Ada Apa Di Balik Peristiwa Hijrah?

Sebuah buku tentang hijrah (kalamullah.com).

Bila banyak orang berbicara tentang hijrah, yang mereka maksudkan adalah hijrah yang masyhur (populer); yakni peristiwa “pindahnya” Nabi Muhammad dan umatnya dari Makkah ke Yatsrib. Dalam hal ini pun orang bahkan sering salah kaprah dengan menyebut Yatsrib sebagai Madinah. Padahal, Madinah baru ada justru setelah Nabi hijrah. Jadi, boleh dikatakan bahwa perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah adalah salah satu hasil tambahan (by-product) dari hijrah; meski sebenarnya penggantian nama ini juga mewakili satu sisi penting dari proses da’wah secara keseluruhan.

Hijrah yang masyhur itu adalah hijrah historis, yang sering dipahami secara sempit, karena hanya dikaitkan dengan momentum (hari-H) keberangkatan Nabi dari Makkah ke Yatsrib. Padahal, tidak ada peristiwa sejarah yang tidak berkaitan dengan ilmu. Tidak ada satu gerakan yang tidak berhubungan dengan isi kepala. Karena itulah Nabi mengatakan bahwa setiap perbuatan selalu berkaitan dengan niat (= motivasi, konsep). Peringatan ini justru diucapkan Nabi berkaitan dengan hijrah yang termasyhur itu.

Bila diperhatikan kata-kata Nabi, dan dikaji proses da’wah yang dilakukannya, akan terlihatlah bahwa hijrah tersebut mengandung makna yang dalam. Satu sisi, ini adalah sebuah puncak dari proses ‘perjalanan ilmiah’ yang digulirkan Nabi sejak ia menerima wahyu yang pertama. Pada saat hijrah itulah mulai ditegaskan bahwa proses belajar teoritis harus ‘berakhir’ dengan dimulainya proses belajar bertindak berdasar teori yang sudah dipelajari.

Pelaksanaan hijrah ini menjadi momentum (sa’ah) penggoresan garis demarkasi (pemisah) antara Nabi bersama umatnya di satu pihak, dan kaum kafir di pihak yang lain. Dengan kata lain, momentum hijrah itu adalah yaumul-furqãn. Pada saat itulah layak digemakan proklamasi bahwa al-haqq sudah siap menumbangkan al-bãthil جاء الحق و زهق الباطل).).

Tapi itu bukan saat untuk bersantai. Dengan terbentangnya garis demarkasi, dimulailah babak perjuangan baru yang melibatkan perang fisik yang melelahkan. Jelaslah, hijrah tersebut bukan sebuah usaha pelarian, tapi sebuah ‘tantangan’ untuk melakukan perang secara terbuka dengan pihak mana pun yang menghalangi da’wah Al-Quran.

Dengan kata lain, hijrah di sini ibarat peletakan batu pertama demi pembangunan al-jannah (fi-ddun-ya hasanah); sebagai jawaban para  mu’min atas ‘tantangan’ Allah dalam surat At-Taubah ayat 111:

Allah pasti ‘membayar’ diri dan harta para mu’min dengan jannah. (Untuk itu) mereka (harus siap) berperang demi (tegaknya) ajaran Allah;  dengan risiko mereka (harus siap) membunuh atau terbunuh. (Itulah) perjanjian yang pasti terlaksana (‘alaihi haqqan), (termuat) dalam Taurat, Injil, (kitab-kitab lain), dan dalam Al-Quran. Lalu, siapakah —selain Allah— yang lebih mampu memenuhi janjinya? Maka optimislah kalian dengan “bisnis” (perjuangan menegakkan agama Allah) yang kalian jalankan itu. Karena itulah (sebuah bisnis) yang (pasti menghasilkan) keuntungan mahabesar.

Jadi, jelaslah bahwa hijrah yang dilakukan Nabi dan umatnya itu bukanlah semata-mata sebuah peristiwa sejarah (hitoris) dalam arti sempit, yang hanya berkaitan dengan penanggalan kejadian. Kejadian itu hanyalah seperti kata orangsebuah puncak dari sebuah gunung es. Di balik itu, ada suatu kejadian yang jauh lebih besar. Sebuah peristiwa ilmiah. Inilah yang sering lolos dari tilikan orang; sehingga pembicaraan tentang hijrah itu sering jatuh menjadi sebuah dongeng yang dangkal, dan diskusi yang dilakukan tentangnya kerap kali hanya bernilai debat kusir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: