Sekali Lagi Tentang Iqra

1. Malaikat Jibril (Gabriel) dalam imajinasi orang Kristen; 2. Gambar dari susanrice07.wordpress.com

Dalam sebuah Hadis dikatakan bahwa akhlaq Rasulullah adalah Al-Qurãn. Berdasar itu pula orang mengatakan Nabi Muhammad sebagai Al-Qurãn berjalan. Bagaimana kita memahami dalil ini?

Hadis itu bersumber dari ‘Aisyah, istri Rasulullah. Dalam surat Al-Qalam juga ada penegasan bahwa dengan pengajaran Al-Qurãn terbentuklah akhlaq Rasulullah yang agung (khuluqun ‘azhïm).

Akhlaq yang agung itulah yang muncul ketika Rasulullah menjadi guru, sahabat, suami, ayah, pemimpin jama’ah, panglima perang, sampai kepala negara. Itu semua dibentuk Allah melalui pengajaran Al-Qurãn. Nah, bila kemudian kita dapati dalam Al-Qurãn ada dalil berbunyi bahwa Rasulullah adalah contoh terbaik (uswa-tun hasanah), tentu yang dimaksud adalah contoh terbaik dalam hal pembentukan akhlaq dengan Al-Qurãn itu.

Jadi, bila melihat akhlaq Rasulullah, jangan hanya melihat hasil. Lihat juga prosesnya; yaitu adanya Quranisasi diri beliau yang dilakukan sejak beliau menerima wahyu, sampai wahyu itu menjelma menjadi akhlaq pribadi dan para pengikut beliau, dan akhirnya menjadi tatanan hidup masyarakat Madinah.

Quranisasi diri! Itu sangat menarik bagi saya. Tapi prosesnya itu bagaimana?

Ya tentu dimulai dengan pelaksanaan perintah iqra dalam wahyu pertama itu. Iqra bismi rabbika-lladzi khalaqa. Ini bukan soal baca nama Allah (ismullahi) dalam arti pelafalan 99 nama Allah. Bukan soal menyebut nama. Ismullah dengan kata lain adalah ayat-ayat Allah (ãyãtullahi). Ayat-ayat Allah terbagi dua. Yaitu ayat-ayat qauliyyah (firman)  yang  sekarang ada dalam mushhaf  (مصحف) Al-Qurãn, dan ayat-ayat kauniyyah, yaitu segala ciptaan Allah (alam) yang bisa kita saksikan, termasuk diri kita sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa iqra dalam wahyu pertama itu adalah perintah untuk membaca situasi…

Ya, itu pemahaman yang lepas konteks. Tak sesuai karinah surat secara keseluruhan. Lagipula, kalau cuma baca situasi, tanpa disuruh pun Nabi Muhammad itu sudah kenyang baca situasi. Anda jangan membayangkan Muhammad sebelum menjadi rasul itu seorang penggembala kambing yang kampung-an. Jangan lupakan bahwa pamannya yang memeliharanya, Abu Thalib, itu tokoh intelektual. Jangan lupakan pula bahwa gelar Al-Amïn itu kemungkinan merupakan gelar yang diterimanya dari organisasi Hilful-Hudhul yang pernah digelutinya. Itu organisasi penting, yang dibentuk untuk mendamaikan bangsa Arab. Ada kemungkinan Muhammad di situ berkedudukan sebagai semacam sekretaris jenderal, yang dalam bahasa Arab disebut Al-Amïn (اََلْأمِينُ).

Wah, itu baru saya dengar. Anda tidak mengada-ada?

Banyak buku sejarah menyebutkan tentang keterlibatan Muhammad dalam organisasi itu. Selama ini kita hanya memahami sebutan Al-Amïn diberikan karena Muhammad orang jujur.

Tapi itu memang tertulis dalam buku-buku sejarah kan?

Ya, dalam buku-buku sejarah yang ditulis tanpa wawasan sejarah, yang ditulis oleh orang-orang yang cuma sekadar ingin bercerita.

Baiklah. Itu akan saya pelajari. Sekarang kembali ke soal perintah iqra tadi. Jadi, itu bukan perintah untuk membaca situasi?

Saya bilang, pemaknaan demikian itu tidak sesuai karinah surat secara keseluruhan. Dari segi bahasa, dalam susunan kalimat, jelas yang menjadi obyek (sasaran) yang harus dibaca adalah ismu rabbika, bukan situasi. Bila ismu rabbika anda artikan situasi, itu pemaksaan yang menggelikan. Selain itu, perintah membaca situasi itu tidak mengena; karena menyuruh sesuatu yang justru sudah dilakukan oleh Muhammad yang sangat peka terhadap situasi, karena dia seorang intelek yang jenius, dan mempunyai kepedulian besar terhadap masalah bangsanya! Justru karena sudah jemu membaca situasi yang ternyata bobrok, dan dia tidak bisa menemukan apa pun sebagai solusi, maka dia lari ke Goa Hira. Di sanalah Jibril mendatangi-nya dengan membawa 5 ayat suat Al-‘Alaq. Ayat-ayat itulah yang harus dibaca oleh Muhammad.

Jadi, maksud anda, perintah iqra itu adalah baca dalam arti harfiah, membaca kata demi kata dari wahyu yang dibawa malaikat Jibril?

Ya!

Tapi, rasanya kok jadi sempit?  Maksud saya, anda kok mengajukan suatu pengertian yang begitu sempit?

Tak apa-apa sempit; yang penting jangan ngawur. Tapi, kalau perintah membaca wahyu anda bilang sempit, itu adalah kekeliruan besar. Pembacaan wahyu adalah awal dari sebuah sejarah revolusi peradaban yang besar.

Ingat pembicaraan kita tentang akhlaq Rasulullah di atas. Akhlaq itu terbentuk melalui proses Quranisasi; dan Quranisasi itu tidak lain dari pembacaan Al-Qurãn ayat demi ayat. Tentu pembacaan yang proporsional, bukan hanya pelafalan. Tapi, pada tahap awal, membaca dalam arti melafalkan itulah yang harus dilakukan Muhammad di hadapan Jibril; karena Jibril datang untuk mendiktekan ayat kata demi kata, dan Muhammad harus menirukan kata demi kata.

Tahap berikutnya, apa yang ditirukan itu tentu harus dihafal; karena selanjutnya Muhammad punya tugas untuk membacakan lagi wahyu yang diterimanya itu kepada orang lain.

Tapi, maaf, pengertian yang anda ajukan itu adalah tafsir dari kata iqra. Bisakah anda jelaskan dulu makna harfiah dari kata itu?

Pengertian yang anda sebutkan tadi, baca situasi, juga tafsir, tapi tafsir yang ngawur. Tafsir yang saya ajukan sebenarnya tidak beranjak dari makna harfiah. Iqra adalah kata perintah. Kata kerjanya adalah qara-a (قرأ). Kamus Al-Munjid, misalnya, menyebutkan bila qara-a ini obyeknya buku (kitab), artinya adalah nathaqa bil-maktûbi fïhi aw alqãn-nazhra ‘alaihi wa thãla’ahu (نطق بالمكتوب أو ألقى النظر عليه و طالعه). Yaitu “membunyikan yang tertulis (dalam buku itu), atau mengarahkan pandangan kepada tulisan, alias menelaah (buku itu).

Bila obyeknya adalah sesuatu yang lain (bukan buku), qara-a itu berarti mengumpulkannya (جمعه), yaitu menyatukan bagian yang satu dengan bagian yang lain (ضَمَّ بَعْضَهُ إِلَى بَعْضٍ). Dalam konteks ini, kalimat qara-atin-nãqatu (قرأت الناقة) berarti “unta itu hamil”; dan kalimat qara-atil-hãmilu (قرأت الحامل) berarti “wanita hamil itu melahirkan”.

Bila kita anggap mengumpulkan (Quraish Shihab mengguna-kan kata menghimpun) sebagai makna dasar atau umum (generic), maka kita bisa mengatakan bahwa membaca itu juga pada dasarnya adalah mengumpulkan satu bagian dengan bagian yang lain, mulai dari mengumpulkan huruf-huruf menjadi kata, kata-kata menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi alinea atau paragraf, alinea-alinea menjadi wacana (cerita; kuliah; ajaran; gagasan; konsep).

Hamil itu sendiri juga pada hakikatnya adalah berkumpul atau bertemunya satu bagian (sperma) dengan bagian yang lain (ovum). Bahkan Al-Qurãn menggambarkan cukup rinci bahwa kehamilan itu adalah sebuah proses yang bermula dari penempatan nutfah (sperma) dalam rahim, lalu nutfah itu menjadi ‘alaqah (‘segumpal darah’), ‘alaqah berubah menjadi mudgah (mudhghah, segumpal daging; embrio), dan mudhghah menjadi ‘izhãm (tulang belulang), lalu ‘izhãm dibungkus dengan lahm (daging; seluruh jaringan tubuh), sampai akhirnya terbentuklah sebuah makhluk baru, yakni bayi.

Dari situlah saya melihat bahwa kata iqra dalam surat Al-‘Alaq, walau pada mulanya bermakna sempit, yaitu perintah membaca wahyu, selanjutnya ternyata mengajak kita memasuki suatu cakrawala wawasan yang istimewa. Saya katakan wawasan istimewa, karena yang ditawarkan oleh wahyu itu adalah sebuah wawasan khusus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah solusi khusus pula bagi persoalan yang dihadapi manusia.

Sekarang, bagaimana kalau saya ajukan tafsir bahwa iqra itu adalah perintah untuk menggabungkan wahyu dengan peneri-manya, sehingga terbentuk suatu ‘makhluk baru’ bernama khuluqun ‘azhïm (kepribadian agung)? Padamulanya perintah itu berlaku bagi Muhammad, selanjutnya berlaku bagi kita. Salahkah?

Emh, saya rasa… tidak, tidak salah!

Jangan hanya mengandalkan perasaan! Tidak seperti kata para kiai, agama kita ini bukan untuk konsumsi perasaan. Bila kita mengatakan sumber pokok agama kita adalah Al-Qurãn, maka untuk memahami Al-Qurãn kita butuh kesadaran ilmiah, butuh logika ilmu, karena Al-Qurãn adalah ilmu, bukan mantra atau dongeng. Kalaulah hendak melibatkan perasaan dalam memahami Al-Qurãn, maka perasaan yang harus dilibatkan adalah rasa bego, rasa tolol, rasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah. Dan ada satu lagi rasa yang harus dilibatkan, yaitu rasa bahasa Al-Qurãn, yang justru akan tumbuh sendiri seiring dengan sering dan seriusnya kita mengkaji Al-Qurãn.

Comments
One Response to “Sekali Lagi Tentang Iqra”
  1. Javan Nese says:

    Alhamdulillah menambah wawasan, terimakasih mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: