Kausar Niazi (8): Cara Yang Benar Untuk Mencintai Allah

Tak ada yang mencintai Allah melebihi Rasulullah saw dan para sahabatnya. Tapi kenyataan membuktikan bahwa mereka berdagang, mempunyai istri dan anak, dan menikmati berbagai kesenangan yang halal. Kecintaan mereka terhadap Allah membuat para malaikat cemburu! Itu terjadi karena kecintaan mereka kepada Allah tidak bercampur dengan cinta-cinta jenis lain. Satu-satunya syarat untuk bisa demikian adalah dengan menempatkan segala sesuatu yang lain sebagai alat untuk mencintai Allah. Dengan demikian, ia bisa memisahkan mana yang perlu dan mana yang tidak. Bila orang yang mencintai Allah menjunjung tinggi perintah dan larangan Allah serta mencintai istri dan anak-anaknya, lalu ia membuka toko, atau menggarap lahan pertanian, maka tindakannya itu pasti diridhai Allah. Kenyataannya, segala yang diusahakannya justru menambah keakraban spiritual dengan Allah.

Allah mengijinkan orang mencintai anaknya, dalam batas-batas tertentu. Syaratnya, cinta kepada anak itu tidak menghalangi cintanya kepada Allah. Bahkan, bila perlu, ia tak akan ragu-ragu untuk mengorbankan anaknya. Contohnya adalah Nabi Ibrahim. Setelah usianya lanjut, Ibrahim baru menerima anugerah seorang putra, Ismail. Cinta Ibrahim kepada sang putra tidak bisa diukur dalamnya. Tapi tak lama kemudian Allah menyuruhnya mengorbankan Ismail.

Sejarah Islam mempunyai anekdot tentang Abu Bakar. Suatu hari putranya berkata, “Ayah, ketika aku masih memuja berhala dan memerangi kaum muslimin, aku melihatmu di tengah kecamuk pertempuran. Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu. Tapi cintaku kepadamu mencegahku melakukan segala sesuatu yang membahayakan dirimu.”

Abu Bakar menjawab, “Anakku, terlepas dari penghargaanmu terhadap ayahmu, kau telah membiarkan ayahmu hidup. Tapi, demi Allah, bila aku sendiri yang melihatmu waktu itu, aku pasti sudah memenggalmu dengan pedangku!”

Orang yang mempercayai keesaan Allah, pasti dicintai Allah. Seperti yang digambarkan beberapa Hadis Rasulullah, Allah menjadi mata, lidah, tangan, dan kakinya. Al-hasil, ia melihat, berbicara, dan bertindak sedemikian cocok dengan kehendak dan kesukaan Allah.[1]


[1] Sebuah Hadis Qudsi yang berasal dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan: Allah ta’ala berfirman, “Siapa pun memusuhi seorang kekasihku, maka aku menyatakan perang kepadanya; dan tidak ada yang lebih kusukai dari hambaKu selain pendekatannya dalam melaksanakan kewajiban dariKu, serta ia selalu melakukan pendekatan dengan ibadah tambahan, sehingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, jadilah Aku pendengarannya, dan pengelihatannya, dan tangannya, dan kakinya. Bila ia meminta kepadaKu, Kukabulkan permintaannya. Bila ia ingin perlindunganKu, Aku pun melindunginya. (AH)

Comments
One Response to “Kausar Niazi (8): Cara Yang Benar Untuk Mencintai Allah”
  1. reza says:

    touching notes..cry deep inside my heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: