DPR, Please Dech, Jangan Tambah Gila Dong!

1. Kursi-kursi yang kosong. 2. Ngorok dan telpon-telponan di waktu sidang.

Gagasan Golkar yang didukung banyak anggota DPR dari partai lain, kecuali PKS, meminta “dana aspirasi” (sic!) sebanyak 15 milyar benar-benar merupakan “ide gila”  dalam pengertian yang paling harfiah.

Bila kita usut mulai dari pembagian tugas (fungsi) antara lembaga legislatif (DPR) dan eksekutif (Pemerintah) saja, ide itu jelas timbul dari pihak yang tidak memahami pembagian tugas tersebut.

Jelas fungsi (para anggota) DPR sebagai legislator alias maker of laws adalah pembuat undang-undang atau peraturan, dan fungsi Pemerintah alias executor adalah pelaksana dari undang-undang atau peraturan tersebut. Dengan kata lain, DPR adalah “otak”, sedangkan Pemerintah adalah “kaki-tangan” dari sistem pemerintahan (yang menjalankan konsep trias politika!).

Jadi, bila otak tiba-tiba ingin ikut serta menjalankan fungsi kaki dan tangan, pastilah ada ketidakberesan pada sang otak.

Bila analogi (kiasan) otak dan kaki-tangan itu dipahami secara harfiah, yaitu bahwa otak terjun langsung melakukan tugas kaki dan tangan, maka jelas hal itu tidak akan pernah bisa terjadi, kecuali dalam sebuah film kartun! Memang, dalam film kartun, apa pun bisa terjadi. Tapi ini kenyataan hidup manusia. Kita ini sedang bicara tentang sebuah sistem pemerintahan, sebuah penataan negara berdasar aturan main yang sudah kita sepakati, termasuk pembagian fungsi dan tugas setiap pemainnya. Bila ada sebuah fungsi ‘dialih-fungsikan’ atau ‘disalah-fungsikan’, rusaklah sistem itu! Rusaklah meka-nismenya! Ranculah jadinya jalan penataan negara.

Amal ditentukan niat

Umat Islam, yang menjadi komponen terbesar bangsa ini (juga di dalam lembaga DPR), tahu betul ajaran Nabi mereka bahwa “amal (tindakan; pekerjaan) ditentukan oleh niat” (Innamal-a’malu bin-niyyati). Dan penulis memahami niat tidak sebatas gerak atau getar hati (Sunda: gerentes hate), tapi (bisa) juga merupakan sebuah gagasan atau konsep atau visi, yang bisa dituangkan (di-breakdown) menjadi sebuah program. Bahkan undang-undang sebuah negara pun, pada dasarnya, adalah perwujudan dari sebuah ‘niat’ yang ‘kebetulan’ disusun sistematik, mewakili ‘aspirasi’ warga negara secara keseluruhan.

Pemahaman “niat” yang tidak sebatas getar hati (seperti sering ditemui dalam buku-buku fiqh) itu, menegaskan bahwa niat sebenarnya bukan sesuatu yang harus dirahasiakan; bahkan sebaliknya – bila perlu, sebuah niat harus dipaparkan secara gamblang, dan disosialisasikan, sehingga bisa benar-benar dilaksanakan (tidak menjadi omong kosong atau janji palsu, apalagi rencana jahat!), dan pelaksanaannya bisa diawasi (dikontrol).

Nah, kembali kepada  DPR; salah satu fungsinya adalah mengawasi (mengontrol) kerja Pemerintah dalam melaksanakan sebuah ‘niat’ (undang-undang; peraturan). Bila kemudian DPR sendiri ingin menjadi pelaksana, lagi-lagi, kesimpulan yang muncul adalah telah terjadinya ketidaknormalan dalam sistem berpikir. Ada kemandulan dan atau kerancuan dalam memahami mekanisme dan atau sistem yang sudah disepakati.

Kemudian, bila dikaitkan dengan pribadi dan atau kelompok tertentu, apa sebenarnya niat pribadi/kelompok tersebut?

Ada anggota DPR dari Golkar yang berbicara di sebuah televisi, mengatakan berulang-ulang bahwa gagasan untuk minta dana aspirasi itu timbul karena adanya “aspirasi yang deras” – ulangi: aspirasi yang deras! – dari masyarakat. Tanpa memaparkan apa yang disebutnya sebagai aspirasi yang deras itu, kesimpulannya adalah permintaan dana aspirasi itu bukan sesuatu yang mengada-ada, bukan kehendak dari yang terhormat para anggoda Dewan, tapi memang kehendak masyarakat (rakyat) sendiri.

Namun, apa pun, semua argumen yang diajukan hakikatnya hanya silat lidah. Gagasan itu, ditinjau dari segi norma apa pun, tidak mempunyai landasan yang bisa diterima. Dari sudut pandang relijius, gagasan itu mewakili sebuah niat yang misterius. Dari segi fungsi-fungsi dalam ketatanegaraan, gagasan itu membuat kusut fungsi-fungsi yang sudah ditetapkan. Dari segi moral, gagasan itu mengesankan adanya moralitas yang integrasinya (ketulusan dan kejujurannya) sangat perlu dipertanyakan. Dari segi mental, psikologis, tertangkap isyarat sebuah mentalitas yang  cenderung semau gue, tak mau tunduk pada peraturan dan kesepakatan.

Apa yang harus kita lakukan?

Kasus permintaan dana aspirasi ini semakin menguatkan bahwa rakyat sebenarnya sudah kehilangan wakil-wakilnya. Dan bila diusut mulai dari pangkalnya, kehilangan itu sudah terjadi sejak ‘para calon wakil’ rakyat merekayasa berbagai permainan untuk menyiasati rakyat agar memilih mereka dalam pemilu. Gagasan ini pun, bila mereka jujur mendengar bisik nurani, pastilah berujung pada semacam permainan money politic. Dalam hal ini, kita juga patut curiga bahwa tangan Pemerintah pun belum tentu sama sekali bersih. Setidaknya bila mengingat bahwa dalam permainan politik tertentu antara orang-orang DPR dan Pemerintah sering kali bersinerji. Contoh yang paling nyata dan masih hangat adalah kasus Century.

Lantas, siapa yang masih bisa diandalkan rakyat untuk membela kepentingan hakiki mereka? Secara fragmatis, satu-satunya yang masih bisa diharapkan untuk bersuara sekarang adalah para intelektual, baik yang sekular maupun yang relijius (ulama). Merekalah satu-satunya pihak yang boleh dikatakan masih memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk memimpin gerakan moral, menentang gagasan tak bermoral (setidaknya politis) itu. Merekalah yang harus secara kompak dan ‘deras’ menyerukan kepada Pemerintah untuk menolak gagasan permintaan dana aspirasi itu.

Hal itu harus mereka lakukan, sebagai antisipasi kalau-kalau rakyat sendiri yang turun, dan mungkin melakukan tindakan anarkis!

Semoga mereka bertindak cepat!▲

Comments
3 Responses to “DPR, Please Dech, Jangan Tambah Gila Dong!”
  1. camera says:

    parah banget nih wakil rakyat kita…

  2. Machiavelli sejati says:

    dalam dunia perdagangan, ada barang bisa terjual karena ada pembeli…

  3. p90x program says:

    It’s actually a great and useful piece of info. I am glad that you shared this helpful info with us. Please keep us informed like this. Thanks for sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: