Tangan dan Angan-angan

Tangan adalah alat serba guna. Dengan tangan, kita ‘menerjemahkan’ kehendak otak untuk melakukan pekerjaan yang paling remeh sampai yang paling berharga. Dengan tangan, manusia memulai perang dan perdamaian. Dengan tangan, kita merangkul dan  mencampakkan seseorang ke comberan. Dengan tangan, kita mengukir sejarah peradaban yang membanggakan atau kebiadaban yang memalukan.

Ibarat lembaga negara dalam konsep trias politica, tangan adalah lembaca eksekutif yang bertugas menjalankan peraturan dan keputusan dari lembaga legislatif  (DPR) dan yudikatif (peradilan).

Untuk meminta perhatian pendengar ketika menyampaikan sebuah pesan, Nabi Muhammad sering membuka perkataannya dengan kalimat ‘sumpah’ walladzi nafsi bi-yadihi (demi Dia yang diriku ada di tangan-Nya; demi Dia yang menguasai diriku). Satu segi, kalimat itu menegaskan dominasi Allah yang tak terbendung atas makhluk bertangan sempurna bernama manusia, dan Rasulullah menyatakan kepasrahan dirinya kepada Sang Penguasa. Segi lain, Rasulullah juga mengingatkan umatnya akan perannya sebagai uswah hasanah, teladan utama, yang kata dan perbuatannya tidak pernah lepas dari kendali wahyu.

Ketika berwudhu, kita memulainya dengan membersihkan telapak tangan, dan selanjutnya telapak tangan itulah yang melakukan semua proses pembersihan diri sebelum shalat itu.  Selanjutnya, dalam shalat itu sendiri, tangan juga menunjukkan perannya dari awal sampai akhir.

Bila tak salah hitung, Al-Qurãn menggunakan istilah tangan tak kurang dari 116 kali. Di antaranya, yang menjadi perdebatan para ahli tafsir adalah istilah yadullahi dalam surat Al-Fath ayat 10. Istilah ini mereka masukkan ke dalam kelompok lafazh (ucapan; kata) mutasyabih, yaitu “lafazh yang tidak jelas penunjukkannya kepada makna yang dimaksud dan tidak ada qarinah yang menunjukkan makna itu, syari’ah sendiri tidak memberikan penjelasan makna yang dimaksud”. Demikian menurut buku pelajaran fiqih dan ushul fiqih untuk siswa PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) terbitan Departemen Agama 1983/1984.

Yang paling menarik, dalam konteks asbabu nuzul Al-Qurãn secara filosofis (bukan historis), istilah tangan digandengkan dengan kata mushaddiq. Harfiah, mushaddiq berarti “pembenar” atau “penguat kebenaran”. Dalam surat Ali ‘Imran, misalnya, disebutkan bahwa Al-Qurãn diturunkan (diajarkan) sebagai mushaddiq bagi kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil, yang ada “di tangan” Yahudi dan Nasrani.

Tapi, benarkah kitab Taurat dan Injil masih ada di tangan Yahudi dan Nasrani? Bagi sebagian orang, pertanyaan ini sensitif. Tapi bila kita berpikir ilmiah, sepeka apa pun sebuah masalah, yang harus ditonjolkan adalah sisi ilmiahnya.

Bila memang Taurat dan Injil yang dulu diturunkan Allah kepada Musa dan Isa masih ada di tangan Yahudi dan Nasrani, bisakah mereka menunjukkan bukti otentiknya?

Allah sendiri agaknya tidak bermaksud mengatakan bahwa kedua kitabNya itu sudah sama sekali lenyap, tapi justru dalam keadaan “antara ada dan tiada”. Karena itulah, masih dalam surat Ali ‘Imran, ditegaskan bahwa mushaddiq yang merupakan salah satu fungsi Al-Qurãn itu, dengan kata lain adalah furqãn, alias pemilah antara benar dan salah.

Barangkali, karena itulah dialog antara penganut agama Yahudi, Nasrani, dan Islam menjadi mungkin; karena dimungkinkan oleh Al-Qurãn. Tentu dengan catatan, bila dialog itu dilakukan semata-mata demi toleransi untuk kebebasan memilih agama, kita dapat “berjabat tangan” karena di antara kita ternyata ada kesamaan dalam hal-hal tertentu, di samping perbedaan dalam hal-hal lain.

Tapi, bila dialog itu hendak dilakukan secara ilmiah, maka mau tak mau pada akhirnya kita ‘terpaksa’ harus memegang erat salah satu yang terbukti benar secara ilmiah. Sayangnya, dialog yang bersifat final ini belum pernah dilakukan.

Allah sendiri, dalam surat Al-Baqarah, memang menegaskan bahwa manusia tidak dipaksa untuk menerima Dinul Islam; karena perbedaan yang lurus dan yang bengkok sudah demikian gamblang.

Selanjutnya tinggal terserah kita; apakah pernyataan Allah itu hendak kita anggap sebagai toleransi atau sindiran.

Selain itu, bagi kita yang merasa umat Islam, sebaiknya bertanya pada diri sendiri apakah Al-Qurãn sudah benar-benar ada di “tangan”, atau pengakuan kita bahwa ia merupakan pedoman hidup itu sebenarnya baru angan-angan? ∆

Comments
One Response to “Tangan dan Angan-angan”
  1. Nil says:

    assalamu’alaikum pak ahmad,nanti kalau Al quran yg diterjemahkan dgn METOSISNATIF sudah ada yg siap,walaupun masih belum semuanya,sy pesan pak ahmad ya.. kalau merujuk kpd terjemahan yg ada saat ini sy jadi makin bingung.tolong pak ahmad ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: