Pendidikan Hewani Dan Manusiawi

Pendidikan Hewani

Pendidikan pada hakikatnya adalah segala tindakan yang dilakukan untuk membuat manusia (anak didik) mampu “berpikir benar dan bertindak benar” sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Karena itu, pendidikan harus bersifat praktis (berisi pengajaran tentang sesuatu yang bisa dikerjakan), dan pragmatis (merupakan jawaban atas tuntutan kebutuhan yang mendesak), dan bukan idealis (berupa teori-teori yang tidak bisa dijalankan).

Para orangtua selalu menjalankan pendidikan demikian dalam kaitan dengan kebutuhan manusia yang sangat mendesak. Setiap anak dididik secara tekun dan penuh kasih-sayang agar bisa makan, minum, berjalan, berbicara, mandi, berpakaian, bekerja, berkreasi, dst., secara mandiri. Pada masyarakat-masyarakat tradisional, proses pendidikan tersebut semua dilakukan oleh orang-tua si anak melalui pengajaran secara lisan, percontohan, dan latihan-latihan. Ciri pokok dari pendidikan seperti ini adalah pengalihan (transfer) kemampuan yang bersifat ketrampilan. Anak yang lemah tumbuh semakin kuat. Orang dewasa yang kuat berubah semakin tua dan lemah. Kematian orangtua mewariskan kewajiban bagi si anak untuk melanjutkan hidup sendiri. Karena itu transfer (pemindahan pemilikan) kemampuan merupakan tuntutan yang sangat logis. Orangtua yang tidak  melakukan pengalihan kemampuan (mendidik) adalah orangtua yang tidak bertanggung-jawab, karena berarti membiarkan anaknya hidup merana atau mati karena tidak bisa memenuhi kebutuhannya.  Hal seperti ini juga dilakukan oleh  hewan. Bahkan para hewan tidak pernah gagal dalam pendidikan. Tidak ada anak kucing yang tidak mampu mengeong, mencakar, melompat, dan menerkam mangsa. Sebaliknya, banyak manusia mati meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan  lemah dan bodoh.

Hewan juga tidak pernah menyerahkan pendidikan anaknya kepada    hewan jenis lain. Karena itu tak pernah ada kucing yang berkokok atau ayam yang mengeong. Orangtua hewan adalah orangtua yang sangat bertanggung-jawab dalam melestarikan ‘kebudayaan’. Sebaliknya, manusia sering kali menyerahkan pendidikan anaknya kepada orang lain, sehingga kematian satu generasi kadang berarti kematian sebuah kebudayaan.

Pendidikan manusiawi

Pendidikan hewani dilakukan (hewan dan manusia) hanya sekadar memindahkan kemampuan untuk bisa hidup secara sederhana (berupa siklus kegiatan makan, minum, cari makan, tidur).

Bagi manusia — yang mempunyai kesamaan dengan hewan — pendidikan hewani adalah pendidikan dasar, yang secara keseluruhan dapat berjalan secara  (seakan-akan) naluriah (otomatis), karena semua sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak, sehingga pendidik maupun anak didik tidak merasakan beban-beban psikologis (misalnya rasa malas).

Sebaliknya, pendidikan manusiawi adalah pendidikan yang memberatkan (jiwa) manusia. Karena dengan pendidikan manusiawi ini manusia tidak lagi boleh makan, minum, bekerja, berkreasi, dan bergaul secara naluriah (seenaknya) tapi harus mengikuti suatu peraturan atau hukum.

Suatu hukum kadang melarang manusia makan meski ia lapar dan makanan ada di hadapannya. Suatu hukum kadang melarang manusia melakukan ini dan itu yang semula biasa dilakukan. Dengan kata lain, pendidikan manusiawi kadang mengharuskan manusia ‘berkelahi’ dengan dirinya sendiri.

Dalam perkelahian tentu harus ada yang menang dan yang kalah. Bila kebiasaan lama (yang bertentangan dengan hukum) yang menang, maka manusia gagal ‘naik kelas’, alias tetap sekelas dengan hewan. Bila hukum yang menang, hewan bertubuh manusia itu benar-benar menjadi manusia.

Dalam kehidupan naluriah manusia selalu berbenturan dengan sesamanya, selalu cenderung untuk menjadi serigala yang memangsa sesamanya (homo homini lupus). Dengan menjalankan hukum, benturan-benturan dikurangi sampai batas minimal.

Dan, boleh percaya boleh tidak, hukum (seharusnya) menjadi berperan maksimal ketika disepakati menjadi hukum (positif) negara.

Sayangnya, kita masih (terpaksa harus) mengeluh ketika ternyata (para pengelola) negara pun sering tidak bisa menjamin hukum bisa berlaku sebagaimana mestinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: