Ruh Pernikahan

Rasulullah pernah ditanya, “Apa yang lebih penting dari shalat?” Beliau menjawab, “Ruh shalat!”, yaitu ruh yang menghidupkan shalat.

Beliau juga pernah ditanya tetang apa yang lebih penting dari shaum (puasa), dan beliau menjawab bahwa yang lebih penting dari shaum adalah ruh shaum.

Untuk setiap pertanyaan yang berkenaan dengan ibadah ritual, jawabannya selalu sama; karena ruh (spirit) membawa gerak ke dalam kehidupan dan memunculkan kekuatan-kekuatannya. Tanpa ruh yang menggerakkan itu, shalat hanyalah gerakan-gerakan, dan puasa hanyalah lapar. Tapi ketika ruhnya masuk, ketika niat murni dan pemusatan pikiran masuk, gerakan-gerakan itu mengalami transformasi (perubahan bentuk). Shalat mendapatkan daya menjadi mi’raj (sarana perjalanan ruhani mencapai posisi yang lebih tinggi; sarana peningkatan kesadaran intelektual dan iman, pen.), dan puasa memunculkan daya untuk mampu menemukan lailatul-qadr(i) (sebuah masa – momentum – turunnya  ‘ruh’ yang lain, yaitu ruh pencerah kesadaran budaya, yakni wahyu Allah, pen.).

Lantas, apakah yang lebih penting dari pernikahan? Tentu saja yang lebih penting darinya adalah ruh pernikahan. Yaitu niat yang mendasarinya, yang merupakan gudang yang isinya tersembunyi, yang harus diketahui dan dikeluarkan oleh pasangan pernikahan itu sendiri.

Allah memberikan peringatan dan isyarat agar kita mempelajari hal itu. Dalam surat Al-A’raf ayat 189, misalnya, dikatakan:

Dialah yang menciptakan kalian dari satu rumusan, dan darinya pula Dia jadikan pasangannya, supaya merasa tenteram berdampingan dengannya…

Dengan demikian, pria dan wanita saling melengkapi. Bersama-sama, mereka membentuk satu diri; dan ini harus diusahakan oleh mereka berdua, yaitu berusaha agar mereka menjadi seolah-olah satu makhluk, satu diri, satu nyawa.

Firman Allah pula, dalam surat Al-Baqarah ayat 187:

Mereka (istri kalian) adalah pakaian kalian, dan kalian (para suami) adalah pakaian bagi mereka.

Dengan demikian, suami dan istri saling melengkapi. Mereka masing-masing memunculkan sebuah sisi baru dari kemanusiaan mereka, dan mendalami kepribadian mereka dengan memasuki dunia pernikahan. Itulah yang digambarkan secara simbolis dalam ayat di atas. Sebagaimana pakaian menutup tubuh dan melindungi pemakainya, begitulah suami dan istri satu sama lain menjadi pelindung dan pembantu, dan satu sama lain mereka menjaga kehormatan, membentuk pernikahan menjadi sebuah sarang dan tempat perlindungan, yang di dalamnya suami-istri merasa nyaman dan aman, karena terlindung di dalam kepedulian dan penjagaan yang dilakukan secara bersama-sama.

Ditegaskan Allah pula dalam surat

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasangan. (Dengan maksud) agar kalian menyadari (mengapa diciptakan demikian).

Istilah untuk pasangan dalam Al-Qurãn adalah zauj (زوج), yang harfiahnya berarti “bagian dari suatu pasangan”. Ketika satu bagian bertemu (berpasangan) dengan bagian yang lainnya, lalu bekerja sama dalam suatu tindakan, maka berbagai daya yang selama ini tersimpan pun muncul. Inilah rahasia dari seluruh ciptaan (yang berpasang-pasangan itu). Dan pernikahan manusia ditegaskan Al-Qurãn sebagai cerminan dari sifat dan kecenderungan yang terdapat dalam semua tingkat ciptaan.

Ketika sesuatu diciptakan sebagai bagian dari suatu pasangan, maka jelas keberadaannya menjadi tidak lengkap tanpa kehadiran bagian yang lainnya. Karena itulah Allah menegaskan dalam surat An-Najm(u) ayat 45 bahwa Ia sengaja menciptakan makhluk berpasangan, terdiri dari (jenis) lelaki dan wanita (jantan dan betina).

Istilah nikãh sendiri pun digunakan secara kiasan untuk menggambarkan perpaduan mesra berbagai aspek ciptaan. Dalam Al-Qurãn, misalnya, dikatakan bahwa hujan ‘menikahi’ tanah, dan kemudian digambarkan bagaimana dari perpaduan mesra itu tumbuh bersemi berbagai bentuk kehidupan. Tanah menumbuhkan bunga dan sayuran, membuka peluang bagi makhluk-makhluk baru, kehidupan baru, potensi-potensi baru.

Jadi, tindakan pernikahan, perpaduan melalui pernikahan dalam konsep Islam adalah jalur segala hal dalam jalinan dan rantai penciptaan. Setiap pasangan dalam pernikahan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan dan istimewa dalam konteks pernikahan itu sendiri. Masing-masing pasangan itu tidak identik (sama persis), tapi satu sama lain menjadi pelengkap dan memunculkan hal unik, yang tidak akan pernah muncul bila pernikahan tidak dilakukan.

Setiap individu dari satu pasangan mengalami perubahan dan transformasi ketika mereka berpadu dalam pernikahan, karena pernikahan adalah perpaduan sempurna antardiri, jiwa, kepribadian dan dua makhluk yang berbeda (tapi merupakan pasangan).

Dalam pernikahan manusia, perubahan terjadi dalam banyak hal; mulai dari perubahan gaya hidup, perilaku, dan jiwa setiap individunya sendiri. Dan pasti harus ada kehendak, dari pihak kedua individu, untuk mengijinkan transforasi yang mempersatukan itu terjadi. Bila berharap hal itu terjadi dengan sendirinya, berarti ada penguncian satu pihak yang mengarah pada pembekuan dan penyempitan satu diri tetap sebagai satu diri, bukan menjadi bagian dari satu pasangan yang berpadu secara intim. Hal ini juga berarti pembelengguan dan penguncian potensi, keindahan dan kekuatan yang dapat muncul dari perpaduan mesra yang seharusnya terbentuk melalui pernikahan.

Karena “Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan”, seperti dinyatakan dalam Al-Qurãn, dan karena Allah menciptakan lelaki dan wanita dari satu rumusan, maka Allah pula yang merupakan pusat rujukan bagi setiap pasangan yang menikah. “Dialah yang menciptakan keseimbangan” segala hal. Karena itu, Dia pula yang harus dirujuk untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Bila kedua pasangan dalam pernikahan menata sedemikian rupa hubungan mereka dengan Allah, maka bisa dipastikan keseimbangan sempurna akan dirasakan dalam kehidupan mereka.

Cinta adalah pergerakan menuju persatuan, kesatuan. Dan karena Allah itu Satu (yang juga mengajarkan satu konsep kehidupan, pen.), maka semakin dekat sang hati kepada Yang Satu, semakin kuat pula daya cinta yang tumbuh.

Cinta adalah gerakan menuju persatuan, menutu kesatuan. Seperti digambarkan dalam surat Al-Anfal ayat 63, melalui ajaranNya, Allah mempersatukan hati-hati yang bermusuhan. Persatuan timbul melalui cahaya kesatuan yang dihasilkan ruh cinta dan kekeluargaan yang ada di hati. Karena cinta adalah bayangan Kesatuan, kekeluargaan adalah bayangan cinta, dan keseimbangan adalah bayangan kekeluargaan.
Maka, biarkanlah pasangan-pasangan yang menikah menjadi pembantu dan pelindung satu sama lain. Biarkanlah mereka menjadi pakaian-pakaian yang indah bagi satu sama lain, dan biarkanlah mereka mengalami bersama banyak perbendarharaan dan keindahan pernikahan.

(Dari IslamCity, Irshaad Hussain,1/12/2011)

Comments
8 Responses to “Ruh Pernikahan”
  1. reza says:

    habis baca ini jadi mikir..selama ini..LASTU MUTAZAWWIJ
    BISA GAK BANG RUHNYA MENYUSUL?

  2. Ahmad Haes says:

    Wa ana ka-dzalik! Tapi, yaa pasti bisalah, selagi ada kemauan (dari kedua belah pihak) dan kesempatan.

  3. AGHSO says:

    bagaimana kalau yang mau hanya satu pihak ?
    apa kita juga harus tetap bertahan?
    mohon jawabannya pak.

  4. Ahmad Haes says:

    Bisakah bertepuk dg sebelah tangan? Tangan kita akan lelah sekali, dan tepuknya tentu tidak berbunyi!

  5. reza says:

    wuih…dalem bgt nih komen..hahaha kbanyakan pada seperti itu ya hihihihhi

  6. rina says:

    ijin copas ya pak…. kerennn

  7. Ahmad Haes says:

    Silakan!

  8. Fahrul says:

    Kapan yah saya bisa menemuka pakaian2 itu…..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: