Mengabaikan BA = Mengabaikan Q

Ada dua  bahasa asing yang saya pelajari secara ‘kebetulan’; yaitu bahasa Inggris (BI) dan bahasa Arab (BA).

BI saya pelajari lewat buku-buku – beberpa di antaranya loakan – semata-mata karena saya suka membaca. Saya mempelajarinya secara sambil lalu, tak bersungguh-sungguh, dan tak pernah membayangkan hendak menggunakannya untuk apa. Sampai suatu hari, saya bekerja di sebuah majalah yang memuat sisipan berupa komik (cerita bergambar) terbitan Amerika. Entah berapa lama kemudian, penerjemah komik itu tak muncul. Bos meminta saya untuk melanjutkan penerjemahan. Saya terpaksa menurut. Penerjemahan saya lakukan dengan agak susah-payah. Ketika saya keluar dari majalah tersebut, seorang teman membawa saya ke sebuah majalah lain untuk diperkenalkan kepada bosnya sebagai calon wartawan. Tapi ternyata di situ hanya ada lowongan untuk penerjemah. “Kamu bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia?” tanya teman saya.

“Kalau dengan bantuan kamus, mungkin bisa,” jawab saya.

Teman saya tertawa. “Siapa pun orangnya, biar profesor, kalau menerjemahkan ya pakai bantuan kamus!” katanya.

Singkatnya, saya diberi sebuah naskah berbahasa Inggris untuk dibawa pulang. Kalau tak salah ingat, naskah itu berisi paparan tentang obyek wisata bernama Kilimanjaro, di Timurlaut Tanganyika, sebuah bekas gunung api tertinggi di Afrika. Di rumah, saya pun ‘kasak-kusuk’ menerjemahkan naskah itu semalaman. Esoknya, hasil terjemahan sebanyak sembilan halaman polio atau lebih saya serahkan kepada bos teman saya di kantornya. Saya disuruh menunggu selagi karya saya dibaca. Tak lama kemudian, saya dipanggil. “Kamu lulus,” kata si bos.

Ketika saya berpamitan untuk pulang, si bos bilang, “Mau ke mana? Kamu langsung kerja saja mulai hari ini.”

Waktu itu usia saya 25 tahun.

Saya bekerja sebagai penerjemah dan rewriteman di majalah tersebut selama sekitar satu setengah tahun. Berikutnya, sekitar sepuluh tahun saya hidup dengan modal BI, sebagai penerjemah dan peringkas buku, yang saya kerjakan di rumah.

Meskipun demikian, sampai sekarang saya belum menguasai BI dengan baik. Pengetahuan BI saya bahkan mungkin tidak mencapai pas-pasan, tapi malah kurang-kurangan (banyak kurangnya). Kalau tidak ‘terpaksa’, saya memang kurang suka BI atau bahasa-bahas bule yang lain. Soalnya, di sekolah orang-orang bule (Portugis, Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol, dll) diperkenalkan guru-guru saya sebagai penjajah.

*

BA saya pelajari, juga melalui buku-buku, karena ‘kebetulan’ saya orang Islam. Saya ingin memahami Al-Qurãn. Sayangnya, tidak seperti buku-buku pelajaran BI yang berjibun (amat sangat banyak), kata orang Betawi; buku pelajaran BA amat sangat sedikit. Bahkan di tengah yang sedikit itu, tak ada satu pun yang bagus dan lengkap. Semua boleh dikatakan jelek, kurang bagus, dan tidak lengkap. Yang lumayan bagus cuma pelajaran ilmu sharaf karya Ahmad Hasan, Kitabu Tashrif, yang ditulis dalam huruf Arab Melayu yang rapi. Selainnya, buku-buku pelajaran ilmu sharaf, nahwu, balaghah, dan sebagainya, secara mutu cetak, mutu kertas, tata letak, ilustrasi, pemaparan, rata-rata menyedihkan.

Bagaimana tidak sedih bila kita punya banyak orang alim (ulama) tapi tak ada yang mampu menulis pelajaran BA yang baik (?).

Kecuali Ahmad Hasan yang menulis Kitabu Tashrif tersebut, dan M. Yunus yang menulis pelajaran dan kamus BA sederhana, alim besar seperti Hamka yang menulis ratusan buku agama dan beberapa novel, serta Tafsir Al-Azhar sebanyak 30 jilid, tak pernah menulis pelajaran BA. Begitu juga pakar hadis dan penulis buku produktif seperti M. Hasbi Ash-Shiddieqy, dll. Pakar Al-Qurãn masa kini, M. Quraish Shihab, yang juga penulis buku produktif dan menulis dua tafsir Al-Qurãn berjilid-jilid, juga tidak menulis pelajaran BA. Bahkan, saya juga punya seorang teman yang mengaku lebih enak berbicara dalam BA daripada bahasa Indonesia, menjadi dosen BA yang piawai pula, tapi agaknya belum terpikir olehnya untuk menulis pelajaran BA.

Sebenarnya apa yang paling menyedihkan di samping sikap abai mereka terhadap pentingnya pelajaran BA itu?  Selain terkesan mengikuti kecenderungan para penerbit yang lebih suka menerbitkan buku-buku laris, ulama kita agaknya mengidap penyakit instant minded, mau serba cepat dalam menyampaikan ajaran agama. Apa salahnya? Bukankah semakin cepat sampai (ajaran agama itu) semakin baik?

Bila ajaran agama itu sama dengan sejenis buah-buahan atau olahan makanan, semakin cepat dihidangkan tentu semakin baik, karena bila terlambat sampai malah bisa menjadi busuk. Tapi, inna hadza-ddïni ‘ilmun. Agama ini (Dinul-Islam) adalah ilmu, kata Imam Syafi’i.

Sebagai ilmu, Islam harus disampaikan secara disiplin ilmu pula. Di sana ada metode sebagai titik tolak dan penentu arah tujuan. Juga ada tahapan-tahapan (proses) yang harus dijalani secara teliti. Hanya dengan cara demikian Islam sebagai ilmu bisa dikuasai dengan baik. Hanya dengan cara demikian seseorang yang mengaku muslim bisa memiliki kematangan dan kemantapan diri dalam menjalankan agamanya.

Teks utama Islam adalah Al-Qurãn. Islam sebagai ilmu bukan hanya berlandasan tapi bernyawa Al-Qurãn. Islam tanpa Al-Qurãn sama dengan tong kosong.

Tong kosong bunyinya nyaring. Begitulah kebanyakan umat Islam, termasuk yang disebut cendekiawan muslim. Mereka lincah dan lantang bicara Islam, tapi hampa pengetahuan tentang Al-Qurãn. Mereka bicara berdasar buku-buku. Pengetahuan mereka tentang Al-Qurãn, seperti dikatakan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 78: و منهم أميُون لا يعلمون الكتاب إلا أمانيّ و إن هم إلا يظنّون . Di antara mereka (ahli kitab) ada orang-orang awam. Pengetahuan mereka tentang kitab Allah hanya sebatas angan-angan alias perkiraan. Namun di antara mereka ada yang bangga mengatakan, “Kami mengamalkan Al-Qurãn secara otodidak.” Maksudnya, walau tak tahu Al-Qurãn, mereka sudah bisa berbuat seperti yang tertera dalam Al-Qurãn. Entah tertera di surat apa dan ayat berapa, tidak jelas. Pokoknya, menurut si Anu,  ada di Al-Qurãn lah! (Jadi apa yang saya katakan dan lakukan pasti benar lah!).

Sikap ‘tak bertanggung-jawab’ itulah, antara lain, yang terbentuk sebagai akibat dari pengabaian ulama akan pentingnya mengajarkan BA.

Pelajaran bahasa adalah modal sangat penting – walau bukan satu-satunya – untuk menghadapi sebuah teks ilmu. Bahkan bahasa pula yang membuat manusia bisa berpikir. Alam pikiran adalah kebun bahasa.  BA sebagai salah satu alat untuk memahami Al-Qurãn sebagai teks ilmiah orang Islam tentulah sangat perlu dipelajari orang Islam. Pengabaian BA dengan sendirinya menjadi semacam persiapan taktis untuk mengabaikan Al-Qurãn (Q).

Jadi, jelaslah: mengabaikan BA = Mengabaikan Q.

Comments
2 Responses to “Mengabaikan BA = Mengabaikan Q”
  1. imamgoblog says:

    Apakah dengan belajar BA berarti sudah Bisa memahami BQ?
    trima kasih

  2. Ahmad Haes says:

    Tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: