Pramoedya, Sang Ikon Pemberontakan

Buku kedua dari tetralogi Pram, Anak Semua Bangsa.

Pramoedya, tak lama sebelum wafat.

Empat tahun lalu Pramoedya pergi.

Siapa Pramoedya?

Ia bukan hanya punya nama besar, tapi juga punya reputasi sebagai orang yang keras kepala nyaris tiada tandingan.

Memang, sikap keras kepala tidak selalu berarti buruk, bahkan bisa juga berarti istiqamah (teguh pada pendirian). Tapi, masalahnya, sikap keras kepala Pramoedya Ananta Toer (PAT) bagi bangsa Indonesia adalah kontraproduktif dengan landasan pembentukan bangsa dan negara ini: Ketuhanan Yang Mahaesa.

PAT seorang atheis, dan tentu anti agama. Majalah Syir’ah edisi Mei 2004 antara lain menulis tentang PAT begini:

Memasuki usia 80 tahun, Pramoedya Ananta Toer masih keras jika bicara soal Tuhan dan agama. “Sekali lagi, soal Tuhan, saya tolak sama sekali!” katanya.

Dalam wawancara dengan Majalah Playboy Indonesia (MPI), antara lain, terdapat dialog seperti ini:

PLAYBOY; Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang hal yang tidak Anda percaya?

PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].

Mengapa PAT begitu ngotot menolak tuhan dan agama? Dari sejumlah orang yang mewawancarainya belum pernah ada seorang pun yang berusaha menggali argumentasi PAT mengenai hal itu. Penulis sendiri sudah lama ingin menanyai PAT tentang hal itu, namun belum juga punya kesempatan. Namun, dari buku-bukunya, dapat ditarik kesan bahwa PAT – mungkin seperti umumnya orang-orang atheis dan komunis – punya kecenderungan berpikir seperti kebanyakan masyarakat Barat modern. Kutipan berikut ini memberikan gambaran singkat tentang hal tersebut:

… ilmu pengetahuan masyarakat yang tumbuh di Barat yang didasarkan atas logical positivism selalu menggambarkan bahwa agama itu merupakan fenomena kema-syarakatan, tak ubahnya dengan tradisi, kesenian, cara berpakaian dan sebagainya. Dengan begitu tak ada nilai mutlak bagi agama. Agama ada, jangan diusik-usik, supaya tak ada gejolak dalam masyarakat. Menurut logical positivism, tak ada selain dari yang terasa secara empiris, sehingga ide tentang Tuhan, hari akhirat, tak dapat diterima.[1]

Tentu memang hak mereka dan PAT sendiri untuk bersikap seperti itu. Tapi, soalnya, sekarang rupanya ada pihak-pihak yang hendak menjadikan PAT sebagai ikon perlawanan atau pemberontakan terhadap segala nilai-nilai agama. Tidak diragukan lagi, inilah alasan manajemen MPI memilih PAT untuk tampil pada edisi awalnya.

Tentu mereka akan berkilah bahwa mereka ssama sekali tidak berniat menonjolkan sisi atheisme PAT, tapi hanya sekadar mengapresiasi PAT sebagai seorang sastrawan “yang membawa nama Indonesia ke peta sastra dunia”.

Hal itu memang benar sekali. Sebagai sastrawan kepiawaian PAT tidak terbantah. Sejak tahun 1950an, PAT sudah melahirkan karya-karya bernilai klasik. Selanjutnya apa yang disebut sebagai “karya-karya Pulau Buru”, adalah sumbangan PAT yang tidak ternilai bagi bangsa ini. Di antara banyak karyanya, tetraloginya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) adalah yang paling menarik.

Tetraloginya itulah yang konon sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa asing, dan membuat PAT beberapa kali masuk nominasi penerima hadiah Nobel bidang sastra. Malangnya, sampai kini hadiah yang kadang dianggap ukuran prestasi tertinggi itu belum juga jatuh ke tangah PAT. Mengapa? Bukan rahasia lagi bahwa penitia hadiah Nobel itu juga tidak bebas dari bias politik. Sebagai bagian dari masyarakat Barat yang menghormati individualisme, liberalisme, dan mengakui hak individu untuk jadi atheis, dan anti-agama, mereka bisa menerima kehadiran PAT di masyarakat sastra internasional. Tapi, mereka tidak akan pernah melupakan bahwa PAT pernah menjadi anggota Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat), yang menginduk kepada PKI (Partai Komunis Indonesia), dan PKI tentu saja menginduk pada Partai Komunis Uni Soviet. Uni Soviet sebagai saingan (Blok) Barat yang dipimpin Amerika Serikat memang sudah runtuh. Tapi komunisme masih tetap hidup, dan bisa menjadi ancaman laten (tersembunyi) bagi mereka. Dan, tentu saja, kita juga tidak ingin komunisme maupun atheisme menyeruak di sini, di tengah situasi pasca reformasi yang melahirkan kebebasan yang mulai kehilangan kendali.

Lantas, bagaimana dengan isi karya-karya PAT sendiri?

Kita tidak boleh membabi buta.

Sebatas tetraloginya yang pernah penulis baca sedikitnya dua kali, keempat buku PAT itu sama sekali tidak mengandung ajaran atheisme maupun komunisme, karena tokoh sentral tetralogi tersebut adalah Tirto Adi Suryo, perintis berdirinya Sarekat Dagang Islam, yang terlupakan.

Buku-buku sejarah kebanyakan mencatat bahwa pendiri SDI adalah H. Samanhudi. PAT mengungkapkan bahwa H. Samanhudi hanyalah salah satu pemimpin lokal (Solo) SDI. Kita tidak bisa meremehkan apa yang diungkapkan ini, karena PAT adalah seorang pengumpul data sejarah yang sangat tekun. Seperti dikatakannya kepada MPI, di usia tuanya (81 tahun, di tahun 2006) pun ia masih rajin mengkliping artikel-artikel koran, khususnya tentang geografi, dan sampai kini katanya panjang klipingnya sudah mencapai 8 meter.

Melalui karya-karyanya itu, PAT agaknya tidak mencoba mengajak pembaca menjadi atheis ataupun Komunis, bahkan cenderung mengakui faktabahwa – bagaimana pun – mayoritas bangsa Indonesia adalah penganut agama Islam.  Jadi,  seperti disebutkan dalam kutipan di atas, PAT agaknya juga berangapan bahwa agama itu merupakan fenomena kemasyarakatan, tak ubahnya dengan tradisi, kesenian, cara berpakaian dan sebagainya.

Ya, biarkanlah, itu pendapatnya. Tapi keempat bukunya itu bahkah bisa menjadi bacaan yang baik bagi generasi muda yang ingin memahami hakikat kolonialisme dan imperialisme, yang tidak terpisah dari sejarah bangsa kita. Satu-satunya yang harus digaris-bawahi, seperti sudah disinggung di atas, adalah kecenderungan PAT mengajak kita berkiblat ke Barat, untuk urusan kemodernan, kemajuan, dan penolakan terhadap nilai-nilai agama.

Kecenderungan itu jugalah, agaknya, yang menyemangati Erwin Arnada dan kawan-kawan untuk menerbitkan MPI, dan menampilkan PAT profil pada edisi pertama.

Barat adalah lokomotif kemodernan dan kemajuan; yang – nota benne – menempatkan agama sebagai tonggak kekunoan dan kemunduran.

Di  Indonesia, memang tidak ada yang lebih cocok dari PAT untuk dijadikan ikon bagi sikap tersebut.

Mereka mengajak kita meniru Barat dalam segala hal; termasuk dalam memandang pornografi dan pornoaksi sebagai hanya sesuatu yang ‘biasa-biasa’ saja, atau bahkan harus memandangnya sebagai seni, atau gaya hidup modern.

*

Sehari setelah naskah ini ditulis, PAT masuk RS. Sint Carolus, Jakarta, Kamis Sore tanggal 27 April 2006. Sakit yang dideritanya adalah komplikasi penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Sabtu sore, PAT dibawa keluarganya pulang ke rumahnya di Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur.  Ahad pagi, lima menit menjelang pukul 09, tanggal 30 April, PAT menemui ajalnya, dan kemudian jenazahnya dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta Pusat.

PAT wafat sebelum sempat mengoreksi sikapnya terhadap Tuhan dan agama. Suatu hal yang jelas tak ingin ia lakukan.

Dengan demikian, sosoknya sebagai lambang pembangkangan terhadap nilai-nilai agama – bahkan terhadap eksistensi agama itu sendiri – menjadi utuh dan sempurna.


[1] Prof. DR. H.M. Rasjidi, dalam kata pengantar untuk bukunya, Janji-Janji Islam, yang merukapan terjemahannya sendiri dari buku Roger Garaudy, Promesses de l’Islam, diterbitkan oleh Penerbit Bulan bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1982.

Comments
One Response to “Pramoedya, Sang Ikon Pemberontakan”
  1. alfi says:

    MEMANG MENARIK UTK MENELAAH SANG MASCOT [PAT] INI SY KBTLAN SUKA DENGAN NOVEL2 BELIAU NAMUN SY SANGAT ”KETEGUHAN PENDIRIAN”BELIAU PADA ATHEIST SAMA TEGUHNYA SY MEMEGANG AL ISLAM…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: