Wanita Yang Menggangguku

Beberapa jam berlalu. Aku belum juga bisa melupakan wanita itu.

Usianya mungkin lebih muda dariku tapi ia jadi tampak lebih tua karena derita yang mungkin telah menerpanya sepanjang hidupnya. Atau, mungkin juga ia menjadi tua mendadak dalam beberapa tahun, atau beberapa bulan, sejak ia terhempas di jalanan, setelah ia kehilangan segala yang pernah dimilikinya.

Aku terus gelisah. Aku merasa terganggu sekali dengan ingatanku terhadapnya.

Tadi aku harus bergegas pergi ke tempat pengajian, karena sudah terlambat setengah jam dari jadual. Teman-teman yang mempunyai kendaraan sudah berangkat duluan semua. Tadi aku menunggu istriku pulang kerja, karena kami berjanji untuk jalan bersama. Tapi, setelah waktu keberangkatan lewat dua puluh menit, ia menelepon. “Abang,” katanya, “aku baru dapat bis setelah menunggu lebih dari satu jam! Abang masih mau nunggu?”

“Memang kamu benar-benar mau ikut?”

“Iya. Tapi terlambat kan?”

“Ga apa-apa terlambat. Tapi kamu cape ga?” aku mengajukan pertanyaan bodoh. Bagaimana mungkin ia tidak capek? Perjalanan dari Rawamangun ke Kebayoran Lama. Dari ujung ke ujung kota Jakarta. Bisnya sering terlambat datang, atau ia sering tidak kebagian tempat menumpang. Jalan sering macet. Belum lagi  bila turun hujan. Ia akan kedinginan, bahkan basah kuyup ketika turun dari kendaraan.

“Jadi, Abang mau nunggu aku?” ia memutus lamunanku.

“Ya, Abang mau nunggu. Tapi, kalau kamu capek, ga usah ikut lah! Istirahat aja ya? Kalau sampai rumah, jangan lupa makan!” Aku ingat beberapa hari belakangan ini ia selalu langsung melempar badan di tempat tidur begitu tiba di kamar. Kalau sudah begitu, sulit sekali aku membangunkannya untuk makan. Baru tengah malam ia bisa bangun, karena sadar belum menunaikan shalat Isa.

Akhirnya, aku berangkar sendiri.

Gerimis halus menyambutku di luar.

Beberapa menit menunggu bis, sebuah bis yang datang tak mau berhenti walau tangan sudah kuacungkan tinggi-tinggi ditambah dengan teriakan! Aneh. Padahal kelihatan kosong.

Dengan sedikit kesal aku menunggu. Lima menit kemudian, datang sebuah bis yang lain. O, aku tahu! Bis yang kedua inilah yang menyebabkan bis tadi tak menghiraukanku. Sopirnya harus bergegas, karena takut didahului oleh bis yang kedua ini. Ah! Mereka memang selalu begitu. Selalu harus berlomba memperebutkan penumpang.

Mungkin karena di belakang tak ada bis ketiga, bis kedua ini mau berhenti. Lagipula, bis ini pun kosong. Aku adalah penumpang keempat yang naik. Kernetnya langsung menagih ongkos begitu aku duduk.

Tak lama kemudian, aku turun di bawah sebuah jalan layang. Dari situ aku masih harus jalan kaki sepuluh menit atau lebih. Tak ada kendaraan yang bisa mengantarku ke tampat pengajian, karena memang tak ada jalan untuk kendaraan umum ke sana.

Gerimis semakin rapat. Aku aku setengah berlari. Sampai di bentangan jalan arteri, langkahku terhambat oleh arus kendaraan yang deras. Di tengah suasana bising, ponselku berbunyi. Aku mundur dua langkah untuk mendhindari sambaran kendaraan. Terbaca nomor yang tak kukenal. “Siapa ini?” tanyaku keras, berusaha mengatasi kebisingan.

“Sudah sampai di mana?” balas sebuah suara yang kukenal.

“Di bawah jalan layang!”

“Oh! Teman-teman sudah menunggu nih!”

“Ya, ya! Sebentar saya sampai!”

Sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celana, aku menoleh ke belakang.

Di bawah pohon, dalam keremangan, kulihat seorang wanita gelandangan duduk di atas tanah lembab. Mungkin beralas batu atau entah apa. Lampu sebuah mobil menerpa wajahnya sekilas. Kepala berbalut kain, tapi masih ada bagian rambut yang melambai ditiup angin.

Kurus.

Murung.

Aku tertegun.

Secara reflek, tanganku masuk ke saku kiri celana. Hanya ada uang lima ribuan.

Aku tahu di dompet ada satu lembar lima puluh ribuan dan beberapa lembar sepuluh ribuan. Tapi jumlah seluruhnya tak cukup untuk memenuhi permintaan anakku yang harus membeli kebutuhan kuliahnya.

Aku menghampiri wanita itu. Setalah dekat, aku bisa melihat wajahnya lebih jelas. Uang lima ribu itu kuserahkan padanya. Ia terhenyak sesaat. Tapi kemudian uang itu diambilnya dengan cepat. Tapi air mukanya tak berubah. Kaku. Murung.

Uang disimpannya, tanpa mengeluarkan suara apa-apa.

Aku melangkah lagi ke depan. Arus kendaraan masih juga deras. Sosok wanita itu seperti muncul di hadapanku. Ia seperti mengatakan bahwa uang lima ribu itu tidak berarti apa-apa. Mungkin bisa untuk membeli kopi atau nasi di warung tegal. Tapi itu hanya menolong kebutuhan perut dalam waktu beberapa jam. Setelah itu, ia akan haus lagi, lapar lagi.

Sebuah sepeda motor mendesing. Bettt!!! Tanganku tersambar. Kaget dan hampir terjerembab. Brengsek, teriakku sambil mengibas-ngibas tangan yang terasa panas dan sakit.

Sekilas aku menoleh lagi ke belakang.Wanita itu masih dalam posisi semula. Duduk membeku dalam keremangan. Entah ia tahu atau tidak apa yang barusan terjadi padaku. Tanganku dihantam stang sepeda motor setelah memberinya uang lima ribu perak!

Ya Allah! Apa artinya ini? Aku tidak bangga karena memberinya uang dalam keremangan malam. Aku juga yakin tak ada orang yang melihat perbuatan remeh itu. Tapi, kalau memang ada perasaan lain yang menyerupai kebanggaan atau apa, aku rela mendapat hukuman langsung seperti ini.

Entah berapa menit kemudian, akhirnya aku bisa menyeberang. Aku langsung tancap gas, melangkah lebar-lebar dan cepat.

Sampai di tempat pengajian, ternyata memang aku yang datang paling belakangan. Aku masuk diam-diam, tanpa mengucapkan salam, langsung menyelinap di ruangan yang segera dibukakan teman. Itu memang ajaran guru kami. Kata beliau, kalau terlambat tiba di majlis dan acara sudah berjalan, tak usah memberi salam. Langsung cari tempat saja. Kalau memberi salam, konsentrasi guru dan teman-teman akan terganggu. Itu ajaran Rasulullah, kata beliau.

Usai acara pengajian, aku mendekati guru kami dan menceritakan pengalamanku tadi. “Kamu sudah berbuat baik, bagaimana mungkin Allah marah kepada yang berbuat baik? Tanganmu yang disambar motor itu adalah peringatan agar selalu berhati-hati di jalan,” kata guruku.

Tapi aku tidak juga tenang.

Wanita itu terus ada dalam ingatan.

Tapi mengapa?

Sebenarnya apa yang kupikirkan?

Oh! Aku penasaran sekali ingin melihat lagi wanita itu.

Aku ingin tahu pasti dia ada di mana dan bagaimana keadaannya sekarang.

Di manakah dia ya Allah?

Di kolong jembatan?

Di suatu tempat yang tak diketahui orang, atau di tengah keramaian tapi tak ada yang peduli kepadanya?

Adakah yang memikirkannya selain aku?

Dan apa manfaatnya baginya bila aku memikirkannya?

Ah! Setiap saat selalu banyak yang kupikirkan, tapi terlalu sedikit yang bisa kuwujudkan.

Malam itu sulit sekali bagiku untuk tidur. Ketika akhirnya tertidur, entah berapa lama kemudian, aku mengingau. Istriku mengguncang-guncang tubuhku sehingga aku terbangun dan kemudian duduk.

“Abang mimpi apa?” tanya istriku.

Aku tak menjawab. Bayangan wanita itu muncul lagi.

Karena istriku berkali-kali bertanya “Abang mimpi apa?”, akhirnya aku bercerita tentang wanita itu.

“Huh! Itu memang penyakit lama Abang!” kata istriku kemudian.

“Maksud kamu?”

“Abang sok peduli sama orang miskin. Padahal ga bisa berbuat apa-apa!” celetuk istriku.

Aku terdiam.

Kemiskinan rakyat. Keterasingan, ketersingkiran mereka dari target-target pembangunan, memang selalu mengganggu pikiranku.

Aku kesal, marah, sedih, terutama pada saat-saat aku harus berhadapan langsung dengan mereka.

Aku kesal, marah, dan sedih pada kelemahanku sendiri, pada kemiskinanku sendiri.

Kadang aku bertanya: Apakah sambung rasa derita hanya bisa terjadi di tengah para penderita kesakitan yang sama?

Bila demikian, pantaslah mereka yang ada di luar lingkaran penderitaan itu tidak mempunyai kepedulian dan empati.

Suasana hati mereka memang berbeda.

Dunia mereka memang berbeda.

Orang miskin tinggal di satu kutub.

Orang kaya di kutub yang lain.

Februari-Maret 2010.

Comments
2 Responses to “Wanita Yang Menggangguku”
  1. andi says:

    Muttaqin:

    (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (3:134)

    ————————————————-

    Kalo kita melihat kehidupan Rasulullah SAW dan kecintaan Beliau terhadap fakir miskin tak pelak air mata haru pasti akan menetes.
    Beliau memang sebaik-baik teladan bagi orang beriman.

  2. andi says:

    Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.(2:254)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: