A Study Of Îmãn (6): Berpangkal Etika

Iman sebagai gaya Hidup

(Pembahasan iman sebagai gaya hidup sudah ditulis tersendiri dalam blog ini. Di sini hanya disinggung sedikit untuk sekadar mengingatkan bahwa iman tidak terpisahkan dari gaya hidup).

Bagian permukaan dari iman (segi kebahasaan dan perilaku) melahirkan gaya hidup, yang dalam bahasa Latin disebut ethos.

Ethos dibentuk oleh etika, yang dalam bahasa Inggris disebut ethics dan dalam bahasa Arab disebut qawaa’idul-akhlaaq. Maka bagi yang memahami bahasa Arab, akan semakin jelas bahwa gaya hidup adalah suatu “hasil bentukan”, bukan sesuatu yang built-in (terpasang) sejak “dari sononya”, bukan “bakat semula jadi” ; karena dalam bahasa Arab gaya hidup itu disebut akhlãq, suatu istilah yang berpangkal dari kata khalaqa (menciptakan, menjadikan, membentuk, mengadakan, dsb.). Hal itu menjadi semakin jelas bila dihubungkan dengan kata-kata ‘Aisyah yang menegaskan bahwa akhlãq Rasulullah adalah Al-Qurãn (terbentuk oleh Al-Qurãn).

Berpangkal etika

Etika adalah “Suatu sistem peraturan tentang apa yang benar atau salah secara moral, khususnya peraturan yang diikuti kelompok penganut agama atau orang-orang yang tergabung dalam kelompok profesi.”[1] Dalam kaitan dengan penganut agama, etika Kristen tertentu berbeda dengan etika Islam. Dalam kaitan dengan kelompok profesi, kita mengenal apa yang disebut “kode etik” (code of ethics), yaitu etika yang mengikat setiap kelompok profesi. Dalam dunia kedokteran ada “kode etik kedokteran”, dalam dunia kewartawanan ada “kode etik jurnalistik” , dan seterusnya.

Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat, yang konon lahir karena manusia merenungkan sifat dan kelakuannya, sehingga akhirnya berkembang lah pengertian tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi karena pemikiran manusia begitu beragam, maka lahirlah berbagai aliran etika, namun intinya terbagi menjadi dua aliran:

1. Aliran Intuisionisme yang mempercayai adanya bisikan hati atau ilham. Bagi mereka, pandangan tentang baik dan buruk itu merupakan bawaan (bakat), yang terpasang dalam perasaan manusia.

2. Aliran Empirisme, yang mengajarkan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman.

Kedua aliran itu kemudian ribut soal mana yang disebut baik mutlak dan mana yang nisbi. Di antara mereka ada yang menjadikan agama sebagai ukuran, ada yang mengajarkan bahwa yang paling banyaklah yang paling baik, ada pula yang meyakini bahwa individu adalah penentu kebenaran.

Mana yang harus dipilih? Kita bisa mengatakan bahwa kebenaran individu itu nisbi (relatif) dan karena individu itu kecil bila dibandingkan dengan masyarakat, maka kebenaran individu itu dapat dikalahkan oleh kebenaran masyarakat. Kemudian, bila kita gunakan agama sebagai tolok ukur, bisa jadi satu individu dikatakan benar karena ia mematuhi agama. Tapi bukankah jumlah agama juga tidak hanya satu? Selain itu, dalam satu agama juga terdapat aliran-aliran, yang memusingkan kita untuk menunjuk mana yang benar.

Al-Qurãn mengajukan satu rumusan bahwa konsep yang benar itu berasal dari Allah. Bila manusia tidak menyetujui konsep Allah, silakan membuat konsep sendiri. Tapi menurut Al-Qurãn pula, manusia tak akan mampu membuat konsep yang setara dengan konsep Allah meskipun bekerja sama dengan jin (al-Baqarah ayat 23-24; al-Israa’ayat 88). Dengan kata lain, konsep yang benar adalah konsep yang paling siap menghadapi tantangan. Selain itu, Al-Qurãn juga menegaskan bahwa konsep yang benar itu harus sesuai dengan fitrah (nature) manusia, dan harus mampu menjamin manusia bebas dari ketakutan serta duka-cita.

Wilayah iman

Etika apa pun yang digunakan manusia dalam hidupnya, termasuk ‘etika Al-Qurãn’, pasti akan mempengaruhi tiga segi kepribadiannya seperti yang disebut dalam uraian terdahulu, yaitu segi kejiwaan (qalbiyah) segi kebahasaan (lisaniyah) dan segi perilaku (fi’liyah). Ketiga segi inilah yang dimaksud ‘wilayah’ iman.

Dari ketika segi tersebut, segi kejiwaan menempati posisi dasar. Ibarat bangunan, segi kejiwaan adalah fondasinya, yang harus dibangun pertamakali dan harus dibuat sekokoh mungkin, karena di atasnya lah bagian-bagian lain diletakkan. Bila fondasinya rapuh, bangunan tidak bisa ditegakkan.

Namun betapapun pentingnya, fondasi adalah bagian bangunan yang terkubur, tersembunyi di bawah tanah. Yang terlihat dari sebuah bangunan hanyalah bagian-bagian yang terletak di permukaan tanah.

Bila menyebut “bangunan iman” segi kejiwaan adalah bagian yang tak tampak. Yang nampak hanya segi kebahasaan dan perilaku. Bila kedua segi ini tampil baik, maka sudah pasti itu mencerminkan keadaan jiwanya yang baik. Demikian juga sebaliknya. Sehubungan dengan ini lah sebuah Hadits memberikan gambaran demikian:

Man ra’ã min kum munkaran fal- yughayyirhu bi-yadihi. Fa-in lam yastathi’ fabvilisãnihi. Fa-in lam yastathi’ fabiqalbihi; wa dzãlika adh’aful-îmãni (HR. Muslim).

“Siapa pun di antara kalian (yang mengaku Mukmin) melihat suatu kemunkaran, maka sepantasnya ia turun tangan mengatasinya. Bila ia tak mempunyai kemampuan untuk turun tangan, maka sepantasnya ia menggunakan lidahnya. Bila bicara pun tak mampu, maka sepantasnya ia bereaksi dengan kalbunya. Tapi inilah (pertanda) dari iman yang paling lemah.”

Hadits ini mengingatkan bahwa segi kejiwaan yang lemah tidak akan mampu berperan sebagai fondasi bagi tegaknya segi kebahasaan dan perilaku. Karena itulah orang yang berjiwa demikian tidak mempunyai semangat juang. Orang Jakarta bilang “nggak punya nyali.” Sebagai akibatnya, kemunkaran  pun terus merajalela.

Sebuah Hadits Bukhari memberikan gambaran kebalikan dari gambaran di atas:

Afdhalun-nãsi mu’minun yujãhidu fi sabilillãhi bi- nafsihi wa mãlihi tsumma mu’minun fi sya’bin minasy-syi’ãbi yattaqîllãha wa yada’u-nnãsa min syarrihi.

“Manusia yang terbaik adalah mu’min yang mempertaruhkan diri dan hartanya dalam berjuang di jalan Allah. Selainnya (yang bernilai sama dengannya) adalah mu’min yang  tinggal di tempat terpencil karena tekadnya memelihara ajaran Allah membuatnya harus menjauhi masyarakat yang cenderung berbuat buruk.”

Kedua Hadits tersebut dengan tegas menekankan bahwa wawasan iman harus mencakup tiga ‘wilayah’, yaitu kalbu, lisan, dan perilaku. Karena itu kita patut heran bila al-Ghazali mengatakan, “… iman itu hanya percaya dalam hati saja, sedangkan lisan hanya merupakan juru bahasa. Dengan demikian, maka iman itu mesti ada sepenuhnya dalam hati sebelum dinyatakan dengan lisan … itu pendapat yang jelas kebenarannya, tidak ada alasan selain keharusan mengikuti keterangan Hadits Nabi, bahwa Iman itu percaya dalam hati. Iman itu tidak akan lenyap dari hati, hanya karena tidak diucapkan dengan lisan, walaupun mengucapkannya itu wajib, sama halnya dengan tidak lenyap aIman hanya karena tidak melakukan shalat.[2]


[1] Longman Language Activator.

[2] Aqidah-Akhlak jilid 2 untuk Madrasah Aliyah Keas II, departemen Agama RI. Hal. 12.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: