Baik Tanpa Tuhan, Bisakah?

Catatan: Di Amerika sedang berkembang  Humanisme (paham kemanusian) ‘baru’.  Pendetanya adalah seorang dosen Harvard University. Semboyannya: good without God.

Buku sang ‘pendeta’, yang dibahas 19 November lalu.

Kamis 19 November ini, pukul 7.30, Greg Epstein, penulis buku Good Without God (Baik Tanpa Tuhan), membahas bukunya di Psychology Auditorium, Amerika. Di sana  disediakan makanan gratis yang berlimpah.

Beberapa hari sebelumnya, Reed Secular Alliance (Persekutuan Sekular Reed, RSA) melakukan wawancara dengan sang penulis buku.

RSA: Apa kontribusi anda dalam diskusi-diskusi tentang agama dan masyarakat di awal abad 21 ini?

Epstein:  Saya menulis buku untuk memperkenalkan orang Amerika – khususnya sebuah generasi Amerika – kepada masyarakat manusia. Saya suka pada definisi resmi American Humanist Association tentang Humanisme yang anda temukan pada kulit belakang buku saya, yang diambil dari dokumen Humanism and its Aspirations (Kemanusiaan dan Aspirasi-aspirasi Mereka), tapi definisi pendek untuk Humanisme adalah good without god.

Sang ‘Pendeta’ Humanis dari Harvard University, AS.

Humanisme adalah tentang berbuat baik bagi diri kita sendiri, demi orang-orang yang kita  cintai, demi semua umat manusia, dan demi alam dunia yang mengelilingi kita, yang memberi kehidupan kepada kita, yang sekarang sedang terancam bahaya.

Humanisme adalah tentang membuat dunia ini lebih baik, di sini dan sekarang, sebelum kita mati, bukan karena imbalan yang akan kita terima di sorga, tapi karena Kaum Humanis percaya bahwa kita hidup sebelum mati.

Sekarang ini kita terancam mati oleh rangkaian perang, oleh produksi nuklir yang banyak dan terus menerus, oleh perubahan iklim bumi, dan oleh keadaan ekonomi yang benar-benar tidak stabil. Itu hanya beberapa contoh. Kita membutuhkan solusi-solusi besar untuk masalah-masalah besar ini.

Kebanyakan orang berpikir satu-satunya jalan untuk memotifasi kita demi menemukan solusi-solusi besar itu rujukan keagamaan yang berkerangka sempit. Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa sebenarnya ada pilihan-pilihan sekular yang bisa berjalan dan perlu diberi kesempatan.

Ada yang mengatakan, saya tidak menulis buku sebagai jawaban untuk pertanyaan, “bisakah menjadi baik tanpa Tuhan?” (Saya bilang) pasti anda bisa baik tanpa Tuhan. Tapi bukan itu isi buku saya. Sebab, bila anda berpikir bahwa kita tidak bisa baik tanpa Tuhan, itu bukan hanya pendapat anda. Itu bukan hanya semacam gelombang otak yang melintasi pikiran anda. Itu sebuah prasangka. Bahkan bisa jadi itu sebuah diskriminasi. Maksud saya, tak seorang pun dalam pikirannya yang benar akan mengatakan, “Oh, kamu orang Katolik. Bagus sekali. (Tapi) apakah dengan itu anda bisa menjadi orang baik juga?”

Kami tidak akan bertanya apakah bisa menjadi orang baik dan (sekaligus) Yahudi, atau Muslim, atau Buddha. Kami tidak akan bertanya apakah anda bisa menjadi orang baik dan (sekaligus) seorang Demokrat, atau Republik (setidaknya, biasanya kami tidak akan bertanya seperti itu). Jadi, karena kami tahu ada jutaan dan jutaan orang hidup tanpa percaya tuhan, (maka) inilah saatnya untuk menyingkirkan pertanyaan apakah kita bisa baik tanpa Tuhan.

Namun, pertanyaan mengapa kita bisa baik tanpa Tuhan adalah pertanyaan yang sangat layak diajukan. Dan pertanyaan bagaimana kita bisa baik tanpa Tuhan menjadi pertanyaan yang benar-benar krusial (menentukan). Itulah pertanyaan-pertanyaan yang saya tulis dalam buku saya. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mendasar dari Humanisme.

RSA:  Apa kritik anda terhadap New Atheists, dan mengapa anda percaya bahwa Humanisme menawarkan solusi lebih baik bagi masalah-masalah abad 21?

Epstein:  Saya sangat menghormati apa yang diusahakan oleh Harris, Dawkins, dan lain-lain. Tapi Harris mengatakan, “Sains harus menghancurkan agama.” Dawkins menyamakan pendidikan agama dengan pelecehan terhadap anak (child abuse). Hitchens mengatakan kita harus bersiap-siap untuk perang melawan agama. Dan baru-baru ini Bil Mahes mengatakan bahwa “supaya manusia hidup, agama harus mati.” Pernyataan-pernyataan itu tidak membantu. Humanisme tidak berusaha menghapus agama. (Penghapusan agama) itu filsafat yang memalukan. Kami tidak mengatakan bahwa kami lebih baik, atau lebih rasional, dari orang yang beragama.

Kebanyakan orang yang tidak beragama justru tidak anti-agama, dan kami dengan senang hati mengakui bahwa anda juga bisa baik dengan Tuhan. Kami hanya ingin dipandang setara dalam politik, kebudayaan, dalam masyarakat. Kami percaya pada pluralisme, kerjasama antar-iman, pendidikan agama, tapi tidak nyaman berbicara tentang hal itu tanpa membahas tentang Humanisme. Presiden Obama sangat bagus dalam hal ini – dengan memasukkan kaum Humanis dalam pidatonya. Dia adalah presiden yang paling Humanis yang kita miliki dari generasi ke generasi.

RSA:  Apakah posisi anda sebagai Pendeta Humanis memberi anda pemahaman yang unik, misalnya terhadap kaum muda, secara filosofi dan spiritual?

Epstein:  Saya tidak beranggapan bahwa posisi saya memberi saya pemahaman unik. Humanis seperti saya (dan anda, saya kira) tidak mempercayai sesuatu sebagai posisi-posisi khusus yang membuat orang-orang tertentu lebih bijak atau lebih baik dari yang lain. Menjadi paus Humanis di (universitas) Harvard atau di mana pun, atau menjadi orang yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tentang hidup dan mati bukanlah rencana kerja saya.

Namun saya hendak mengatakan bahwa karena saya dalam posisi saya, saya bisa bicara kapan saja dengan kaum muda yang tidak akan pernah menerima dogma wahyu dari agama apa pun, namun masih mencari beberapa pemahaman yang bisa mereka rasakan secara murni bahwa hidup mereka punya arti, bahwa mereka punya tujuan yang bermakna.

Saya sering menemukan kaum muda yang lebih baik berjalan di atas kaca pecah daripada berjalan memasuki Gereja atau rumah pemujaan yang akan mengajari mereka bagaimana seharusnya hidup. Tapi mereka masih mencari sebuah komunitas yang di dalamnya mereka bisa menjadi bagian dari sesuatu yang tidak ditawarkan oleh klub olahraga atau gerakan politik. Humanisme, sebagai falsafah hidup dan sebagai komunitas, membantu saya menemukan jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dan saya kira itu akan menjadi sumber yang penting bagi pihak-pihak lain.

RSA:  Anak judul dari buku anda adalah What a Billion Nonreligious People Do Believe (Baik Tanpa Tuhan: Kepercayaan Semilyar Orang Non-Relijius). Apakah anda merasa Humanisme sebagai pandangan hidup bermakna yang bisa memikat semilyar orang non-relijius?

Epstein:  Semua kajian terbaru atas kepercayaan-kepercayaan relijius, kecuali bila menggunakan metodologi berbeda, akan mengatakan kepada anda bahwa ada sekitar semilyar orang yang memastikan diri mereka tidak relijius atau sekular. Di Amerika saja, ada sekitar 40 sampai 50 juta orang non-relijius, dengan persentase yang terus meningkat di setiap negara bagian selama 20 tahun belakangan ini. Dan angka itu bahkan lebih tinggi di kalangan pemuda. Satu dari empat atau lima pemuda Amerika berusia 18-25 sekarang adalah non-relijius. Itu sama sekali bukan trend (kecenderungan sesaat). Itu revolusi.

Sekarang kita semua tahu apa yang tidak dipercaya orang-orang ini. Tapi dalam tempo sebegitu lama, tak ada buku, tak ada karya besar yang menguji dan menerangkan apa yang sebenarnya dipercyai orang-orang ini. Bila anda cermati, kebanyakan dari kami adalah penganut Humanisme. Kami percaya bahwa dunia ini, alam ini, adalah satu-satunya dunia yang akan kami kenal, dan hidup ini adalah satu-satunya kehidupan yang akan kami miliki. Karena itu sedapat mungkin kami harus membuatnya menjadi baik.

Sejumlah orang mengeluh tentang banyaknya kaum non-relijius yang sebenarnya mempercayai semacam tuhan-tuhan. Itu benar. Tapi “Apakah anda percaya Tuhan?” sebenarnya merupakan pertanyaan yang sema sekali tak bermakna. Sebab, pada hari ini, pada zaman sekarang ini, istilah Tuhan bisa berarti apa saja yang anda maksud. Bila yang anda maksud adalah seorang dewa berjenggot yang duduk di singgasana, yang mencemaskan gaya hidup anda, dan mengajarkan 613 perintah, kami menolak itu.

Tapi bila anda mengatakan bahwa anda percaya Tuhan dalam arti anda percaya alam, atau jagat raya, atau cinta, nah, tentu saja kaum Humanis percaya itu semua. Tapi kami tidak butuh untuk menyebut semua itu sebagai Tuhan.

Kami percaya bahwa Tuhan adalah tokoh literatur yang sangat berpengaruh yang pernah diciptakan. Tapi kenyataannya adala tidak ada kekuatan ajaib, tidak ada kekuatan supernatural yang bakal menolong kita untuk saling cinta, atau saling peduli, atau menyelamatkan planet ini dari perang atau perubahan iklim. Kita (bukan Tuhan!) harus melakukan semua demi kepentingan bersama.

Comments
One Response to “Baik Tanpa Tuhan, Bisakah?”
  1. It’s tough to uncover knowledgeable folks on this topic, but you sound like you know what you’re talking about! Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: