Gopek!

Pagi tadi saya terpaksa harus ribut dengan kondektur buskota, gara-gara uang gopek alias lima ratus rupiah. Soalnya, saya sudah geledah saku baju dan celana, juga seluruh penjuru dan lipatan tas, tapi tidak saya temukan uang receh, untuk saya berikan pada si pengamen kecil yang sedang menyanyi dengan suara melengking-lengking.

Entah mengapa. Saya selalu merasa bersalah bila membiarkan tangan-tangan pengamen berlalu dari saya dengan hampa. Lima ratus perak, mungkin kurang berarti bagi saya. Tapi bagi para pengamen, lima ratus demi lima ratus itulah yang mereka kejar untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Saya tidak peduli penilaian orang tentang pemikiran saya ini!

Memang anak ini bukan pengamen pertama. Sebelumnya sudah ada dua pengamen, dan kedua-duanya ‘beruntung’ bisa mendapat jatah recehan dari saya. Tapi, untuk anak yang satu ini, saya tidak punya recehan kecuali yang ada di tangan si kondektur.

Bukan sekali-dua-kali saya ‘dikerjai’ mereka. Beberpa kali, bila saya membayar dengan uang sepuluh ribu, kembaliannya tujuh ribu. Bila saya berikan uang lima ribu, kembaliannya dua ribu. Padahal, ongkos yang harus dibayar adalah dua ribu lima ratus. Saya kesal, bukan karena sayang kehilangan uang lima ratus tapi dengan ‘trik’ mereka yang sama sekali tidak lucu dan tidak cerdik. Mereka agaknya sengaja memanfaatkan ‘celah’. Walau uang lima ratusan itu ada, dan selalu mereka bunyikan di tangan sebagai isyarat meminta ongkos, mereka selalu bilang kepada penumpang, “Lima ratusnya nanti ya!”

Mereka berharap penumpang lupa atau melupakan. Siapa yang mau ribut karena uang lima ratus perak?

Tapi pagi tadi, saya ‘terpaksa’ harus ribut. Pertama, karena ada pengamen yang berhak atas lima rtus itu. Kedua, saya tak suka dengan lagak si kondektur yang rada-rada tengik.

Maka, ketika ia mendekat untuk minta ongkos kepada penumpang yang baru naik, saya pun bilang, “Lima ratusnya dong! Buat pengamen tuh.”

“Apa?” sahutnya berlagak pilon.

“Kembalian lima ratus! Mau saya kasih pengamen!”

“Ye ilah! Lima ratus aja! Tuh, ambil tuh!” katanya sambil menunjuk tangan penumpang yang baru naik itu, yang memang memegang uang logam lima ratusan. Penumpang itu menyerahkan uang tersebut kepada saya. Saya mengambilnya, dan kemudian saya lihat muka si kondektur tengik itu tampak menantang.

“Elu jagoan ya?” bentak saya.

“Enggak!” katanya.

“Kenapa belagu? Elu kan kondektur!”

“Emang kenapa?”

“Kondektur tuh harus sopan sama penumpang!”

“Situ juga harus sopan dong!”

“Emang gua bagaimana tadi? Gua kan cuma minta hak gua. Elu tau enggak? Lima ratus juga hak orang! Jangan mentang-mentang orang enggak minta, elu diem-diem aja! Gua bukan baru sekali ini dikerjain sama  kondektur! Elu tau enggak? Kalo masalah ini gua bawa ke pengadilan, elu bisa masuk bui gara-gara duit gopek!”

Saya terus memelototinya. Saya pikir, kalau dia bicara lagi dengan nada kasar, saya akan menonjok atau menamparnya. Syukur dia diam. Si anak pengamen mengulurkan tangan ke depan saya. Saya menyerahkan recehan itu. Kondektur tengik itu menjauh. Sesekali dia menoleh, dan saya menyorotnya dengan tatapan garang.

Sekitar sepuluh menit kemudian, saya turun melalui pintu tempat kondektur itu berdiri. Saya ingin menguji mentalnya. Kalau dia ngomel dan menantang, saya benar-benar sudah siap adu jotos, dan akan saya geret dia pos polisi. Tapi rupanya dia ciut juga melihat wajah saya yang distel serem. Dia melompat turun.

Selanjutnya, saya berjalan dengan perasaan kesal dan geli.

Kenapa hari ini kok saya mau-maunya ribut karena uang lima ratus perak? Serius pulakah saya akan menjebloskan kondektur itu ke penjara gara-gara uang sebegitu? Enggak lah yaw! Saya cuma menggertak.

Tapi, mental ‘koruptor’ kecil-kecilan itu memang menjengkelkan. Ini menandai tiadanya nilai moral di kepala. Apa artinya uang lima ratus? Bisakah ia mengerjai seribu penumpang dalam sehari? Mungkin bisa. Tapi, dengan bekerja sebagai kondektur, bukankah itu suatu bukti bahwa dia bisa bekerja keras, mengandalkan tenaga mudanya untuk mendapatkan uang halal? Mengapa harus menodai diri dengan melakukan penipuan remeh itu?

Apakah ini salah satu bukti bahwa korupsi memang sudah menjadi budaya bangsa kita?∆

Comments
4 Responses to “Gopek!”
  1. nuhungusti says:

    pungli juga merajalela bang,angkutan umum kan tiap rit (putaran ) nyetor ke preman/petugas DLLAJ.

  2. Ahmad Haes says:

    Ya. Korupsi, pungli, dlsb., memang merajalela. Dan itu bukan berarti bahwa kita hrs ‘memaklumi’.

  3. Fahrul says:

    Kalau saya dah ga pernah di kerjain sm Kernet karena dah jarang naik angkot sih….

  4. Ahmad Haes says:

    Intinya bukan itu bos!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: