Saya Percaya Allah. Selanjutnya, Terserah Saya!

Pernyataan Steven Hawking terbaru: Tidak ada Tuhan personal. Tuhan adalah dalil-dalil ilmiah! (lihat: http://id.news.yahoo.com/viva/20100903/twl-bagi-hawking-dalil-ilmiah-adalah-tuh-cfafc46.html)

Ya. Anda bisa mengatakan, “Saya percaya Allah. Selanjutnya, terserah saya!” karena “percaya adanya Allah”, atau “percaya kepada Allah” itu adalah perkataan yang lepas dari urusan teknis (cara).

Dengan kata lain, saya percaya Allah, titik. Tentang bagaimana cara saya membuktikannya, terserah saya!

Dengan demikian, tak ada orang yang berhak menuntut anda. Bahkan anda sendiri pun tidak harus menuntut diri anda untuk  membuktikannya dengan cara tertentu.

Cukup dengan mengikuti apa kata hati.

Ya, karena kepercayaan adalah urusan hati.

Tapi, ketika kita hidup, dengan menapakkan kaki di bumi, bisakah hanya bermodal kata hati?

Bukankah kita punya warisan pepatah yang berbunyi: Hasrat  ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai! Bukankah pepatah ini adalah ungkapan bahwa ‘kata hati’ (hasrat) saja tidaklah cukup untuk melakukan pekerjaan besar?

Bahkan, untuk melakukan pekerjaan kecil pun, kata hati tidaklah cukup. Kita butuh tangan untuk menjangkau makanan dan minuman. Butuh pisau untuk mengupas mangga dan memotong roti. Butuh sendok untuk menyiduk gula dan garam. Butuh alat (sarana) untuk melakukan apa pun.

Bila alat atau sarana kita abaikan, kata hati hanya ‘berbunyi’ di alam mimpi!

Bila dipaksakan juga untuk berbunyi di alam nyata, jadilah ia sebuah dongeng atau fiksi. Sebuah kebohongan, yang menipu orang lain dan atau diri kita sendiri.

Kata hati bisa indah menjadi novel atau puisi. Tapi untuk menulis novel dan atau puisi, kita membutuhkan sedikitnya sebatang pensil dan setumpuk kertas. Dan, di atas segalanya, terlebih dahulu kita harus menguasai “ilmu” yang menyetir kita menulis novel atau puisi.

Hanya orang gila yang bisa mengandalkan kata hati; sebab ia bisa menyantap sampah dengan menganggapnya hidangan mewah!

Buat orang gila memang apa pun pantas. Layak. Normal. Natural.

Berkhayal, pantas.

Mengoceh sendiri, pantas.

Tertawa dengan tiang listrik, pantas.

Mengobral kemaluan, pantas.

Tak tahu aturan, pantas.

Maklum.

Dunia orang gila adalah dunia sungsang. Dunia jungkir balik!

Upside down.

Downside up.

That’s the realm of a mad man.

Kepala jadi kaki. (Otak turun ke dengkul).

Kaki jadi kepala. (Dasar otak udang; tak sadar kepala berlumur tinja!).

Tapi itulah alam orang gila.

Atau, bila tidak jadi orang gila, jadi Tuhan lah, sehingga anda bisa melakukan apa saja!

Tapi, bila anda benar-benar ingin jadi Tuhan, atau merasa jadi Tuhan, anda layak menjadi raja segala orang gila, karena anda bukan orang gila biasa. Bahkan, seperti Fir’aun dan Hitler, anda menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan manusia.

Oh, tidak. Saya mau jadi Ferdinand Marcos saja.

Atau, jadi Suharto saja.

Atau, Ariel Peterpan saja!

Terserah.

Tapi, kalau begitu, seperti kata seorang anak penggembala kambing kepada Umar Al-Faruq, “Wahai Tuan, bila saya jual seekor kambing yang diamanahkan kepada saya, maka di manakah Allah?”

Fa ayanallahu?

Di mana Allah?

Apakah bocah angon itu bertanya tentang oknum (dzãt) Allah?

Bukan.

Sebenarnya ia bertanya, “Wahai Tuan, apakah Allah tidak mengajarkan apa-apa? Apakah Allah tidak melarang mencuri? Apakah Allah tidak mengharamkan korupsi?”

Bocah angon itu, bertanya “di mana Allah” karena di kepalanya ada “ajaran Allah”.

Ajaran Allah = wakil Allah

Siapakah yang berhak mengklaim dan atau diklaim sebagai wakil Allah di bumi ini?

Tidak ada!

Bila ada yang mengatakan bahwa Sang Khalîfah yang tercantum dalam surat Al-Baqarah sebagai Wakil Allah, suruh dia kumpulkan buku-buku ilmu tauhid, dan bakar sampai musnah!

Sobat!

Di masa Rasulullah masih hidup, Allah memang menegaskan dalam Al-Qurãn bahwa kepatuhan terhadapNya harus diwujudkan dengan mengikuti rasulNya. “Siapa yang mematuhi Rasul, berarti mematuhi Allah.”[1]

Hal itu berlaku, karena Al-Qurãn mewujud nyata dalam diri Rasulullah.

Tapi sekarang, setelah Rasulullah tiada, Al-Qurãn hanya tingal tulisannya. (Laysal-qurãnu illa rasmuhu).

Tapi, nyatanya, tulisan itulah kini yang menjadi satu-satunya wakil Sang Pencipta.

Dialah, tulisan (mushhaf) Al-Qurãn, yang disebut Ali As-Saifullah sebagai salah satu dari dua warisan Rasulullah.

Dialah, Al-Qurãn,  warisan yang berbicara dengan kata-kata Allah (ketika anda membaca dan mengerti bahasanya!).

Selainnya, warisan kedua, adalah maut! Yang tidak ngomong permisi atau maaf ketika datang menjemput.

Hamba Allah ikut ajaran Allah

Bila anda hanya percaya (adanya Allah) tapi hidup dengan “ikut kata hati” (walau sebenarnya tidak bisa!), maka jadilah anda seorang humanis, yang percaya bahwa Tuhan memang ada tapi tidak pernah menurunkan wahyu.

Tapi ketika anda mengaku beragama, maka konsekkuensi logisnya anda harus berpikir, merasa, berbicara, dan berperilaku – harus hidup! – dengan mengikuti ajaran Tuhan anda. Dan ketika anda menyatakan diri sebagai Muslim, otomatis anda harus menghayati (menghidupi; menghidupkan; merealisasikan) “ajaran Islam” alias “ajaran Allah”.

Bila tidak demikian, yakni tidak berpikir, merasa, berbicara, dan berperilaku dengan ajaran Allah, tapi anda ngotot mengaku sebagai hamba Allah, maka kenyataan sebenarnya adalah anda (dan mungkin juga saya!) hanyalah menjadi hamba dari kata hati sendiri.

Afa ra’ayta man-ittakhdza ilahu hawãhu?…

Tidakkah kamu perhatikan orang yang menjadikan ‘dirinya sendiri’ (kata hatinya) sebagai Tuhannya? Maka – karena sikapnya itu – Allah menyimpangkannya dari (nilai)  ilmu apa pun. Yakni Dia (Allah) – karena sikapnya itu – menutup daya tanggap dan daya pikirnya, serta memunculkan penghalang bagi daya wawasnya. Bila sudah demikian, siapa yang bakal memberinya petunjuk setelah (menolak petunjuk) Allah? Tidakkah hal itu kalian pikirkan dalam-dalam?[2]


\aya-allah-selanjutnya-terserah-saya

Comments
17 Responses to “Saya Percaya Allah. Selanjutnya, Terserah Saya!”
  1. Nuhungusti says:

    Jika menurut abang seorang khalifah bukan wakil allah,jadi makna taati allah,rasul dan ulil amri minkum apa bang?

  2. Ahmad Haes says:

    Bila yang anda tanyakan adalah surat An-Nisa ayat 59, sedikitnya anda harus amati betul satu ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat itu tidak bicara tentang khalifah, tapi tentang posisi sentral Rasulullah dalam konteks kepatuhan mu’min terhadap Allah.
    Dalam terjemahan Dep-Ag:
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
    Bandingkaan dengan terjemahan saya:
    Wahai kaum mu’min, patuhillah Allah dengan cara mematuhi Rasul, yakni seseorang di antara kalian yang menerima perintah (wahyu). Bila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka mengaculah kepada ajaran Allah (wahyu) yang diajarkan melalui Rasul, jika kalian benar-benar mu’min dan ingin berjaya hingga tujuan akhir (fi-ddun-ya hasanah wa fil-akhirati hasanah). Sikap demikian itulah yang terbaik, yakni setepat-tepatnya perwujudan iman.

  3. Ahmad Haes says:

    Silakan!

  4. Nuhungusti says:

    Apakah menurut abang al-Quran dan terjemahan versi depag-RI tidak sesuai dgn kaidah-kaidah ilmiah dan syar’iyyah sehingga dpt menyesatkan?kalau benar begitu tentu tdk bisa di biarkan bang.

  5. Ahmad Haes says:

    Yang menyesatkan adalah orang yang mengatakan bahwa terjemahan Dep-Ag harus dijadikan pegangan, seolah-olah merupakan terjemahan yang jitu. Padahal di situ banyak keganjilan dan kekeliruan! Tapi itu juga bisa terjadi pada terjemahan saya dan siapa pun. Cara yang benar adalah menjadikan Al-Quran itu sendiri sebagai tolok ukur terjemahan siapa pun, bukan sebaliknya. Tapi untuk itu kita hrs berusaha betul memahami Al-Quran (yang saya tahu tidak bisa diterjemahkan secara pas ke dalam bahasa apa pun dan oleh siapa pun).

  6. Nuhungusti says:

    Sekarang saya ngerti bang!
    Al-Quran wakil ALLAH sedangkan khalifah adalah wakil Al-Quran itu sendiri.seperti yg pernah rasulullah sampaikan di khutbah wada,bahwa yg paling tepat menjadi pemimpin adalah yg paling mengerti dan memahami al-Quran ditambah kriteria yg lainnya.

  7. Ahmad Haes says:

    Al-hamdu lillah.

  8. harta sujarwo says:

    ada yg masih ganjal di hati saya…tentang teknis da’wah dengan media internet adakah dasar bahwa itu bagian dari pola rasul?? sudahkah saatnya da’wah secara publikasi atau aklamasi? terus bagaimana dengan sistem assyratakal aqrabin dan arqan bil arqam?…sudahkah ada izin pemegang management da’wah (pak isa bugis) untuk da’wah melalui media internet? tidakkah akan menuai resiko security ilmu akan bocor pada orang2 yg ingin menyalahgunakan alquran menurut sunnah rasul?saya senang dengan ilmu tapi saya ingin penyampain ilmu ini atas satu dasar yg bisa dipertanggungjawabkan manfaatnya sesuai yg dimau oleh allah.

  9. Ahmad Haes says:

    Entah. Saya hanya tahu bahwa Rasulullah menulis surat yg dikirimkan ke sejumlah tokoh.

  10. Rijal says:

    Lho?? Ada security ilmu toh?

  11. diar t says:

    mudah mudahan bisa menjadi satu pembelajaran bagi diri saya, dan yang demikian itu mudah mudahan juga bagi umat manusia sebagai satu alternatif pilihan ilmu … salam

  12. Ahmad Haes says:

    Mudah-mudahan. Salam kembali.

  13. Surya says:

    Alhamdulillah saya telah bertemu dengan apa yang coba saya cari selama ini…saya mencoba untk bertanya satu hal pa..apa Allah itu… apa yang harus ada dalam otak saya saat saya mengatakan dan mendengan kata/kalimat “ALLAH” trimakasih

  14. Ahmad Haes says:

    Rasulullah mengajarkan agar kita tidak memikirkan ttg diri Allah, tapi pikirkanlah ciptaannya. Kita juga diajari untuk menghafal Al-Quran, sebagian atau seluruhnya, supaya bisa dibawa ke dalam shalat, dan melekat dalam ingatan. Dengan selalu mengingat-ingat (dan memahami) ayat2 Allah itulah, kita menjadi tenang; karena ayat2 itu bisa menjawab pertanyaan2 kita.

  15. Surya says:

    Trimakasih atas responnya…bagaimana dengan Kalimat Allah Maha Mengetahui..Maha Mendengar..yang kalimat tersebut di fikiran saya seolah Allah itu Maaf punya mata dan telinga apakah ada yang salah dalam kalimat tersebut ?

  16. Ahmad Haes says:

    Tidak salah. Karena kita manusia, maka kita cenderung berpikir antrofomorfis (segala sesuatu dianggap sama atau mirip dg manusia). Bahkan ada org yg mengatakan bhw seandainya kuda bisa berpikir spt kita, maka mrk akan mengatakan bahwa Tuhan itu spt kuda. Namun jelas Rasulullah mengajarkan kpd kita bahwa kita tidak boleh memikirkan ttg diri Allah, dan lebih baik memikirkan ciptaanNya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: