Kemiskinan

Gambar: 1. (atas) dari reviandi.wordpress.com; 2. Dari qitori. wordpress.com

Indonesia adalah sebuah bangsa yang dianugerahi Tuhan dengan tanahair yang sangat luas dan kaya raya. Sayangnya, kebanyakan rakyat bangsa ini hidup dalam kemiskinan. Apa yang salah? Meminjam perkataan Gus Dur, rakyat menjadi miskin karena negara ini telah “salah urus”.

Bagaimana bentuk salah urusnya?

Kemiskinan ada di mana-mana. Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang paling maju dan demokratis pun, kemiskinan tetap ada. Tidak perlu heran. Penyebab kemiskinan di mana pun selalu sama, dan akarnya tidak lebih dari tiga. Pertama, diskriminasi kelas. Kedua, penimbunan kekayaan oleh orang kaya. Ketiga, harta hanya beredar di tengah orang-orang kaya. Ketiga hal itu tergabung dalam sebuah sistem, yaitu sistem  feodalis-kapitalis.

Diskriminasi kelas

Dalam masyarakat feodalis, kedudukan manusia dibagi berdasar takdir para dewa melalui kelahiran. Ada yang dilahirkan untuk menjadi raja, ada pula yang dipastikan sebagai pembantu raja, mulai dari menteri, panglima, para tentara sampai abdi istana. Ada yang ditakdirkan menjadi saudagar, petani, buruh, gembel, sampai para durjana. Tapi itu cerita tempo dulu. Intinya, feodalisme adalah sebuah sistem. Zaman sekarang, diskriminasi kelas tidak harus muncul secara resmi dalam bentuk kasta-kasta, karena pada dasarnya diskriminasi itu timbul sebagai dampak dari sifat manusia sebagai makhluk yang suka berkumpul dalam kelompok-kelompok tertentu. Manusia suka membentuk kelompok berdasar warna kulit, usia, pemilikan harta, penguasaan ilmu, dan seterusnya. Itu sifat dasarnya.

Sifat dasar itu alami, tapi bisa berbahaya, karena bisa menyebabkan ada sebagian orang yang tersingkir dari pergaulan, terasing dari sumber-sumber ilmu (pendidikan), dan terdepak dari sumber-sumber kekayaan. Supaya hal itu tidak lagi terjadi, negara modern pun dibentuk, pemimpin dipilih.

Dalam sistem modern (demokrasi), negara dengan segala sumber alamnya bukan lagi milik seorang raja, tapi hak semua warga. Pemimpin (pemerintah) diadakan supaya sumber kekayaan itu digali, dikelola, disalurkan kepada rakyatnya dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya.

Pemimpin adalah orang-orang sehat dan kuat, jiwa dan raga. Kekuatan dalam diri mereka ditambah dengan kekuatan dari luar diri, yaitu hukum (peraturan), disertai lembaga-lembaga dan aparat untuk menegakkan hukum itu. Jadilah mereka para pemegang amanah, yang bertugas menyelenggarakan negara demi kesejahhteraan rakyat semua.

Dengan adanya pemerintah, rakyat kecil yang semula menempati struktur terendah dalam masyarakat, dibela dan dinaikkan derajatnya. Mereka diberi akses ke dunia pendidikan, diberi peluang masuk ke dunia usaha, disediakan fasilitas (undang-undang dan infra struktur) yang mereka butuhkan, dan dilindungi dari kemungkinan dijegal, disingkirkan, dan dianiaya oleh orang-orang kuat yang jahat. Dengan kata lain, diskriminasi kelas itu (seharusnya) bisa terhapus karena adanya pemerintah.

Penimbunan Harta

Harta adalah modal (kapital) untuk hidup. Tapi manusia sering tidak puas hanya hidup asal hidup. Bahkan hidup cukup pun tidak puas. Manusia ingin hidup lebih, bahkan mewah. Ini penyebab manusia suka menimbun harta, untuk memenuhi segala selera, dan membayar gaya hidup. Mereka jadi lupa kepada sesama. Asyik dengan diri sendiri, lupa pada orang lain. Mereka jadi cenderung serakah, dan suka memonopoli apa saja. Dengan demikian, mereka tidak bisa ditunggu untuk jadi dermawan. Kalau pun sesekali bersikap dermawan, yang mereka berikan kepada orang miskin sangat jauh dari cukup untuk membebaskan mereka dari kemiskinan. Bahkan kepada karyawan sendiri pun, mereka cenderung tidak adil. Karena itulah, pemerintah harus bertindak, misalnya dengan ‘memaksa’ mereka (lewat law enforcement) untuk membayar pajak secara jujur, dan membayar upah buruh serta memberikan fasilitas kerja secara layak.

Peredaran kekayaan

Harta hanya beredar di tengah orang-orang kaya. Orang kaya punya perusahaan-perusahaan besar. Mereka bekerja sama dengan teman, sahabat, kerabat, anak, keponakan, saudara ipar, menantu, dan seterusnya. Mereka bikin bank, hotel, rumah sakit, restoran, mal, sekolah, perguruan tinggi, dan segala sesuatu yang hanya bisa dinikmati orang berduit. Jelaslah bagaimana kekayaan (harta) hanya beredar di kalangan orang kaya, dan terpagari secara sistematis dari sentuhan orang miskin.

Itulah memang sistem ekonomi (kapitalis) yang ganas terhadap orang miskin. Lihatlah bagaimana nasib rakyat kecil ketika mereka (kapitalis) memaklumkan pasar bebas di tingkat global (dunia). Mereka bahkan tidak mau menjual minyak goreng dan minyak tanah kepada rakyat, karena rakyat hanya mempu membayar dengan harga termurah.

Rakyat Indonesia terhimpit, terinjak-injak, di tengah dunia seperti itu. Bila tidak ada pemerintah yang kuat, jujur, dan berpihak kepada mereka, nasib mereka akan terus terpuruk.

Sebenarnya, mereka tidak butuh belas kasihan berupa pemberian subsidi, operasi pasar, raskin, atau kartu tanda miskin di rumah sakit. Mereka hanya butuh hak mereka sendiri, yang ‘dirampok’ oleh sistem ekonomi yang menyebabkan mereka terjerembab ke jurang kemiskinan (struktural), yang membuat mereka (seperti) tak berdaya dan hina. Di dusun-dusun mereka, infrastruktur (jalan, jembatan, sekolah, dan lain-lain) serba kurang, atau malah tidak ada. Desa-desa yang menyimpan segala potensi kekayaan alam jadi seperti gersang dan tandus. Rakyat jadi berbondong-bondong ke kota, yang di dalamnya tidak ada fasilitas apa pun yang sengaja dibangun untuk menghidupi mereka. Di kota, rakyat harus jadi kecoa atau tikus got, yang bisa hidup hanya karena daya adaptasi mereka yang hebat. Tapi, apa yang akan terjadi bila suatu saat rumah anda dipadati kecoa dan tikus? Anda akan menyemprot mereka dengan cairan beracun! Di kota-kota, dengan alasan demi ketertiban, keindahan, dan lain-lain, rakyat diusir dan digusur oleh pemerintah yang seharusnya menjadi para pengayom dan penyelenggara kebutuhan hidup mereka.

Indonesia adalah sebuah bangsa yang dianugerahi Tuhan dengan tanahair yang sangat luas dan kaya raya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, karena negaranya memang kaya. Rakyat Indonesia tidak seharusnya miskin. Bila sekarang ada banyak rakyat miskin, yang memiskinkan mereka adalah sistem yang digulirkan pemerintah mereka, yaitu sistem feodalis-kapitalis.

Siapa yang berani mengubah sistem itu? Siapa di antara para pemimpin kita yang tidak feodalis-kapitalis? Dan sistem apa yang akan mereka jalankan sebagai pengganti (alternatif) dari sistem feodalis-kapitalis itu? Sistem apa yang bisa mematikan feodalisme dan kapitalisme? Sistem apa yang bisa menghapus diskriminasi kelas, membunuh nafsu serakah, dan membuat anugerah Tuhan bisa beredar dan mengalir kepada setiap orang yang berhak?

Renungkan, temukan, dan tegakkan, bila anda pahlawan kebenaran!▲

Comments
4 Responses to “Kemiskinan”
  1. nuhungusti says:

    menurut abang undang undang dasar ’45 jika di laksanakan dgn benar bisa menyelesaikan masalah bangsa tidak?apa harus dgn sistem alternatif yg abang maksud?

  2. Ahmad Haes says:

    Wah, pertanyaan berat nih. Untuk sementara jawabannya: 1. tidak; 2. Iya.

  3. irma says:

    Pak, mohon ijin, artikel ini saya jadikan referensi tugas kuliah saya. Terima kasih sebelumnya

  4. Ahmad Haes says:

    Silakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: