Al-Qurãn, Dilagukan Atau Dikawini?

"Bismillahirrahmanirrahim", ditulis dengan rasm (tulisan) Diwani.

Kata “mengaji” bagi kebanyakan orang adalah membaca Al-Quran dalam arti membunyikannya saja, minimal membunyikan sesuai ilmu tajwid, sempurnanya bisa melagukan menurut suatu gaya qira`ah (bacaan) tertentu. Inilah pandangan umum masyarakat tentang “mengaji”.
Mengaji sebenarnya sama dengan mengkaji. Bedanya, istilah mengaji digunakan di kalangan pesantren, sedangkan mengkaji digu-nakan di kalangan akademis. Asal katanya adalah kaji, yang menurut WJS Purwadarminta berarti: penyelidikan (dengan pikiran). Sedangkan mengaji diartikan Purwadarminta sebagai: mendaras; membaca Al-Quran; belajar membaca tulisan Arab; belajar; mempelajari; memeriksa; menye-lidiki; mempertimbangkan; memikirkan dan mempertimbangkan; menguji.
Tapi umumnya orang mengatakan bahwa mengaji Al-Quran adalah membaca dengan melagukannya. Lalu orang pun bertanya tentang ‘hukum’ melagukan Al-Quran.
Begitulah biasanya cara umat Islam ‘mempelajari’ agama mereka, yaitu dengan menanyakan itu, dan ini, dan anu “hukum”-nya apa. Ini jelas merupakan pertanda meluasnya pengaruh ilmu fiqh dalam masyarakat, sehingga segala persoalan hanya dilihat dari sudut pandang halal-haram. Alhasil, di satu pihak orang jadi punya kecenderungan memvonis melulu. Di pihak yang lain, karena teori halal-haram itu tidak menawarkan sentuhan mendalam, orang menjadi apatis terhadap agama. Mereka ingin mempertanyakan tapi terbentur pada ‘kemutlakan hukum’. Penulis tidak bermaksud menolak fiqh secara keseluruhan, tapi perlu diingat bahwa yang harus menjadi imam bagi yang mengaku mu’min adalah Al-Quran, dan Al-Quran tidak bisa diwakili oleh fiqh, atau oleh yang lain, termasuk tasauf yang oleh sementara orang dianggap sebagai alternatif. Sebagai alternatif fiqh (atau barangkali dianggap pelengkapnya) silakan saja, tapi tidak sebagai alternatif Al-Quran.
Ciri fiqh adalah praktis, dalam arti memusatkan perhatian pada segi-segi praktik, dan terutama yang populer adalah praktik ibadah ritual. Ketika anda membuka buku fiqh, yang mana pun, yang anda temukan menjadi bab pertama adalah thaharah, uraian tentang berbagai najis berikut cara pembersihannya. Selanjutnya adalah cara berwudhu, kaifiat shalat, dan seterusnya. Pokoknya segi-segi praktis “Rukun Islam”, yang disebut sebagai ibadah, ditambah petunjuk kemasyarakatan yang disebut muamalah (membahas soal kontrak, wakaf, jual-beli, perbankan, dan sebagainya). Pemisahan ibadah dengan muamalah saja sudah membingungkan. Bila ibadah berarti segala bentuk pengabdian terhadap Allah, bukankah yang mereka sebut muamalah itu termasuk ibadah juga?
Selain itu, penekanan fiqh pada segi-segi praktis dengan pendekatan hukum juga membahayakan. Yang sudah nampak jelas adalah kenyataan bahwa umat pada umumnya melakukan praktik-praktik ibadah (ritual) yang tidak mereka pahami hakikatnya.
Mereka melakukan shalat misalnya, semata-mata karena “hukumnya wajib”, yang akan menyebabkan mereka masuk neraka bila tidak dilakukan. Fiqh tidak mengurai muatan simbolik dalam praktik shalat, yang sebenarnya amat berkaitan dengan pembentukan pribadi dan masyarakat Qurani. Apalagi ditambah dengan doktrin bahwa membaca Al-Quran tidak perlu paham, yang artinya bacaan dalam shalat pun tidak perlu dipahami. Maka jadilah orang-orang yang shalat itu seperti kereta api yang terus berjalan mondar-mandir tapi tidak membawa muatan.
Mengapa penulis melantur ke masalah fiqh sementara tulisan ini sebenarnya hendak membahas soal melagukan Al-Quran? Jawabannya sederhana, yaitu karena ini sebenarnya masalah yang mendasar, sehingga harus ditinjau dari dasar. Fiqh sudah lama dijadikan pegangan hidup umat Islam, meski sebenarnya fiqh jugalah yang menyebabkan umat Islam terpecah-belah.
Melagukan Al-Quran dari sudut pandang fiqh mungkin ‘divonis’ sebagai sesuatu yang hukumnya wajib, sunnat, halal, haram, atau makruh, dengan alasan-salan tertentu. Dengan kata lain, ‘hukum’ melagukan Al-Quran itu adalah relatif. Bila anda mempunyai suara seperti himar, bisa jadi hukum melagukan Al-Quran bagi anda adalah haram. (Periksa surat Luqman ayat 19).
Melagukan Al-Quran alias qira’atul-qur’an, makna harfiahnya adalah membaca Al-Quran, tapi kemudian orang menghubungkannya dengan “gaya” membaca Al-Quran, yang umumnya dilagukan, dalam arti dibunyikan dengan berbagai irama (tinggi, rendah, panjang, pendek). Dengan kata lain, membunyikan teks Al-Quran secara musikal. Mungkin karena itulah orang Indonesia menerjemahkan qira’atul-qur’an menjadi seni membaca Al-Quran.
Karena yang menjadi penekanannya adalah seni, maka otomatis yang hendak dicapai adalah keindahan. Bicara soal keindahan (estetika) seni, tak pernah ada ujungnya. Betapapun perguruan tinggi ilmu seni didirikan, ukuran keindahan yang bisa diterima semua orang belum pernah ditemukan, karena yang menjadi penentunya adalah selera. Karena itu bila ada Hadis yang mengatakan man lam yataghannal-qur’ana fa laisa minni, lalu diterjemahkan menjadi “barang siapa tidak melagukan Al-Quran, maka dia bukan umatku”, Hadis ini jadi terasa tidak adil. Soalnya, tidak semua orang suka dan bisa menyanyi. Hadis ini bahkan seolah tidak memperhitungkan orang bisu, yang otomatis mustahil menjadi umat Nabi. Jadi, umat Nabi Muhammad akan berjumlah sedikit sekali bila syaratnya adalah kemampuan berolah vokal dalam membunyikan teks Al-Quran.
Lalu sebenarnya bagaimana? Jawabannya adalah, pertama, keshahihan Hadis ini perlu dipertanyakan. Kedua, bila memang Hadis ini shahih, gunakanlah untuk memandang Al-Quran secara proporsional. Pusatkan perhatian pada fungsi Al-Quran sebagai petunjuk, sebagai pedoman hidup.
Barangkali Hadis itu memang perlu dipandang dengan cara yang lain. Perhatikan, misalnya kata yataghanna yang memang bisa berarti menyanyikan, atau melagukan, tapi bisa juga berarti mengkayakan, atau mengwini. Jadi lam yataghanna bisa berarti tidak menyanyikan/melagukan, tidak mengkayakan, atau tidak mengawini.
Mana yang hendak anda pilih? Ketiga makna itu bisa digunakan. Tapi mana yang pas dengan kedudukan Al-Quran sebagai pedoman hidup? Menyanyikan Al-Quran jelas tak ada kaitannya dengan fungsi Al-Quran sebagai pedoman hidup, bahkan lebih menjurus pada kecenderungan bersenang-senang, berasyik-asyik. Belakangan, sehubungan dengan makin meningkatnya unsur hura-hura dan pemborosan dalam musabaqah tilawatil-Al-Quran (MTQ) yang makan biaya milyaran rupiah, banyak orang sudah mulai mempersoalkan mashlahatnya, bagi kepentingan syiar Islam maupun peningkatan kesadaran Qurani.
Banyak orang mengatakan bahwa pembacaan Al-Quran yang dilagukan dapat memberikan dampak magis (ajaib, misterius) kepada pendengarnya. Banyak orang dibuat terharu, menangis. Tapi setelah terharu dan menangis, apa yang dilakukan orang itu? Mencari mus-haf Al-Quran, lalu membacanya sendiri? Tidak. Ini langka terjadi. Karena mereka yang terharu dan menangis ketika mendengar bacaan Al-Quran, tanpa memahaminya, sebenarnya mungkin cuma terpengaruh alunan suara si pembaca yang membangkitkan situasi emosional sedemikian rupa. Atau mungkin juga karena ia merasa iri karena dirinya sendiri tidak mampu melagukan Al-Quran seindah si qari ternama.
Lain soal bila si pendengar adalah orang yang memahami. Ia bisa sering menangis karena ayat-ayat yang didengarnya menyentuh kenyataan dirinya dan masyarakatnya. Bisa juga ia menangis karena mendengar suara bacaan yang ganjil dan merusak kaidah bahasa! Misalnya ketika sebuah ayat berisi teguran yang tegas dibaca dengan lagu mendayu-dayu. Ini akan terdengar lucu sekaligus menyedihkan!
Ada Hadis-Hadis yang mengungkapkan bagaimana Rasulullah
menangis karena Al-Quran. Misalnya:

Rasulullah berkata padaku, “Bacakan Al-Quran padaku.” Aku menyahut, “Ya Rasulullah, benarkah aku harus membacakan Al-Quran kepada anda, padahal Al-Quran diturunkan kepada anda?” Rasulullah menegaskan, “Ya. Sungguh, aku senang mendengar orang lain membaca Al-Quran.” Maka aku pun membacakan surat An-Nisa. Ketika aku sampai pada ayat yang berbunyi: Fa-kaifa idza ji`na min kulli ummatin bi-syahidin wa ji`na bika ‘ala ha-ula`i syahidan (An-Nisa ayat 41), Rasulullah berseru, “Cukup sampai di situ dulu.” Ketika aku menoleh, kulihat kedua matanya basah. (Hadis riwayat Bukhari dan lain-lain, dari Ibnu Mas’ud).

Suatu ketika, menjelang subuh, Bilal melihat Rasulullah menangis. Ketika ditanya Bilal, Rasulullah menjawab:

“Bagaimana aku tidak menangis, padahal tadi malam telah diturunkan padaku ayat yang berbunyi: Inna fi khalqi-samawati wal-ardhi wakhtilafi-laili wa-nahari la-ayatin li ulil-albab (Ali Imran ayat 19).” Kemudian ia menegaskan, “Celakalah orang yang membaca ayat ini tapi tidak memikirkannya.” (Hadis Ibnu Hibban, IbnulMunir, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu Abi Dun-ya, dari Aisyah).

Kembali kepada Hadis yang kita bicarakan semula, bagaimana bila kata yataghanna diartikan “mengkayakan” atau “memperkaya”? Hadis tersebut akan berarti: “Barangsiapa tidak memperkaya Al-Quran, maka dia bukan umatku.” Memangnya Al-Quran itu miskin, atau kurang kaya, sehingga perlu diperkaya? Bukan itu maksudnya. Memperkaya bisa berarti melengkapi. Sebagai suatu pedoman hidup, Al-Quran sudah cukup. Tapi bila tidak dijalankan, ia menjadi tak berarti. Tidak lengkap. Karena tidak ada pasangannya. Ini berkaitan dengan makna berikutnya, mengawini. Mengawini dengan kata lain adalah mengambil pasangan hidup. Pasangan hidup manusia yang hakiki menurut Allah adalah Al-Quran. Maka orang yang tidak mau ‘kawin’ dengan Al-Quran jelas bukan hamba Allah, bukan umat Muhammad saw. Tapi soalnya kawin dengan Al-Quran itu memang sulit, karena harus diawali dengan cinta. Tapi kata orang Jawa cinta itu tumbuh dari pergaulan. Witing tresno jalaran soko kulino. Orang Melayu bilang: Tak kenal maka tak cinta.
Anehnya, kebanyakan umat Islam sekarang mengaku cinta Al-Quran, walaupun tidak kenal (isinya).

Comments
6 Responses to “Al-Qurãn, Dilagukan Atau Dikawini?”
  1. tirta says:

    saya setuju dengan wacana ini, saya meskipun muslim….saya tidak mau munafik…dengan terlihat kusyuk saat ada orang yg membacakan ayat al quran dengan lagu, atau sampai2 menangis, karena menurut apa yg saya studi setiap al quran mengandung pengertian yg harus di tancapkan dalam hati, dan mampu merubah perbuatan baik lisan atau gerak…sehingga yg perlu di lakukan umat islam saat ini bukannya melagukan seperti ustad jefri…tp memahami al quran dengan metode yg benar….jangan percaya dengan terjemahan saja…karena terjemahan saat ini belum menyelesaikan persoalan umat islam saat ini….so? adakah yg salah dengan al quran kita…itu yg perlu di kaji….

  2. m2y says:

    sungguh ulasan yang menarik…saya sudah lama tidak mengkaji Alquran MSR..mohon bimbingan nya!..

  3. busan says:

    Bisa juga arti memperkaya digunakan, memperkaya disini adalah memperkaya pengetahuan isi qur’an. dengan semakin kaya pengetahuan mengenai isi qur’an maka dirinya akan menjadi lebih bertaqwa. Mungkin demikian maksudnya kalau arti memperkaya digunakan..

  4. Ahmad Haes says:

    Pengertian demikian tidak cocok dengan teks hadisnya, karena yang jadi obyek adalah pembacanya, bukan Al-Qur’an.

  5. Kenneth Duke says:

    There is apparently a lot to identify about this. I believe you made some nice points in features also.

  6. Aww. Saya senang dan kagum dengan tulisan Anda ini. Saya kira tidak ada yang salah tentang ajaran Islam. Yang kurang adalah cara penyampaian ajaran Islam itu yang perlu dikaji kembali mulai dari hal-hal yang paling mendasar. Pengamatan dalam diri saya pribadi, ajaran Islam saya praktekkan sehari-hari tetapi makna dari praktek itu belum menyentuh kehidupan saya. Saya akui isi tilisan di atas sangat menyentuh pribadi saya, dan saya sangat terdorong untuk lebih mendalami ajaran Islam itu agar sesuai dengan tuntunanNya. Kiranya tulisan di atas ada sambungannya. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: