Ilmu Dan Kebenaran

Kebanyakan manusia sudah terbius oleh dalil yang mengatakan bahwa “kebenaran itu bersifat relatif”, yakni tergantung pada siapa yang mengatakan dan mempercayainya. Dengan kata lain, kebenaran itu menjadi tergantung pada kepercayaan, atau bahkan selera, sehingga nilainya menjadi subyektif (tergantung orang). Padahal, seharusnya kebenaran itu bersifat obyektif, apa adanya, sesuai dengan fakta yang telanjang (asli).

Seharusnya dalil itu difahami dengan cermat!

Relatif (Ing.: relative) adalah kata sifat. Kata bendanya adalah relasi (relation). Dalam bahasa aslinya, yang biasa kita sebut relatif itu adalah relative to, yang artinya sama dengan referring to (merujuk kepada; menghubungkan dengan).

Jadi, bila kita mengatakan bahwa “kebenaran itu relatif”, maksudnya adalah “kebenaran itu tergantung pada rujukannya atau sumbernya.” Bila sumbernya orang, maka orang itulah yang menjadi penentu. Bila sumbernya sebuah buku (yang sebenarnya juga ditulis orang), maka buku itulah yang menjadi penentu. Kita yang mendengar kata orang, atau membaca sebuah buku, boleh membenarkan (mempercayai), boleh juga tidak membenarkan (= menyalahkan). Kedua pilihan itu (membenarkan atau menyalahkan) adalah benar (= sah), karena kebenaran itu tergantung pada (subyektif/selera) kita. Titik.

Tapi, dalam kenyataan, kita tidak bisa hidup dengan hanya mengandalkan kepercayaan subyektif. Kita hidup selalu dan akan terus mengandalkan pengetahuan obyektif yang dipercayai oleh semua orang. Misalnya, kita tahu bahwa api itu panas. Pengetahuan itu dibenarkan semua orang. Kita tahu bahwa kita tidak bisa mengambang di permukaan air; karena itu kita menggunakan jembatan untuk menyeberangi sungai, dan menggunakan perahu atau kapal laut untuk mengarungi lautan. Bila perut lapar, kita pun memakan makanan yang sudah diketahui dengan pasti kelezatan rasanya,  manfaatnya untuk menghilangkan lapar dan menjaga kesehatan. Pendeknya, setiap hari kita hidup melalui pengetahuan obyektif; dalam arti ada teori dan ada bukti.

Tapi, mengapa ketika berbicara tentang kebenaran agama, kita memilih kebenaran yang bersifat subyektif, hanya mengandalkan kepercayaan masing-masing?  Bahkan, ketika kita berhadapan dengan teks Al-Qurãn, kita juga cenderung memilih pemahaman yang bersifat subyektif, sehingga lahirlah sekian banyak madzhab.

Mengapa bisa demikian?

Jawabannya adalah: karena kita terpengaruh filsafat Plato, yang mendorong manusia untuk berpikir deduktif dan mengabaikan pembuktian induktif (analitika), karena bagi Plato apa pun yang kita temukan dalam proses induktif itu —seperti dia menyebut kuda sebagai contoh— adalah semu (hanya bayangan).  Kuda bisa kita lihat ada beberapa jenis, tapi dari semua yang ada itu, tidak ada satu pun yang mewakili kuda yang sebenarnya, yang ada di alam idea. Meskipun demikian, Plato tidak bisa mengingkari bahwa kuda-kuda itu memang ada, dan bila ia butuh kuda sebagai kendaraan tentu ia akan naik kuda juga. Begitu lah contoh sikap pembual besar!

Bila pemahaman seperti di atas itu kita kaitkan dengan madzhab-madzhab dalam agama Islam, maka kita akan melihat bahwa bila seseorang penganut satu madzhab didesak untuk menyatakan keyakinannya akan kebenaran madzhabnya, jawaban yang diberikan pastilah bersifat mengambang, tidak tegas. Dia tidak berani untuk mengatakan bahwa madzhab yang dianutnya adalah yang paling benar. Akhirnya, ketika pikirannya mencapai puncak kejernihan, ia akan mengatakan, “Pada madzhab kami tentu ada juga kesalahan dan kekeliruan; dan pada madzhab lain tentu ada juga kebenaran.” Kalimat diplomatis itu ujung-ujungnya hanyalah menegaskan bahwa dia mengikuti suatu madzhab itu karena mengakui kebenaran madzhabnya berdasar seleranya belaka, bukan berdasar pembuktian ilmiah.

Dalam Al-Qurãn, Allah juga  mengajukan sebuah pernyataan deduktif bahwa kebenaran itu berasal dari Dia (al-haqqu min rabbika).[1] Dengan kata lain, Allah adalah narasumber kebenaran.

Lantas, bila Allah adalah narasumber kebenaran, di manakah gerangan letak kebenaran Allah itu?

Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa kebenaran Allah itu terletak pada kitabnya, yakni Al-Qurãn, karena itulah satu-satunya dokumen terpercaya tentang kehadiran Allah. Tapi, apakah itu (Al-Qurãn) saja sudah cukup untuk menegaskan kebenaran Allah? Belum!

Kebenaran Al-Qurãn (sebagai sebuah ilmu) tidak cukup dengan hanya menyebutkan narasumbernya yang bersifat mutlak, Allah. Begitu juga kebenaran Allah sebagai narasumber ilmu tidak cukup terbukti dengan hanya menyebut kitabnya yang terpercaya, Al-Qurãn. Kebenaran Allah, dan Al-Qurãn, masih harus didukung oleh sesuatu yang lain, yaitu bukti-bukti (data; fakta) dari setiap teori atau keterangannya. Bila tidak didukung fakta, berarti ajaran Allah (Al-Qurãn) itu dogmatis; padahal sebenarnya tidak.

Ketika menjelaskan Al-Qurãn sebagai ilmu, pada dasarnya kita memang sedang menegaskan bahwa Al-Qurãn itu bukan sebuah dogma, yang ayat-ayatnya hanya berisi pernyataan-pernyataan yang harus dipercayai begitu saja, tanpa harus dikritisi dan dimintai pembuktiannya.  Bila hanya sebuah dogma, Al-Qurãn tidak akan bisa menjadi petunjuk atau pedoman hidup (hudan). Sebuah dogma hanya bisa diterima oleh khayal, sementara petunjuk adalah sesuatu yang bisa diterima oleh akal (= masuk akal).

Sesuatu yang masuk akal tentu bisa diuraikan secara rinci; dan selanjutnya —bila ia merupakan sebuah gagasan untuk mewujudkan sesuatu— tentu ia bisa dilaksanakan tahap demi tahap. Begitulah keadaan Al-Qurãn sebagai sebuah ilmu yang benar.

Dengan demikian, kita bisa membuat rumusan bahwa kebenaran itu pada dasarnya mempunyai dua sisi, yaitu sisi teoritis dan sisi praktis.


[1] Surat Ali ‘Imran ayat 60, dll.

Comments
6 Responses to “Ilmu Dan Kebenaran”
  1. andi says:

    dilanjut pak, ini kekna cuma baru pengantar …he2.

  2. andi says:

    kalo kebeneran subyektif gak salah dong pak, kalo merefer to kebenaran yg Haq.

  3. Ahmad Haes says:

    Ah, kamu tau aja sih!

  4. Ahmad Haes says:

    Ya. Yang penting itu kan ke mana bergantungnya!

  5. fery adi says:

    Allah Maha Gaib. Apakah Allah Maha Zahir?

  6. abcdef says:

    jadi kembali bang pada prinsipnya bahwa kebenaran akan muncul ketika,(alquran) sebagai sumber mampu membuktikan dirinya memnuhi hasrat kemanusiaan(karen dia adalah pedoman atau pentunjuk)nah disini antara subyek dan obyektifitas ini yang berada dalam garis yang sangat tipis(disini yang disebut relatif),maka kesimpulan kebenaran akan terwujud apabila terwujudnya sebuah teori terimplementasi dalam realita budaya yang utuh dalam kontes tidak menggerus nilai2 kemaunsiaan itu sendiri.jadi prinsipnya terori boleh tidak boleh harus tertuang dalam kenyataan dan itu sebuah kebenaran(laantas siapa yang mesti menyuguhkan ya tentu merka yang meyakinai ilmu yang dia dapat mampu mengekplor kedalam realita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: