Bila Secuil Ilmu…

Bila secuil ilmu sudah menjadi bahan kontroversi (pergunjingan berkepanjangan), sementara si penyampai tak cukup menguasai persoalan, maka jatuhlah nilai ilmu menjadi hanya semacam cerita murahan.

Sebenarnya, hal semacam itulah yang terjadi di forum-forum diskusi, seminar, dan lain-lain, termasuk di mimbar-mimbar shalat Jum’at dan peringatan hari-hari besar agama. Cuilan-cuilan ilmu ditebar seperti menebar remah-remah roti kepada burung-burung merpati. Cukup menghibur, memang. Tapi tidak mengenyangkan, apalagi menyehatkan. Bahkan, ada di antara mereka yang menggelepar dan sempoyongan, karena remah-remah yang ditebar rupanya berisi racun dan candu.

Umat Islam, sungguh malang. Mereka tak pernah mengunyah segumpal roti ilahi yang utuh! Para guru mereka, celaka nian, hanya memberi mereka remah-remah rontokan dari aneka roti buatan Yahudi. Tidak aneh bila mereka kelaparan dan sakit-sakitan.

Lapar ilmu dan sakit jiwa.

Ayna tadzhabun? Kalian mau ke mana, tanya Allah. Mau berobat ke mana wahai para pesakitan, bila kalian tidak peduli pada ilmu Allah?

Rasulullah memberi contoh begitu gamblang bahwa ilmu Allah harus ditekuni dengan mengalokasikan waktu, pikiran, tenaga, dan dana. Karena itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama – hanya sekitar 13 tahun – hasil studi Rasulullah dan umatnya segera bisa diwujudkan menjadi satu bentuk kehidupan yang berbeda, alias jauh lebih baik kualitasnya dari yang sudah lebih dulu ada.

Karena itulah Rasulullah bisa tegar mengatakan, “Al-Islãmu ya’lû  wa lã yu’lã ‘alaihi.”  Tatanan hidup Islam itu unggul, dan tidak ada yang lebih unggul darinya.

Tapi, itulah umat yang sudah lewat. Rasulullah dan para pengikutnya telah mencapai prestasi istimewa yang terukir dalam sejarah, berkat perjuangan mereka yang terbimbing dan terarah.

Sementara kita, ibarat anak-anak ayam yang kehilangan induk, atau meninggalkan induk, berpencaran ke segala arah, lalu terpuruk ke dalam cengkeraman cakar elang, masuk ke dalam mulut serigala dan buaya, atau terjerumus ke dalam lubang yang gelap, dan di sana kita saling cakar dengan sesama ayam.

Kita yang mengaku umat Islam, memang sangat memprihatinkan.

Dan soalnya cuma satu. Yaitu karena kita tidak tahu pasti Islam itu apa.

Comments
6 Responses to “Bila Secuil Ilmu…”
  1. reza says:

    seperti saya sekarang ini bang.. terlalu banyak makan remah-remah, bohong, dan dibohongi..terikat..cuma bisa menunggu sang ratu adil yg hanya ada dalam dongeng. tapi sungguh..saya ingin lepaskan semua ini memulai lembaran baru bersama org yg ingin hidup Bi ismillaah..

  2. Ahmad Haes says:

    Mulailah dengan membentuk kelompok kecil studi Al-Quran, karena Al-Quran lah ‘perahu Nuh’kita. Dengan mengkajinya berarti mendaftarkan diri untuk diselamatkan Allah melaluinya.

  3. Nil says:

    kalimat ayna tazdhabun di atas sy sering dengar dari para ustat yg kata mereka itu ucapan si Mayit ketika hendak di bawa ke kubur,apa iya begitu pak Ahmad?mohon penjelasannya pak.trims wassalam

  4. Ayna tadzhabun? (Kalian mau ke mana,), boleh pake “kaefa tuhyil mauta” ga pak?

  5. Ahmad Haes says:

    Ayna tadzhabun adalah pertanyaan untuk umum. Kayfa tuhyil-mauta adalah pertanyaan bagi para da’i. Aslinya pertanyaan Ibrahim kepada Allah tentang bagaimana menghidupkan … yang mati.

  6. Ahmad Haes says:

    Pertanyaan itu diambil dari surat At-Takwir ayat 26. Aslinya mempertanyakan manusia yang tidak mau dengan Al-Quran. Fa-ayna tadzhabuuna? Kalian mau pergi ke mana? Kalian mau cari petunjuk ke mana lagi, bila petunjuk Allah ini kalian tolak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: