Menikahi Wanita Asing Demi Menghemat Uang!

Wanita asli meminta maskawin yang sangat mahal.

Para ahli sosiologi mengaitkan trend baru pernikahan dengan tingginya mahar yang diminta para wanita Uni Emirate Arab (UEA).

Statistik baru menunjukkan semakin banyaknya kaum pria UEA menikahi wanita asing.

Data dari Dubai Statistics Centre mengungkapkan bahwa sejak tahun 2007 hingga 2009, jumlah pria UEA yang menikahi wanita asing meningkat sampai 10 persen (539 orang). Sementara jumlah mereka yang menikahi sesama orang UEA menurun 2 persen (1.178).

Angka-angka itu, hanya mencakup Dubai, diambil dari laporan tahunan kantor-kantor pengadilan Dubai.

Para ahli sosiologi menghubungkan kecenderungan itu, yang bermula sejak tahun 1980an, dengan besarnya mas kawin yang dituntut para wanita asli UEA. Syaikh Zayid, Presiden UEA, membatasi mahar resmi sejumlah Dh20.000 – tapi jumlah itu bisa meroket hingga Dh800.000 dalam kesepakatan tak resmi keluarga.

“Banyak pria UEA mengeluhkan para keluarga wanita UEA yang menuntut mahar yang tinggi dan pernikahan yang harus diselenggarakan di hotel mewah,” tutur Fauzyah Tarisy Raby, direktur pembangunan keluarga pada Kementrian Sosial. “Karena itulah mereka (pria UEA) memilih menikahi wanita asing.”

Menikahi wanita asing konon hanya butuh biaya seperempat dari pengeluaran mereka bila menikahi wanita lokal. Namun sebenarnya mereka juga ‘menuntut’ biaya tak tertulis, seperti ongkos untuk mondar mandir antar UEA dan negeri asal si istri.

“Bila mereka menikahi wanita lokal, calon istrinya akan meminta uang dalam jumlah besar, ditambah dengan jumlah yang mereka minta di luar perjanjian resmi,” kata Abdul Aziz Al-Hammadi, seorang penasihat perkaniwinan di sebuah pengadilan Dubai. “Karena itu, bila kami membahas tentang semakin mahalnya biaya pernikahan dengan wanita lokal, sebagian pemuda di sini lantar berpikir bahwa mereka lebih baik menikahi wanita luar, karena seluruh prosedurnya hanya akan menghabiskan uang Dh10.000’.”

Pemerintah kemudian menggagas penyediaan dana perkawinan untuk mempersatukan warga (melalui pernikahan dengan sesama warga).

“Tujuan dari strategi ini adalah untuk meningkatkan kepedulian tentang kesehatan keluarga dan keseimbangan (stabilitas) masyarakat,” ungkap Habibah Muhammad, manajer sebuah lembaga bimbingan pernikahan.

Demi menyemangati kelangsungan pernikahan antar warga lokal, dana tersebut disediakan untuk menanggulangi biaya pernikahan, dan bahkan dirancang untuk memberlakukan pernikahan masal.

Masyarakat UEA sering memandang pernikahan penduduk asli dengan orang asing sebagai menyalahi adat dan tidak bisa diterima. Namun hal itu kemungkinan tidak bakal lagi dianggap buruk seiring bertambahnya jumlah penduduk UEA, yang malah menempatkan penduduk asli menjadi monoritas.

“Pendapat umum menyatakan bahwa masyarakat lebih cenderung menolak daripada menerima,” kata Fauzyah Tarisy Raby. Namun yang lain menimbang jumlah penduduk yang sedikit. Jadi, mengapa tidak meningkatkan jumlah penduduk melalui cara yang benar, yaitu pernikahan?”

Raby mengamati bahwa menikahi orang Asia cenderung dipandang buruk, sementara menikahi wanita sesama orang Teluk lebih disukai, karena kesamaan latar belakang budaya.

Namun, pernikaan antarbangsa tidak menimbulkan lebih banyak perceraian dibandingkan dengan pernikahan sebangsa. Perbandingannya menurut pusat statistik adalah 21: 18.

Tapi, begitu terjadi perceraian, urusannya jadi sangat memusingkan ketika satu pihak pulang ke negerinya.

Yassir Habib, seorang komposer UEA, butuh penyelesaian masalah selama lebih dari sepuluh tahun untuk memulangkan dua anaknya yang dibawa ibu mereka pulang ke Austria, dengan alasan hendak menghadiri pernikahan adik wanitanya.

“Setelah 13 tahun berurusan dengan pemerintah Austria dan anak-anak, akhirnya saya mendapatkan mereka dua setengah tahun lalu,” katanya. “Ini mengacaukan saya secara psikologis. Bertahun-tahun saya menderita kerugian dan tidak bisa bekerja. Saya menghabiskan banyak uang pinjaman dari bank, dan hampir masuk penjara karena utang.”

Situasi demikian itu dapat mengkompromikan perkembangkan sosial anak dari pernikahan campuran, terutama bila mereka tidak dibesarkan di lingkungan yang benar, kata Nassir Al-Harbi, psikolog di rumahsakit Al Amal, Dubai.

“Perkembangan kejiwaan anak sangat tergantung pada caranya dibesarkan, tak peduli apa kebangsaan orangtuanya,” katanya. “Bila ia dibesarkan dalam keluarga yang stabil, lingkungan yang aman, dengan cara pemeliharaan yang memenuhi kebutuhan pribadi dan sosialnya, maka hal itu membantu perkembangan kejiwaannya.”

(Middle East Online/Amna al Haddad – DUBAI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: