Mu’allaf

Yusman Roy, penggagas shalat dua bahasa.

Masyarakat awam, secara salah, beranggapan bahwa mu’allaf adalah sebutan bagi penganut agama lain yang masuk Islam. Tapi ternyata koran Republika edisi Ahad, 8 Januari 2009, juga melakukan kekeliruan yang sama. Pada halaman akhir dari Islam Digest-nya koran tersebut memuat tulisan tentang Lam Fuk Tjong (Arlen Bj Alam Kurniawan), yang masuk Islam sejak tahun 1986 di rubrik mualaf. (Perhatikan pula kata mualaf ini, yang – walau misalnya dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia! –  mengajak pembaca awam membaca – dan kelak menulis – sebuah istilah Islam secara salah!).

Sebelumnya, sebuah majalah Islam yang cukup terkenal tidak luput dari kesalahan awam ini. Majalah itu, ketika mengangkat kasus Yusman Roy (tahun 2005) yang melakukan shalat dengan dua bahasa (Arab dan Indonesia), mencelanya dengan, antara lain, menyebut ‘status’ mu’allafnya. Intinya, majalah tersebut ingin menekankan bahwa Yusman Roy yang mu’allaf itu sungguh amat sangat tidak layak melakukan ijtihad, bila yang dilakukannya tersebut hendak disebut ijtihad. Seorang mu’allaf adalah “orang yang tidak atau belum tahu apa-apa tentang Islam”.
Padahal, Yusman Roy sudah menjadi muslim sejak tahun 1970-an! Jadi, setelah selama 20-an tahun menjadi muslim, ia masih dianggap mu’allaf! Atau, tegasnya, ia masih dianggap bodoh tentang ajaran Islam!

Padahal, kalau bicara kebodohan atau ketidak tahuan tentang ajaran Islam, kaitannya bukan hanya dengan mereka yang baru masuk Islam tapi juga dengan kebanyakan orang Islam yang menjadi muslim semata-mata karena keturunan.
Tulisan ini tidak bermaksud membela Yusman Roy. Di sini penulis cuma ingin mengajak pembaca untuk memahami istilah mu’allaf secara lebih seksama (akurat).

Bangsa Arab, mu’allaf pertama
Bila kita gunakan tinjauan ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab), kata mu’allaf adalah bentuk isim maf’ul (partisipel pasif), yang pengertian harfiahnya adalah “sesuatu (hewan) yang dijinakkan”. Bentuk partisipel aktifnya (isim fã’il-nya) adalah mu’allif (penjinak).
Pengertian harfiah tersebut mengisyaratkan bahwa kata mu’allaf pada mulanya digunakan untuk menyebut hewan yang sudah dijinakkan. Bila kemudian digunakan juga kepada manusia, maka penggunaannya tentulah bersifat kiasan dan sekaligus filosofis; dengan mengacu pada kenyataan bahwa dalam diri manusia pada dasarnya terdapat sifat-sifat hewani (seperti hewan).
Bentuk kata kerja lampaunya (fi’il mãdhi’-nya) – allafa –  dalam Al-Qurãn kita temukan, misalnya, pada suat Ali ‘Imrãn ayat 103:

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين الله لكم ءاياته لعلكم تهتدون

Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (ajaran Allah, Al-Qurãn) sehingga kalian menjadi satu jama’ah; jangan (lagi) berpecah-belah. Yakni hidup sadarlah kalian dengan nikmat  Allah (yaitu ajaranNya) yang dianugerahkan kepada kalian ketika dahulu (di masa jahiliyah) kalian saling bermusuhan, lalu Dia (Allah) menjinakkan hati kalian, sehingga dengan anuerahNya itu kalian menjadi saling bersaudara. Dengan kata lain, pada waktu itu kalian sudah ada di tepi jurang neraka, lalu Dia (Allah) menyela-matkan kalian dari keadaan itu. Demikianlah Allah menegaskan kebenaran ayat-ayatNya. Mudah-mudahan kalian menjadikannya petunjuk (pedoman hidup).

Berdasar ayat ini kita bisa mengatakan bahwa bangsa Arab (yang mau hidup dengan ajaran Allah, Al-Qurãn) adalah bangsa pertama yang menjadi mu’allaf, yaitu bangsa yang hatinya dijinakkan (ditaklukkan) Al-Qurãn; sehingga mereka yang semula saling bermusuhan akhirnya mau bersatu dan menjalin persaudaraan. Berdasar ayat ini pula kita bisa mengatakan bahwa siapa pun yang mau dijinakkan, ditaklukkan, dipersatukan oleh Al-Qurãn pada hakikatnya adalah para mu’allaf.
Lain soal bila istilah mu’allaf digunakan dalam kaitan teknis administratif. Pengertian mu’alaf dalam hal ini berarti “orang yang terdaftar/didaftar sebagai muslim”. Tapi, sampai kapan ia bisa disebut mu’allaf?

Comments
5 Responses to “Mu’allaf”
  1. wannoni says:

    sy punya anak angkat muallaf perempuan cina umur 10 tahun, di titipkan ortunya karena kemauan sendiri utk masuk islam. mohon saran atas pendidikannya…

  2. Ahmad Haes says:

    Anda tinggal di mana? (Saran nanti dikirim ke email Anda).

  3. mardent says:

    I love your website, and I especially love this articles.

  4. Aw, this was a really nice post. In idea I want to put in writing like this moreover – taking time and precise effort to make a very good article… however what can I say… I procrastinate alot and certainly not seem to get one thing done.more tips i found on Altamonte Springs chiropractor

  5. Kh Moch Oemar Yusman Roy says:

    Orang yang cerdas mengajarkan agama pada kaumnya tentu menggunakan dengan bahasa kaumnya dan tidak mungkin mengajarkan agama (budi pekerti luhur) dengan bahasa asing, termasuk didalamnya mengajar bab sholat itu juga wajib dengan menggunakan bahasa kaum masing-masing supaya bisa dipahami arti, maksud dan tujuannya komunikasi.
    Hingga pada akhirnya dengan mudahnya setiap diri muslim itubisa melakukan sholat (komunikasi kepada Allahnya).
    Ingat ! bahasa arab itu bukan identik dengan agama islam, akan tetapi yang namanya agama islam itu adalah BUDI PEKRTI YANG LUHUR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: