Memisahkan Diri Dari Kebenaran (?)

Tampaknya aneh. Tapi itulah rumusnya. Untuk mengenal kebenaran, kamu harus memisahkan diri dari kebenaran. Dan ini rumus praktis, bukan filosofis. Ya filosofis itu kan kadang dianggap sama dengan abstrak (niskala; gaib) atau bahkan absurd (ganjil; sulit dipahami), atau mungkin malah sama dengan gila. Padahal sebenarnya berpikir filosofis juga kadang dibutuhkan untuk bisa mengenal kebenaran.

Wah!

Jangan bilang wah. Bicara tentang kebenaran memang susah kok.  Apalagi kalau kita memulainya secara tidak benar. Nah! Dari mana pula bisa tahu bahwa kita memulai secara benar atau tidak? Bingung kan?

Setidaknya, alhamdu lillah, kita punya akal sehat. Kalau tidak, bagaimana bisa mengenal kebenaran dan membahasnya?

Dalam keseharian kita biasa menganggap kebenaran itu sama dengan kepercayaan. Maksudnya, yang kita percayai sebagai benar itulah kebenaran. Ya orang kan selalu bilang bahwa kebenaran itu relatif, dan relatif itu artinya sama dengan tergantung selera atau malah selera itu sendiri. Jadi, kebenaran itu selera, gitu lho.

Bahwa kebenaran adalah selera, itu bisa diuji dan dibuktikan. Setiap hari kita makan dan minum mengikuti selera, dan buktinya kita bisa bertahan hidup, bahkan sehat wal afiat. Bukan hanya itu!  Kita juga memilih ‘santapan ruhani’ (agama) berdasar selera, walau sebenarnya selera yang dibentuk oleh orangtua dan lingkungan. Toh kita menjadi tak kurang suatu apa. Baik-baik saja, gitu lho. Keadaan baru berubah jadi tidak baik-baik saja setelah berkumpul dengan para pemilik selera lain dan satu sama lain saling memamerkan, menawarkan, atau malah memaksakan selera masing-masing. Jadi ketahuan deh, bahwa selera itu baru aman dinikmati kalau lagi sendirian, atau hanya berkumpul di wilayah-wilayah sempit.

Dari situlah, katanya, mulai muncul filsuf-filsuf (= filosof-filosof, orang-orang filsafat), yang konon bisa berpikir lebih tenang, karena bisa membebaskan diri (untuk sementara mungkin) dari selera.

Mereka, filsuf-filsuf itu, yang belakangan ketahuan merupakan orang-orang yang menekuni berbagai bidang ilmu, menelorkan apa yang dibilang kebenaran filosofis, yang sama dengan kebenaran ilmiah alias scientific truth.

Dijelaskan oleh mereka bahwa kebenaran filosofis atau kebenaran ilmiah itu adalah kebenaran obyektif  (objective), dan kebenaran obyektif itu adalah kebenaran yang terletak diluar pikiran (external to the mind). Dus, mereka mengajak orang keluar dari kungkungan selera, setidaknya untuk sementara. Anggap saja seperti sedang menonton film dokumenter, gitu lho, yang tentu kurang kita harapkan.

Jadi, keluarlah dari kamar kebenaran selera, supaya bisa melihat kebenaran ilmiah.

Kebenaran ilmiah disebut kebenaran obyektif, karena urusan ilmu memang urusan obyek mengobyek, atau sasar menyasar. (Maka jangan heran kalau kadang-kadang nyasar juga).

Ada obyek (sasaran) tentu ada subyek (orang yang ‘nyasar’?). Siapa atau apa itu obyek, dan siapa atau apa itu subyek?  Obyek bisa orang, tapi subyek tidak boleh orang. Itu rumusnya. Soalnya, kalau subyeknya orang lagi, ya jadi nyungsep (terpuruk) ke comberan selera lagi.

Subyek dalam ilmu adalah konsep alias teori. Jangan tanya dulu siapa yang menciptakan teori, karena nanti bisa ketahuan bahwa ilmuwan itu sebenarnya pencuri yang mengaku penemu. Pokoknya, subyek dalam ilmu adalah konsep. Seorang atau sekelompok imuwan bekerja mempelajari obyek-obyek, yang biasanya alam (nature), dengan panduan sebuah konsep dasar (general idea) yang dipecah jadi sejumlah konsep (petunjuk-petunjuk teknis).

Konsep (teori) digunakan untuk menyorot benda. Itulah pokok kerja ilmuwan. Apa yang cocok dengan teori, mereka sebut sebagai fakta. Selanjutnya, apa yang disebut ilmu (sains) itu adalah “lebih merupakan” kumpulan fakta-fakta. Kata mereka, “Tujuan sains adalah menemukan hubungan-hubungan antara fakta-fakta, atau bila tidak, untuk meneliti pola-pola dalam alam.”  Untuk apa? Untuk mengenal alam, termasuk diri sendiri. Lalu?  Ya menampilkan diri sebagai subyek yang mampu menguasai, atau setidaknya memanfaatkan alam. Supaya bisa hidup lebih enak dari kemarin-kemarin, gitu lho.

Kebenaran wahyu

Pragmatisme (melihat segala sesuatu dari segi manfaatnya untuk diri) barangkali merupakan filsafat dasar dari semua kerja (penelitian) ilmiah. Dan ini sama sekali tidak bertentangan dengan agama Islam, karena Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa seorang mu’min adalah dia yang meninggalkan apa yang tidak bermanfaat, dan Allah melalui Al-Qurãn,  Al-A’raf ayat 10, misalnya, menegaskan bahwa bumi dan segala isinya disediakan sebagai sarana hidup manusia. Ayat ini, bila dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, apalagi dengan ayat-ayat lain dalam surat-surat lain, bahkan mengisyaratkan bahwa pengajar konsep alias teori yang pertama untuk mengobyek alam adalah Allah sendiri. Nah, jadi ketahuan kan bahwa para ilmuwan itu maling. Bila mereka, berdasar cara berpikir materialis, mengatakan bahwa awal segala eksistensi adalah benda, dan bendalah yang menghasilkan enerji, apakah benda juga melahirkan ilmu?  Pertanyaan inilah yang layak kita ajukan kepada salah seorang ‘guru bangsa’ kita yang menulis buku Madilog (materi, dialektika, logika), Tan Malaka, yang agaknya kencang betul menyuarakan materialisme.

Jadi, wahyu (maksudnya Al-Qurãn) membuka kedok ilmuwan, menegaskan bahwa sebenarnya mereka pencuri, yang mengubur informasi tentang lokomotif ilmu (konsep), sehingga seolah-olah konsep itu sudah ada begitu saja, seperti halnya alam yang mereka bilang sudah ada begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: