Kajian Wahyu Pertama (4): Muhammad Bingung (?)

Dibandingkan dengan berbagai tinjauan para penafsir se­umumnya, tinjauan Isa Bugis itu bisa dikatakan sebagai tinja­uan yang paling kritis. Siapa pun yang bersikap jujur  ilmiah niscaya tidak akan tergesa-gesa menentang pragmatismenya itu.

Melalui uraiannya, dapat kita simpulkan  bahwa  aspek-aspek pragmatis yang diajukannya adalah:

1.  Kondisi  Muhammad  di tengah  masyarakat  Arab  pada masanya, yang dikatakannya sebagai orang yang tinggal di istana. Tentu saja istana ini jangan dibandingkan dengan istana ratu Inggris atau istana raja-raja pada  umumnya, tapi ban-dingkanlah kondisi sosial-ekonomi para bangsawan Arab dengan para rakyat jelata pada masa itu. Tapi  yang perlu  diingat di sini, penyebutan istilah istana oleh Isa Bugis  adalah dalam kaitan dengan  kebudayaan  atau peradaban, yang memang tidak bisa dipisahkan dengan sta­tus  kebangsawanan.  Dengan  menyebut  Muhammad  sebagai orang  istana, Isa Bugis agaknya ingin menekankan  bahwa ia  adalah  seorang  manusia yang  sejajar  dengan  kaum ‘terpelajar’  bangsanya  pada  masa  itu.  Fuad Hashem (hal.63-64)  juga  mengatakan bahwa Muhammad diutus di kalangan yang pintar, yang bisa dijadikan  contoh  untuk masyarakat  yang  pintar sekarang ini dan  akan  datang. Dengan asumsi seperti itulah ia menekankan bahwa  Muham­mad (logisnya) adalah orang yang memahami ilmu  percaka­pan, atau tepatnya barangkali tata-krama (etiket) perca­kapan.

2. Proporsi kata iqra dan jawaban Muhammad dalam kondisi tersebut. Isa Bugis, dengan memandang Muhammad  sebagai orang istana yang memahami sopan-santun, agaknya berang­gapan bahwa pada saat menerima wahyu pertama itu  Muham­mad  sudah menyadari bahwa dirinya akan  menjadi  rasul, akan  menjadi uswatun hasanah, sehingga dengan  demikian ia sadar betul bahwa ia harus membuang jauh-jauh  segala subyektifisme.

3. Berdasarkan kenyataan (tepatnya asumsi) di atas,  Isa Bugis memandang bahwa situasi penurunan wahyu perta­ma itu adalah situasi pertemuan malaikat Jibril  sebagai pembawa wahyu Allah di satu pihak, dan Muhammad  sebagai calon  rasul  di pihak lainnya, yang sudah  sadar  betul bahwa ia akan menjadi rasulullah.

Dari  tiga butir kesimpulan itu dapat kita lihat  letak kekuatan dan kelemahan pandangan Isa Bugis. Kekuatannya  ter­utama terletak pada visinya, pada kejeliannya melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Kelemahannya juga terkait  de­ngan visinya ini, yang dengan kejeliannya itu  penglihatannya lantas menjadi terlalu melebar dari fokus (inti masalah).

Inti  masalahnya di sini adalah proporsi kata iqra dan jawaban Muhammad, dalam kondisi dan situasi Muhammad pada  sa­at itu. Benarkah Muhammad memberikan jawaban atas perintah i­tu dalam kondisi “sadar” bahwa ia akan menjadi rasul?

Cerita-cerita yang telah dikutip terdahulu  menggambarkan bahwa kondisi Muhammad pada saat ditemui Jibril dan bebe­rapa  lama  sesudahnya adalah bingung, cemas,  bahkan  takut.  Kondisi ini digambarkan dengan jelas, misalnya oleh Haekal:

Tetapi  kemudian  ia terbangun  ketakutan,  sambil bertanya-tanya kepada dirinya: Gerangan apakah yang  di­lihatnya?  Ataukah kesurupan yang ditakutinya  itu  kini telah menimpanya? Ia menoleh ke kanan dan ke kiri,  tapi tak melihat apa-apa. Ia diam sebentar, gemetar  ketakut­an.  Kuatir ia akan apa yang terjadi dalam gua  itu.  Ia lari dari tempat itu. Semuanya serba membingungkan.  Tak dapat ia menafsirkan apa yang telah dilihatnya itu.[1]

Hadis  dari ‘Aisyah, yang menyebutkan  Muhammad  dibawa Khadijah  menemui Waraqah, juga jelas menggambarkan bahwa  ia belum  menyadari dirinya telah dipilih Allah sebagai  rasul. Bahkan  karena bingungnya Muhammad pun sempat berpikir  untuk bunuh diri dengan cara terjun dari Hira’ atau dari atas  pun­cak gunung Abu Qubais (Haekal, hal. 97). Tindakan bunuh  diri itu dibatalkan oleh Jibril yang muncul di angkasa dalam wujud seorang pria (Fuad Hashem, hal. 126).

Sampai saat ini agaknya kita tak punya sumber lain  ke­cuali  sumber-sumber di atas, yang bisa mendukung  teori  Isa Bugis. Isa Bugis sendiri pun hanya menyebutkan asumsi  berda­sar  logika dari orang yang telah memahami peran rasul sebagai uswatun  hasanah,  bukan berdasar data sejarah.  Dengan  kata lain,  Isa Bugis hanya mengajukan ‘teori  pragmatisme’  dalam meninjau situasi dan kondisi Muhammad pada masa itu, tapi  ia sendiri dalam hal ini tidak bersikap pragmatis.

Juga perlu digaris-bawahi ‘teori’ Isa Bugis tentang ke­sadaran Muhammad akan etiket percakapan. Menurutnya, Muhammad sebagai  ‘orang istana’ mengerti bahwa perintah  iqra  (anta) bismi rabbika harus dijawab dengan (ana) bismi rabbi; tapi ia tahu bahwa jawabannya itu bersifat subyektif, sementara seba­gai seorang rasul (!) ia tidak boleh subyektif. Bila ia  men­jawab demikian, kata Isa Bugis, berarti jawaban itu harus ma­suk ke dalam mushhaf Al-Qurãn. Padahal itu jawaban subyektif! Me­nurut penulis, asumsi ini terlalu berlebihan. Karena kenyata­annya  dalam Al-Qurãn banyak kita temukan kata-kata  ‘subyektif’ dari para rasul. Termasuk Muhammad sendiri mengatakan: Rabbi, inna qaumi-ttakhadzu hadzal-qur-ana mahjuran. Bahkan Al-Qurãn ju­ga banyak mengutif kalimat-kalimat subyektif dari orang-orang kafir, termasuk Fir’aun yang mengatakan: ana rabbukumul-a’la. (An-Naziat ayat 24). Jelasnya, dalam hal kutip-mengutip,  ka­limat obyektif maupun subyektif bisa sama pentingnya.  Karena masalahnya adalah konteksnya dalam suatu uraian, bukan (cuma)   nilai  positif dan negatifnya. Apalagi bila kita  ingat  bahwa kalimat subyektif belum tentu bernilai negatif (bathil).


[1] . Sejarah Hidup Muhammad, hal. 90.

Comments
10 Responses to “Kajian Wahyu Pertama (4): Muhammad Bingung (?)”
  1. day says:

    Assalamu’alaikum
    Bang Ahmad Haes, lalu bagaimana anda menafsirkan kata Ma ana bi-qãri’ sehubungan dengan kondisi Muhammad seperti yang anda kutip dari Haekal & Fuad Hashem tersebut, Terima Kasih

  2. Ahmad Haes says:

    Silakan baca lanjutan tulisan ini!

  3. anonim says:

    Bung Haes, yang mengatakan “dan Muhammad sebagai calon rasul di pihak lainnya, yang sudah sadar betul bahwa ia akan menjadi rasulullah.” itu anda! bukan Isa bugis ?. emangnya muhammad tau apakah dia akan diangkat jadi rasul sebelum wahyu di gua hira tsb ?…….
    kemudian tulisan anda “Bahkan karena bingungnya Muhammad pun sempat berpikir untuk bunuh diri dengan cara terjun dari Hira” ……………kejadian ini sebelum muhammad mendapat wahyu yang pertama, benar gak ?

  4. Ahmad Haes says:

    1. Kl anda murid Isa Bugis, bacalah diktat2nya dengan teliti. 2. Tafsir saya tidak dijamin benar. Kalau anda menyalahkan,mana tafsir anda? 3. Bacalah buku-buku sejarah.

  5. anonim says:

    Gak Ada tuh….sotoy lo…..
    seharusnya anda yg menunjukkan…karena anda yg mengatakannya pertama…jangan lempar batu sembunyi tangan……

  6. Ahmad Haes says:

    Dalam tulisan ini saya menyebutkan kutipan2 dari ceramah IB. Kalau anda bilang gak ada, cobalah belajar lagi membaca dengan cermat dan pakai ilmu, jangan pakai nafsu doang. Tunjukan bahwa anda seorang lulusan atau murid dari guru yang mengajarkan konsep objektif ilmiah!

  7. Urikss says:

    Lanjutkan terus tulisan2nya Pak Haes …..Terima kasih

  8. Sidratil_muntaha says:

    Bang Mau bertanya nnih,
    Dalam masalah pragmatisme wahyu pertama ini, apakah kondisi waktu itu sudah mengenal istilah ‘bismika’ dan atau ‘bismika Allahumma’? utk berbagai hajat seperti istilah bismillahi sekarang ini dengan pengertian yg bukan dihantarkan pak Isa?

  9. Sidratil_muntaha says:

    Bukankah sudah dijelaskan?
    Sunnah Muhammad perulangan Sunnah Musa? dalam surat Thaha, sebelum Musa diangkat sebagai Rasul dgn kondisi, idz ra’aa naaran faqaala liahlihi umkutsuu inniii anastu naaran la’alliyya aatiikum minha biqabasin au ijidu alaa naari hudan, maka pada saat diangkat menjadi Rasul. fakhla’ na’laika . . . . fastami’ limaa yuuhaa,
    Bila perulangan, jelas kondisi Muhammad sebelum kedatangan jibril utk menerima wahyu pertama memang Muhammad sudah menyiapkan diri? mohon advis, penjelasan diluar wahyu/Al-Quran apakah perlu lagi dipertimbangkan?

    Jibril adalah mahluk 600 dimensi yg dikatakan sebagai qalam, qalam model apa bila kemampuannya 600 dimensi? yg mampu membentuk segala perwujudan? model teknologi pembelajaran apa yg tercanggih sekarang ini?

  10. Ahmad Haes says:

    Ya, itu sudah menjadi ucapan bangsa Arab sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: