Kajian Wahyu Pertama (7): Al-‘Alaq Dan Al-Fatihah

Pada umumnya ulama berpendapat bahwa (lima ayat)  surat Al-‘Alaq adalah wahyu pertama. Sedangkan wahyu keduanya ada yang mengatakan surat Al-Muddatstsir, ada pula yang  mengata­kan surat Al-Muzzammil. Sedangkan Isa Bugis mengaku  sependa­pat dengan orang yang mengatakan bahwa wahyu kedua adalah su­rat  Al-Fatihah. Ini tidak terpisahkan dari  pandangannya di atas,  yaitu bahwa perintah iqra bismi rabbika tidak dijawab oleh Muhammad, karena ia merasa tidak layak. Yang harus men­jawabnya adalah Allah sendiri. Jelasnya, jawaban untuk perin­tah  tersebut harus diajarkan dahulu oleh Allah. Karena  itu­lah, menurut logika  Isa Bugis, surat yang turun setelah iqra bismi  rabbika…  adalah yang berisi jawaban baginya,  yaitu surat Al-Fatihah. Demikianlah pendapat Isa Bugis!

Seperti telah disebutkan di atas, Isa Bugis  mengajukan dua alasan, yaitu: pertama, pada saat menerima wahyu  pertama itu  Muhammad sudah sadar bahwa dirinya adalah  Rasul  Allah, sehingga ia tidak bisa lancang memberikan jawaban yang  bera­sal  dirinya sendiri, karena itu berarti ia bersikap  subyek­tif. Padahal di satu sisi jawabannya itu ‘harus’ dimuat dalam Al-Qurãn!

Kedua, teori pertama dihubungkan dengan teori  per­cakapan.  Dalam percakapan, pembicara disebut orang  pertama, dan  pendengar disebut orang kedua. Namun ketika orang  kedua menjawab, maka otomatis ia berubah menjadi orang pertama, dan lawan bicaranya menjadi orang kedua.

Dalam kaitan dengan wah­yu  pertama itu, jelas yang menjadi pembicara  adalah  Allah, walaupun diwakili oleh Jibril. Sedangkan Muhammad adalah pen­dengar  alias orang kedua. Ketika mendengar kalimat  perintah berbunyi iqra bismi rabbika…, sebagai manusia biasa ia bisa memberikan  jawaban yang ‘nyambung’ dengan kalimat  tersebut. Namun  karena ia sadar bahwa ia sudah menjadi rasul, maka  ia memilih tidak menjawab. Dengan kata lain jawabannya yang ber­bunyi  ma  ana bi-qãri, bagi Isa Bugis berarti:  “Saya  tidak bisa menjawab, karena memang tidak boleh menjawab. Jawabannya harus diajarkan Allah dulu kepada saya.”

Selanjutnya, Isa Bugis yakin bahwa jawaban yang diajar­kan  kepada Muhammad itu adalah surat  Al-Fatihah,  khususnya kalimat bismillahirrah-manirrahim.

Bila  pada kalimat iqra bismi rabbika tersirat  dhamir (kata  ganti nama) anta (kamu), pada  bismillahirrahmanirrahim kata  ganti yang tersirat adalah ana (saya). Dengan  demikian, menurut  Isa Bugis, jelaslah  bahwa  bismillahirrahmanirrahim adalah  jawaban bagi iqra bismi rabbika. Dalam Kaitan  dengan metode tafsir Quran dengan Quran, jalan pikiran Isa Bugis ini memang  bisa  dipahami. Namun ia sama kelirunya  dengan  para penafsir lain bila mengatakan bahwa dalam kalimat  bismilla­hirrahmanirrahim dalam surat Al-Fatihah terdapat ana sebagai dhamir yang tersirat, yang sekaligus menjadi mubtada (pokok kalimat) bagi bismillahirrahmanirrahim. Sebab bila kita amati surat  Al-Fatihah  secara keseluruhan, di situ  kita  temukan kata-kata na’budu, nasta’in, ihdina, yang semuanya mengandung dhamir  nahnu (kami). Kecuali  bila  bismillahirrahmanirrahim dipisahkan  dari surat Al-Fatihah!, bisa saja  nahnu diganti dengan ana.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa antara kalimat bis­mi rabbika dan bismillahirrahmanirrahim memang ada  persama-an makna. Bahkan benar pula bila dikatakan bahwa yang kedua  me­rupakan ‘jawaban’ bagi yang pertama. Siapa yang dimaksud  de­ngan  rabbika, tuhanmu, dijelaskan oleh  Allahu  ar-rahmanur­rahimu (Allah Yang Rahman dan Rahim) dalam  bismillahir-rahma­nirrahim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: