Dua Wanita Dalam Dilemma

Yang satu saya kagumi karena intelek dan perhatiannya terhadap rakyat jelata. Yang lain, pernah membuat istri saya cemburu karena saya memuji kemanisan wajahnya. Keduanya membuat saya heran. Kenapa mengajukan pertanyaan berat kepada saya?

Memangnya saya siapa?

Jeleknya, setiap ada yang bertanya, saya selalu ingin menjawab!

Padahal, saya takut benar bila jawaban saya jadi acuan.

“Pak!” kata yang pertama, “apa yang dilakukan Nabi Muhammad pada saat beliau bingung untuk menentukan pilihan?”

Duh!

Pertanyaan kamu malah bikin saya bingung nih.

Nabi Muhammad, jelas “nabi” kan? Mosok nabi bingung? Kata salah seroang kiai saya, nabi itu mahaguru. Kalau mahaguru saja bingung, bagaimana umatnya?

Tapi, bukankah nabi juga manusia biasa?

Ya, benar!

Nabi itu, asalnya, manusia biasa. Tapi, setelah jadi nabi, mosok masih biasa-biasa saja? Ga mungkin kan?

Jadi, Nabi Muhammad – sebagai nabi! – tak pernah bingung?

Pernah! Bahkan sering. Tapi, bingung beliau beda dengan bingung kita.

Maksudnya?

Kita sering bingung karena masalah-masalah kecil, bahkan yang hanya bersifat pribadi. Tapi Nabi Muhammad, seperti juga nabi-nabi lain, sering bingung karena masalah-masalah besar yang berkenaan dengan umat.

“Ini memang masalah pribadi, Pak. Tapi, saya rasa, tidak melulu pribadi,” kata wanita pertama.

Maksud kamu?

“Saya ingin membangun umat dalam keluarga saya!”

Wah, keren euy!

“Tapi, saya rasa, itu akan sulit kalau sifat suami saya seperti itu. Padahal, saya tidak punya banyak waktu lagi untuk menunda impian saya. Kasih sarang dong, Pak!”

Hmmmmh!

Berat!

Tapi, saya tegaskan dulu kalimat kamu ya? Membangun umat dalam keluarga itu maksudnya apa?

“Saya ingin keluarga saya menjadi keluarga yang patuh dan komit terhadap Islam!”

Wow!

Terus, suami kamu kenapa?

“Dia, ngakunya, tepatnya KTP-nya Islam. Tapi, jangankan punya komitmen untuk menegakkan Islam, shalat pun tidak mau!”

Duh.

“Jadi, gimana, Pak?”

Yaa, gimana ya? Suami kamu itu kan suami kamu, bukan suami saya. He he!

Maksud saya, ini masalah berat buat kamu dan juga bagi saya.

“Kenapa bisa berat juga bagi Bapak?”

Yaaaa, karena saya tidak bisa menjawab dengan hanya menyebut dalil-dalil. Saya tidak bisa hanya menjawab secara normatif!

Kalau jawaban-jawaban normatif, kamu bisa baca sendiri di buku-buku kan?

“Iya, Pak!”

Nah! Yang berat itu adalah memberikan jawaban yang tidak normatif. Atau, yang tidak melulu normatif lah.

Begini, ya. Pertama, kamu harus jujur pada diri sendiri.

“Maksud Bapak?”

Jawab pertanyaan saya!

“Apa, Pak?”

Mana yang paling kamu butuhkan: suami, atau ridha Allah?

“Dua-duanya, Pak!”

Kalau begitu, Allah akan terus-menerus cemburu!

“Maksud Bapak?”

Begini. Menurut sebuah hadis, Allah itu sangat pencemburu terhadap hamba-hambaNya. Dalam arti, Allah cemas benar kalau-kalau hambaNya cenderung pada sesuatu salah.

“Terus, dalam konteks saya?”

Suamimu itu. Maaf. Kalau kamu punya komitmen ingin menegakkan Islam, kenapa mau diperistri suami seperti itu?

“Itu cerita lama, Pak.”

Dan sekarang kamu menganggapnya sebagai keterlanjuran?

“Iya!”

Saya mengerti. Kamu ingin menjaga keutuhan keluarga. Tegasnya, tak ingin bercerai dengan suamimu.

“Iya.”

Tapi itu dilemma. Kata orang sana: The dilemma facing you. Offering choice only between unwelcome alternatives. Benar tidak? Maaf ya kalau bahasa Inggrisnya salah.

“Benar, Pak. Saya sedang menghadapi pilihan-pilihan yang serba salah.”

Ya. Bila ukurannya adalah perasaan kamu, maka kamu merasa serba salah. Tapi, bila ukurannya adalah ajaran Allah, kamu pasti punya pilihan yang benar.

“O, ya? Apa itu, Pak?”

Yaa, adduhhhh…!

“Kenapa, Pak?”

Tinggalkan saja suamimu!

Hiks!

“Saya sudah tahu jawaban itu!”

Maafkan saya. Tapi, hidup adalah pilihan. Kiai saya bilang: pilih satu, tinggalkan yang lain! Bila yang dipilih itu adalah ajaran Allah, maka segala yang berlawanan dengannya, otomatis, walau sakit, harus ditinggalkan.

Hiks!

Ya, sudah. Kamu nangis aja dulu. Setelah itu, nanti malam, lakukan shalat istikharah. Minta bantuan Allah untuk memantapkan hatimu pada pilihan yang benar. Ingat! Hanya pilihan yang benar yang bisa membahagiakan kamu di dunia dan di akhirat!

***

Ya Allah!

Akhirnya jawaban kejam itu harus keluar juga.

Tapi, itulah yang saya ketahui.

Bila ada pilihan lain, yang jitu, bisikkan kepadanya ya Allah, di saat-saat dia meletakkan dahinya di atas sajadah, bersama air matanya yang menitik atau mengucur deras.

***

Sekarang wanita yang satu lagi!

Dia bertanya begini.

(Mudah-mudahan anda tidak capek membacanya!).

Bang husen aku mau cerita tpi panjang……… jangan bosen dulu ya!!!! begini……. ada sebuah keluarga dimana soerang ayah yang merupakan jdi panutan / pemimpin dalam kelurga sdah tidak terlihat dri dirinya……. dia hnya mementingkan dirinya… dan sfat nya yg egois….. Dia kerja tpi terkadang ga pernah ngasih ke istrina kalopun ngasih ya!!!! sebulan pling banyak 200 ribu itu jga ga tiapa bulan……. kebtlan anak na dah gede” yg byar kontrakkan anak na yg kedua itu cewek sndri….. dan anak cwek na ini merupakan tulang punggung kelurga krna adik n kaka na blom bisa bantu ………. n baru setahun yg lalu…… nie bapak ketawan punya istri lgi dan dia dah nutupi lebih dari 15 tahun…….. krena perlakuan bpk ini ke ibu na yang terdang kasar ( bkan fisik) akhirna ni ibu memutuskan untuk bercerai …….

Akhir na mereka bercerai….. tpi secara agama scara hukum blom …… nie bapak sebanar na ga mau….. tyus anak na dah myerahkan kan semu kputusan na ama ibu na…… dan image seorang ayah di mata anak! na smakin ga ada!!!!

Apa lgi anak cwek na ……… dalam hal ini dia sngat benci, sebel dia pnya bapak tpi kya ga punya bapak…….. dia pengen balik tpi ga pernah mau berubah kdang-kadang ia masih ska telp-telp nan / sms na ma cwek….. untuk saaat ini nie bapak ga kerja jdi na tinggal ma anak nya krn nie ibu….. beruha ga mau ngumpul n jga mau kerja buat bantu-bantu harian di rumah biar ….. akhir na sich…. ibu ambil pekerjaan yng plang 2 minggu skali…….. tyuzzz nie anak yg cwek sbarna na ga rla ibu na kerja….. tpi kondisi na kya gini mau gimna …. akhir na tambah klah kbencian anak na ma bapak nie……… tpi tidak dengan menunjukkan lwat fisik hnya dalam hati ….. mgkin dbpk nya nyadar kalo anaknya kurang perhatian……….

n yg aku tanyainnnnn

dosakah anaknya kepada bapak na???? dengan sikap na yg terkadang acuh tak acuh ma bapak na!!!!! krn saat ini bapak na tinggal ma anaknya….

makacie ya!! bang husen maaf ya!! kpanjangan ……..

Dan saya menjawab begini.

(Mudah-mudahan tidak ngawur).

Sikap si anak adalah reaksi atas sikap si ayah yang tidak baik. Membenci keburukan adalah fitrah manusia, dan perintah Allah. Tapi kasus yang kamu ajukan ini mengandung dilemma (keadaan serba salah), karena yang jadi sasaran kebencian adalah ayah, yang seharusnya disayang dan dihormati.
Tapi, sang ayah ini telah tampil sebagai orang yang tidak baik, telah menghancurkan rasa sayang dan hormat anak-anaknya.
Jadi, pantaslah bila anak-anaknya membencinya!
Apakah anak-anaknya berdosa?
Pertama, yang berdosa adalah bapaknya!
Dan selanjutnya, karena ia telah menimbulkan dilemma sepert yang kamu gambarkan itu, bisa saja suatu hari menimbulkan benturan, seperti pertengkaran dan sebagainya. Di situlah dosa-dosa akan timbul, karena – misalnya – anak-anak membentak ayahnya dan sebagainya. Apalagi kalau sampai mengusir.
Jadi, sebaiknya sih dilemma ini dicairkan.
Si ayah, mungkin sedang tak sadar bahwa dia salah dan berdosa.
Karena itu, anak-anaknya mungkin harus mulai bersikap lebih dewasa dari si ayah.
Ajak dia berdialog. Bicarakan masalah ini dengannya. Tanyakan padanya apa solusi dari masalah ini! Beri dia kesadaran lagi bahwa dia seharusnya tampil sebagai pemimpin, bukan sebagai pecundang seperti sekarang.
Sekian dulu ya?
Selanjutnya kamu boleh bertanya atau bercerita lebih panjang lagi, dan ga usah minta maaf, karena saya senang membantu, selagi bisa.
Wa bi-llahi-ttaufiq wal-hidayah.
Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Comments
2 Responses to “Dua Wanita Dalam Dilemma”
  1. sobatmuslim says:

    nie cerpen apa novel? tapi bagus juga,..

  2. Ahmad Haes says:

    Sebuah variasi untuk menjawab pertanyaan. (Eh, itu anak keberapa?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: