Kausar Niazi (9): Istiqamah Dalam Keyakinan Tauhid

Kalimatullahi hiyal-'ulya: Ajaran Allah (adalah konsep) tertinggi (nilainya).

Istiqamah (keteguhan) adalah kebutuhan dasar tauhid. Ini berarti bahwa orang yang bertauid sanggup menghadapi segala ujian dan musibah dengan iman yang kokoh. Iman tidak boleh merana karena pasang-surutnya kehidupan. Mengakui kebenaran tauhid saja tidaklah cukup. Untuk mencapai inti ajaran, syarat pertama adalah kesiapan mengorbankan segalanya demi mencapai tujuan.

Dalam pernyataan kepatuhan terhadap Allah terdapat dua unsur. Yang pertama adalah unsur neatif bahwa “Tuhan tidak ada”. Yang kedua adalah unsur positif bahwa “kedaulatan hanyalah milik Dia yang unik tiada tara.”[1]

Pada saat seseorang dengan sadar menolak segala tuhan kecuali Dia (Allah), tuhan-tuhan palsu berteriak, “Akulah tuhan yang sebenarnya!”, dan berusaha memalingkan orang itu dari kebenaran. Begitu juga saudara sesuku, akan memprotes dengan marah bila budaya-budaya palsunya ditelanjangi. Demikian juga orang-orang yang merasa berkuasa; mereka akan sangat bersemangat mempertahankan budaya-budaya palsu itu. Suatu tata sosial yang didirikan dengan landasan eksploitasi (penindasan, pemerasan, penyalahgunaan wewenang dan sebagainya) juga pasti tidak akan sudi membiarkan suatu pemberontakan. Pendeknya, setiap langkah orang beriman selalu ada hambatan.

Sudah menjadi kelaziman bahwa orang beriman selalu dikelilingi ‘orang-orang liar’, sehingga kehidupan mereka menjadi ajang percobaan yang tak kunjung akhir. Itu semua timbul sebagai akibat dari penyataan sisi ‘negatif’ iman.[2] Tapi hanya dengan melalui tahap-tahap itulah sisi positif iman bisa dicapai, bersih dari segala noda syirk, sehingga berbagai wujud keyakinan tauhid itu muncul. Untuk dapat lolos dari syirk itulah Iqbal mengatakan:

Saya gemetar

Ketika menyatakan diri Muslim,

Karena sadar

Berbagai kesulitan segera tergelar

Mengiringi pengakuan “Tiada tuhan selain Allah”!

Rasulullah sendiri menegaskan bahwa pernyataan tauhid membutuhkan istiqamah. Dalam kitab Shahih Musli, Abu Umra Sofyan bin Abdullah bertutur: “Saya meminta Rasulullah untuk menegaskan Islam dengan suatu perkataan, agar saya tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain. Rasulullah mengatakan, “Tegaskan bahwa kau mengimani Allah, selanjutnya teguhlah dalam pendirian itu. Al-Qurãn pun memberikan gambaran demikian:

Ketika mereka mengatakan bahwa Allah adalah pencipta mereka, dan selanjutnya mereka teguh dalam keyakinan demikian, maka mereka tidak akan dihantui ketakutan serta duka-cita. Mereka adalah penghuni sorga, yang menjadi tempat tinggal mereka selamanya. Itulah imbalan bagi segala amal mereka.3


[1] Maksud penulis adalah kalimat syahadat, dengan penekanan pada frasa “lã ilaha illallãh(u)”. (AH)

[2] Maksudnya segala penolakan terhadap apa pun yang salah menurut Allah. Kebalikannya, penerimaan terhadap segala yang benar menurut Allah, adalah sisi positif. (AH)

[3] Tidak jelas yang dimaksud penulis surat apa dan ayat berapa. (AH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: