Sadar Hukum

Bangsa Indonesia suka bikin semboyan-semboyan yang bagus, walau kemudian semboyan-semboyan itu tinggal menjadi semboyan, tidak dihayati, alias tidak diterapkan dalam hayat (kehidupan).

“Sadar hukum” adalah salah satu istilah yang menjadi semboyan yang bagus itu, yang ternyata juga merupakan semboyan yang paling diabaikan. Buktinya, bangsa kita – dengan segala bentuk pelanggaran atau pengabaian hukum di segala bidang, adalah sebuah bangsa yang tidak sadar hukum.

Tidak sadar hukum dalam kata lain adalah hilangnya hukum dari kesadaran. Bila hukum hilang dari kesadaran kita, berarti kita menderita “amnesia hukum”. Jelas, bila kita menderita amnesia (hilang ingatan) hukum, yang bermasalah (berpenyakit) bukanlah hukum itu sendiri, tapi kesadaran atau ingatan kita. Ada sesuatu yang membentur kepala kita, menyebabkan file hukum di otak kita terhapus atau mengalami kerusakan (error), sehingga tidak bisa terbaca lagi. Atau, untuk sebagian dari kita, file hukum itu memang tak pernah ada, sehingga wajarlah bila kita melakukan hal-hal yang semata-mata menjadi bukti bahwa kita memang buta hukum.

Atau, jangan-jangan, selama ini kita telah salah mengartikan hukum sebagai force (keperkasaan; kekuasaan, otoritas), sehingga how to be forceful – bagaimana menjadi perkasa (secara fisik) itulah yang dilatihkan di IPDN kepada para calon pamong praja (baca: penegak hukum di lembaga-lembaga pemerintahan).

Bisa jadi pula kita memahami hukum sebagai power (kekuasaan; pengaruh), sehingga tujuan hidup kita adalah mengejar dan mempertahankan power, karena dengan itulah kita bisa membangun kesan (tanpa harus mengatakan) bahwa “hukum adalah aku”.

Force dan power memang bagian dari hukum. Bisa juga merupakan tulang punggung, tulang rusuk, dan otot-ototnya. Tapi ruh hukum adalah ketegasan dan kebijaksanaan, sedangkan darah-dagingnya adalah keadilan.

Hukum (= peraturan) harus tegas, dalam arti kalimat-kalimatnya jelas, langsung pada sasaran (obyektif), dan tidak ambigu (bercabang; melar; bisa ditafsirkan macam-macam). Untuk itulah diperlukan kebijaksanaan.

Seseorang dikatakan bijaksana bila ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata, berpengetahuan luas, dan punya banyak pengalaman. Tapi kualitas demikian itu belum pula cukup untuk membuat seseorang benar-benar bijaksana. Sebab, kebijaksanaan adalah “pertimbangan yang melibatkan tinjauan atas berbagai segi masalah atau keadaan, termasuk pemahaman atas segala akibat yang bisa timbul dari setiap tindakan”. Kualitas seperti ini hanya dimiliki Allah! Manusia hanya bisa cukup (relatif) bijaksana dalam hal-hal tertentu.[1]

Berdasar kenyataan itulah, menusia tidak boleh mengabaikan hukum Allah; baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Surat Al-Ma’idah ayat 44, 45, dan 47,  menyebut orang-orang yang mengabaikan hukum Allah sebagai kafir, zhalim, dan fasiq.

Hanya orang yang telah mati nuraninya yang mau menyandang salah satu dari gelar-gelar itu.


[1] Misalnya seperti yang kita tangkap dari perkataan Nabi Muhammad ketika ditanya tentang masalah pertanian. Waktu itu beliau mengatakan, “antum a’lamu bi-umuri dun-yakum” (kalian lebih tahu urusan dunia – bidang kehidupan – kalian). Di sini ada penegasan bahwa urusan pertanian bukanlah bidang yang dikuasai Rasulullah saw.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: