Hidup = Perjuangan (?)

Ini juga perjuangan. Tapi untuk apa? (Gb. dari therecessionists.co.uk).

Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa “hidup adalah perjuangan”. Bagaimana pengertian dari semboyan ini?

Anda sudah menyebut kutipan yang anda ajukan itu sebagai “semboyan”. Mari kita kaji dari segi itu dulu.

Maksud anda?

Kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan “semboyan”.

Benar juga. Saya setuju!

Dalam bahasa Inggris, semboyan itu adalah slogan atau motto…

Kenapa harus dikaitkan dengan bahasa Inggris?

Supaya tampak universal, he he… Maklum, bahasa Inggris kan katanya bahasa dunia.

Kalau ada bahasa dunia, tentu ada bahasa akhirat dong?

He he… mestinya begitu!

Kata orang, bahasa Arab adalah bahasa sorga?

Itu kata Rasulullah, bukan kata sembarang orang!

Benarkah? Bisa dijelaskan lebih jauh?

Bisa. Tapi bagaimana dengan pertanyaan anda tadi, tentang “hidup adalah perjuangan”?

O, iya. Maaf! Bahas  yang itu dulu deh…

Pertama, seperti anda katakan, itu sebuah semboyan, alias slogan, alias motto. Kamus-kamus bahasa Inggris menjelaskan bahwa slogan adalah frasa (potongan kalimat) yang mudah diingat yang digunakan untuk beriklan (easily remembered phrase use in advertising). Sedangkan motto adalah perkataan  yang digunakan orang atau organisasi tertentu untuk mengungkapkan tujuan atau kepercayaan mereka. (Saying used by a particular person or organization, which express their aims or beliefs).

Tampaknya pengertian motto itu lebih cocok ya?

Tidak juga. Ingat! Di musim kampanye parpol dulu, ada pemimpin parpol yang menggunakan semboyan (slogan): Hidup adalah perbuatan. …

O, itu semboyan Sutrisno Bachir kan?

Ya! Kalau anda perhatikan, Sutrisno itu sebenarnya hanya mengubah semboyan yang anda sebutkan, hidup adalah perjuangan. Atau, dia merekayasa sebuah ‘dalil’, kalau tak salah, dari seorang sosiolog Barat: life is activity.

O, ‘gitu ya? Tapi, kalau saya tak salah, yang belakangan itu masih ada sambungannya…

Memang. Lengkapnya adalah: life is activity; activity is adjusment; adjusment is decision; decision is alternative. Hidup adalah tindakan; tindakan adalah penyesuaian; penyesuaian adalah keputusan; keputusan adalah pilihan.

Wow, itu tampaknya lebih lengkap!

Ya. Tapi lebih ringkas dan padat semboyan kita tadi: hidup adalah perjuangan.

Lebih ringkas dan padat; tapi masih butuh penjelasan!

Begitulah semboyan! Ringkas, padat, menyentuh, menggugah. Tapi butuh penjelasan. Bila tidak, pemahamannya menjadi kabur. Dan kalau pemahamannya kabur, maka dia tidak lagi bermanfaat secara praktis; malah bisa menjadi omong kosong!

Nah, nah! Makanya saya butuh penjelasan dari semboyan kita itu!

Pertama, mari kita tinjau dari logika bahasa yang sederhana dulu. Perhatikan: hidup adalah perjuangan. Variasi tulisannya bisa kita buat menjadi begini: hidup: perjuangan, atau: hidup = perjuangan. Dari sini kita bisa menarik pemahaman bahwa kata hidup itu padanannya (sinonimnya) adalah perjuangan. Karena itu, kita pun bisa membalik susunannya, menjadi: perjuangan: hidup, atau: perjuangan = hidup.

Lalu, pengertiannya?

Pengertian secara logika bahasa sederhana itu menyatakan bahwa hidup, baik hidup manusia maupun hewan, ditandai dengan adanya perjuangan. Atau sebaliknya, perjuangan adalah hal yang menandai kekhasan makhluk hidup. Sebaliknya, makhluk yang hadir tanpa perjuangan adalah makhluk yang tidak hidup, alias makhluk mati.

O, begitu ya? Jadi perjuangan hanya merupakan tanda atau identitas untuk membedakan makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup?

Ya! Tapi, ingat, itu hanya pengertian berdasar logika bahasa yang sederhana. Boleh juga dikatakan pengertian berdasar kamus. Atau, dalam bahasa Arabnya, itulah pengertian lughawiy.

Wah! Saya jadi ingat… Kalau saya baca buku-buku agama… sering saya temukan …Ketika menjelaskan suatu kata, mereka sering mengatakan “berdasar pengertian lughawiy”, “berdasar pengertian ishthilahiy”…itu maksudnya apa?

Pengertian lughawiy, dalam bahasa saya, itu adalah pengertian berdasar logika bahasa sederhana dan bersifat umum, dan netral, yang terdapat pada kamus. Atau, sering dikatakan para cendekiawan sebagai pengertian generic, yaitu bersifat umum.

Bisa diberi contoh?

Misalnya, “menggunting”. Anda pasti tahu kan apa arti menggunting?

Memotong dengan gunting!

Ya! Itu arti kata menggunting secara bahasa, secara kamus, atau secara generic. Tapi, tahukah anda apa arti menggunting di kalangan (sebagian) kondektur bis kota?

Tidak.

Bagi mereka, menggunting berarti meminta ongkos kepada penumpang!

Oh! Baru tahu!

Itulah contoh pengertian secara bahasa (lughawiy) dan secara istilah (ishthilahiy). Atau bahasa Inggrisnya pengertian denotative dan connotative atau terminology. Yang pertama, pengertian kata diikat oleh kamus, atau direkam dalam kamus, yang bisa dirujuk semua orang. Yang kedua, dimaknai dan digunakan oleh orang atau kalangan tertentu; yang pasti juga hanya dipahami oleh orang-orang atau kalangan terbatas pula. Selain itu, ada juga pengertian kata berdasar konteks (context) tertentu.

Ya, ya. Saya juga sering dengar orang mengatakan,”Dalam konteks anu kata ini berarti anu”. Dalam hal ini, apa yang dimaksud dengan konteks?

Secara bahasa, konteks (context) atau bahasa Arabnya qarînah, adalah kaitan antar kata dalam sebuah kalimat atau wacana, atau pokok bahasan, yang menyebabkan sebuah kata mempunyai makna tertentu, yang berbeda dengan pengertian kamus. Misalnya, seorang istri yang cemburu mengatakan bahwa hatinya terbakar. Coba anda perhatikan! Kata terbakar digunakan dalam kaitan atau hubungan dengan cemburu, sehingga kata cemburu ini menjadi  konteks (isyarat, indikasi) bagi adanya pengertian tersendiri untuk kata terbakar.

Ooo, begitu ya? Lalu, bila dihubungkan dengan semboyan yang kita bahas: hidup adalah perjuangan?

Tadi kita sudah bahas dari segi bahasanya. Sekarang – langsung saja! – kita hubungkan misalnya dengan seorang Muslim! Ketika seorang Muslim mengatakan hidup adalah perjuangan, maka kita akan melihat konteksnya. Misalnya, Muslim itu adalah “orang yang tunduk patuh (pasrah) pada kehendak Allah”. Dengan demikian, ketika ia mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan, maka yang dimaksudnya adalah: Hidup itu adalah perjuangan dalam rangka menyatakan ketunduk-patuhan (kepasrahan) terhadap Allah.

Wow!

Sebaliknya, bila dihubungkan, misalnya, dengan iblis, maka: hidup itu adalah perjuangan dalam rangka menggagalkan segala bentuk berjuangan si Muslim!

Wow! Wow!

Kok wow wow terus sih?

Habis, baru ngerti…!

Ha ha!

Comments
4 Responses to “Hidup = Perjuangan (?)”
  1. nuhungusti says:

    hee…hee….numpang komen lagi bang.
    bentuk atau pengetahuan tentang ketunduk-patuhan (kepasrahan) terhadap Allah ini nih bang yang banyak yang orang tidak ketahui atau salah mengerti mungkin.
    jadinya semboyan seperti “kebersihan sebagian dari iman” lebih bisa di laksanakan secara sadar oleh masyarakat jepang atau masyarakat non-muslim lainnya.

  2. cak nan says:

    pasrah sendiri bentuk pelaksanannya bagaimana bang seperti sering orang bilang kita pasrakan saja pada kehendak tuhan (ketika orang tidak mampu menyelesaiakan masalah/tidak tahu jawaban)

  3. Ahmad Haes says:

    Saya sudah membahasnya sedikit dlm blog ini, yaitu dalam tulisan berjudul “Salahkah Bila Saya Pasrah?” dan “Salahkah Bila Saya Pasrah (2).

  4. Joann Abdo says:

    Hello.This article was extremely interesting, especially since I was browsing for thoughts on this subject last Saturday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: