Ekonomi Itu Apa Sih?

Korban ilmu ekonomi Feodalis-Kapitalis?

Seorang pembaca bertanya mengapa di blog ini tidak ada tulisan tentang ekonomi menurut Sunnah Rasul (= ekonomi Islam)?

Saya bilang, secara utuh, saya memang belum menulisnya. Tapi  bila hanya menyinggung, dalam tulisan berjudul “Salah Kaprah Tentang ‘Idul-fithri”, misalanya, ada disinggung sedikit. Atau, ada isyarat ke arah sana.

Maksud saya, ada isyarat bahwa saya mempunyai paham (= isme?) sendiri tetang ekonomi, berdasar ‘pemahaman’ saya atas Al-Qurãn di satu sisi dan Sunnah Rasul di sisi yang lain.

Saya, misalnya, memahami ekonomi sebagai “penyelenggaraan kebutuhan hidup manusia beradab” secara umum.

Kebutuhan hidup manusia bukan hanya ‘sistem ekonomi’ dalam arti sempit yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan-sandang-papan (makanan, pakaian, tempat tinggal). Bagi saya ekonomi – yang konon berasal dari oikos (rumah) dan nemein (mengatur) adalah sebuah ‘ilmu’ yang mencakup sistem sosial, sistem politik,  sistem hukum, dan tentu mencakup “sistem ekonomi” yang anda kenal sekarang, mulai dari yang makro sampai yang mikro.

Kata oikos dalam bahasa Arab adalah bait(un). Bila ditambah kata sandang “al”, baitun berubah menjadi al-bait(u). Dan, bila diajukan sebagai istilah, kata al-bait menjadi punya makna khusus. Apalagi bila digabungkan dengan kata Allãh(u), Allah, menjadi baitullah(i), maka pengertikan bait berubah menjadi lebih khusus lagi!

Mungkin anda membayangkan – seperti biasa – bahwa yang dimaksud baitullah adalah “rumah Allah”, yang mempunyai dua pengertian, yaitu (1) Masjidul-Harãm, Ka’bah; dan (2) masjid secara umum (sebutan istilahi bagi semua masjid adalah baitullah). Tapi, bagi saya, baitullah juga bisa berarti “sistem ekonomi menurut Allah”.

Kok bisa?

Pertama, coba hubungkan dengan kata Yunani oikos (rumah) di atas, yang belakangan melahirkan istilah ekonomi (bahasa Inggrisnya economy).

Dengan pemahaman saya bahwa “ekonomi” adalah “penyelenggaraan kebutuhan hidup manusia beradab”, yang di dalamnya tercakup sistem sosial, sistem politik,  sistem hukum, dan seterusnya, lalu dihubungkan dengan pemahaman bahwa baitullah juga bisa berarti “sistem ekonomi menurut Allah”, maka – bagi saya – dari sudut pandang ini, wahyu Allah (Al-Qurãn) adalah sebuah ilmu ekonomi. Yaitu “ilmu tentang penyelenggaraan kebutuhan hidup manusia beradab”!

Itu pemahaman saya secara singkat tentang ekonomi.

Bila anda minta saya untuk menguraikannya, mungkin anda harus menunggu beberapa tahun! Itu pun bila Allah masih memberi saya kesempatan. Bila tidak, mungkin teman-teman saya ada yang bisa menguraikan. Atau barang kali anda sendiri? Silakan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: