Islam Dan Kemudahan

Dialog di bawah ini terjadi sekitar 4 tahun lalu.

“Pak, saya sedih,” kata seorang ibu muda, “Bukankah Allah bilang kalau agama Islam itu memberi kemudahan? Tapi gara-gara di paspor saya fotonya pakai jilbab, kata suami saya, saya tidak bisa ke Amerika, Eropa dan lain-lain.”

“Ketika kita menyebut Allah, ingatlah bahwa kita tidak boleh memisahkanNya dengan ajaranNya. Anda benar bahwa dengan melaksanakan agama Islam, Allah pasti memberi kemudahan. Tapi harap diingat bahwa kemudahan di sini maksudnya bukan kemudahan dalam melaksanakannya, tapi kemudahan bila kita telah melaksanakannya.”

“Jelasnya bagaimana, Pak?”

“Bila Islam itu kita umpamakan sebagai petunjuk untuk membuat jalan tol, dan kita adalah pelaksananya, maka jelas sekali bahwa membuat jalan tol itu tidak mudah. Tapi setelah jalan itu selesai dibuat, semua orang bisa mengambil manfaatnya kan?

Jadi, kemudahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan satu pribadi tapi dengan masyarakat yang ada di dalamnya secara keseluruhan. Kemudahan itu akan mencakup segi politik, hukum, dan kemasyarakatan secara umum. Dalam politik, misalnya, tidak ada lagi orang-orang yang berebut kekuasaan dan rela mengorbankan orang lain. Dalam hukum, tidak ada orang yang kebal hukum. Dalam urusan kemasyarakatan secara umum, tidak ada warga yang kepentingannya diabaikan. Ingat! Keadaan itu adalah hasil dari pelaksanaan ajaran Islam. Sebaliknya, dalam proses perjuangan untuk menegakkannya justru setiap muslim harus siap menghadapi segala kesulitan.”

“O, begitu ya Pak?” kata ibu muda itu pula.

“Ya. Dengan anda mengenakan jilbab, dan banyak wanita muslim mengenakan jilbab, anda jangan lantas berpikir bahwa Islam sudah tegak di bumi ini, sehingga bisa mempengaruhi bangsa Amerika dan Eropa. Jangankan di seluruh bumi, di negara kita pun, yang mayoritas pendudukanya beragama Islam, ajaran Islam yang sebenarnya belum lagi bisa dikatakan sudah tegak. Masih terlalu banyak umat Islam yang bodoh tentang agama mereka. Masih banyak orang Islam berakhlak buruk, beretos kerja payah, dan seterusnya.”

“Maksud saya dengan pertanyaan di atas itu begini lho Pak! Saya kan baru beberapa tahun ini saja mengenakan jilbab, dan itu adalah hasil dari perjuangan batin yang cukup lama dan keras. Nah, kata para ikhwan dan akhwat yang menganjurkan saya memakai jilbab, bila saya mau memenuhi perintah Allah dalam hal menutup kepala itu, mereka bilang insya-Allah saya akan mendapat kemudahan. Tapi kenyataannya kok sekarang saya malah tidak boleh pergi ke Amerika dan negara-negara Eropa? Jadi, di mana janji Allah bahwa saya akan mendapat kemudahan karena saya menjalankan perintahNya?”

“Ibu yang baik! Saya mengerti jalan pemikiran anda. Tapi harap diingat bahwa bumi Allah ini tidak hanya dihuni para muslim dan muslimah. Ada orang-orang beragama lain, yang kadang ingin menjadikan dunia ini sebagai sorga bagi mereka, dan sebaliknya menjadi neraka bagi kita. Bila kita menyebut Amerika dan Eropa, juga Australia pada saat sekarang, misalnya, kita jangan melupakan bahwa mereka sedang melancarkan perang melawan ‘terorisme’; dan terorisme dalam pencitraan mereka adalah identik dengan Islam berikut semua pemeluknya. Karena itu, bukankah sangat masuk akal bila mereka melarang wanita-wanita berjilbab berkunjung ke negara mereka, sebagai sebuah bentuk pencegahan atau kehati-hatian?”

“Iya sih, saya mengerti. Tapi masa gara-gara jilbab saya harus gagal pergi ke Amerika atau Eropa?”

“Jangan salah!  Bukan jilbab yang menghalangi anda pergi ke Amerika atau Eropa, tapi ‘bayangan’ orang Amerika dan Eropa tentang jilbab, yang mereka kaitkan dengan Islam fundamental atau radikal, yang mereka hubungan dengan terorisme. Jadi, ini masalah purbasangka, fobia, trauma, atau mungkin malah hanya paranoid. Dan anda jangan lupa bahwa ini adalah penyakit(-penyakit) lama yang tentu tidak bisa sembuh dalam waktu singkat, kecuali bila ada mu’jizat.”

“Tapi, saya kurang percaya pada mu’jizat. Saya ingin jawaban yang rasional.”

“Ha-ha!  Kalau begitu, saya punya satu jawaban. Mereka, bangsa-bangsa Barat yang maju itu, baru mau berdamai dengan kita bila kita unggul dalam bidang ekonomi dan teknologi. Bila tidak, penyakit paranoid mereka tak akan pernah sembuh.”

“Wah, kalau begitu sih… kayaknya mustahil deh. Bukankah kita semua, umat Islam, dan bangsa-bangsa lemah di dunia ini semua tergantung pada mereka dalam kedua bidang tersebut?”

“Begitulah kenyataannya. Itulah sebabnya saya menyebut mu’jizat. Yang saya maksud sebenarnya adalah sebuah faktor, entah apa namanya, yang bisa membuat kita punya posisi tawar di hadapan mereka.”

“Apakah faktor itu ada dalam ajaran Islam?”

“Rasanya iya. Tapi sayang, umat Islam sendiri pun agaknya tidak menyadari hal itu.”

“Bisa dijelaskan, Pak?”

“Bisa. Tapi, untuk sekarang… coba anda baca-baca dulu, kaji Islam, renungkan, kaji lagi, renungkan lagi, dan begitu seterusnya!”

“Aduh, Bapak! Bapak tidak bisa membantu saya menjelaskannya secara singkat?”

“Secara singkat, supaya anda dapat pengetahuan instant, rasanya tidak. Karena apa yang harus saya jelaskan itu juga membutuhkan kesiapan anda untuk menerimanya!”

“Waaah!”

(Senin, 28 Nov. 2005)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: