A Study Of Îmãn (3): Arti Kata Îmãn

Ditinjau dari ilmu sharaf (morfologi/teori bentuk kata), îmãn (إيمان) adalah masdhar dari kata kerja bentuk lampau (fi’il mãdhi) ãmana (آمن), yaitu fi’il mãdhi yang berkedudukan muta’addi (berobyek).

Kata-kata dalam bahsa Arab pada umumnya terdiri dari tiga huruf. Bila lebih dari tiga  huruf, berarti ada huruf(-huruf) tambahan. Kata ãmana (آمن → أامن) terdiri dari empat huruf. Berarti ada tambahan satu huruf  pada kata asalnya, amina (pola fa’ila), dan bisa amuna (pola fa’ula). Kata-kata tersebut berarti: aman, tenteram, selamat, jujur, lurus, dsb. Kata-kata ini dalam bahasa Indonesia tergolong kata sifat atau kata keadaan. Tapi dalam bahasa Arab semua merupakan kata kerja lampau yang tidak mempunyai obyek, yaitu tidak ada sasaran atau korban kerjanya. Kata kerja seperti ini oleh orang Indonesia disebut fi’il lazim (Arab: fi’lul-lãzim, Ing.: intransitive verb).

Fi’il lazim bisa diubah menjadi fi’il muta’addi (transitive verb) dengan cara menggunakan pola lain. Misalnya dari pola fa’ala (فعل) dipindahkan ke pola af’ala (افْعل).

Dengan menggunakan pola af’ala, maka kata amana, amina, dan amuna menjadi ãmana (آمن → أامن)

Berganti pola berganti makna. Kata kerja yang semula pasif bisa menjadi aktif, misalnya, kata lari, misa menjadi melarikan (membawa lari sesuatu. Atau membuat sesuatu berlari).

Demikian juga kata amana/amina/amuna yang berarti aman, tenteram, selamat, jujur, lurus, dsb. , setelah dipindah ke pola af’ala, menjadi ãmana, artinya berubah menjadi: mengamankan, menenteramkan, menyelamatkan, meluruskan, dsb.

Îmãn (إيْمان) – tepatnya îmãn(an) (إيمانا), adalah masdhar dari kata kerja ãmana.

Menurut Hans Wehr, dalam tatabahasa, masdhar (مصدر) adalah (1) infinitive (kata kerja asli, yang tidak terikat oleh dimensi waktu) atau  verbal noun (kata benda yang berkaitan dengan kata kerja), dan (2) absolut or internal object (objek mutlak – Arab: maf’ûl muthlaq; atau sasaran kerja tersebunyi/tersirat).

Teori bahasa itu layak diperhatikan sebagai salah satu alat atau landasan untuk memahami arti kata îmãn.

Alhasil, sebagai masdhar dari ãmanaîmãn(an), bisa berarti: tindakan mengamankan/menenteramkan/menyelamatkan/meluruskan, dsb.

Kata îmãn(an) ini dalam ilmu sharaf selain berkedudukan sebagai masdhar, juga bisa menjadi isim nakirah , kata benda umum (indefinite), yaitu kata yang biasa didaftar dalam entry atau item kamus sebagai kata dasar. Tapi setelah diberi tambahan huruf alif dan lam, sehingga menjadi al-îmãn(u) (الإيمان), maka ia berubah menjadi isim ma’rifah (definite), yaitu kata benda khusus; bahkan selanjutnya bisa menjadi sebuah istilah.

Al-îmãn(u) jelas merupakan sebuah istilah, yaitu istilah yang dikenal kebanyakan orang sebagai berasal dari agama Islam.

Siapakah yang berhak memberikan makna khusus pada suatu kata? Siapakah yang berhak membuat istilah? Jawabnya adalah: siapa pun berhak, asal mempunyai otoritas (wewenang) atau mampu memberikan pertanggungjawaban yang layak, bukan asal-asalan.

Ada dua pihak yang mempunyai kemungkjinan menjadi penentu makna istilah îmãn, yaitu bangsa Arab dan Allah.

Orang Arab memperkenalkan kata îmãn kepada kita dalam rangka da’wah Islam. Islam adalah agama Allah, bukan agama Arab. Karena itu jelaslah bahwa yang mempunyai otoritas untuk memberikan makna khusus pada kata îmãn adalah Allah, bukan orang Arab.

Sehubungan dengan hal itu, marilah kita periksa Surat al-Hujarat ayat 14-15:

Orang-orang Arab itu mengatakan,“kami beriman.” Tegaskan kepada mereka (hai Muhammad), “Kalian belum beriman. Sebaiknya kalian katakan saja, ‘Kami menyerah’ . Karena iman itu belum masuk ke dalam jiwa kalian. Tapi bila kalian hendak mematuhi Allah dengan meneladani rasaul-Nya, (silakan saja), karena Dia (Allah) tidak akan mengurangi nilai amal kalian sedikit pun. Sungguh Allah itu Ghafûr dan Rahîm.[1]

Para Mukmin sejati adalah mereka yang mengimani (ajaran) Allah dengan meneladani rasuk-Nya sampai tidak tersisa sedikit pun keraguan untuk memperjuangkan iman mereka dengan mempertaruhkan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang tulus membuktikan keimanan.

Dalam ayat ini  terdapat kata lam yartabû , yang artinya mereka tidak mempunyai keraguan. Orang yang tidak mempunyai keraguan berarti orang yang yakin. Tapi ingat, jangan samakan yakin dengan percaya, karena yakin (yaqîn) menurut kamus berarti tahu pasti[2] jelasnya, hanya orang yang tahu pasti akan sesuatu yang berhak mengatakan dirinya mempunyai keyakinan. Dalam kaitan dengan ayat di atas, jelas digambarkan bahwa si Mu’min adalah orang yang tahu pasti tentang kebenaran ajaran Allah, sehingga tidak ragu-ragu untuk memperjuangkannya dengan mempertaruhkan harta dan jiwa.

Rasulullah saw. menegaskan dengan sabdanya:

ليس الإمان بالتمنّى و لكن الإمان ما وُقِر فى القلب و إقرار بالسان و عمل بالأركان

Iman  itu bukanlah angan-angan tapi sesuatu yang ditetapkan dalam kalbu, (yang lahir menjadi) ikrar lisan, serta didukung dengan tindakan. (Hadits Riwayat Ibnu Najjar).

Dalam Hadits ini terdapat kata wuqira, bentuk pasif dari waqara, yang artinya antara lain, menempatkan di tempat yang aman, memastikan, mengajukan fakta yang kuat, dsb. Menurut Hans Wehr, salah satu arti waqara adalah to be settled, certain, an established fact. (meyakini fakta yang tak dapat dipungkiri). Dengan kata lain, waqara adalah pengakuan terhadap sesuatu yang axiomatic alias obviously true (tidak terbantah kebenarannya).

Jadi menurut Hadits ini îmãn – tepatnya al-îmãn – adalah sesuatu yang ditempatkan di tempat yang aman, tidak akan terusik oleh siapa pun, yaitu di dalam kalbu. Alasan penempatannya adalah karena ‘sesuatu tersebut mempunyai nilai yang pasti, dan didukung kebenaran nilainya oleh fakta yang kuat. Selanjutnya, ‘sesuatu’ yang tersimpan dalam kalbu itu secara otomatis akan lahir dalam berbagai bentuk ucapan dan tindakan atau perilaku orang yang bersangkutan.∆


[1] Ghafûr adalah kata sifat; berasal dari kata kerja ghafara yang berarti (1) menutup dan atau (2) memperbaiki. Begitu juga rahîm, kata sifat, yang berarti mengasihi atau menyayangi. Tapi sebagian mufassir mengatakan bahwa rahîm adalah kasih-sayang yang diberikan Allah hanya kepada orang beriman.

[2] Periksa Kamus Al-Munawwir, Mu’jamul-lughatil-‘Arabiyyatil-Mu’asahirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), kamus al-Munjid, dll.

Advertisements
Comments
8 Responses to “A Study Of Îmãn (3): Arti Kata Îmãn”
  1. Nuhungusti says:

    Kalau belum2 benar beriman tapi rajin melaksanakan perintah agama disebutnya apa bang? wah saya jd harus intropeksi lagi nih.

  2. Ahmad Haes says:

    1. Perhatikan baik-baik penjelasan Allah dalam surat Al-Hujurat tersebut. 2. Iman yang hakiki dibentuk melalui proses. Mudah2an anda dan saya sedang dalam proses itu.

  3. reza says:

    masih saja ada org yg menempatkan kata IMAN/KEIMANAN/BERIMAN di tempat yg terlalu tinggi (suci), dgn begitu orang-orang yg merasa “kotor” merasa belum pantas untuk menyandang kata itu. udah ketakutan duluan hehe

  4. Nuhungusti says:

    Jiah reza,bukankah nabi dan rasul selalu mengangap mereka dzalim walaupun mereka mahluk paling bertakwa di muka bumi?

  5. Asrori Hidayat says:

    Iman Memerlukan pengorbanan, setelah mengucapkan sumpah dan janji, serta mengikatkan diri dalam hati kata-kata iman itu, Iman membutuhkan realitas action, agar tercipta satu kenyataan hidup yang damai, karena seseorang yang menyatakan iman mengandung konsekuensi logis hidupnya harus benar dengan tatanan al-qur;an dan sunnah rasullah saw, muhhamd

  6. The moment I saw your blog was like wow. Thank you for putting your effort in publishing this article.

  7. I am generally to blogging and i genuinely appreciate your content. The article has actually peaks my interest. I am going to bookmark your web site and keep checking for new data.

  8. Tanti says:

    Aku harus berubah..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: