilmu allah juga.

  5. Ahmad Haes says:

    Silakan. Saya malu kalau saya mengaku punya ilmu, tapi saya akan sangat senang bila saya bisa jadi penyalur ilmu Allah.

  6. Duta mahendra says:

    Penyebab utama turunya index Al qur’an yg bapak tulis adalah matinya ketiga alat tanggap yg utama telinga -otak -hati
    iblis membuat telinga mereka Tuli dgn mengabaikan kabar tntang sebuah kbnaran( Al kitab )- otak diarahkan untuk berfikir ke arah faham materialistis dan naturalis -hati ( qolbu )pusat semayamnya jiwa di dimatikan ..bukankah Oksigen adalah unsur penciptaan Iblis?konsep Allah- Manusia-Alam ..yg merupakan konsep tak terpisahkan diputarbalikkan ..Iblis dgn kuasapenciptaannya mampu mebangun jaringan komunikasi super dasyat

  7. cing zenav says:

    hebat bgt ya ilmu itu

  8. Ega says:

    Sekalian surat dan Terjemahannya mas , biar ada untuk perbandingan terjemahan Al -Quran yang ada saat ini (depag)dengan terjemahan hasil pembelajaran menterjemahkan , biar bisa belajar dan ga salah tanggapan

  9. Ahmad Haes says:

    InsyaAllah, nanti…

  10. Ahmad Haes says:

    Silakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: