Pengorbanan Seorang Anak (3)

Musim panas tahun 1988, ketika Cinnamon berbicara dengan  dua petugas kejaksaan, Newell dan Fredriickson, Patti sedang berpikir untuk meninggalkan suaminya, David Brown.

Ia sebenarnya sudah bertahun-tahun berpikir untuk  meninggalkan  Brown, namun hanya ketika berumur 15 tahun ia pernah  pulang ke rumah ibunya di Victorville. Itu terjadi karena Linda  menyimpan banyak kecuriigaan kepadanya tapi tidak pernah bicara  terus-terang. Waktu itu Linda mengusirnya. Brown membolehkannya  pergi. Tapi beberapa hari kemudian Brown meneleponnya; mengatakan  bahwa ia akan menceraikan Linda bila Patti tidak  segera kembali. Patti kembali. Sejak saat itu Linda tidak pernah lagi mengusirnya.

Kini Patti sudah menjadi istri Brown. Tidak akan mudah  baginya untuk lari. Sebenarnya dulu pun ia ragu untuk menikah  dengan Brown, tapi Brown mengatakan bahwa kesehatannya memburuk lagi. Ia tidak akan berumur panjang. Namun ia tidak ingin mati tanpa keyakinan ada orang yang akan mengurus Krystal. Patti tentu saja  tidak bisa mengabaikan Krystal. Setiap orang membutuhkan ibu. Patti juga mempunyai tanggung-jawab terhadap orang yang telah  memberinya penginapan dan hidup baru sementara ia jauh dari ibunya.  Setelah  penguburan Linda, Patti berpikir bahwa ia  harus  mengurus Krystal sebaik-baiknya.

Lalu, bila sekarang ia ingin pergi, hendak ke mana ia  pergi? Tidak lama sebelum pembunuhan itu, Brown mendesak Patti untuk keluar dari sekolah (SMA), agar ia dapat menemani Linda belajar secara privat di rumah.

Brown tidak ingin Patti bergaul dengan para pemuda sebayanya. Pakaian sekolah Patti pun diaturnya. Ia tidak boleh memakai  blue jeans  atau pakaian lain yang ketat. Potongan rambut  Patti  juga harus  mengikuti selera Brown. Patti bahkan  dilarangnya  memakai make up. Ketika ia memaksa Patti keluar dari sekolah, ia mengatakan bahwa belajar di rumah jauh lebih baik. Patti bisa  mendapatkan ijazah sambil membantu Linda mengurus bayi. Pembunuhan  Linda mengakhiri rencana memanggil guru privat itu, dan Patti juga  tak pernah kembali belajar di sekolah.

Kini usianya sudah 20 tahun, punya suami dan anak, namun  tidak berpendidikan. Patti tidak punya pengalaman kerja, tak  punya penghasilan,  dan tidak mempunyai jaminan hidup yang jelas.  Bila ia tinggalkan Brown, apa yang dapat dikerjakannya? Di mana ia  akan  tinggal? Ia telah terisolasi begitu lama, sehingga  kini  ia hampir  tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan orang lain.  Bagaimana caranya melepaskan gaya hidup yang ditanamkan Brown kepadanya? Bagaimana ia bisa meninggalkan kolam renang, mandi  dengan air hangat, berganti-ganti mobil, tinggal di rumah mewah yang dulu  tidak pernah terbayangkan olehnya karena ia hanya anak  orang miskin?

Bila ia tidak menikah dengan Brown, satu-satunya pilihan  baginya adalah pulang ke rumah ibunya. Tapi ia tahu bahwa itu merupakan pilihan yang lebih buruk. Selain itu, ia mempunyai  keterikatan emosional pada Brown, dan percaya bahwa Brown mencintainya. Patti ingin menyenangkan Brown. Ia telah melakukan apa saja untuk itu. Ia tidak hanya memberikan kesenangan fisik dan seksual, tapi bahkan bertindak lebih jauh. Sebelum menikah, misalnya, Patti rela  menandatangani suatu perjanjian yang menyatakan bahwa  segala yang mereka miliki berdua menjadi hak milik suaminya. Bila  Patti pergi, ia tidak hanya kehilangan cinta Brown tapi juga tidak membawa uang satu sen pun.

Setelah mereka menikah, Brown ingin Patti Hamil. Tapi  ketika Patti hamil, ia tiba-tiba jadi penuh ketakutan. Ia menyuruh Patti untuk  menggugurkan kandungannya. Soalnya, bagaimana  bila  orang tahu  siapa  ayah anak itu sebenarnya? kata Brown.  Tidakkah  itu mencurigakan?  Tidakkah itu membuat polisi penasaran? Patti tidak mau melakukan aborsi. Ia yakin bahwa mempunyai bayi akan membuatnya  senang, karena merasa memiliki sesuatu yang benar-benar  miliknya.

Selama  hamil  Patti merasa sangat  kesepian,  tertekan,  dan frustrasi.  Ia tidak bisa mengatakan kepada siapa pun siapa  ayah bayinya, dan tentang perkawinannya. Karena itu ia pernah  menelan dua kotak obat penenang.

Ketika  bayinya lahir pada tanggal 29 September  1987,  Brown tidak  mau datang ke rumah sakit. Katanya  persalinan  membuatnya merasa mual. Selain itu tentu saja ia mengatakan bahwa kehadirannya di sisi Patti pasti akan sangat mencurigakan.

Selanjutnya,  Baik Patti maupun Brown  terus-menerus  mengaku kepada  setiap orang bahwa ayah si bayi adalah  lelaki  misterius bernama  “Doug”. Lelaki itu semula sering datang  mengirim  bunga dan hadiah-hadiah, sampai kemudian berpacaran dengan Patti, kemudian lari setelah Patti hamil. Patti merasa kisah ini konyol  dan ganjil.  Ia tidak pernah membayangkan untuk menjalin kisah  cinta dengan pria lain.

Ketika  Linda  masih hidup, Patti pernah  pergi  bersama  Tom Brown, adik David Brown, dan itu membuat David Brown yakin  bahwa mereka  berpacaran. Patti berulang-ulang menyangkal,  tapi  Brown tidak  mempercayainya.  Untuk membuktikan bahwa  ia  “bersih  dan tidak pernah disentuh pria lain”, Brown menyuruh Patti bunuh diri dengan  menelan  banyak obat tidur. Bila Patti mati,  kata  Brown yang ternyata mempunyai kepercayaan aneh, rohnya akan menitis pada anak tetangga, sehingga kelak menjadi teman baik Krystal. Patti melaksanakan ide Brown, namun ia tidak mati. Ia hanya menderita  sakit dan gugup berhari-hari. Selanjutnya, ketika  Tom  Brown

datang ke rumah Brown, Patti disembunyikan di kamar mandi.

Sekarang bila Patti melihat ke arah pria lain selagi  berduan bersama suaminya di dalam mobil, Brown sudah cemburu luar  biasa. “Kau ingin aku menguruskan badan? Kau ingin agar aku nampak lebih berotot? Kau ingin aku menjalani operasi plastik? Atau kau  ingin aku mengamplas (menghaluskan) wajahku?” kata Brown.

“Tidak, tidak. Bukan itu semua yang kuinginkan,” sahut Patti.

“Lantas apa? Apa yang kauinginkan?”

“Kehidupan  yang normal. Kesempatan untuk  mengatakan  kepada orang  lain  bahwa kita telah menikah, dan kau adalah  ayah  Heather,” kata Patti.

“Itu  tak akan pernah kita lakukan,” kata Brown. “Bila  orang tahu bahwa kita menikah, mereka akan curiga. Mereka akan  bergunjing di mana-mana. Lalu polisi pun akan berdatangan menemui kita. Itu yang kukhawatirkan. Tidak tahukah kau? Baru-baru ini sejumlah mobil  polisi yang menyamar melewati rumah kita. Mereka  memotret rumah kita. Mungkin telepon kita pun sudah disadap,” kata  Brown. Ia juga mengaku pernah mendengar polisi bicara di dekat pintu rumahnya. Dalam tidurnya ia bermimpi tentang wanita muda yang menangis dan tertawa kepadanya.

Rumah di Summitridge kini terasa berhantu pula bagi Brown dan Patti.  Patti sering merasakan kakaknya ada di dalam  kamar-kamar di rumah itu. Suatu hari Manuella, teman mereka di rumah itu, mengaku melihat Linda berdiri di tengah lingkaran cahaya. Itu  membuat  Brown  tidak  tahan. Ia merasa  harus  pindah  rumah  lagi. “Orang-orang di lingkungan kelas tinggi ini sombong dan dan dingin,”  katanya pada Patti. Lalu ia berencana untuk  membeli  rumah sederhana di lingkungan yang agak sederhana.

Brown mengharuskan Patti memakai beeper (semacam alat penghubung),  supaya  ia selalu tahu segala sesuatu  tentang  istrinya. Tentu  saja  itu sangat mengganggu Patti, karena  berbunyi  terus setiap menit. Patti ingin melepaskannya, tapi takut. Akhirnya  ia mulai sering merasa sakit kepala.

Sejak kematian Linda, Cinnamon masuk penjara, keluarga Bailey tidak lagi diijinkan datang ke Summitridge, Patti hanya punya sedikit kenalan. Teman terdekatnya hanya wanita belasan tahun  bernama Annie Blanks, anak ‘teman’ Brown, Robert Blanks. Wanita muda ini  belakangan, setelah kematian Linda, sering datang  ke  rumah mereka.  Kadang ia membantu Patti melakukan pekerjaan  rumah  dan mengurus  bayi.  Ia agaknya tidak mengetahui hubungan  Brown  dan

Patti yang sebenarnya.

Suatu  hari, ketika Patti mendapat ijin langka dari  suaminya untuk  pergi keluar sendirian, ia mengajak Annie pergi  ke  rumah ibunya.  Dalam  perjalanan Patti menanyakan sesuatu  yang  sering mengganggu  pikiranya.  Sudah punya pacarkah Annie?  Annie  tidak menjawab. Kenapa? desak Patti. Pokoknya tidak, kata Annie.  Patti terus mendesak, sampai akhirnya Annie mengaku bahwa ia  mempunyai affair dengan seseorang.

“Dengan siapa?” tanya Patti.

“Aku tidak bisa mengatakannya,” sahut Annie.

“Kenapa?” desak Patti.

“Aku telah bersumpah padanya untuk menjaga rahasia ini,” kata Annie.

Patti terus mendesak, sampai akhirnya Annie mengaku bahwa  ia punya hubungan cinta dengan Brown. Patti merasa perutnya  seperti terkena tonjokan yang sangat keras.

***

Hari Minggu tanggal 13 Agustus 1988, tiga hari setelah Cinnamon  menuntaskan kisahnya kepada para petugas kejaksaan,  ayahnya bersama Patti, Heather, Krystal, Arthur, dan Manuella, datang  ke penjara atas desakan Cinnamon. Sebelum mereka datang, para  petugas telah memasang alat perekam dan mikrofon mini di balik pakaian  Cinnamon. Cinnamon diminta mengarahkan pembicaraannya  dengan Brown pada masalah pembunuhan Linda.

Saat  itulah,  untuk pertama kalinya, Cinnamon  berkata  pada ayahnya,  “Ayah, aku ingin mengatakan kejadian sebenarnya  kepada petugas.”

“Katakan  sebagian yang benar,” kata Brown. “Sebab bila  aku, nenek,  kakek,  dan Patti tahu apa yang akan terjadi  waktu  itu, maka  kita semua sudah masuk penjara. Tapi itu tidak masuk  akal, karena kita semua tidak melakukan kesalahan. Patti tahu bahwa aku tidak akan tahan hidup di penjara walau seminggu, karena aku akan bunuh diri.”

“Aku merasa bodoh,” keluh Cinnamon. “Waktu itu akau masih muda sekali. Aku sangat mencintaimu, sehingga begitu mudah  dibohongi.”

“Kau  tidak dibohongi. Kakek bersedia masuk penjara bila  kau tidak mau.”

“Kau tahu Kakek tidak mungkin melakukan itu.”

“Kau tidak tahu bahwa Kakek menyukai tindakanmu.”

Cinnamon  berusaha  menahan tangis. “Aku  tidak  kenal  siapa pun,”  katanya. “Aku senang karena berpikir bahwa  aku  melakukan itu.”

“Bila kau ingin Patti menggantikanmu, ia akan mengaku sebagai pembunuh Linda,” kata ayahnya. Cinnamon menolak. Lalu ia bertanya tentang  Heather. Sambil bercanda Brown mengatakan bahwa  Heather bukan anaknya.

Cinamon mengarahkan lagi pembicaraan pada masalah pembunuhan.   “Aku tidak melakukan pembunuhan itu,” kata Cinnamon.

“Sungguh, aku sendiri tidak tahu sampai hari ini bahwa  Patti yang melakukannya,” jawab Brown.

“Menurutku bukan dia,” kata Cinnamon.

“Kini  aku tahu betapa bingungnya kau. Seharusnya kau  bicara sejak dulu,” kata Brown.

“Tapi kau bilang…”

“Kubilang, ‘Jangan lakukan itu.'”

“Aku memang tidak melakukannya.”

“Waktu  itu kau bilang, ‘Aku tidak mau Linda dan Alan  menyakitimu.'”

“Kau  bilang,  bila aku mencintaimu, aku tidak  punya  banyak waktu. Kau bilang aku tidak akan masuk penjara…”

“Begitulah yang kupahami waktu itu. Kalau saja aku  bicarakan hal ini sejak awal, aku bisa membuat Patti mengaku.”

“Kaulah yang mengajarkan tentang apa yang harus kukatakan kepada polisi. Kau tidak menanyaiku.”

“Seingatku,  ketika aku hendak keluar malam itu aku  berkata, ‘jangan lakukan sesuatu. Aku akan pergi ke pantai untuk  memikirkan sesuatu.’ Aku tidak mau kau menderita, juga Kakek atau  Krystal, atau orang lain lagi. Biarkan Patti menanggung kesalahannya. Kau tidak tahu apa-apa, kan?”

“Aku tidak akan bisa keluar, karena aku sudah divonis.”

“Kau  tidak mengerti. Mereka memvonismu berdasar  bukti  yang tidak nyata. Selama ini aku hanya beranggapan bahwa kau melakukan itu karena kau cinta padaku.”

“Bukankah aku sudah di sini, dalam penjara. Tidak cukupkah?”

“Ya, Cinny. Tapi bukan itu yang kuinginkan.”

“Tapi sudah terjadi.”

“Aku lebih suka kau ada di rumah saat ini.”

“Aku juga lebih senang tinggal di rumah.”

“Selama  ini  aku tidak tahu. Ini baru  kaukatakan  sekarang. Jangan marah padaku karena sesuatu yang tidak kuketahui. Aku  menyesal karena aku tidak tahu kejadian sebenarnya.”

“Apa bedanya bila yang melakukan pembunuhan itu aku atau Patti? Aku tetap di dalam penjara ini.”

“Aku tidak ingin kalian berdua melakukan itu.”

“Maksudmu?”

“Seharusnya aku biarkan Linda dan Alan menembakku, dan  hanya berharap agar tembakan mereka meleset, lalu mereka masuk  penjara selamanya. Itulah yang sebenarnya kuinginkan terjadi.”

“Jadi, sekarang aku boleh mengungkapkan kejadian sebenarnya?”

“Jangan. Biarkan Patti yang mengungkapkannya.”

“Kenapa? Bukankah itu akan menolongku?”

“Cinny, bila Patti mengaku, mereka akan membebaskanmu, karena bukti  yang mereka miliki cuma pengakuanmu,  dan  secarik  kertas yang berisi tulisan tanganmu, tapi itu tidak berati bahwa kau pelaku pembunuhan itu.”

“Pil apa yang membuatku pingsan waktu itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau tidak ingat sesuatu yang kauberikan padaku?”

“Patti bilang kau meminum pil yang lain.”

“Aku meminum pil pemberianmu.”

“Benarkah? Patti bilang itu terlalu keras.”

“Hebat! Aku memang tidak tahu apa-apa.”

“Cinny,  cobalah  mengerti! Pattilah  yang  mengatakan  bahwa Linda  dan Alan Bailey akan membunuhku. Pattilah  yang  merancang semua ini.”

“Lalu siapa yang melakukan pembunuhan itu?”

“Pattilah  orangnya. Kau dan aku tidak merencanakan  apa-apa. Patti yang mendengar, Patti yang membunuh.”

Cinnamon  mulai menangis. “Tapi sebelumnya kaulah yang  menghendaki pembunuhan itu.”

“Tidak. Aku ingin hidup. Aku ingin hidup bersama kalian.  Tidakkah kau tahu bahwa aku sama bingungnya seperti kau?”

“Aku  tidak mengerti, mengapa kau harus  mengatakannya  sekarang?”

“Karena aku takut. Setiap malam aku ketakutan kalau-kalau sekarang akulah yang akan ditembaknya.”

“Aku juga ketakutan di sini. Orang-orang di sini ingin mengetahui kejadian sebenarnya.

“Yang  benar adalah: kau tidak ingat apa-apa. Kau tidak  tahu apa-apa.  Sebab bila mereka menanyaiku, aku pun  akan  memberikan jawaban seperti itu. Dan bila aku harus masuk penjara, aku  bakal tidak tahan, terutama karena aku sakit jantung, sakit liver,  sakit ginjal. Aku akan bunuh diri sebelum mati karena penyakit yang semakin parah, karena aku masuk penjara. Alangkah jeleknya penjara bagi orang dewasa.”

“Bagiku juga sangat jelek, karena aku tidak cocok tinggal  di sini.”

“Aku tahu kau tidak pantas tinggal di sini. Karena itu  Patti harus mengaku. Betul, kan?”

“Jangan bohongi aku lagi!”

“Aku tidak berbohong.”

“Kau selalu berbohong padaku. Sejak aku kecil kau selalu membohongiku.”

Pembicaraan mereka terputus karena para pembesuk lainnya mendatangi mereka.

Dua  minggu  kemudian Cinnamon mendesak agar  ayahnya  datang bersama  Patti. Saat itu terjadi lagi dialog  tentang  pembunuhan Linda.  Kali  ini Patti mengatakan bahwa pembunuh  Linda  mungkin Alan Bailey, kakak lelakinya yang merupakan saudara kembar Linda. Brown  pun menambahkan bahwa pembunuh Linda mungkin memang  bukan Patti.

“Kau yakin?” tanya Cinnamon.

“Aku tidak yakin,” sahut Brown.

“Bila kau tidak membunuh,” kata Patti kemudian kepada  Cinnamon, “dan mereka telah memenjarakanmu di sini, maka aku juga bersedia masuk penjara untuk kesalahan yang tidak kulakukan,  karena aku mencintaimu setengah mati.”

“Di sini aku hampir mati,” kata Cinnamon.

“Kalau begitu, akulah pelaku pembunuhan itu,” kata Patti.

“Patti, bicaralah tentang kebenaran!” tukas Cinnamon.

“Aku tidak tahu kebenaran,” keluh Patti.

***

Tanggal 21 September, kurang sebulan setelah Brown dan  Patti mengunjungi  Cinnamon, petugas kejaksaan menyiapkan dakwaan  bagi Brown dan Patti.  Brown mendapat giliran pemeriksaan pertama. Ia tampil  dengan gaya  orang tidak berdosa, bahkan berusaha akrab  dengan  polisi, seolah-olah  ia salah seorang teman mereka. Ia bercerita  tentang Linda  yang katanya suka mengajaknya bercinta meski  sedang  menstruasi,  sehingga  malam itu pun ia terpaksa  mengikuti  kemauan istrinya.  Agaknya ia tidak tahu bahwa para petugas  laboratorium

tidak  menemukan  spermanya  pada tubuh Linda.  Kemudian  ia  pun menuduh Patti sebagai pembunuh Linda, karena belakangan ia sering mendengar Patti mengigau, berbicara kepada Linda.

Polisi selanjutnya menanyakan tentang obat yang  diberikannya kepada Cinnamon malam itu. “Kuberi dia campuran Tylenol, aspirin, dan  soda kue… Kami punya berton-ton pil di rumah.  Berton-ton!” kata Brown.

“Kenapa kau memberi obat pada Cinnamon?”

“Berbulan-bulan ia mengatakan bahwa ia harus melindungiku. Ia keras  kepala seperti ibunya, Brenda. Cinnamon bertekad  melindungiku dari tindakan pembunuhan yang akan dilakukan Linda  bersama Alan.”

Polisi  kemudian memperlihatkan foto yang mereka buat  ketika Brown berbicara dengan Cinnamon di penjara, kemudian  memperdengarkan  rekaman pembicaraan mereka. Saat itu Brown  nampak  sangat gugup. Ia minum obat yang dibawanya, lalu membakar rokok lagi seperti sejak tadi dilakukannya berulang-ulang. Namun ia tetap membantah keterlibatannya dalam pembunuhan istrinya.

Kemudian  ayah Brown juga mendapat giliran  diperiksa.  Orang tua ini juga banyak merokok seperti anaknya. Ia juga  menyalahkan Patti,  dan mengaku benci kepada wanita muda itu, namun ia  tidak pernah bisa meyakinkan putranya bahwa wanita itu jahat.

***

Tanggal  22 September Patti juga mendapat giliran  diperiksa. Ia tampil seperti tidak punya perasaan, tapi kemudian   menangis. Ia mengatakan bahwa kematian Linda telah membuatnya sangat menderita. Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak yakin Cinnamon  yang membunuh Linda.

Lalu polisi menanyakan hubungannya dengan Brown.

“Hubunganku dengannya kurang baik, tapi aku tetap tinggal  di rumahnya demi Krystal. Dia peninggalan Linda bagiku, dan aku  tak ingin  kehilangan dia. Aku memasak dan mencuci untuk  Brown.  Aku tidak akan keluar dari rumahnya sebelum aku merasa lebih  baik… Linda bagiku adalah seorang ibu, bukan kakak. Aku tidak akan  melukainya  karena  alasan apa pun. Aku tahu Brown  diancam  kakak-kakakku.  Sejak ia bergaul dengan Linda, selagi mereka masih  kanak-kanak, setiap orang selalu mengancam Brown.”

Jay  Newell, sang pemeriksa, kemudian memutar rekaman  percakapan Brown dengan putrinya. Sesaat Patti nampak tertegun, karena di situ Brown jelas menyebut dirinya sebagai pembunuh Linda. “Tidak. Aku tidak bisa menyakiti orang lain. Aku bahkan menyesal bila aku memukul Krystal,” kata Patti.

Newell  yang sejak tadi berusaha sabar, kini tidak bisa  lagi menahan  kemarahannya. Ia hampir melompat dari  tempat  duduknya. “Sekaranglah saatnya bagimu untuk mengingat kejadian itu!  Bukankah kau yang memberikan obat kepada Cinnamon malam itu?”

“Tidak, bukan aku yang memberikan,” jawab Pattii. “Aku  tidak akan memberikan Tylenol tanpa ijin ayahnya.”

“Brengsek!”  bentak Newell. “Kau berusaha  membunuhnya  malam itu!”

“Tidak.”

“Kita akan buktikan itu.”

***

Akhirnya, Brown dan Patti masuk penjara. Patti mendapat pengawasan ketat karena berusaha membunuh diri dengan menggunakan pakaiannya. Brown yang dikurung di ruangan lain mengiriminya  surat berisi kutipan dari Bibel yang mengajarkan agar istri selalu  setia  kepada suaminya. Ketika membaca surat itu,  Patti  mengingat penyelewengan Brown dengan Annie blanks.

Bulan  Mei  tahun 1989 Patti mengaku bersalah,  dan  bersedia menjadi saksi bagi suaminya.

Sebelum memutuskan untuk mengaku, Patti merasakan siksaan batin  selama berbulan-bulan. Kesaksiannya bisa  menyebabkan  Brown dihukum  mati di kamar gas. Selain itu, ia juga takut Brown  akan membunuhnya  seperti membunuh Linda, atau ia mengupah orang  lain yang tiba-tiba menusuknya di ruang pengadilan. Lalu bagaimana dengan  Krystal? Patti tidak tahan menyadari bahwa dirinya  menjadi penyebab ayah anak itu masuk penjara seumur hidup, bila tidak dihukum mati. Lalu apa pula yang akan dilakukan Arthur dan Manuella jika ia membuktikan bahwa anak mereka, Brown, bersalah?

Untunglah pengacaranya bisa membujuknya. Ia bilang, bila Patti  bicara jujur, ia akan diperlakukan sebagai anak  remaja  oleh pengadilan,  karena  waktu itu ia baru berusia 17 tahun,  dan  ia hanya akan dimasukkan ke penjara anak-anak sampai berusia 25  tahun.

Selanjutnya,  dalam persidangan  terungkap  kejadian-kejadian yang  sebelumnya tidak terbayangkan. Brown ternyata  juga  pernah berusaha  membunuh  Patti dengan mengupah orang  bernama  Richard Steinhart,  dan  hendak membunuh Cinnamon dengan  mengupah  orang bernama Darvocet. Untung mereka semua gagal. Bahkan sebelum ditahan polisi, Brown juga pernah menyuruh Annie Blanks membunuh Patti ketika ia sedang mandi.

Persidangan berakhir pada permulaan tahun 1990. Brown divonis hukum  penjara seumur hidup. Namun kehidupan dalam  penjara  akan sangat  tidak nyaman baginya. Soalnya, penganiaya  anak-anak  dan pembunuh  istri adalah kejahatan yang dibenci para penjahat.  Bukankah mereka menjadi penjahat, pada dasarnya, adalah untuk menghidupi istri dan anak? Brown akan disiksa habis-habisan oleh  sesama narapidana. Mmengingat keadaan itu, hukuman mati  sebenarnya lebih baik bagi dia.

Di lain pihak, sebelum masuk penjara anak-anak, Patti  sempat mengadakan hubungan dengan Cinnamon, melalui surat. Tiba-tiba mereka jadi merasa begitu dekat satu sama lain. Rasa saling  sayang pun tumbuh mendadak. Mungkin karena merasa senasib.

Sebelum  persidangan berakhir, desas-desus  bahwa  Cinnamon akan bebas meluas di California Youth Authority. “Saya lega,” kata ibu Cinnamon, Brenda Sands, setelah Brown divonis. “Seharusnya ia memang dikurung selamanya. Saya sangat senang. Saya tidak  mau ia  terus berkeliaran di alam bebas. Saya takut  menjadi  sasaran pembunuhannya juga.”

Dalam  penjara, Patti menulis sejumlah surat  yang  ditujukan kepada  Brown, namun tidak pernah dikirimkannya. Ia masih  sering dihantui mimpi-mimpi buruk tentang lelaki itu. Bulan Februari tahun 1990, misalnya, ia menulis demikian: “Bila kau mati, aku akan tertawa.  Kuharap kau dibakar dalam neraka. Kau  harus  merasakan kesakitanku yang kuderita sampai saat ini.”

Sama seperti Cinnamon, dalam penjara Patti berkelakuan  baik. Ia  mendapat  penghargaan karena itu. Namun  ia  selalu  berusaha menghindari kaum pria. Setiap ada pria yang coba-coba  mendekatinya, ia berkata, “Aku sudah menikah.”

Sejak kematian Linda, Patti selalu dirundung kesedihan.  Tapi Brown  tidak pernah mengijinkan dirinya  menyatakan  perkabungan. Kematian Linda adalah sesuatu yang telah direncanakan secara  rasional, kata Brown. Sejak saat itu, baru pada musim dingin  tahun 1990  ia bisa mengucapkan kata “mati”, tapi masih  belum  sanggup mendengar  kata  itu diucapkan orang lain di depannya.  Ia  harus menjalani  perawatan  kejiwaan yang cukup lama  untuk  membuatnya

kembali normal.

A. Husein kndm

Sumber: A Killing In The Family,

Stephen Singular, Avon Books,

New York 1991.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: