Hukum Gantung Untuk Wanita Iran

Foto atas: Para demonstran di Trafalgar Square, menentang eksekusi Ashtiani.
======================================================

Seorang wanita  Iran yang semula divonis hukum rajam (dilempari batu sampai mati) dikabarkan akan digantung besok. Demikian  menurut sebuah  kelompok HAM.

Komite Internasional Penentang Hukum Rajam (The International Committee Against Stoning) mengatakan  bahwa pihak berwenang telah mengeluarkan perintah pelaksanaan hukuman bagi Sakineh Mohammadi Ashtiani.

Sakineh (Sakinah), divonis mati karena berzina dan membunuh suami.

Wajah Sakineh  (yang  tampil dengan ekspresi lembut), telah menggugah  perhatian dunia intgernasional setelah ia menerima vonis hukum  rajam  karena berbuat zina.

Setelah mendapat tekanan internasional, penguasa Teheran akhirnya mengubah hukuman bagi wanita berusia 43 tahun itu menjadi hukuman gantung.

Sejak saat itu Ashtiani menempati antrian sebagai penunggu giliran eksekusi hukuman mati.

“Para pejabat Teheran telah menyampaikan perintah kepada prenjara Tabriz untuk melaksanakan eksekusi kasus rajam bagi Sakineh Mohammadi Ashtiani,” tulis sebuah kelompok HAM dalam website mereka.

“Telah beredar berita bahwa ia akan dieksekusi hari Rabu ini, tanggal 3 November.”

Namun pemerintah Iran tidak membenarkan atau menyanggah berita itu.

Eksekusi atas Ashtiani ditunda tanpa batas waktu setelah tokoh-tokoh politik dan agama mencela pemerintah Iran dengan menyebut vonis rajam itu sebagai beraroma abad pertengahan (kuno), barbar dan brutal.

Brasil sebagai sekutu dekat Iran, pernah menawarkan suaka bagi Ashtiani.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan di bulan September bahwa kasus perzinaan Ashtiani diperiksa ulang, tapi tuduhan kedua baginya sebagai pembunuh suaminya masih ditunda.

Di bawah hukum Islam yang diterapkan di Iran sejak Revolusi Islam pada tahun 1979, pelaku pembunuhan divonis hukum gantung, sementara zina divonis dengan rajam.

President Mahmoud Ahmadinejad  menutupi kasus tersebut dari pemberitaan para wartawan ketika ia mengikuti Sidang Umum PBB bulan September lalu, dengan mengatakan bahwa kasus tersebut adalah rekayasa media Barat. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat bersikap munafik dengan menentang hukuman mati (di Iran) sementara di negerinya sendiri hal itu dilakukan.

Hubungan Iran dengan Barat memburuk setelah kasus program nuklir Iran, dan menjadi tambah rumit ketika dua wartawan Jerman ditahan di Iran karena mereka mewawancarai putra Ashtiani.

Kedua orang tersebut masuk Iran dengan visa turis dan tidak mempunyai hak untuk bertindak sebagai wartawan. Demikian menurut pejabat pengadilan Iran. Pemerintah Jerman berusaha membebaskan kedua warganya.

Agustus lalu, televisi Iran menayangkan sebuah wawancara dengan wanita yang dikatakan bernama Ashtiani, yang mengakui hubungannya dengan seorang lelaku dan kemudian membunuh suaminya. Komisi Internasional Penentang Hukum Rajam mengatakan bahwa pertunjukan televisi itu adalah “propaganda beracun”.

Di lain pihak, Amerika Serikat menjatuhkan sangsi bagi delapan  pejabat Iran, termasuk di antaranya para Pengawal Revolusi dan beberapa menteri, karena pelanggaran HAM. Sangsi tersebut adalah hukuman tambahan bagi program nuklir Iran, yang ditakuti Amerika akan mengawali pembuatan senjata Nuklir. Tuduhan yang dibantah oleh Iran.

Menurut Amnesty International, Iran menempati urutan kedua setelah Cina dalam pelaksanaan hukuman mati. Di tahun 2008 saja, konon, Iran mengeksekusi 346 orang.

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-1325966/Iranian-woman-faced-death-stoning-hanged-tomorrow.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: