Kajian Wahyu Pertama (6): Baca, Bacakan, Himpun!

Deklamator membacakan syair. (Gb. dr gawker.com).

Setahu penulis, sampai saat ini baru Abdullah Yusuf Ali yang menerjemahkan kata iqra menjadi proclaim (nyatakan/umum­kan). Meski tafsir Abdullah Yusuf Ali cukup populer di  Indo­nesia,  para  penafsir Indonesia tidak ada  yang  terpengaruh olehnya dalam penerjemahan kata iqra ini.

Terus-terang, tulisan ini lahir karena penulis tergugah oleh  terjemahan Abdullah Yusuf Ali tersebut.  Bila  meminjam istilah Isa Bugis, terjemahan ini justru lebih pragmatis.

Tapi penulis  memandang  terjemahan  itu  masih  belum tepat, karena tugas Muhammad sebagai rasul bukan hanya  untuk menyatakan  atau  mengumumkan wahyu Allah,  tapi  juga  untuk mendidik manusia berdasar wahyu itu. Sebelum ia bisa mendidik orang lain, yang pertama kali harus dididiknya adalah dirinya sendiri.  Dalam pengertian pendidikan yang  sederhana,  yaitu pengajaran, Muhammad harus lebih dulu menjadi pelajar  (muta­’allim), sebelum menjadi pengajar (mu’allim).

Penulis lebih cenderung mengartikan kata iqra tersebut menjadi  recite, seperti yang disebutkan Hans Wehr dalam  ka­musnya. Sayangnya, dalam bahasa Indonesia kita tidak  menemu­kan  padanannya. Kata recite (baca: risait),  selain  berarti “mengungkapkan sesuatu yang ada dalam ingatan”, juga  berarti “menceritakan sesuatu secara terperinci”. Bila diusut dari a­sal katanya, cite, artinya mengutip atau memetik.

Yang  mena­rik,  dalam istilah hukum cite ini berarti  “panggilan  untuk datang ke pengadilan”,  yang bila diterjemahkan ke bahasa Arab artinya menjadi da’wah, dan selanjutnya dalam bahasa  Indone­sia berubah menjadi dakwa dan dakwah. Tambahan kata re arti­nya adalah kembali atau lagi. Jadi recite bisa berarti: kutip kembali/lagi atau da’wahkan kembali/lagi.

Jadi,  penulis kira cukup beralasan bila kata iqra diterjemahkan  menjadi  recite, dalam arti kutip  kembali  atau da’wahkan  kembali, dengan penekanan bahwa yang dikutip  atau dida’wahkan  kembali  itu sebelumnya harus  sudah  ada  dalam ingatan (sudah dihafal). Tapi harap diingat bahwa ini juga masih merupakan terjemahan yang belum utuh.

Dalam Al-Qurãn sendiri banyak ditemukan kata qara-a dengan berbagai variasinya, yang artinya bukan ‘membaca’ tapi  ‘mem­bacakan’. Surat Al-Isra ayat 106-107, misalnya, jelas  sekali merupakan tafsir dari kata iqra:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً – قُلْ آمِنُوا بِهِ أَو لاَ تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا.

Yakni (yang Kami turunkan ini adalah) sebuah himpunan (wahyu) yang Kami pilah-pilah agar kamu (Muhammad) dapat membacakannya kepada manusia secara bertahap, yakni Kami turunkan (ajarkan) dia (Al-Qurãn) sedikit demi sedikit.

Tegaskan (kepada manusia, sasaran da’wah), “Silakan kalian beriman atau tidak beriman dengannya (Al-Qurãn). Sungguh, orang-orang yang sebelumnya telah mendapat  ilmu, begitu dibacakan (Al-Qurãn) kepada mereka, mereka segera menjatuhkan (menundukkan) dagu sebagai tanda kepatuhan.

Pada  ayat-ayat di atas kita dapati kata  taqra-a yang disejajarkan  dengan yutla, menegaskan bahwa kedua  kata  ini mempunyai makna yang sama. Lebih jelas lagi, bila  kita buka Al-Qurãn,  akan kita dapati bahwa persamaan kata iqra itu adalah utlu. Bahkan surat Al-Kahfi ayat 27 mempunyai  redaksi yang ‘sangat mirip’ dengan surat Al-‘Alaq ayat pertama itu:

وَاتْلُ مَا أُحِيَ إِلَيكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ …

Maka bacakanlah (olehmu, Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yakni Kitab Tuhanmu (Al-Qurãn) …

Di sini kita lihat bahwa utlu adalah sinomim dari  kata iqra, dan kitabu rabbika adalah ‘sinonim’ dari ismu rabbika. Di lain  pihak, kamus juga membeberkan bahwa arti kata tala– yatlu–tilawatan (fi’il amr-nya utlu), artinya adalah to reci­te (mengkutip kembali, menda’wahkan kembali). Sedangkan  tala–yatlu–tuluwan artinya adalah tabi’a (mengikuti). Ini me­ngisyaratkan bahwa kata  iqra dalam wahyu pertama itu  mempu­nyai pengertian bahwa Muhammad (selanjutnya tentu pengikutnya juga)  harus  “mengikuti (melafalkan) apa yang disampaikan Jibril, selanjutnya menghafalkannya, dan kemudian  menda’wah­kannya kepada orang lain”. Inilah makna yang paling logis (dan pragmatis!) da­ri kata iqra dalam wahyu pertama tersebut, meski juga masih belum lengkap.

Ayat berikutnya (28) dari surat Al-Kahfi, justru  sema­kin mempertegas bahwa makna iqra adalah da’wahkan kembali:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ …

Mantapkanlah — posisi —  dirimu dalam  barisan  orang-orang yang  senantiasa (tak  kenal lelah) menda’wahkan — ajaran —  Tuhan  mere­ka …

Ayat ini mengisyaratkan bahwa makna kata iqra/utlu sama dengan ud’u, dan sekaligus menggambarkan bahwa da’wah  adalah suatu siklus (rangkaian), atau suatu estafet (harfiah artinya lari  berantai). Para fã‘il (pelaku) dari estafet itu  adalah para rasul (dan pengikut mereka). Kata yad’ûna (يَدْعُون ) dalam ayat ini, secara harfiah berarti “mereka senantiasa menda’wahkan”. Bila kita perhatikan konteks ayat ini selengkapnya, jelaslah bahwa yang mereka da’wahkan itu semata-mata hanyalah ajaran Allah (Al-Qurãn).

Dengan demikian jelaslah bahwa menerjemahkan iqra dalam wahyu pertama itu menjadi bacalah adalah terlalu dangkal. Pe­ngertian yang benar adalah: baca, kuasai, lalu da’wahkan (Al-Qurãn itu), agar kelak terbentuk satu umat. Ini bahkan sangat cocok dengan makna asal kata qara’a seperti yang disebutkan Quraish Shihab, yaitu aktivitas menghimpun. Tegasnya, seperti tercantum dalam kamus Al-Munjid,  kata qara-ayaqra-u/yaqru-uqur’ãnan bila dikaitkan dengan sesuatu (الشّئ) secara umum (mencakup apa saja) berarti جمعه و ضمّ بعضه إلى بعض (mengumpulkannya, yaitu mempertemukan/mengaitkan/menghubungkan/mempersatukan satu unsur dengan unsur yang lain). Tindakan ini dilakukan bukan tanpa tujuan, tapi justru sebagai sarana untuk menghasilkan sesuatu (produk) yang lain (khalqan ãkhar). Dalam keseharian orang Arab, misalnya,  qara-atin-nãqatu (قَرَأَتِ النَّاقَةُ) berarti: unta (betina) itu hamil. Lewat kajian embriologi kita tahu bahwa kehamilan hanya terjadi bila ada ‘pertemuan’ antara ‘unsur pria’ dan ‘unsur wanita’ (sperma dan ovum). Lewat Al-Qurãn[1] dan Hadis[2] kita tahu bahwa pembentukan bayi dalam kandungan berproses mulai dari nuthfah, ‘alaqah, mudhghah, izhãm, dan kemudian lahm.[3] Dengan demikian, penghamilan atau kehamilan itu identik (sama dengan) qur’ãnan!

Sampai di sini kita merenung sejenak mengapa kitab yang diajarkan kepada Muhammad itu dinamai Al-Qurãn. Ia “bukan hanya bacaan”, tapi sesuatu yang mempunyai daya (power) untuk menghimpun, mempersatukan, dan mewujudkan sesuatu yang baru.

Itulah kenyataannya. Qur’ãnan mencakup makna tindakan membaca huruf, menghimpun/menghubungkan/mempersatukan sesuatu, dan penghamilan atau kehamilan biologis. Persamaan (analogi) antara membaca sebagai kerja intelektual (otak) dan kehamilan (wanita) sebagai proses biologis adalah sesuatu yang sangat menarik. Artinya, qur’ãnan yang kita lakukan sebagai proses intelektual selayaknya bercermin pada qur’ãnan sebagai proses biologis itu, yang demikian tertata dan terencana, sehingga bisa melahirkan ‘produk’ yang sesuai harapan. Tegasnya, bila proses kehamilan  (qur’ãnan) fisik berpuncak pada kelahiran bayi, maka proses kehamilan otak harus berujung pada kelahiran jama’ah (umat). Barangkali itulah sebabnya dalam Al-Qurãn shalat pun disebut qur’ãnan,[4] karena melalui shalat yang dipahami dengan benar memang terbentuk satu jama’ah yang terdiri dari pribadi-pribadi Qurãni.

Barangkali karena itu pula ada Hadis Nabi yang mengatakan: man lam yataghannal-qur’ãna fa-laisa minni (مَنْ لَمْ يَتَغَنَّى الْقُرْآنَ فَلَيسَ مِنِّى), yang biasa diterjemahkan menjadi: Barangsiapa yang tidak melagukan Al-Qurãn, maka dia bukan umatku.

Penulis tidak hendak mengatakan bahwa terjemahan itu salah. Tapi, kata yataghanna selain berarti melagukan, juga berarti mengayakan (membuat jadi kaya), bahkan bisa juga berarti mengawini. Jadi, sama sekali tidak salah bila Hadis ini diterjemahkan menjadi: siapa pun yang tidak mengawini (mempersatukan diri dengan) Al-Qurãn, dia bukan umatku. Sebaliknya, bila yataghanna diartikan sebagai melagukan, malah jadi tidak logis; karena tidak semua orang bisa dan mau menyanyi.

Jadi, jelas sekali, bahwa kata iqra yang diucapkan Jibril kepada Muhammad tidak berkaitan langsung dengan perintah membaca huruf; karena apa yang harus dibaca itu ternyata didiktekan sendiri oleh Jibril. Selain itu kata iqra ini adalah potongan dari satu ayat, sehingga tidak bisa dipahami secara terpisah begitu saja. Karena itu, jawaban Muhammad (yang pada waktu itu belum jadi  ra­sul!) yang berbunyi ma ana bi-qãri’, adalah jawaban yang ber­sifat spontan atau malah menandakan kepanikan karena mendapat pengalaman baru yang sangat mengagetkan. Tindakan Jibril yang memeluk dan melepasnya sampai tiga kali, adalah isyarat bahwa Jibril berusaha menenangkan Muhammad. Dengan itu Jibril meyakinkan bahwa ia sama sekali tidak berbahaya.

Di satu sisi, jawabannya itu  justru mengungkapkan bahwa dirinya  pada waktu  itu (sebagian) menggambarkan  kenyataan  masyarakatnya yang  gandrung  pada syair/penyair. Jibril  yang menyodorkan spanduk (?) berisi tulisan dianggapnya sebagai menyuruh  membaca syair. Karena  itu ia menjawab, “Saya bukan  penyair”,  atau “Saya  bukan pembaca syair (deklamator)”. Tapi  Jibril  terus mendesaknya untuk (mula-mula) membacanya, karena yang dibawa­nya  itu bukan syair tapi wahyu. Ini ditegaskan Allah  antara lain dalam surat Yassin ayat 69-70:

وَ مَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِى لَهُ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِّكْرٌ وَ قُرْآنٌ مُبِينٌ – لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَ يَحِقَّ الْقَولُ عَلَى الْكَافِرينَ.

Kami tidak mengajarkan sya­ir kepadanya; sesuatu yang tidak layak baginya. Sebaliknya, ia (yang  Kami ajarkan itu) tidak lain dari  sebuah   ‘pengingat’ berupa suatu ‘bacaan’ — literatur — yang bersifat menjelaskan — tentang mana yang benar dan mana yang salah[5];  untuk menjadi pengingat  (penyadar)  bagi manusia hidup  — jiwanya,  seraya menjadi dalil/argumen jitu bagi orang-orang kafir.


[1] Surat Al-Mu’minun ayat 13-14.

[2] Riwayat Bukhari dan Muslim.

[3] Sperma, segumpal darah, segumpal ‘daging’, tulang, ‘daging’ pembungkus tulang.

[4] Surat Al-Isra ayat 78.

[5] Periksa surat Al-Baqarah ayat 256, yang memuat kata tabayyana, yang mempu­nyai hubungan morfologis dengan kata mubin.

Comments
4 Responses to “Kajian Wahyu Pertama (6): Baca, Bacakan, Himpun!”
  1. Nur says:

    Klo mo Share ke fb boleh ga n gmn caranya…?

  2. Ahmad Haes says:

    Copy alamat blog ini; keluar; buka facebook; klik profil; klik link; paste alamat blog ini pada kotak bertulisan http://; klik attach; klik share.

  3. Pakde darier says:

    Makalah ini terlalu panjang. Mohon ijin ‘mengutip’ sedikit.. Utk kami bagikan ke Facebook.
    terimakasih.

  4. Ahmad Haes says:

    Silakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: