Marijan

Sultan Hamengku Buwono IX

Nama itu mungkin berasal dari bahasa Arab, marjãn (permata dari batu karang merah), yang penyebutannya bisa ditemukan dalam Al-Qurãn (surat Ar-Rahmãn ayat 22 dan 58 ). Ini salah satu isyarat yang menandai adanya pengaruh Arab (Islam) terhadap orang Jawa, terutama mereka yang hidup di seputar keraton. (Ingat kisah tentang para penyebar Islam di Jawa, yang dikenal sebagai Wali Sanga).

Bagi masyarakat Jawa sendiri, Marijan mungkin bukan nama yang unik. Bahkan Mbah Marijan sebagai sebuah pribadi pun, bagi orang yang mengenal bagaimana “manusia Jawa” bukanlah pribadi yang unik.

Sebagai tipologi abdi dalem keraton (ke-ratu-an, kerajaan), khususnya Jawa,  orang seperti Marijan bukanlah contoh satu-satunya. Ia adalah ‘wakil’ (representasi) dari segolongan manusia yang – notabene –memandang raja sebagai pusat pengabdian, karena raja adalah titisan atau perwujudan Sang Mahakuasa. Karena itu, kepatuhan manusia seperti Marijan terhadap raja adalah kepatuhan yang bukan hanya penuh hormat (pemuliaan) dan khidmat (pengabdian), tapi juga cinta. Dan bukan sembarang cinta pula, tapi cinta mati. Maka tidak perlu heran bila manusia jenis ini juga mempunyai kesetiaan yang tak pernah pudar atau luntur, karena kesetiaan itu sudah melebur dalam darah yang mengaliri seluruh tubuh. Bahkan ketika ruh (spirit) pengabdian itu sudah tak mampu lagi mengalirkan darah ke sekujur tubuh, karena sang tubuh hangus tersambar wedhus gembel (sebutan penduduk sekitar Merapi untuk awan panas yang disemburkan sang gunung), ia masih berusaha untuk meninggalkan sang tubuh dalam posisi sujud, sebagai lambang pengabdian yang – mudah-mudahan –  akan selalu dikenang.

Tapi, walaupun kebanyakan orang tidak mau mengenang; mungkin karena ketidakpedulian atau kesibukan masing-masing yang amat sangat padat, ruh Marijan akan selalu menemukan tempat singgahnya, setidaknya ke anak-cucu; sebagaimana dulu ruh itu juga menitis dari atas ke dalam diri Marijan.

Ya. Marijan memangku jabatan (sejak tahun 1982) sebagai juru kunci adalah ‘titisan’ (baca: warisan) dari ayahnya (Mbah Darso), diawali dengan menjadi wakil sang ayah (tahun 1970). Dan begitu juga selanjutnya Marijan menitiskan kepada salah seorang putranya, yang kini menjadi abdi dalem keraton Yogya, yang sudah siap melanjutkan estafet pengabdian sakral itu.

Marjãn abdi keraton

Marijan (ejaan lama: Maridjan) adalah merjan (permata) para abdi keraton, yang kilaunya baru memijar dan menjadi pusat perhatian pada tahun 2006. Bulan Mei tahun itu, “yang lenggah (duduk; bertahta) di gunung Merapi untuk kesekian kali menyelenggarakan ‘hajat’, yang ditafsirkan orang di luar sebagai gejala-gejala gunung Merapi akan meletus. Ketika ‘hajatan’ itu ditafsirkan para pengamat modern sebagai keadaan Merapi yang berstsatus “awas”, sehingga para penduduk harus mengungsi, (Mbah) Marijan bertahan di tempat tinggalnya di dusun Kinahrejo. Ia bahkan tidak peduli walau permintaan untuk mengungsi datang dari presiden dan sultan Yogya sendiri.

Sultan Hamengku Buwono X.

Banyak orang menafsirkan – dan kemungkinan besar itu benar – bahwa Marijan hanya bersedia patuh kepada raja yang memberinya jabatan juru kunci dan gelar Mas Penewu Suraksohargo-1, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX. Dengan demikian,  ia – harap maklum! – hanya memandang Sultan HB X sebagai seorang gubernur NKRI. Dan hal itu memang diucapkan olehnya pada waktu itu. “Bila beliau (Sultan HB X) memerintahkan demikian (menyuruhnya mengungsi, red), berarti beliau seorang gubernur,” katanya.

Kesetiaan terhadap satu pihak bisa (otomatis) menyebabkan pembangkangan terhadap pihak lain. Itu hukum alam alias sunnatullah, karena Allah tidak menciptakan dua hati di satu rongga dada. Tapi itu hanya berlaku bagi orang yang sadar betul bahwa “hidup adalah pilihan”, sehingga langkah berikutnya setelah memilih adalah menunjukkan totalitas pengabdian, apa pun risikonya.  Itulah prinsip yang dipegang  teguh Marijan. Dan untuk menegaskan prinsipnya itulah Marijan mengatakan kepada orang-orang yang bertanya mengapa ia tak mau mengungsi, “Kalau memang mereka (penduduk yang tinggal di lereng Merapi) merasa sudah waktunya mengungsi, mereka harus mengungsi. Jangan hanya manut (ikut) orang bodoh yang tidak sekolah seperti saya.”

Benarkah Marijan “orang bodoh” karena “tidak sekolah”?

Tidak!

Perkataan Marijan adalah sebuah isyarat. Sebuah peringatan bahwa “kebenaran” tidak harus selalu diukur dengan “ilmu sekolahan”. Lebih-lebih lagi bila yang dibicarakan adalah soal falsafah hidup.

Seorang teman mengatakan bahwa Marijan adalah contoh manusia idealis Platonis sejati, yang menempatkan “ide” (idea) sebagai pemandu hidup.

Dalam terminologi Jawanya (walau berasal dari bahasa Arab!), ide itu adalah batin. Marijan memang adalah manusia yang setia pada kata batin; yang isinya tiada lain adalah falsafah hidup orang Jawa lingkaran keraton.

Sementara itu, kebanyakan kita adalah manusia naturalis bentukan lembaga sekolah; yang sering kali menempatkan batin sebagai hamba bagi nature (alam;  benda, materi). Karena ‘suara alam’ lah para pejabat BPPTK (Badan Penyelidikan dan Pengembangan Kegunung-apian) dan semua ‘orang sekolahan’ berteriak-teriak menyuruh rakyat menyingkir dari Gunung Merapi, dan karena ‘suara batin’ lah Marijan dan sejumlah penduduk tetap bertahan di tempat tinggal mereka.

Ketika ternyata Gunung Merapi meletus seperti telah diisyaratkan ‘kaum naturalis’ melalui hasil pengamatan mereka atas alam, ‘kaum idealis’ dengan Marijan sebagai salah satu figurnya (seperti) jatuh sebagai pihak terkecundang (kalah).

Tapi, benarkah bahwa Marijan kalah?

Secara fisik dan fragmatis, Marijan memang kalah. Tubuh tuanya tak mampu melawan terjangan awan panas. Tapi, secara batin (idea), kalahkah dia?

Tidak.

Kematiannya justru semakin menguatkan gaung suara batinnya, bahwa untuk menjadi bernilai itu manusia harus menjadi pengusung atau personifikasi – atau bahasa Al-Qurãnnya fã’il (pelaku) – dari sesuatu yang memang merupakan saripati dari segala nilai, yaitu idea atau konsep atau falsafah.

Terserah idea atau konsepnya berasal dari mana atau milik siapa. Itu soal lain.

Marijan hanya contoh dari orang yang konsisten (istiqamah) dalam menghidupi atau menghidupkan sebuah falsafah, bahkan sampai kehidupan lahirnya sendiri berakhir.

Salam hormat untukmu, Mbah Marijan! ∆

Comments
7 Responses to “Marijan”
  1. anton saputra says:

    assalamualaikum..sy suka dengan redaksi abg “kesetiaan pada 1 pihak, bearti pembangkangan terhadap pihak lain”. bg, sy ga tau mau curhat ke siapa..bhkn kdg2 sy ragu, apakah sy benar, atau salah ttg pilihan hdp sy? ini tentang mslh ekonomi kel..istri sy skrg tenaga kerja sukarela (TKS) disebuah lembaga kesehatan di daerah kami.dia perawat, gaji yg diterima yah..apa adanya, namanya juga sukarela…sy wiraswasta, dulu pernah maju pesat, tp kini merangkak lg..kmi nikah sudah 4 thn, sudah pnya 1 anak.sy skrg sedang dihadapkan pd dilema keluarga.4 thn lalu sy ada usaha di jkt, tp skkrg kami tinggal dikampung asal sy, dan itu jauh dr kampung istri..alasan saya skalian menjaga ibu dan adik2 yg msh kcl2..bapak sudah meninggal 4 thn lalu.sudah 4 kali pl istri ditawarkan ikut tes CPNS di kmpungnya..dan akan ditolong saudaranya yg pnya jabatan didaerah tsb.tpi sy melarang dengn alasan :
    1. klu lulus cpns dg cara spt itu, bagi sy = mencuri seumur hidup hak org lain yg mgkn lbh berhak dr istri sy
    2.sy izinkan dia ikut tp dg catatan harus murni, tp dalam lubuk hati sy, seandainya di lulus murni, apakah saya tega meninggalkan ibu dan adik2 sndri tanpa ada anak nya yg dewasa menjaganya?
    3.kdg2 sy berpikir, semua org menganggap wajar lulus tes dengan cr spt itu, akhirnya sy pun terkadang merasa menyesal setiap kali tawaran itu dtg sy tolak
    4. mslh yg plg berat, gara2 sikap sy yg sy tulis di poin 1, sy jadi bnr2 dimusuhi pihak klrga istri, terutama org tuanya. mrk blg jk sy tetap seperti ini hdp kmi tak akan maju.dan krnanya, sy jadi males bgt jika istri mengajak sy main ke rmh org tuanya. dan seolah2 org tuanya menuduh, krn sikap sy ini anaknya dikategorikan tidak berhasil dan secara terang2an mrk blg percuma hbskan biaya kemarin wktu kuliahkan anaknya.
    5.sy sendiri msh krj, tp kdg menghasilkan, kdg juga tidak..
    6. sy bebarapa hari yg lalu berangkat ke jkt lg, memulai usaha yg pernah sy tinggal dulu..istri sy mnta tetap di kampung, menjaga ibu dan adik2 sy..tp jika org tuanya dtg, biasanya dia rapuh..tergoda..dan perkelahian pun kembali meletus seperti yg sudah2.
    7.pertanyaan sy : apakah sikap sy setia pada nilai2 kejujuran demi kehalaln&kebaikan rezeki yang akan digunakan untuk membesarkan dan mendidik anak itu sudah benar? atau mengizinkan istri ikut tes dengan cara “picik” demi alasan perbaikan taraf hidup?salahkah sy membenci mertua yg berkali2 dtg kerumah hny untuk meruntuhkan kepatuhan istri trhdp suami?salahkah sy membenci mertua yg berkali2 juga menyuruh saya mengizinkan istri ikut tes dg cr apapun? mhn maaf, sy tdk pandai menyusun kata dg baik, tp sy hrp abg mampu mencernanya dengan baik. atas saran dan nasihat abg sy ucapkan terimakasih..assalamualaikum

  2. Ahmad Haes says:

    Tunggu ya. Saya pelajari dulu semuanya.

  3. Adib Susila says:

    Bang Husein, saya mohon izin utk copas di blog saya ya?
    Terima kasih.

  4. nuhungusti says:

    mantaf bang,tapi kok lama bang jeda nya ma tulisan sebelumnya.
    @anton saputra: saya juga pernah mengalami seperti itu dilema antara idealisme dgn pragmatisme.tapi ya itu tadi hidup adalah pilihan.

  5. Ahmad Haes says:

    Monggo…

  6. Ahmad Haes says:

    1. Mohon maaf; sedang sibuk menggarap majalah Kalisa; 2. Kesimpulan yang jitu. Jadi, mana yang hendak dimenangkan? Idealisme kita atau desakan kebutuhan pragmatis kita? Bila idealisme kita berpangkal pada ajaran Allah, tentu itulah yang harus dimenangkan. Apa pun risikonya.

  7. anton saputra says:

    terimakasih atas waktu dan kesimpulan jitu abg…saya merasa sgt terbantu dalam pemantapan pengambilan keputusan2 saya selanjutnya, apapun resikonya..insya allah…tapi saya berat pada anak bg..karena berangkat dari keinginan untuk mendidik anak dengan baik dan membesarkan anak dengan rezeki yg halal lah yg membuat sy tetap dg idealisme..tapi karena ini pula mgkn sy terpisah dengan buah hati..sudah 4 tahun sy berjuang perlahan membina istri dan keluarga, tp mgkn saya dapat dikategorikan gagal…ya Allah…
    @bg haes : sukses ya Kalisanya bg..
    @nuhungusti: terimakasih atas perhatiannya..jika ada pesan2 yg menguatkan iman, sy akan sgt berterimaksih skli.. (anton_top2007@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: