Pengantar Da’wah 1: Da’i

Aa Gym bersama kedua istrinya. Da'i (yang masih?) kondang. (Gambar: Adibsusilasiraj.blogspot.com).

Siapakah da’i itu?

Mulai dari Allah

Tentu saja, da’i yang kita maksud (dalam makna istilahi) adalah pelaku kegiatan da’wah Al-Qurãn. Yaitu orang yang menggemakan ajakan, seruan, panggilan, undangan, tawaran, anjuran untuk hidup dengan Al-Qurãn. Tapi, dari manakah orang itu mendapatkan gagasan (ide) untuk berda’wah? Jawabannya adalah: gagasan untuk berda’wah itu berasal dari Dia yang menurunkan (mengajarkan) Al-Qurãn, yaitu Allah.

Bila demikian, Allah adalah da’i yang pertama?

Ya.

Lantas, da’i yang kedua siapa?  Tentu saja dia adalah oknum atau zat yang membawa Al-Qurãn  itu dari Allah kepada manusia.

Malaikat Jibril.

Dengan demikian, da’i yang ketiga adalah nabi atau rasul. Tepatnya adalah para nabi atau para rasul.

Dengan demikian pula, Allah, malaikat, rasul adalah para da’i.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita lakukan pendataan (analitika) sebagai  berikut:

إنّ الله و ملائكته يصلّون على النّبيّ ياأيها الذين ءامنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما

Terjemahan Departemen Agama:

Sesungguhnya Allah, dan malaikat-malaikatnya, bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Masalah pada pada terjemahan di atas, adalah: apa yang dimaksud dengan istilah bershalawãt? Dalam penjelasannya, para pakar yang mengerjakan proyek Al Qur’an Dan Terjemahnya mengatakan bahwa “bershalawat” artinya:

Kalau dari Allah berarti memberi rahmat; dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mu’min berarti berdo’a supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”.[1]

Terjemahan tersebut, berikut penjelasannya, tampak sangat diwarnai oleh prakonsepsi,[2] selain juga mengandung kelemahan pada segi bahasanya, khususnya tentang istilah “bershalawat”. Shalawãt (صلوات) adalah jamak dari shalat (صلوة), dan shalat itu sendiri adalah masdar dari kata kerja shallã (صلّى) — yushallï (يصلّى). Pada ayat di atas terdapat kata yushallûna (يصلّون) yang merupakan jamak dari yushallï. Karena kata kerjanya jamak, maka otomatis masdarnya menjadi jamak. Bila tunggal (yushallï) masdarnya shalat, maka bila jamak masdarnya shalawãt.

Selanjutnya kata shalawãt inilah yang digunakan secara terus-menerus sebagai suatu istilah yang tidak pernah dijelaskan pengertian harfiahnya.

Sebagai suatu istilah, para pakar tafsir Dep-Ag itu, seperti juga para juru tafsir umumnya (bukan hanya orang Indonesia), menggambarkan (seolah-olah) shalawãt pada ayat di atas itu mempunyai tiga pengertian, yang satu sama lain berbeda. Kemudian, bila kita lakukan telaah (analisis) atas ketiga pengertian itu, ketahuanlah bahwa di sana-sini terdapat pertentangan (kontroversi). Pertama, bila shalat (!) Allah berarti memberi rahmat, mengapa shalawãt malaikat (jamak dari malãk) harus berarti memintakan ampunan, dan shalawãt para mu’min harus berarti memintakan rahmat? Harfiah, rahmat berarti kasih-sayang atau belas kasihan. Bila Allah sudah ‘mencurahkan’ kasih-sayang dan atau belas-kasihan kepada Nabi (Muhammad), kenapa malaikat harus memintakan ampunan lagi? Dan (lucunya!), mengapa pula para mu’min harus memintakan rahmat bagi orang yang sudah diberi rahmat?

Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya dijawab oleh para pakar agama (ulama) secara berbeda-beda dan berbelit-belit, sesuai dengan jalan pikiran masing-masing.

Padahal, melalui sebuah Hadits, Nabi Muhammad sudah memberikan penjelasan (tak langsung) atas ayat tersebut. Masalahnya adalah: maukah kita menjadikan Hadits Nabi sebagai alat untuk menjelaskan Al-Qurãn?

Dalam sebuah Hadits dikatakan bahwa shalat adalah doa (الصلوة هي الدعاء), dan seperti telah diuraikan pada bab Pendahuluan, doa (yang benar adalah du’a) adalah salah satu bentuk masdar dari kata kerja da’ã — yad’û. Bentuk masdarnya yang lain adalah da’wah. Telah dipaparkan pula bahwa makna harfiah kedua masdar tersebut pada dasarnya adalah sama, yaitu mencakup pengertian ajakan, seruan, panggilan, undangan, tawaran, anjuran, dorongan, permintaan, permohonan, harapan dan  sebagainya.

Jadi, sekali lagi, shalawãt adalah jamak dari shalat dan shalat menurut Hadits adalah du’ã, dan muradif (sinonim) dari du’ã adalah da’wah.

Kemudian, apa yang akan terjadi bila kita gunakan pengetahuan itu untuk memahami ayat di atas?

Pertama, shalat Allah dan shalawãt malaikat adalah sama. Yaitu sama-sama merupakan du’ã atau da’wah kepada manusia. Lebih tepatnya lagi, Allah melalui malaikatnya menyampaikan du’ã atau da’wah kepada Nabi, dan Nabi menyampaikan lagi du’ã atau da’wah Allah itu kepada manusia yang mau menerimanya.

Kedua, berdasar kenyataan yang pertama, maka perintah Allah kepada para mu’min untuk ber-shalawãt kepada Nabi pada hakikatnya adalah perintah untuk menyambut du’ã atau da’wah Allah melalui Nabi.

Lalu, melalui apakah gerangan Allah menawarkan du’ã atau da’wah yang disampaikan melalui malaikat itu? Jawabnya adalah: melalui wahyu, yakni Al-Qurãn.

Alhasil, terjemahan yang benar untuk ayat di atas adalah:

1.  Sungguh Allah, melalui malaikatnya, berda’wah (mengajarkan Al-Qurãn, kepada manusia) melalui Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berda’wah lah kalian sesuai dengan da’wah Nabi, yakni patuh lah kalian sepatuh-patuhnya (pada teladan Nabi).

2. Sungguh Allah, melalui malaikatnya, berdu’a (menyampaikan suatu harapan kepada manusia) melalui Nabi. Hai orang-orang yang beriman, sambutlah (harapan Allah itu; Al-Qurãn) seperti halnya Nabi (menyam-butnya), yakni pasrahlah kalian sepasrah-pasrahnya (terhadap Allah dengan meneladani Nabi).

Mengapa terjemahannya harus dua? Karena, pada hakikatnya du’ã atau da’wah adalah “si dua satu”. Dikatakan satu, karena keduanya mempunyai kandungan makna yang sama. Dikatakan dua, karena du’ã dan atau da’wah mempunyai dua sasaran. Sasaran yang pertama adalah dai atau pelakunya (kecuali Allah). Sasaran kedua adalah orang-orang di luar pelaku. Sebagai perbandingan, perhatikanlah hadits berikut ini:

خيركم من تعلّم القرءان وعلّمه

Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qurãn kemudian ia mengajarkannya (kepada orang lain).

Kata ta’allamal-qurãna (mempelajari, mengkaji Al-Qurãn) dalam Hadits ini berarti menda’wahkan Al-Qurãn pada diri sendiri; sementara ’allamahu berarti menda’wahkan Al-Qurãn (yang sudah dipelajari) kepada orang lain.

Dengan demikian, melalui ayat di atas, kita mendapat gambaran tentang siapa saja para pelaku dawah (dai) Al-Qurãn itu:

Melalui ayat di bawah ini, kita dapatkan pula keterangan tentang pelaku dawah yang lain, selain Allah, Malaikat, Nabi, dan para Mumin:

ولا تنكحوا المشركات حتّى يؤمنَّ ولأمة مؤمنة خير من مشركة ولو أعجبتكم ولا تُنكحوا المشركين حتّى يؤمنوا ولعبد مؤمن خير من ممشرك ولو أعجبكم أولائك يدعون إلى النار والله يدع إلى الجنّة والمغفرة بإذنه ويبيّن ءاياته للناس لعلهم يتذكّرون

Janganlah kalian (lelaki beriman) menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman; karena seorang wanita budak yang beriman lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia mempesona kalian. Jangan pula kalian (wali wanita beriman) menikahkan (wanita beriman) dengan lelaki musyrik sebelum beriman, karena seorang lelaki budak lebih baik dari lelaki musyrik, walaupun ia mempesona kalian. Mereka semua (dengan kemusyrikan mereka) mengajak kalian ke dalam kehidupan neraka, sementara Allah mengajak kalian ke dalam kehidupan sorga, yakni suatu perbaikan hidup menurut ajaranNya. Demikianlah Dia (Allah) menjelaskan ayat-ayatnya bagi manusia. Mudah-mudahan mereka mau membangun kesadaran (berdasar ajaran Allah).

Jelaslah bahwa da’wah Allah adalah da’wah yang mengajak untuk membangun al-jannah (kehidupan yang baik); sementara da’wah kaum musyrik mengajak kepada yang sebaliknya, yaitu an-nãr (kehidupan yang buruk).

Melalui ayat-ayat berikut ini, kita dapati pula keterangan yang lain lagi, yang membuka wawasan lebih jauh:

هو الّذى يصلّى عليكم وملائكته ليخجكم مِن الظلمات إلى النور وكان بالمؤمنين رحيما …- ياأيها النبيّ إنا أرسلناك شاهدا ومبشّرا ونذيرا – وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا – وبشّر المؤمنين بأنّ لهم مِن الله فضلا كبيرا – ولا تطع الكافرين والمنافقين ودع أذاهم و توكّل على الله وكفى بالله وكيلا.

Dialah (Allah) bersama malaikatnya, yang berda’wah kepada kalian, demi mengeluarkan kalian dari kegelapan (kebodohan) menuju terang (mengenal ilmu yang benar), karena kasih-sayangnya terhadap para mu’min. …

Hai Nabi! Sebenarnya Kami mengutusmu sebagai pewujud (ajaran Allah), penyampai kabar gembira (solusi permasalahan manusia), serta pemberi peringatan.

Yaitu (Kami mengutusmu) sebagai da’i yang mengajak (manusia) hidup mematuhi Allah sesuai dengan kehendak Allah sendiri, yakni (Kami mengutusmu supaya kamu menjadi ibarat)  cahaya penerang.

Selanjutnya, sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa mereka benar-benar mendapatkan anugerah yang mahabesar (karena mereka melaksanakan ajaran Allah).

Karena itu, janganlah kamu mematuhi (da’wah) kaum kafir dan munafik. Hindari jebakan mereka. Bertawakal lah terhadap ajaran Allah, karena sudah cukup (sempurna) lah ajaran Allah itu sebagai andalan. [Surat Al-Ahzab ayat 43, 45-48].

Dalam rangkaian ayat di atas kita dapati gambaran tentang tujuan da’wah secara umum, yaitu mengeluarkan manusia dari kegelapan (= kebodohan tentang ajaran Allah) menuju keadaan terang (= mengetahui ajaran Allah, untuk kemudian menjalankannya). Sedangkan para pelaku da’wahnya bisa diurut mulai dari Allah, Malaikat, sampai Nabi. Selain itu, ada pula da’wah yang dijalankan demi mencapai tujuan sebaliknya, dari terang ke gelap, yang dilakukan kaum kafir dan munafik.

Jelaslah bahwa da’wah Allah, Malaikat, dan Nabi harus berhadapan dengan da’wah kaum musyrik (dualisme; menerima ajaran Allah tapi mengaduknya dengan ajaran-ajaran lain), kafir (menentang ajaran Allah secara terang-terangan), dan munafik (pura-pura menerima ajaran Allah tapi melakukan perusakan dari dalam).

Tentang da’wah kaum musyrik, kafir, dan munafik pada gilirannya akan kita bahas tersendiri. Dalam bab ini kita hanya memusatkan perhatian kepada para da’i Al-Qurãn.

Tingkatan (hierarki) para da’i

Dilihat dari urutan penyampai wahyu, tentu saja Allah sebagai pemilik wahyu itu sendiri menempati urutan pertama. Dengan kata lain, dalam konteks da’wah, Allah adalah da’i yang pertama. Da’i berikutnya, yang kedua, adalah Malaikat. Selanjutnya, da’i yang ketiga, adalah Nabi.

Setelah da’wah Allah sampai kepada Nabi, maka seterusnya Nabi lah yang  diberi amanah untuk menjalankan proyek da’wah Al-Qurãn di bumi, dan Allah terus mengendalikannya melalui penurunan wahyu yang dilakukan secara bertahap dan mengikuti kebutuhan pragmatis, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi Nabi dalam proses da’wah dari hari ke hari.

Sebagai proyek Allah, da’wah Al-Qurãn dijalankan dengan pimpinan dan manajemen Allah. Dengan kata lain, mulai dari (1) perencanaan, (2) organisasi, (3) staffing (penempatan pekerja pada pos-pos tertentu), (4) pemberian bimbingan kerja, dan (5) pengawasan, semua diatur oleh Allah.[3]

Ibarat tongkat estafet, Al-Qurãn disampaikannya (diajarkan) Nabi kepada setiap orang yang mau menerima; dan seterusnya para penerima pertama dibinanya menjadi para kader yang mampu menyampaikan Al-Qurãn pada penerima-penerima berikutnya. Pendeknya, setiap penerima da’wahnya didorongnya pula untuk menjadi da’i, misalnya melalui perkataan:

خيركم مَن تعلّم القرءان وعلّمه

(Orang) yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qurãn, kemudian mengajarkannya (kepada orang lain).

Melalui Hadits ini, tahulah kita bahwa da’wah pada hakikatnya adalah suatu proses perputaran kegiatan belajar (تعلّم) dan mengajar (علّم) Al-Qurãn. Sesedikit apa pun yang sudah dipelajari, tidak boleh menjadi hambatan untuk menggulirkan proses da’wah itu. Hal itu ditegaskan, misalnya, dengan perkataan Nabi yang berbunyi:

بلّغوا عنّى ولو أية

Sampaikan lah — Al-Qurãn — (yang kalian terima) dariku, walau cuma satu ayat.

Penekanan Hadits ini bukan pada jumlah ayat yang bisa disampaikan oleh seseorang dari umat Muhammad, tapi pada keharusan setiap orang untuk menyadari bahwa ia layak berperan dalam kegiatan da’wah (belajar-mengajar Al-Qurãn). Dengan kata lain, Hadits ini lebih menitik-beratkan pada urusan mobilisasi (pengerahan) seluruh sumber daya manusia (umat Islam) untuk bersama-sama menggulirkan proses da’wah.

Dalam bahasa yang lain, Rasulullah mengatakan:


Simaklah! Akan kuberitahu kalian tentang manusia terbaik dan manusia terburuk. Sebenarnya manusia yang terbaik adalah seorang lelaki yang bekerja demi menegakkan ajaran Allah baik di atas punggung kudanya, atau di atas punggung untanya, atau di atas kakinya (tanpa kendaraan), sampai maut datang padanya. Sedangkan manusia yang terburuk adalah seorang lelaki lancang, yang membaca Kitabullah (tapi) ia tidak pernah merujuk (ayat) apa pun darinya. [Hadits riwayat Ahmad].

Dalam bahasa yang lain lagi, dinyatakan dalam sebuah Hadits:

Abu Sa’id Al-Khudri r.a. menuturkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah mengatakan: Siapa pun di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka dia (harus) mengubahnya (memperbaikinya) dengan (menggunakan) tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lidahnya. Bila tidak mampu, maka dengan pikirannya. Tapi (yang terakhir) itu adalah (pembuktian) iman yang paling lemah. [Hadits riwayat Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa’i, dalam kita At-Targhib].

Hadits ini menegaskan satu sisi da’wah; yaitu mengubah kemunkaran (kejahatan; keburukan) menjadi kebaikan. Alat yang digunakan untuk itu adalah tangan (tindakan langsung), lisan (penerangan; penyuluhan; peringatan, dsb.), dan pikiran (harapan; cita-cita; kehendak; keinginan).

Yang terakhir, yaitu ‘bertindak’ melalui pikiran, bila kita lihat dari sisi buruknya, itulah cermin dari kelemahan iman. Tapi bila dilihat dari sisi baiknya, itulah awal dari sebuah proses pembangunan iman. Artinya, bagi seorang mu’min, bila ia belum mampu mengubah keadaan melalui lisannya, apalagi dengan tangannya, maka paling sedikit (minimal) ia harus mempunyai pemikiran (harapan; cita-cita; keinginan) untuk melakukan perbaikan di hari kemudian (setelah ia mampu). Dengan kata lain, harapan, cita-cita, dan keinginan itu adalah sumber daya yang masih tersimpan; yang pada saatnya nanti akan muncul juga ke permukaan.

Tapi, awas! Sumber daya yang tersimpan itu bisa membusuk dan mati, bila tidak dirawat. Ia tidak akan tumbuh dan berkembang bila tidak dipupuk dan disirami.

Lantas, bagaimana pula cara memelihara, memupuk, dan menyiraminya? Jawabannya, kembali pada Hadits-Hadits di atas: (1) laksanakan proses belajar-mengajar Al-Qurãn, (2) Sampaikan (ajarkan) Al-Qurãn yang sudah dipelajari walau cuma satu ayat (demi satu ayat).

Dengan kata lain, pelaksanaan proses da’wah ke luar diri (mengajar) tidak boleh ditunda-tunda; karena hal itu sebenarnya merupakan sebuah kiat untuk memacu semangat berda’wah ke dalam diri sendiri (mempelajari Al-Qurãn).

Tapi, hal itu rupanya pernah ‘diprotes’ oleh para pengikut Rasulullah di masa lampau. Dalam sebuah Hadits digambarkan:

Anas r.a. menceritakan:  Kami berkata (kepada Rasulullah), “Ya Rasuullah, kami tidak akan menyuruh orang berbuat baik, sebelum kami sendiri melaksanakan perintah (untuk berbuat baik) seluruhnya. Kami juga tidak akan melarang orang berbuat munkar, sebelum kami sendiri menjauhi kemunkaran seluruhnya.” Maka Rasulullah menjawab, “Jangan begitu! Suruhlah orang berbuat baik, walaupun kalian sendiri belum melakukan (perintah Allah untuk berbuat baik) seluruhnya; dan laranglah orang melakukan kemunkaran, walaupun kalian sendiri belum meninggalkan kemunkaran seluruhnya. [Hadits riwayat Thabrani].

Hadits ini menggambarkan bahwa keadaan seseorang yang belum sempurna sebagai seorang mu’min tidak harus menjadi penghambat baginya untuk menjalankan proses da’wah.

Lalu, bagaimana dengan anggapan yang berkembang dalam masyarakat bahwa seorang da’i seharusnya adalah tokoh yang bisa dijadikan panutan dalam masyarakat? Anggapan ini sama sekali tidak salah. Seorang da’i memang harus menjadi teladan dalam masyarakat. Tapi keteladanan yang dimaksud adalah keteladanan yang manusiawi, bukan keteladanan malaikat. Artinya, seorang da’i bukanlah manusia yang begitu lahir lantas menjadi mu’min sempurna. Ia hanya seorang manusia biasa, yang ada kalanya terlahir di tengah lingkungan buruk, sehingga ia pun terpengaruh menjadi manusia yang buruk pula.  Tapi justru di situ lah letak keistimewannya. Ia yang lahir di lingkungan buruk, dan terpengaruh menjadi buruk, ketika datang orang yang menawarkan ajaran Allah ternyata ia mau menerima, dan selanjutnya aktif pula berda’wah. Di situ lah letak keteladanannya!

Dari orang-orang seperti itu lah kita dapat memetik sebuah pelajaran penting.; yaitu bahwa ajaran Allah ternyata mempunyai kemampuan untuk mengubah kehidupan manusia, membawa manusia bangkit dari kubangan lumpur. Atau dalam bahasa Al-Qurãn dikatakan keluar dari kegelapan untuk memasuki kehidupan yang terang (يُخْرِجُ مِنَ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ).

Dalam sejarah da’wah Nabi Muhammad juga banyak nama tokoh yang sebelum menjadi mu’min dikenal sebagai tokoh-tokoh jahat. Salah satunya adalah Umar bin Khatthab.

Para ahli sejarah mencatat Umar sebelum Islam adalah orang yang kasar dan kejam. Selain dikenal sebagai jagoan, ia juga pemabuk dan pezina, dan pernah menguburkan anak wanitanya hidup-hidup. Tapi, yang paling menarik dari kisah Umar adalah perubahan sikapnya yang terjadi begitu cepat setelah ia membaca sejumah ayat Al-Qurãn.

Alkisah, pada mulanya Umar adalah salah seorang tokoh Quraisy yang merasa terganggu dengan da’wah Nabi Muhammad, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk membunuhnya. Suatu hari ia mendengar bahwa Nabi Muhammad sedang berkumpul dengan beberapa sahabatnya di sebuah rumah. Umar bergegas pergi ke sana dengan membawa pedang. Namun, di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Nu’aim yang mengabarkan bahwa Fatimah, salah seorang adik Umar, telah menjadi pengikut Nabi Muhammad. Kabar itu membuat Umar sangar murka, dan kemudian membelokkan arah perjalanannya dari tujuan semula. Ia bergegas menuju rumah adiknya.

Sampai di sana, ternyata sang adik dan suaminya memang mengakui bahwa mereka telah menjadi pengikut Nabi Muhammad. Umar menendang Sa’id, suami Fatimah yang merupakan paman Umar dari pihak ibu, sampai terjatuh. Fatimah yang berusaha menolong suaminya terkena pula tamparan Umar, sampai terjatuh dan bibirnya berdarah. Pada saat itulah Umar melihat ada suatu benda yang terselip di pakaian Fatimah. Umar meminta benda itu, yang rupanya sebuah gulungan berisi tulisan beberapa ayat surat Thaha. Umar membacanya, dan secepat kilat hatinya tersentuh oleh kata-kata yang dibacanya. Ia membaca dan membaca lagi berkali-kali, sampai kemudian ia benar-benar terpesona oleh kandungan makna ayat-ayat yang dibacanya, dan secara tak sadar ia menggumamkan kata-kata pujian. Selanjutnya, Umar minta diberi tahu tempat Nabi Muhammad dan para sahabatnya berkumpul. Sa’id mengatakan bahwa Nabi Muhammad ada di Shafa, yaitu di rumah Arqam. Ke sana lah Umar kemudian menuju, dan di sana lah ia menyatakan diri menjadi pengikut Nabi Muhammad, disaksikan antara lain oleh seorang paman Nabi yang selama ini merupakan saingan Umar dalam hal keberanian, kekerasan dan keperkasaannya, Hamzah.

Sejak saat itu lah, konon, Nabi dan para sahabatnya bisa berda’wah secara lebih terang-terangan.

Demikianlah cerita tentang Umar menurut satu versi. Menurut versi yang lain, masuk Islamnya Umar tidak lah secepat itu tapi melalui proses pengamatan yang cukup lama, sampai akhirnya ia mengintip Nabi yang sedang shalat di Ka’bah dan mendengarkan ayat-ayat yang dibaca. Di situ lah hatinya mulai tersentuh.

Kita tidak hendak membahas versi mana yang benar. Yang ingin kita tekankah di sini adalah kenyataan bahwa setelah masuk Islam, Umar menjadi salah seorang tokoh yang giat menyebarkan Islam (berda’wah), alias menjadi da’i. Artinya, ia berda’wah tanpa harus merasa malu dengan sejarah masa lalunya yang ‘hitam’. Sebaliknya, masa lalu yang hitam itu justeru menjadi ‘modal’ untuk menegaskan bahwa ajaran Islam (Al-Qurãn) itu berorientasi ke depan, bukan ke belakang. Dengan kata lain, Al-Qurãn adalah faktor pengubah, baik kepribadian seseorang maupun keadaan masyarakat.


[1] Al Qur’an Dan Terjemahnya, hal. 678, edisi yang dibiayai Raja Fahd, Saudi Arabia, tahun 1412 H.

[2] Pendapat (opini) yang sudah lebih dulu ada (dalam hal ini sebelum mengkaji Al-Qurãn itu sendiri).

[3] Lebih jauh tentang hal ini akan dipaparkan pada bab tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: