Kegelisahan Muhammad Menanti Wahyu

Sedikit tentang asbabu-nuzûl

Dr.  ‘Aisyah ‘Abdurrahman mengatakan dalam  tafsirnya(Tafsir Bintusy-Syathi’, Mizan, 1996), tentang surat Adh-Dhuhã:

“Surah ini Makkiyyah tanpa pertentangan. Pendapat yang  populer  mengatakan bahwa ia adalah surah kesebelas di dalam  urutan turunnya ayat-ayat Al-Quran. Ia turun sesudah surah  Al-Fajr.”

Dikatakannya  pula bahwa para mufasir  sepakat  tentang sebab turunnya surat ini, yaitu karena keterlambatan  datang­nya  wahyu,  yang membuat Rasulullah menderita.  Konon  suatu ketika  Rasulullah mengeluh kepada isterinya, Khadijah,  “Tuhanku  benar-benar telah meninggalkanku, karena  membenciku.”
Keluhan itu dijawab Khadijah dengan hiburan. “Tidak. Dia  telah mengangkatmu menjadi rasul dengan mengamanatkan  kebenaran. Dia (Allah) tidak akan berhenti pada awal kemuliaan  ini, sebelum menyempurnakannya.”

Namun ada pula riwayat yang mengatakan bahwa yang merasa  gelisah karena keterlambatan wahyu itu  adalah  Khadijah, bukan Muhammad sendiri.

Ada pula yang mengatakan bahwa Muhammad tidak tahan dengan ocehan para penentang da’wahnya, yang antara lain mengatakan, “Dia telah dibenci Tuhannya dan ditinggalkannya.”

Pengejeknya yang lain malah mengatakan, “Hai Muhammad,  rupanya setanmu telah meninggalkanmu ya?”

Dr. ‘Aisyah ‘Abdurrahman mengatakan bahwa  perselisihan tentang asbabu-nuzul tidak perlu dibahas, karena tidak  lebih dari  qarinah-qarinah (konteks-konteks)  di  seputar  nash. Menurut orang-orang terdahulu, asbabu-nuzul tidak lepas  dari waham (khayalan). Perselisihan mengenai hal itu pun sudah berjalan lama.
Ringkasnya, pendapat mereka tentang asbabu-nuzul adalah bahwa ia  merupakan peristiwa yang di situ surah  tidak  diturunkan kecuali  pada  saat-saat terjadinya peristiwa  tersebut,  dan bukan merupakan penyebab turunnya surah dalam pengertian  sebab-akibat (hal. 48-49).

Namun  meski “tidak merupakan penyebab  turunnya  surah dalam  pengertian sebab-akibat”, hal-hal yang  disebutkan  di atas  pasti berpengaruh pada ‘timbunan’ kegelisahan  Muhammad karena  ‘keterlambatan’ datangnya wahyu, dan jelas  merupakan gambaran  tentang situasi yang dihadapi Muhammad  dalam  masa awal kegiatan da’wahnya.

Bila ditinjau dari segi lain, apa yang dianggap  Muhammad sebagai ‘keterlembatan’ datangnya wahyu itu mungkin malah bukan  keterlambatan, tapi memang begitulah ‘skenario’  Allah dalam  mengatur penyampaian wahyu. Perlu  diperhatikan  bahwa pengertian sampainya wahyu bukanlah sampai dalam arti  harfiah,  yaitu didiktekannya ayat-ayat oleh Jibril kepada  Muham­mad. Sampainya wahyu harus diartikan bahwa apa yang  didikte­kan itu “kena pada sasarannya”.

Sasaran dari wahyu Allah tentu bukan hanya Muhammad secara  pribadi dan masyarakatnya yang tinggal di Makkah,  tapi manusia di berbagai tempat di dunia, yang menghadapi permasalahan universal namun belum menemukan ‘rumus’ pemecahan  yang universal. Namun karena yang dipilih menjadi rasul adalah Muhammad yang tinggal di Makkah, maka otomatis Muhammad  secara pribadi dan masyarakatnya menjadi sasaran langsung dari ‘tembakan’ wahyu. Hal inilah, barangkali, yang menyebabkan proses dan cara penurunan wahyu harus mempunyai nilai-nilai  pragmatis,  di samping universal dan bisa berlaku di segala  zaman. Dalam arti bahwa penurunan wahyu itu harus mengandung  nilai-nilai pertimbangan dan alasan-alasan praktis, sesuai  situasi dan kondisi pribadi Muhammad dan masyarakatnya pada masanya.

Karena  itulah,  menurut penulis,  apa  yang  dikatakan orang sebagai keterlambatan datangnya wahyut itu,  sebenarnya hanyalah  penerapan  dari  pertimbangan  pragmatis  tersebut. ‘Strategi’ ini jelas sangat jitu. Setiap ayat turun boleh dikatakan  bertepatan dengan keadaan Muhammad yang  ‘haus’  dan mendamba. Setiap ia menemukan persoalan, wahyu turun  sebagai jawaban. Setiap mendapat tantangan dari masyarakatnya,  wahyu turun sebagai senjata pamungkas. Dampaknya kepada diri Muhammad dan para pengikutnya tentu sangat positif. Secara  psikologis  ia  menjadi semakin kokoh, meski  tantangan  da’wahnya semakin keras pula. Sebaliknya bagi para penentangnya,  jelas dampak psikologisnya sangat buruk. Meski mereka tetap  ngotot menentang,  segala yang mereka lakukan semakin  lama  semakin terbukti emosional, bukan rasional, apalagi ilmiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: