Gus Dur

Silakan lihat Gus Dur dari berbagai 'jendela'.

Banyak orang, termasuk saya, mempunyai kenangan khusus dengan dan atau terhadap Gus Dur.

Suatu hari di tahun 1970an, ketika masih sebagai ‘anak ingusan’ yang bermimpi jadi penulis, saya datang ke kantor sebuah majalah remaja, untuk mengantar naskah cerita pendek (cerpen). Karena majalah tersebut adalah majalah remaja yang merupakan ‘anak’ dari majalah Tempo yang masih relatif kecil dan berkantor di Pasar Senen, Jakarta Pusat, maka ke kantor Tempo lah saya berkunjung.

Masdar Farid Mas'udi, senior saya di majalah Wahyu.

Waktu itu, kalau tak salah, majalah Tempo menempati sebuah ruangan di lantai 3. Ketika saya menghadap sekretaris redaksi majalah remaja itu di ruangan yang kecil, ternyata di sebelah kanan, saya mendapati Gus Dur sedang mengobrol dengan Putu Wijaya, salah seorang sastrawan Indonesia yang sangat produktif melahirkan karya-karya yang bagus.

Itulah kali pertama saya bertemu mereka.

Usai penyerahan naskah, saya enggan beranjak dari ruangan. Saya ingin menguping obrolan mereka. Pada saat itu rupanya mereka sedang berbicara tentang masalah-masalah dalam penulisan. Saat itulah saya mendengar Gus Dur berkata, “Menulis itu gampang; yang sulit adalah mencari bahannya!”

Gus Dur sering tampil dengan tawa lebar dan guyonan kocak, walau yang dihadapi adalah masalah berat.

Saya tidak ingat apakah waktu itu buku Arswendo (Mengarang Itu Gampang) sudah terbit atau belum. Yang jelas, saya sangat terkesan dengan kata-kata Gus Dur, yang waktu itu terasa sebagai kebenaran mutlak bagi saya. Saya bernafsu besar untuk menulis, tapi pengalaman dan ilmu saya masih sangat miskin.

Tanpa saya duga, tahun l981, saya bisa ‘sekantor’ dengan Gus Dur.

Ketika itu saya bekerja di majalah Islam Wahyu. Salah seorang senior saya di situ adalah Masdar Farid Mas’udi (MFM), yang tampan, pintar namun rendah hati. Saya waktu itu juga sama sekali tak pernah mengira bahwa “Mas Masdar” bakal menjadi salah satu tokoh penting di NU.

Di majalah Wahyu, Gus Dur memegang satu jabatan (saya lupa apa jabatannya), dan hanya datang pada waktu-waktu tertentu.

Di majalah itulah, untuk pertama kalinya saya belajar jadi wartawan, penulis, dan editor. MFM adalah salah satu guru saya dalam ‘teknik’ wawancara.

Sungguh lucu bila teringat bahwa saya sempat mengedit (menyunting) tulisan-tulisan sejumlah penulis ternama. Kok bisa ya? Ya, bisa saja. Terutama bila dilihat kenyataan bahwa para penulis ternama itu kadang menulis hanya mengikuti arus perasaan, sehingga mereka kadang melupakan kaidah-kaidah bahasa. Kadang mereka menulis kalimat yang terlalu panjang, menyusun paragraf yang tidak jelas topiknya, dan lain-lain. Tapi, tentu saja saya belum pernah mengedit tulisan Gus Dur! Siapa berani?

Tapi, selain tidak berani, tulisan-tulisan Gus Dur selalu saya kagumi. Jauh hari sebelum bertemu dengannya, saya sudah menikmati tulisan-tulisan Gus Dur di majalah Tempo, karena kakak saya berlangganan. Gus Dur adalah penulis yang baik, yang bisa menulis bahan apa pun dengan lincah. Bahkan saya kira, tulisan-tulisan Gus Dur sangat mewakili semboyan majalah Tempo: enak dibaca dan perlu!

Saya bekerja di majalah Wahyu hanya sekitar satu setengah tahun.

Waktu sekian itu tidak cukup bagi saya untuk bisa dekat dengan Gus Dur; selain karena beliau jarang datang ke kantor majalah tersebut, saya juga bukan tipe orang yang suka ‘menempel’ orang-orang terkenal.

Itulah secuil kenangan saya tentang Gus Dur. Anggaplah sebagai sebuah pengukuhan atas ketokohannya, dan doa untuk mengiringi kepergiannya menghadap Sang Pencipta.

Ya Allah!

Maafkanlah segala kesalahannya!

Ampuni segala dosanya!

Aamiiin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: