Mengapa KALISA?

Cover2

Bila tak ada aral melintang, in syaAllah, awal November 2010 akan terbit sebuah majalah bernama Kalisa.

Mengapa Kalisa?

Itu seperti nama majalah wanita!

Ah, itu sih cocoknya untuk nama majalah para gadis!

Demikian contoh komentar-komentar untuk nama majalah kita ini.

Ada beberapa yang mempertanyakan, ada yang menolak, ada yang kurang setuju. Tapi akhirnya, suara terbanyak (!) menyatakan nama itu bagus. Mereka setuju majalah ini bernama Kalisa!

Yang paling menarik, mungkin, adalah pertanyaan istri saya (he he…!), “Bang, ada arti lain engga dari kata kalisa itu? Mungkin dari sebuah bahasa asing…”

Mungkin.

Tapi, saya belum sempat mencari.

Bila anda tahu, tolong beri tahu kami.

Sebenarnya, kalisa itu adalah akronim dari kalimatin sawã (كلمة سوى); yaitu potongan kalimat dari surat Ali ‘Imrãn ayat 64:

(Firman Allah kepada Nabi Muhammad), Tegaskan: “Hai Ahli Kitab! Mari kita mengacu pada kalimatin sawã (yang bisa menjadi pendamai) antara kami dan kalian! Yaitu bahwa kita hanya akan mengabdi Allah, dalam arti tidak akan pernah membagi hati dengan sesuatu apa pun selainNya. Yakni bahwa dia, siapa pun di antara kita, tidak akan pernah menjadikan siapa pun, selain Allah (dengan ajaranNya), sebagai pandu-pandu kehidupan.” Bila mereka memalingkan muka, maka tegaskan, “Saksikanlah oleh kalian bahwa kami adalah orang-orang yang pasti kukuh dalam kepatuhan terhadap Allah (muslim)!”

Seperti anda lihat, ayat ini menggambarkan sosok Rasulullah (Nabi Muhammad) bersama umat beliau, para muslim, yang pada masanya harus berhadapan dengan dua Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Jelas tegas bahwa mereka (Rasulullah bersama umat sezamannya) disuruh Allah untuk mengajukan kalimatin sawã kepada lawan bicara mereka.

Lalu, apa itu kalimatin sawã?

Ada sebagian cendekiawan muslim Indonesia (dikomandoi Nurcholis Madjid, bila tak salah) menerjemahkan kalimatin sawã menjadi common platform.

Kata kuncinya di sini adalah platform; terjemahan bebas untuk kalimatin (bentuk aslinya kalimatun).

Arti awal dari platform adalah peron, yang bisa kita jumpai di stasiun kereta api. Selain itu, platform juga bisa berarti panggung (stage), atau mimbar (podium). Dalam kaitan dengan partai politik, platform adalah program.

Sungguh menarik bahwa dalam bahasa Inggris ternyata program/programme tidak mempunyai sinonim. Hanya ada penjelasan dalam sejumlah kamus bahwa program bisa berarti: 1. daftar, 2. rencana, 3. acara televisi/radio, 4. penetapan waktu, 5. data yang dimasukkan ke dalam komputer.

Jadi, apakah common platform itu berarti “program bersama”?

Tepatkah bila kalimatin sawã diartikan sebagai “program bersama” para muslim, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani?

Atau, bila bukan program bersama, bisakah ia diartikan sebagai “kecenderungan bersama”, atau “keinginan bersama”?

Jawabannya, sebenarnya ada pada ayat itu sendiri; yang menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimatin sawã itu – apa pun terjemahannya – adalah ikrar bahwa:… kita hanya akan mengabdi Allah, dalam arti tidak akan pernah membagi hati dengan sesuatu apa pun selainNya. Yakni bahwa dia, siapa pun di antara kita, tidak akan pernah menjadikan siapa pun, selain Allah (dengan ajaranNya), sebagai pandu-pandu kehidupan.

Bila kita cukup tekun membaca sejarah agama-agama yang disebut sebagai “agama-agama samawi” alias “agama langit”, yaitu (kronologis) Yahudi, Nasrani, dan Islam, kita tahu betul bahwa ayat ini tidak akan bisa dipahami dengan baik bila tidak memahami latar belakang sejarahnya.

Intinya – terlepas dari perjalanan sejarah belakangan –  adalah klaim (pengakuan) tentang monoteisme. Tentang keesaan Tuhan.

Konon, para pemeluk agama-agama samawi itu, semua mengaku hanya punya satu Tuhan, yang oleh kaum muslim disebut dengan nama “Allah”.

Dan, karena tugas Nabi Muhammad – dengan Al-Qurãnnya – adalah sebagai mushaddiq (pemanggil kembali kepada kebenaran versi Al-Qurãn!), maka bunyi kalimatin sawã-nya adalah: “… kita hanya mengabdi Allah, dengan tidak membagi hati kepada tuhan-tuhan selain Dia.”

Jadi, ayat ini adalah tantangan untuk membuktikan klaim tersebut.

Selanjutnya, setidaknya menurut saya, tantangan itu tidak hanya berlaku bagi kaum Yahudi dan atau Nasrani, tapi – terutama – justru bagi yang mengklaim sebagai muslim itu sendiri!

Ya! Bila kita muslim, ayo buktikan bahwa kita “hanya mengabdi Allah, dengan tidak membagi hati kepada tuhan-tuhan selain Dia.”

Dalam pemikiran teologis bangsa Indonesia, kata tuhan selalu dihubungkan dengan Sang Mahapencipta. Tapi Al-Qurãn menjelaskan bahwa tuhan (rabb; ilah) bisa muncul dalam bentuk apa saja. (Dalam Kalisa nomor ini sengaja dimuat artikel berjudul Asal-usul Istilah Tuhan).

Bahkan – jangan kaget – tuhan itu bahkan bisa muncul dalam bentuk madzhab atau aliran ke-Islam-an yang kita anut, yang kita anggap sebagai satu-satunya yang benar.

Dengan demikian, saya kira sudah jelas bahwa kehadiran Kalisa diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa apa pun klaim kita tentang “kebenaran kita”, semua harus sanggup menjawab tantangan surat Ali ‘Imrãn ayat 64. Semua harus menjadikan kalimatin sawã (yaitu bahwa kita hanya akan mengabdi Allah, dalam arti tidak akan pernah membagi hati dengan sesuatu apa pun selainNya. Yakni bahwa dia, siapa pun di antara kita, tidak akan pernah menjadikan siapa pun, selain Allah (dengan ajaranNya), sebagai pandu-pandu kehidupan) sebagai tolok ukur.

Itulah alasan mengapa majalah ini bernama Kalisa.

Wa lillahi hujjatul-balîghah, was-salãmu ‘alaikum…!

Comments
18 Responses to “Mengapa KALISA?”
  1. deden says:

    Bang majalahnya Khusus Jakarta atau di daerah Juga terbit

  2. Ahmad Haes says:

    Yang di daerah bisa dikirim lewat pos.

  3. Noverdi says:

    Kalo mw pesan kemana dan gimana caranya bang? Oh ya aku di kalsel.

  4. Ahmad Haes says:

    Kirimkan alamat lengkap anda. Nanti kami kirim majalahnya lewat pos. Biaya ditransfer melalui rekening Kalisa, yg nanti kami beri tahu.

  5. deden says:

    Bang . Kalo Butuh marketingnya untuk Di batam Saya Siap bang

  6. Ahmad Haes says:

    Al-hamdu lillah! Nama anda dicatat sbg pemegang amanah untuk marketing KALISA di Batam. Terimakasih.

  7. Arief Rachman says:

    Untuk Daerah Serang Banten, Daftar langganannya ke siapa Bang

  8. Ahmad Haes says:

    Blm ada agen. Tapi anda bisa menerimanya lewat pos.

  9. sahaja says:

    Bang, kalo mau langganan KALISA , gimana caranya, saya domisili di solo

  10. Ahmad Haes says:

    Kirimkan alamat lengkap. Pembayaran transfer ke rekening Kalisa (nanti diberi tahu nomornya).

  11. sahaja says:

    kirim alamatnya ke blog ini ya, ini alamat saya, Bambang Jimat HS, Kantor Wilayah DJP Jawa Tengah II Jalan MT. Haryono No. 5 Surakarta

  12. Ahmad Haes says:

    Terimakasih. Tunggu kabar selanjutnya ya?!

  13. Arief Rachman says:

    Kabar KALISA bagaimana Bang ?

  14. Ahmad Haes says:

    Lagi deg2an nih nunggu keluar dari percetakan.

  15. Urikss says:

    Kalo mw pesan kemana dan gimana caranya bang? Oh ya aku di jombang jatim.

  16. Ahmad Haes says:

    Majalah Kalisa baru terbit 4 nomor (1-2-3-4)
    Harga majalah rp.10.000,-
    Sebutkan pesan berapa, alamat lengkap, kirim uang (seharga majalah yg dipesan, plus ongkos kirim) ke BCA KCP Jatibening no 7510150478 a.n Iwan Pasadam Pambudi.

  17. Nil says:

    saya mau pesan majalahnya 1-4,gimana caranya pak ahmad?kira2 berapa ongkos krmnya,soalnya sy di pelosok buanget ini,tlg dijelaskan caranya

  18. Ahmad Haes says:

    Coba lihat di Kalisa Online.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: