Menendang Mertua

Anisah, wanita 20an, pulang dari ngerumpi dengan wajah buram dan air mata bercucuran. Sampai di rumah, suaminya yang sedang asyik menikmati teh panas dengan biskuit langsung didampratnya.

“Abang!” katanya sengit. “Kenapa abang menendang ibuku?”

“Hah?” suaminya terperanjat. “Maksudmu apa, sayang?”

“Sudah! Jangan panggil sayang-sayang! Jangan berlagak pilon.”

“Waduh, aku ga ngerti nih. Ada masalah apa sih?”

“Jangan pura-pura!”

“Lha, pura-pura apa? Kamu tiba-tiba marah begitu, apa salahku?”

“Bang Dani cerita sama istrinya bahwa abang menendang mertua di jalan! Itu pasti ibuku kan? Salah apa ibuku? Mentang-mentang bapakku sudah ga ada, abang berani menyakiti ibuku!”

Sang istri terus ngomel dan menangis.

Suaminya mengingat-ingat sesuatu, sampai kemudian ia tertawa.

“Kalau si Dani yang cerita, kamu kan tahu bahwa abang suka bercanda sama dia. Abang memang pernah cerita sama dia, dua atau tiga hari lalu, bahwa abang ketemu mur tua di jalan. Dengar baik-baik, sayang! Mur tua, bukan mertua. Kamu tahu mur kan? Itu lho teman si baut. Abang ketemu mur tua, karatan, di jalan. Karena iseng, abang tendang dia! Begitu lho ceritanya.”

“Hah?” sang istri berubah cerita. “Jadi abang cuma menendang mur tua yang karatan, bukan menendang ibuku?”

“Ah, kamu! Yang engga-engga aja! ‘Mana mungkin aku menendang mertuaku? Memang aku gila?”

Comments
One Response to “Menendang Mertua”
  1. Kay Green says:

    I signed to your blog rss feed. Will you post more about this theme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: