Cara Shalat Hatim Al-Asham

Gbr dari google.co.id

Ada satu kisah tentang cara shalat Hatim Al-Asham:

Hatim Al-Asham adalah seorang ahli ibadah dan  sa­ngat bertakwa. Pada suatu hari, ia kedatangan tamu bernama Isham bin Yusuf. “Bagaimana anda melakukan shalat?” tanya tamunya.

“Apabila waktu shalat tiba, saya segera  melakukan wudu lahir dan batin,” jawab Hatim.

“Apakah  perbedaan antara kedua wudu  itu?”  tanya Isham bingung.

Sambil memperhatikan wajah tamunya, Hatim berkata, “Wudu  lahir adalah mencuci badan dengan air.  Sedangkan wudu batin adalah mencuci jiwa dengan tujuh sifat. Yaitu taubat,  menyesali dosa-dosa masa lalu, melepaskan diri dari ketergantungan pada dunia, menanggalkan pujian  dan penghormatan  pada  selain Allah, melepaskan  diri dari kendali  benda,  membuang rasa dendam kesumat,  dan  me­nyingkirkan  kedengkian. Setelah itu aku  menuju  mesjid dan bersiap melaksanakan salat sambil memusatkan  panda­ngan  ke kiblat. Aku tampil sebagai pengemis  yang papa seakan-akan Allah di hadapanku, surga di sebelah  kanan­ku, neraka di sebelah kiriku, Izrail, si pencabut nyawa, di belakangku, dan titian Shirat di bawah telapak  kakiku. Itulah salatku yang terakhir. Setelah itu aku berni­at  dan bertakbir lalu membaca surah  Al-Fatihah  dengan seksama  seraya merenungkan arti setiap kata  dan  ayat. Kemudian aku lakukan rukuk dan sujud dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati sambil menumpahkan air  mata. Tasyahhud  kulakukan dengan penuh pengharapan, lalu  ku­ucapkan  salam dengan ikhlas sepenuhnya. Sejak tiga  ta­hun,  salat yang demikianlah yang kulakukan.”

Isham tercengang mendengar jawaban Hatim.

“Hanya Andalah yang melakukan salat seperti  itu,” komentarnya.

Tiba-tiba Isham menangis dan meraung  sekuat-kuat­nya sambil berdoa agar dibantu dan diberi kemampuan  me­lakukan ibadah seperti Hatim.[1]

Dari kisah ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa  Ha­tim memahami secara mendalam ajaran agamanya, mulai dari yang tersurat (teks) sampai yang tersirat (konteks). Itu tidak  a­kan terjadi jika ia tidak menempuh proses belajar yang tertib dan disertai gairah yang tinggi.

Yang ‘tersurat’ dari wudhu adalah “mencuci badan dengan air”.  Ini dikatakan Hatim sebagai wudhu lahir.  Selanjutnya, yang  dikatakannya  sebagai wudhu batin,  yaitu  segala  yang ‘tersirat’  dari  perbuatan wudhu, sebenarnya  juga  tersurat (tercantum) dalam Al-Quran, alias bukan hasil rekaan angan-angan Hatim. Hatim cuma merangkumnya sedemikian rupa dalam  kemasan kesadaran  pribadinya, yang terbentuk demikian indah.  Sekali lagi,  ini tidak mungkin terjadi tanpa usaha  pembinaan diri dengan  proses belajar yang berdisiplin. Jadi  prestasi  yang dicapai Hatim itu bukan suatu keajaiban. Jelasnya, kita semua bisa  mencapai prestasi itu bila ada keinginan yang  disertai usaha yang keras dan logis ke arah itu.


[1] Kisah Para Pecinta Allah, Muchsin Labib dan Farauk bin Dhiya, PT Rema­ja Rosdakarya, Bandung, 1995.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: