Musim Hujan

Ajib Setyabudi, penulis posting ini.

Hari-hari ini telah memasuki musim hujan. Sekurang-kurangnya ada dua sikap menghadapi keadaan cuaca seperti ini. Bagi petani yang mengharapkan air- seperti petani tanaman padi, pasti menyambut dengan suka cita. Sedangkan, petani tembakau yang mau memanen hasilnya maupun profesi lainnya yang tak mengharapkan hujan, tentu menyambut dengan gundah gulana. Yang satu, hujan disambut seolah kabar gembira, sedang lainnya sebagai kabar kesedihan karena panen akan gagal.

Hujan, menyusahkan? (Gb. bandungvariety.wordpress.com).

Begitu juga al Qur’an. Ibarat air hujan yang turun dari semesta angkasa (anzalna min as sama’), maka kitab orang Mukmin itu selalu disikapi berbeda: pro dan kontra. Bagi yang setuju, kehadiran al Qur’an adalah nasehat yang luar biasa yang diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta. Tentu saja ini sangat diperlukan. Apalagi kalau untuk menghidupkan bumi setelah matinya ( yuhyi al ardha ba’da mautiha ). Al Qur’an, sebagaimana air hujan, mampu menumbuhsuburkan hati yang gersang sehingga menjadi lunak dan menciptakan hidup persaudaraan (allafa baina qulubikum faasbahtum bini’matihi ikhwana).

Di musim hujan ini pulalah, sering ditandai munculnya guruh dan kilat. Guruh dan kilat yang dalam al Qur’an disebut ra’dun dan barqun adalah penanda bahwa hari akan segera hujan. Guruh sangat keras suaranya, sehingga hampir-hampir semua telinga akan mendengar. Begitu juga kilat. Cahayanya begitu menyilaukan mata. Hanya orang-orang yang menulikan telinga dan memejamkan mata sajalah yang tak mampu mendengar dan melihat fenomena luar biasa itu.

Al Qur’an, kritikan-kritikannya sangat menggelegar. Begitu juga ketajaman analisanya sangat memukau. Tetapi, bila manusianya menulikan telinga dan membutakan matanya sendiri, maka gelegar dan kilauan cahayanya tak bermanfaat. Mereka yang seperti itu, oleh al Qur’an dengan pedas disebut sebagai:  “mereka itu bisu, tuli, buta dan tak akan kembali kepada kebenaran (sumun, bukmun, ‘umyun, fahum layarji’un)”.

Walaupun al Qur’an berbicara masalah hujan, kitab ‘pedoman jalan lurus’ ini bukanlah buku Klimatologi. Fenomena hujan, guruh dan kilat adalah ‘cara Allah’ mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya menanggapi kehadiran al Qur’an dalam kehidupan kita. Bumi manusia yang keras membatu (kal hijarah) tak akan memperoleh manfaat.

Hujan yang terus turun pada hati manusia yang keras (mbeguguk mutho waton), tak akan meresap masuk kedalam relung jiwa. Dan ini tentu saja tak akan menimbulkan berbagai batang aliran sungai dibawahnya (min tahtihal anhar). Hujan justru tak akan membawa berkah melainkan banjir.

Begitu juga al Qur’an. Bila sikap kita salah dalam menanggapi al Qur’an, apalagi cenderung mengabaikan, maka petaka akan selalu datang seperti yang terjadi pada jaman para nabi dahulu. Al Qur’an ibarat guruh dan kilat, dia adalah kabar gembira (basyiran) sekaligus pemberi peringatan (nadziran).

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: