Belajar Sharaf Yuk! (1)

Tulisan di bawah ini – dan rangkaian tulisan sambungannya nanti – adalah terjemahan dari buku From the Treasures of Arabic Morphology, yang merupakan terjemahan dari kitab Min kunuzish-sharfi.

بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan

Ilmu sharaf (علم الصرف : ‘ilmu-sharfi) adalah cabang dari tatabahasa Bahasa Arab yang membahas bentuk kata serta pola-polanya. Ilmu ini sangat perlu dikuasai oleh para pelajar Bahasa Arab, agar mereka menjadi mahir dalam bahasa tersebut, karena penguasaan pola-pola kata merupakan landasan dari Bahasa Arab.

Buku ini menyajikan secara lengkap segi-segi penting ilmu sharaf. Bila pelajar menekuni buku ini secara cermat, ia akan memiliki landasan yang sangat baik dalam ilmu ini, yang akan memudahkannya untuk memahami buku-buku yang merupakan studi lanjutan dari buku ini.

Dalam buku ini digunakan istilah-istilah baku ilmu sharaf, yang sekaligus merupakan koreksi bagi penggunaan istilah-istilah yang keliru. Sebagai misal, di sini digunakan istilah ‘ainul-kalimah (عين الكلمة) sebagai koreksi bagi ‘ain kalimat (عين كلمة), harakah (حركة) sebagai koreksi  bagi harakat (حركت), dan al-mãdhi (الماضى) sebagai koreksi bagi mãdhi (ماضى). Dengan demikian, sejak awal para pelajar dibiasakan menggunakan istilah-istilah yang benar.[1]

Di sini juga dihidangkan kaidah-kaidah perubahan kata yang mempengaruhi banyak segi kata kerja dan kata benda, yang dipaparkan dengan jelas disertai gambaran contoh-contohnya tahap demi tahap bagaimana sebuah kata berubah dari bentuk aslinya ke dalam bentuk baru.

Istilah-istilah penting

Berikut ini adalah istilah-istilah penting yang sering muncul dalam buku ini:

  1. Harakah (حركة): tanda fat-hah ( َ  ), dhammah ( ُ  ), dan kasrah ( ِ  ).
  2. Mutaharik (متحرك): huruf yang diberi harakah.
  3. Fat-hah (فتحة): harakah yang menandai bunyi ‘a’.
  4. Dhammah (ضمّة): harakah yang menandai bunyi ‘u’.
  5. Kasrah (كسرة): harakah yang menandai bunyi ‘i’.
  6. Sukûn (سكون) dan jazm (جزم): harakah yang menandai penggabungkan dua huruf ke dalam satu ejaan.[2]
  7. Maftûh (مفتوح): huruf yang diberi harakah fat-hah, misalnya fa (فَ).
  8. Madhmûm (مضموم): huruf yang diberi harakah dhammah, misalnya dhu (ضُ).
  9. Maksûr (مكسور): huruf yang diberi tanda kasrah, misalnya ki (كِ).
  10. Sãkin (ساكن) dan majzûm (مجزوم): huruf yang diberi harakah sukûn dan jazm, misalnya سْ .
  11. Fã’ul-kalimah (فاء الكلمة): huruf akar pertama pada kata.[3]
  12. ‘Ainul-kalimah (عين الكلمة): huruf akar kedua pada kata.
  13. Lãmul-kalimah (لام الكلمة ): huruf akar ketiga pada kata.
  14. Shîghah (صيغة): bentuk kata yang menandai jumlah, jenis kelamin dan lain-lain.
  15. Abwãb (أبواب), bentuk jamak dari bãb (باب): kelompok kata kerja berdasar pola-pola tertentu. Hal ini terlihat dalam variasi harakah kata kerja masa lampau (الماضى) dan kata kerja masa sekarang dan yang akan datang (المضارع).

Pembagian kata secara umum

Istilah Arti Contoh

كَلِمَةٌ

kalimah

(kalimatun)

Kata

كِتَابٌ

kitãb(un)

اِسْمٌ

ism(un)

Kata benda

رَجُلٌ

rajul(un)

فِعْلٌ

fi’l(un)

Kata kerja

فَعَلَ

fa’ala

حَرْفٌ

harf(un)

Partikel – bentuk kata lain yang tidak termasuk kata benda dan kata kerja.

مِنْ

min

Pembagian kata kerja

Istilah Arti Contoh

الماضى

al-mãdhi

Kata kerja lampau: menandai pekerjaan/kejadian yang sudah berlaku. فَعَلَ Dia (lk) telah melakukan

المضارع

al-mudhãri’

Kata kerja sekarang/yang akan datang: menandai pekerjaan/kejadian yang berlaku di masa sekarang atau di masa yang akan datang. (Bisa juga menandai sesuatu yang berlaku atau berjalan terus-menerus). يَفْعَلُ Dia (lk) sedang/akan melakukan

الأمر

al-amr(u)

Kata perintah.

اِفْعَلْ Lakukanlah!

Kata kerja intransitif dan transitif

Istilah Arti Contoh
اَللاَّزِمُAl-lãzim(u) Kata kerja tak berobyek (intransitif). يَمْشِى yamsyi: Dia (lk) berjalan

اَلْمُتَعَدِّى

Al-muta’addî

Kata kerja berobyek (transitif). يَفْتَحُ الْبَابَ yaftahul-bãb(a): Dia (lk) membuka pintu.

Positif dan negatif

Istilah Arti Contoh
إثباتitsbãt Positif(berita) يَفْعَلُ yaf’alu: Dia (lk) sedang melakukan.
نفيnafî Negatif(sangkalan) لاَيَفْعَلُ lã yaf’alu: Dia (lk) tidak sedang melakukan.



[1] Di Indonesia juga biasa digunakan istilah-istilah fã’ul-fi’li, ‘ainul-fi’li, lãmul-fi’li. Hal ini jelas keliru, karena huruf-huruf dasar itu tidak hanya terdapat dalam fi’l (kata kerja) tapi juga dalam ism (kata benda). –AH.

[2] Misalnya huruf kãf digabungkan dengan huruf mîm, ditandai dengan harakah-harakah (fat-hah, dhammah, kasrah) di atas dan harakah Sukûn, maka ejaannya menjadi: kam, kum, kim (كَمْ, كُمْ, كِمْ).

[3] Para ahli sepakat menggunakan kata kerja fa’ala (فَعَلَ) yang terdiri dari huruf-huruf  fã’ – ‘ain – lãm sebagai pola dasar semua kata yang terdiri dari tiga huruf.

Mushhaf awal Al-Qur'an.

Mushhaf awal Al-Qur’an: hanya bisa dibaca oleh mereka yang menguasai ilmu sharaf dan nahwu.

Comments
10 Responses to “Belajar Sharaf Yuk! (1)”
  1. busan says:

    tulisan bismillah-nya kurang alif didepan mim pada arrahmaani.

  2. ahmad haes says:

    Anda benar. Tapi tulisan itu adalah hasil copy paste dari naskah aslinya. Konon ada aturan yg mengatakan bahwa huruf alifnya memang tidak harus dimunculkan (tunthaq wa la tuktab, dibaca tapi tidak ditulis).

  3. busan says:

    saya pengen nanya lagi, apakah mushaf aslinya arab gundul? dan kalau menghapal qur’an apa harus hapal juga hurufnya yang membentuk kata tersebut?. kalau memang demikian, maka susah juga ngapalinnya pakai qur’an cetakan mana yang paling reprensentatif dipakai sebagai acuan.
    saya juga pernah lihat di qur’an cetakan yang saya dapat dari Mekkah, fat hah diatas kata Allah tidak tegak (yang harus dibaca panjang) tapi pakai tanda fat hah miring (yang dibaca pendek), mana yang benar?

  4. Ahmad Haes says:

    1. Mushhaf asli Al-Qur’an memang ditulis dalam uruf “Arab gundul”, tidak berharakat, tak ada tanda baca. (Lihat gambar di atas).
    2. Alangkah baiknya bila para penghafal Al-Quran juga menetahui huruf2 yg membentuk setiap kata. Dg kata lain, mrk menguasai atau setidaknya mengenal ilmu sharaf, atau tepatnya mengenal ilmu bahasa Arab/Al-Qur’an (sharaf, nahwu, balaghah, dst). Ini akan menambah kemantapan hafalan; karena selain hafal bunyi ayat2 juga mengerti maknyanya masing2.
    3. Dg mengetahui ilmu bahasa tsb, kita tak akan bingung memilih mushhaf. Sedangkan bagi yang awam, cukuplah menggunakan mushhaf versi Indonesia.

  5. busan says:

    ok, thanks info-nya, saya tunggu kelanjutan tulisan anda mengenai topik ini.

  6. busan says:

    dalam video yang saya download dari kalamullah mengenai pelajaran bahasa arab oleh seorang pengajar di Canada, dari talim ul islam community center, bahwa untuk harakat dhamma disebut maftuh, untuk harakah fathah disebut manshub, dan untuk harakat kasrah disebut majrur. tapi ditulisan anda ini anda sebut maftuh berharakat fathah, sedang madmum berharakat dhamma, dan maksur berharakat kasrah.
    mohon penjelasan mana yang benar?

  7. Ahmad Haes says:

    Kata-kata marfu (bukan maftuh), manshub, dan majrur, adalah istilah-istilah dalam ilmu nahwu (teori pembentukan kalimat) – bukan istilah2 ilmu sharf – untuk menyebut kasus-kasus kebahasaan. Tanda baca (harakat) dhammah, fathah, dan kasrah memang kerap menyertai kasus-kasus tsb. Sedangkan istilah-istilah madhmum (ber-dhammah), maftuh (ber-fathah), dan maksur (ber-kasrah) digunakan untuk menyebut huruf-huruf yang diberi harakat-harakat tersebut.

  8. busan says:

    terima kasih penjelasannya.

  9. Ahmad Haes says:

    Terimakasih juga untuk kunjungan Anda!

  10. randy says:

    god….. god…. god……

    lanjutkan………
    aku gak komentar cuma baca doang ya……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: