A Study Of Îmãn (4): Pengertian kalbu

Samakah pengertian kalbu (qalbun, al-qalbu) dengan “hati” dalam bahasa Indonesia? Bila bicara tentang hati, orang Indonesia pada umumnya menyebutkan sesuatu yang menjadi tempat bersarangnya berbagai perasaan, dan mereka biasa mengisyaratkan tangan ke dada, seolah-olah hati (perasaan) itu terletak di dalam dada. Sedangkan bila berbicara tentang akal atau pikiran, umumnya orang menunjuk kepala.

Menurut ilmu urai tubuh (anatomi) kita berpikir dan merasa dengan otak. Dalam kamus Psychology, Dali Gulo menggambarkan otak sebagai “bagian dari sistem saraf yang terbungkus dalam tengkorak kepala dan merupakan pusat motivasi, pemikiran, pengolahan dan penyampaian apa-apa yang diperoleh dari indera.”

Floyd L. Ruch dalam Psychology and Life memberikan gambaran tentang otak demikian:

In the last analysis the superiority of man over the lower forms derives from his superior ability to think and plan, utilizing objects both present and absent in overcoming his problems. This ability is the result of a larger, more complex brain, which operates with intricate division of labor and with more control over the reswt of nervous system than we find in any of the lower forms. Perception, thought, consciousness itself depend on the brain for their occurrence. Clearly, then, if we are to … study all the behaviour, motives, and emotions growing out of the interaction between man and his ewnvironment, our picture must include a working understanding of the brain.

(Penelitian terakhir membuktikan bahwa keunggulan manusia atas makhluk-makhluk lain yang lebih rendah terletak pada kemampuannya yang istimewa untuk berpikir dan membuat rencana, serta memanfaatkan barang baik yang ada maupun yang tidak ada untuk menyelesaikan berbagai masalahnya. Kemampuan ini adalah berkat dari otak manusia yang lebih besar dan lebih rumit, yang beroperasi dengan pembagian kerja yang ruwet dan lebih mampu mengendalikan sistem saraf dibandingkan dengan yang kita temukan pada makhluk-makhluk lain yang lebih rendah. Persepsi (pendapat), pemikiran, dan kesadaran  itu sendiri keberadaannya tergantung pada otak. Jadi, jelaslah, bila kita hendak mempelajari segala perilaku, dorongan-dorongan, dan berbagai perasaan yang tumbuh sebagai akibat pergaulan manusia dengan lingkungannya, gambaran kita harus disertai pemahaman yang baik tentang otak).

Setelah memerhatikan gambaran tentang otak, mari kita periksa gambaran tentang kalbu dalam al-Qur’an, misalnya dalam Surat al-A’raaf 7:179:

“Bagi jahanam sungguh telah Kami sediakan banyak jin dan manusia, yang telah kami bekali qalbu tapi tidak mereka gunakan untuk memahami (ajaran Kami), yang telah kami bekali mata tapi tidak digunakan untuk melihat (bukti kebenaran ajaranb Kami), yang telah Kami bekali telinga tapi tidak digunakan untuk menyimak (penjelasan tentang ajaran Kami). Mereka itu ibarat hewan piaraan, bahkan lebih tolol  lagi. Mereka adalah para pengabai (kesempatan untuk meraih keberuntungan, dengan melaksanakan ajaran Allah).”

Sedangkan dalam Surat an-Nahl 16:78 Allah menegaskan pula:

“ … Allah mengeluarkan kalian dari kandungan ibu kalian dalam keadaan tidak tahu apa-apa tapi dibekalinya kalian dengan alat pendengaran, alat penglihatanj, dan fuad, supaya kalian gunakan dengan sebaik-baiknya (bersyukur).”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa kalbu (qalbun, jamaknya qulubun) sama dengan fuad (fuadun, jamaknya af’idah) yang fungsinya berkaitan dengan fungsi indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran, yang keduanya sangat berperan dalam kehidupan manuysia yang mempunyhai otak lebih besar dari otrak hewan. Kamus pun menyamakan kalbu dengan akal (al-aqlu), fuuad, dan batin, atau quwwatul-idraak (daya tanggap), atau al-fahmu (faham, pengertian). Hans Wehr dan J. Milton Cowan dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, mengartikan kalbu sebagai mind (pikiran), soul (jiwa), dan spirit (ruh). Jadi jelas lah bahwa kalbu tidak sama dengan hati dalam arti perasaan saja. Terjemahan yang tepat untuk kalbu dalam bahasa Indonesia adalah jiwa, yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan, dan otak secara fisik mungkin merupakan ‘sarang’-nya. Sedangkan secara ruhani, otak dan jiwa adalah identik (sama); dalam arti bahwa pembicaraan tentang jiwa manusia selalu berkaitan dengan sesuatu yang mengisi otak ragawi.

Al-qalbu (jiwa, otak) yang ‘berkantor pusat’ di kepala itulah yang mencari input (masukan) melalui dua indera yang paling dominan, yang berkali-kali disebut dalam Qur’an, yaitu telinga dan mata.

Comments
5 Responses to “A Study Of Îmãn (4): Pengertian kalbu”
  1. nuhungusti says:

    kalau nanti yg di mintai tanggung jawab segala perbuatan yg mana bang?trus nanti yg merasakan surga atau neraka yg mana bang?

  2. Ahmad Haes says:

    Tidak perlu menunggu nanti; sekarang pun yang dimintai tanggung-jawab adalah “diri” kita, dan kalau bicara “diri” yang dimaksud tentu bukan badan, tapi jiwa (ruh). Bila seseorang diperiksa polisi karena melakukan kejahatan, dan jawaban-jawabannya kacau, maka dia akan diperiksakan ke dokter jiwa. Dalam kajian ilmu jiwa, yang disebut jiwa itu nanti dikaitkan dengan kajian ilmu anatomi, yang mau tak mau menunjuk otak sebagai tempat bersemayamnya jiwa.
    Kalau soal sorga dan neraka di akhirat, apakah yang merasakan badan atau jiwa saja, saya tidak tahu. Tapi ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa di sorga tidak ada nenek-nenek (orang tua), karena orang tua di sana dimudakan lagi. Yang dimudakan tentu badan, bukan jiwa.

  3. harta sujarwo says:

    Kalau yg dimudakan badan, berarti isinya jannah itu anak muda dibawah 50 tahun..?org2 tua dimusnahkan..? kok bisa begitu logikanya dimana..? tapi kalau yg dimudakan lagi jiwanya berarti kan org tua yg tobat masuk jannah harus mulai dari semangat anak muda yakni mulai dari garis iman lagi dari A-Z

  4. Javan Nese says:

    Mencoba ikut menjawab pertanyaan nuhungusti:
    cukup banyak hadist yang menceritakan keadaan siksaan di neraka yang menyebutkan bahwa kulit terkelupas, wajahnya mengelupas atau isi perutnya akan keluar bersamaan dengan air panas yang diminum di neraka, dsb. Dari redaksi2 hadist tersebut menunjukkan bahwa badan ini yang disiksa. Lalu bila hadist2 itu kita pahami dengan merujuk “realita di dunia ini” maka jiwa/ruh kita untuk bisa merasakan sakit seperti yg tersebut di hadist2 tadi membutuhkan media BADAN/FISIK, sehingga bisa disimpulkan badanlah yang disiksa yang tentunya jiwa merasakan sakit.
    dan ada juga sebuah hadist yang menyebutkan bahwa nanti pada hari kebangkitan Alloh akan menyusun kembali jasad/badan manusia dari tulang ekor lalu badan kita bangkit dari kubur dan menuju padang mahsya, sehingga badanlah yang nanti disiksa yang tentunya jiwa kita juga merasakan sakit.
    NAMUN BAGAIMANA SEBENARNYA NANTI “REALITA DI AKHIRAT” YA ALLOHU A’LAM.

  5. Javan Nese says:

    Ralat: “mahsya” yang betul mahsyar.
    NB: mohon koreksi atas jawaban saya apabila dinilai ada yang menyimpang, terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: