Pembakaran Buku Dalam Rekaman Sejarah

Sejarah telah merekam pembakaran Perpustakaan Iskandariah oleh tentara Kristen, Perpustakaan Baghdad oleh tentara Mongol, pembakaran buku dan para sarjana oleh tentara Dinasti Qin (Cina), penghancuran naskah-naskah hukum bangsa Maya oleh para pendeta Kristen Spanyol, pembakaran kitab-kitam Muslim dan Yahudi oleh ‘pasukan’ Inquisisi Katolik, pembakaran Taurat oleh orang Kristen Jerman, dan penghancuran Perpustakaan Nasional Sarajevo. Pada tahun 1193, setelah mengalahkan tentara Ghauri, Jai Chand, kebanyakan muslim konon membakar perpustakaan Nalanda, yang dikenal sebagai Dharma Gunj, Pegunungan Kebenaran.

Tercatat dalam sejarah bahwa pada tahun 367 Masehi, Athanasius, uskup Iskandariah, mengeluarkan surat Easter (Kebangkitan Yesus) yang berisi perintah agar para pendeta Mesis memusnahkah semua buku, kecuali yang disahkan sebagai ‘Perjanjian Baru’.

Dalam buku dramanya yang terbit tahun 1821 M, Almansor, penulis Jerman Heinrich Heine menyebutkan pembakaran Al-Qurãn di masa Inquisisi Spanyol. Ia menulis, “Mereka membakar buku-buku. Begitu bernafsunya mereka, pada akhirnya, untuk membakar manusia.” (“Dort, wo man BŸcher verbrennt, verbrennt man auch am Ende Menschen.”). Buku-buku karya Heine  juga akhirnya termasuk ke dalam ribuan jilid buku yang dibakar orang Kristen Jerman.

Tahun 1873, berdiri New York Society for the Suppression of Vice (Masyarakat – ormas – New York untuk Penindasan dan Kejahatan). Mereka membuat stempel tentang satu tujuan penting mereka: pembakaran buku. Ormas tersebut memusnahkan sekitar 15 ton buku, 284.000 pon pelat-pelat percetakan, dan hampir 4.000.000 gambar. Ormas itu juga berhasil melobi Kongres AS untuk ‘menampung’ aspirasi-aspirasi mereka dalam Comstock Law.

Di Cina, Menteri Li Si menasihati Kaisar Qin Shi Huang untuk membakar semua buku filsafat dan sejarah. Tindakan itu bahkan disusul dengan pembakaran hidup-hidup para ilmuwan yang menentang dogma negara.

Raja Antiochus IV, pada tahun168 sM, memerintahkan pembakaran kitab-kitab hukum Yahudi yang ditemukan di Jerusalem.

Sekitar tahun 50 M, seorang serdadu Romawi merampas gulungan Taurat, dan membakarnya di depan umum. Kejadian ini nyaris menimbulkan revolusi Yahudi melawan pemerintah Romawi.

Buku-buku kimia Iskandariah, Mesir, dibakar oleh kaisar Diocletian pada tahun 292 M. Tahun 303 M, Diocletian juga membakar buku-buku Kristen.

Tahun 1214, para pejabat istana Prancis membakar semua kitab Talmud di Paris, sekitar 12.000 buku, setelah buku-buku tersebut ‘divonis bersalah’ dalam pengadilan Paris.

Tahun 1480an, Tomas Torquemada memerintahkan pembakaran buku-buku non-Katolik, terutama Talmud Yahudi dan juga buku-buku Arab, setelah mengusir para Muslim dan Yahudi.

Tahun 1490 sejumlah Bibel Hebrew (Ibrani?) dan buku-buku Yahudi dibakar atas perintah Inquisisi (semacam dinas investigasi Katolik) Spanyol. Tahun 1499, sekitar 5000 naskah Arab dibakar di lapangan umum Granada atas perintah Ximenez de Cisneros, Uskup Agung Toledo.

Tahun 1526,  Perjanjian Baru terjemahan William Tyndale dibakar di London oleh Cuthbert Tunstal, Uskup London.

Terjemahan Bibel ke bahasa Jerman karya Martin Luther, dibakar di daerah-daerah yang dikuasai Katolik pada tahun 1624, atas perintah Paus.

Tahun 1656 penguasa Boston mebakar buku aliran Kristen Quaker di depan umum.

Tahun 1731, Count (bangsawan) Leopold Anton von Firmian, Uskup Agung Salzburg, membakar buku-buku kelompok Lutheran (pengikut Martin Luther, perintis kelahiran Protestan).

Tahun 1933, orang-orang Kristen membakar karya-karya para penulis Yahudi, dan karya-karya lain yang dianggap “bukan Jerman”.

Tanggal 10 Mei tahun 1933, para pemuda Kristen penganut filsafat Nazi, membakar sejumlat Taurat.

Tanggal 23 Maret 1984, orang-orang Yahudi Ortodoks mengadakan upacara pembakaran buku-buku Perjanjian Baru di Jerusalem.

Dalam catatan sejarah baru-baru ini, ada sejumlah peristiwa pembakaran CD musik, serta buku-buku fiksi dan non-fiksi.

Ada beberapa peristiwa pembakaran buku-buku Harry Potter, termasuk yang dikomandoi beberapa geraja di Alamogordo, New Meksiko dan Charleston, South Carolina. Pembakaran rekaman-rekaman The Beatles, sehubungan pernyataan John Lennon tentang Yesus, juga terjadi. Tahun 1988, sekelompok Muslim Inggris membakar buku Salman Rushdie, Satanic Verses, di London. Peristiwa itu diikuti dengan pembakaran CD musik karya Yusuf Islam, sehubungan pernyataan-pernyataannya tentang Salman Rushdie. Bulan Mei tahun 2008, sekelompok pemuda Yahudi membakar banyak Perjanjian Baru di Or Yeduda, Israel.

Itulah sekilas gambaran tentang sisi gelap kemanusiaan.

Bagaimana pendapat anda?

Sumber: Dr Aslam Abdullah, IslamCity.com

Comments
5 Responses to “Pembakaran Buku Dalam Rekaman Sejarah”
  1. reza says:

    al ilmu shaidhun..wal kitaabah qaidun..
    qayyid shuyudak bi alqibali alwatsiqah..

    ilmu = hewan buruan
    menulis = mengikat hewan buruan
    ikat hewan buruanmu dengan bikin buku (menulis)

    tolong bantu lengkapin bang kalo karya sastra diatas kurang bener, sorry..balagoh saya dapat C waktu kuliah..wkwkwkw

  2. reza says:

    memang buku salahsatu yg dapat merubah prilaku seseorang

  3. Ahmad Haes says:

    Ikat ilmu dg menulis buku? Bisa benar, bisa salah. Ketika Al-Quran dibukukan, lestarilah dia sampai sekarang. Tapi ketika Al-Quran melahirkan ribuan buku dari ribuan penulis, larilah perhatian orang darinya!

  4. reza says:

    ya..mereka berpaling dr qur’an dan memuji karya tulisan sendiri

  5. aida says:

    tafsir alquran bs melahirkan ribuan buku sngat wajar,krna dalam nya makna alquran..satu kalimat hadis saja bila di tafsirkan bs jd 2 halaman besar(kt guru ku),apalagi alquran….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: