A Study Of Îmãn (7): Potensi iman

Sebelum ini telah disebutkan bahwa etika dalam bahasa Arab disebut qawã’idul-akhlãq (kaidah-kaidah akhlak), atau dalam pemahaman umum yang populer di Indonesia sama dengan “ilmu akhlak”. Berdasar hadits riwayat Muslim yang bersumber dari ‘Aisyah, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad berakhlak Al-Qurãn, dapat kita simpulkan bahwa Al-Qurãn adalah salah satu (sumber) etika, alias salah satu sumber ilmu akhlak. Dengan kata lain, Al-Qurãn adalah qawã’idul-akhlãq minallahi (etika – ilmu akhlak –  dari Allah). Hal ini menjadi semakin jelas ketika kita hubungan dengan sebuah hadits yang cukup terkenal, yang berisi pengakuan Rasulullah tentang tugas beliau: Innama buitstu li-utamima makarimal-akhlãq (Sesungguhnya aku diutus dalam rangka mengunggulkan akhlak mulia).

Bila Al-Qurãn adalah “ilmu akhlak” (etika) dari Allah, maka otomatis etika-etika yang lain adalah ilmu akhlak yang tidak bersumber dari Allah. Hal ini perlu ditegaskan, terutama sehubungan dengan kajian tentang iman yang kita lakukan (dalam naskah ini) sekarang.

Ilmu sebagai penentu nilai iman

Baik etika yang diajarkan Allah maupun etika-etika yang lain, semua mempunyai nilai dan harga yang mutlak.

Istilah nilai disini bisa diganti dengan sifat atau potensi (kemampuan), atau fitrah untuk mewujudkan sesuatu. Nilai ini mutlak adanya, dan pasti berlaku bila tidak ada hambatan. Kemutlakannya sama seperti api yang mampu membakar setiap benda yang ada di dekatnya.

Surat Al-Ankabut ayat 52 memberikan gambaran demikian:

Tegaskan lah (Muhammad/Mu’min): Cukuplah Allah (dengan ajaranNya)  sebagai pembuktian (siapa yang benar dan siapa yang salah) di antara aku dan kalian. Dia (Allah) menata segala yang di langit dan di bumi dengan ilmuNya. (Sepantasnya manusia pun menata hidup dengan ilmu Allah). Maka orang-orang yang beriman dengan ajaran bãthil, yang berarti kafir terhadap ajaran Allah, mereka adalah orang-orang yang rugi (dan merugikan).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa nilai etika menentukan nilai iman. Orang-orang yang memilih etika yang bãthil berarti ãmanû bil-bãthil (hidup – beriman – dengan ajaran bãthil), dan hasilnya adalah mereka menjadi orang yang rugi (sendiri) dan merugikan (oran lain).

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa etika Allah mempunyai potensi (nilai; kemampuan) mewujudkan fid-dun-ya hasanah wa fil-ãkhirati hasanah, yaitu kehidupan yang “baik” di dunia dan – hingga –  di akhirat.

Surat al-Baqarah ayat 25 menggambarkan dengan “bahasa sastra” demikian:

Maka sampaikan kabar gembira bagi orang-orang beriman, yakni mereka yang berperilaku tepat (sesuai ajaran Allah), bahwa mereka layak menikmati ‘kebun-kebun’ yang di bawahnya mengalir sungai-sungai (irigasi). Setiap muncul buah-buahan sebagai anugerah dari upaya mereka, mereka mengatakan, “Inilah (pembuktian) yang dahulu dianugerahkan kepada kami, yaitu disampaikan (diajarkan sebagai gagasan) kepada kami melalui bahasa perumpamaan (tasybîh)” Di situ mereka hidup bersama para pendamping yang suci, tinggal kekal selama-lamanya.

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa bahasa dalam surat Al-Baqarah ayat 25 ini sangat bergaya sastra, dengan salah satu ciri khasnya, yaitu perumpamaan (tasybîh). Pada dasarnya ayat ini berbicara tentang gagasan (wahyu) yang disampaikan (diajarkan) pada satu waktu, dan pembuktian (perwujudan) gagasan itu pada waktu berikutnya di dunia ini, bukan di akhirat sana. Dengan kata lain, ayat ini mengungkapkan tentang janji Allah bagi para mu’min yang istiqamah, yang tahu pasti (yaqîn) nilai (potensi) ajaran Allah, sehingga mereka terus berjuang untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

Satu hal yang perlu diperhatikan, janji Allah itu disampaikan melalui wahyu. Dengan kata lain, dalam konteks ini, isi wahyu Allah itu adalah janji(-janji). Dan di antara janji-janjiNya itu, sebagian disampaikan dalam bentuk bahasa-bahasa perumpamaan (tasybîh), atau ungkapan-ungkapan tidak langsung. Sebagai contoh, dalam ayat ini, penyebutan kata-kata jannãt ­jamak dari jannah (kebun), anhãr – jamak dari nahr (sungai), tsamarãt – jamak dari tsamar (buah), juga rizqan (rejeki; anugerah) adalah perumpamaan (majas) semua; sehingga tidak bisa dipahami dalam pengertian harfiah. Mengapa? Pemahaman harfiah bisa melahirkan terjemahan yang membingungkan, seperti hasil terjemaan Dep-Ag di bawah ini.

25. dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Nilai etika bãthil

Etika bathil pada hakikatnya hanyalah kreasi orang-orang kafir yang melakukan ‘pembatalan’ atau sabotase atas konsep Allah. Dan kemampuannya hanyalah menimbulkan bencana dalam kehidupann manusia:

Allah dengan tegas memberikan gambaran melalui nyamuk, sampai yang lebih (besar) darinya (yaitu gambaran kehidupan makhluk penghisap darah). Maka orang-orang beriman pasti tahu bahwa ini merupakan ajaran yang benar dari pembimbing mereka. Sedangkan orang-orang kafir malah terus menyoal, “Apa sih maunya Allah dengan perumpamaan ini?”  (Maka) banyak lah orang yang sesat karenanya, dan banyak pula yang menjadikannya petunjuk. Tentu saja yang sesat karenanya hanyalah orang-orang yang fasiq.

(Yaitu) mereka yang mencabik-cabik konsep Allah yang telah dibuat layak menjadi ikatan hidup, dengan cara memutus apa yang Allah suruh untuk disambung.[1] Dengan cara itulah mereka menimbulkan bencana di dunia. Mereka lah sumber segala kesialan. (Al-Baqarah ayat 26-27).

Surat An-Nisã’ ayat 51 menegaskan bahwa sumber bencana yang mereka ciptakan itu berwujud “kitab”.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana keadaan mereka yang tertimpa nasib sial karena suatu kitab (para kutu buku)? Mereka beriman – hidup – dengan konsep Jibti (dukun, sihir, takhyul) dan Thaghut (berhala, syetan, biang kesesatan), seraya berkoar kepada (sesama) kaum kafir, “Inilah konsep-konsep yang cemerlang dibandingkan dengan konsep kaum mu’min (pengikut Rasulullah).”

Tentu saja kaum Mu’min juga beriman dengan Kitab. Bedanya, kitab yang mereka gunakan adalah kitab(-kitab) karangan manusia, sedangkan yang digunakan mukmin adalah Kitabullah. Kitab-kitab karangan manusia (khususnya hasil karya kaum Kafir serta antek-antek mereka yang mengaku mu’min) jelas bernilai bathil. Akibatnya:

… segala hasil karya kaum Kafir itu tidak ubahnya fatamorgana di gurun pasir. Orang yang kehausan mengira fatamorgana itu air. Kemudian ketika mendatanginya, ia tidak menemukan apa pun (yang dibayangkannya) …


[1] Mungkin seperti memutus kabel, yang membuat listrik mati, telepon tak berfungsi, kendaraan tak berjalan. Ayat ini menggambarkan orang-orang fasiq golongan manusia yang membuat ajaran Allah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Comments
11 Responses to “A Study Of Îmãn (7): Potensi iman”
  1. Rijal says:

    Mas Ahmad kalo boleh tahu, apa Makna ”kebun dan sungai”?

  2. Ahmad Haes says:

    Saya tidak mempunyai pengetahuan khusus tentang kedua kata yang anda tanyakan. Saya hanya tahu lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa:

    ke•bun n 1 sebidang tanah yg ditanami pohon musiman (buah-buahan dsb); 2 tanah luas yg ditanami kopi, karet, dsb
    su•ngai n aliran air yg besar (biasanya buatan alam); kali

  3. Rijal says:

    Maksud saya hakikat kebun ato sungai pada ayat tersebut gitu,.

  4. Ahmad Haes says:

    1. Saya menjawab sesuai pertanyaan. 2. Bisa kebun/sungai dlm arti harfiah, bisa kiasan.

  5. Rijal says:

    Kalo sungai dan kebun itu hanya kiasan , berarti ada makna sesungguhnya.. (ini inti prtnyaan sy)

  6. Ahmad Haes says:

    Ya. Kebun (jannah) itu bisa merupakan kiasan bagi Madinah. Tumbuhan yg ada di dalamnya adalah para mu’min. Air yang mengalir di bawahnya adalah ilmu (Al-Qur’an).

  7. Rijal says:

    Nah.. Udah mulai mudeng nih saya, tp coba perhatikan dlm Al-Quran banyak sekali ayat2 yg menyandingkan bilangan 2 (dua) yg mengiringi kata jannah/kebun. Misal: dua kebun disebelah kanan dan kiri… Kebun-kebun (jamak)?

  8. Ahmad Haes says:

    Kalau saya tak salah, Al-Quran memang membagi jannah menjadi dua, yaitu jannah mu’min dan jannah kafir.

  9. Hello. magnificent job. I did not imagine this. This is a splendid story. Thanks!

  10. hampura says:

    Sebuah uraian yang sangat ilmiah. Kalo disimpulkan :
    1. Iman = Gaya Hidup. Penentunya adalah ILMU.
    2. Tak cukup hanya menggunakan hati (perasaan) saja utk memahaminya, melainkan otak sebagai alat/perangkatnya.
    3. Ilmu atau apapun yg datang dari luar tubuh adalah input, otak adalah perangkat pemahaman, perasaan (apa yg dirasakan atau kadang2 disebut dengan isi hati) adalah outputnya.

  11. hampura says:

    Jadi kalo bicara perangkat maka otak, mulut, dan alat tubuh lainnya. Dan kalo bicara budaya hati (bukan organ tubuh), ucapan dan perbuatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: