Pengorbanan Seorang Anak

Cerita Kriminal

Ini kejahatan yang unik namun gila. Bersama adik iparnya David Brown berencana membunuh Linda, istrinya, yang juga punya rencana untuk  membunuh  Brown bersama saudara kembarnya.  Tapi  Lindalah yang  akhirnya terbunuh, dan Cinamon, putri Brown  dari  istrinya dulu, harus menyelamatkan ayahnya dengan mengaku sebagai pembunuh Linda.  Brown  lalu menikahi adik iparnya secara  rahasia,  namun membuat affair pula dengan wanita lain.

Sebuah kisah nyata yang meledak ketika ditayangkan NBC-TV sebagai miniseri.

Tanggal 19 Maret 1985, letusan tembakan mengguncang  kelengangan pagi di Garden Grove, California. Polisi kemudian  menemukan Linda  Mary  Brown, seorang ibu muda, menjadi  korban  pembunuhan brutal di rumahnya sendiri. Anak tirinya, Cinamon, gadis  berusia 14  tahun, mengaku sebagai pembunuhnya. Dengan jiwa  yang  kalut, gadis cantik berambut coklat yang baru duduk di kelas 9 itu masuk penjara. Di balik tembok yang sunyi ia mengubur kebenaran,  untuk melindungi  seorang pria tampan namun sakit jiwa, yang  merupakan pelaku sebenarnya dari pembunuhan sadis itu: ayahnya.Malam  itu David Brown tidak bisa tidur. Pukul dua dini  hari ia pergi ke luar rumah dengan mobil Honda Prelude-nya. Tentu saja jalan-jalan yang dilaluinya telah sepi, tapi ia masih bisa memarkir mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan yang buka 24 jam. Di situ ia mentraktir seorang hostes dan seorang pria yang mengaku sebagai Dr. Pepper. Kemudian ia beranjak dari tempat itu, tapi kembali  lagi untuk membeli empat buah buku komik. Ia memang  kolektor komik. Sebagai pria yang telah berusia 30 tahun lebih, sebagai  ahli teknologi komputer yang sukses, ia tidak merasa  malu untuk tetap menjadi penggemar bacaan anak-anak itu.

Selanjutnya ia pun kembali menjalankan mobilnya, masuk ke jalan besar Garden Grove Freeway yang mengarah ke selatan, namun ia membiarkan  mobilnya hanya berjalan pelan. Jalan itu mengarah  ke lautan.  Tapi bila memang ingin pergi ke pantai, ada  jalan  lain yang  lebih pendek. Rupanya ia memang tak punya  tujuan,  kecuali keluar rumah, dan selanjutnya berputar-putar saja bersama  mobilnya. Pada saat malam menjelang pagi itu jalan raya yang  biasanya hiruk-pikuk  memang berubah tenang, lebih tenang dari keadaan  di rumahnya beberapa jam lalu.

Awal  malam ini ia bertengkar dengan istrinya,  Linda  Brown, wanita  berusia 23 tahun yang berpenampilan menarik. Brown  kesal sekali  karena sang istri membiarkan bayi mereka menangis  begitu lama.  Ia memang tidak tahan menghadapi sesuatu yang  dianggapnya tidak beres di rumah. Menurut Linda, bayi mereka yang baru  berusia delapan bulan itu sebaiknya dibiarkan menangis beberapa saat, sampai ia tidur. Tapi menurut Brown seharusnya Linda mengayunnya. Tangis bayi itu tidak enak bagi Brown, tapi istrinya malah mengatakan  bahwa itu keadaan yang wajar. Pendapat Linda ini  ternyata dibenarkan oleh orangtua Brown sendiri, yang malam itu mampir  ke tempat mereka untuk makan pizza, main kartu, dan nonton televisi.

“Bayi memang biasa menangis, dan harus dibiarkan menangis beberapa saat, itu normal,” kata orangtuanya.

Brown  kemudian minta maaf pada istrinya.  Namun  perasaannya belum juga yakin bahwa Krystal, sang bayi, tidak kurang suatu  apa.

Ia harus keluar rumah untuk menenangkan pikiran. Ia ingin menyendiri di suatu tempat yang tidak direcoki dengan segala  peraturan dan batasan.

Sebenarnya  Brown  memang tidak hanya  memikirkan  Linda  dan Krystal,  tapi juga Cinnamon, putrinya dari  istrinya  terdahulu, Brenda Sands. Cinnamon sebenarnya menarik, namun pembawaannya sulit dimengerti. Brown yang pencemas sangat mencemaskan putri  remajanya ini. Cinnamon lebih banyak menghabiskan waktunya di halaman belakang, di dalam sebuah trailer (rumah mobil), bersama  hewan-hewan  peliharaannya.  Ia bilang  pada  teman-temannya  bahwa tinggal  dalam trailer terasa dingin, memberinya rasa bebas  dari kemelut keluarganya.

Belakangan  Cinnamon bahkan kian runyam. Dua minggu  lalu  ia dipindahkan dari Bolsa Grande High School ke Loara High di Aneheim, yang menurut ayahnya akan membuatnya lebih aman dan  membuatnya jadi murid yang baik. Di Bolsa Grande ada seorang asing  yang mengganggunya.  Tapi di sekolah barunya ia repot  pula  melakukan penyesuaian diri dengan teman-teman dan guru-guru barunya. Selain itu, baru-baru ini ia mengalami kesulitan lain karena keremajaannya. Menstruasinya tidak teratur, bahkan menyiksa dirinya. Ia telah membicarakan hal itu dengan Linda dan Patti Bailey, adik Linda yang berusia 17 tahun, yang juga tinggal bersama Brown.  Kedua wanita itu bersimpati kepadanya, seraya menjelaskan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang wajar bagi wanita yang sedang tumbuh dewasa.  Namun mereka tidak tahu bahwa Cinnamon  mempunyai  persoalan yang lebih rumit.

Cinnamon bukan hanya merasakan kesulitan karena pindah  sekolah,  dan masalah menstruasi yang masih asing baginya, tapi  juga merasa  sangat sedih karena kedua orangtuanya bercerai, dan  kini ia merasa sulit berpadu dengan orang-orang yang tinggal  bersamanya di rumah ayahnya. Ia senang ayahnya mendapatkan anak lagi, ia senang pada bayi. Namun kehadiran Krystal, sang adik, telah  membuatnya semakin tersingkir dari perhatian.

Dalam rumahtangga Brown hanya ada satu pria. Brown sering harus terkepung dalam badai masalah di rumahnya. Selain ia  sendiri sering bertengkar dengan istrinya, Cinnamon dan Patti juga  tidak jarang berselisih, dan saudara-saudara istrinya yang lain  selalu bikin  gaduh bila mereka datang. Patti dan Cinnamon selalu  meributkan tentang siapa yang harus mencuci piring dan mengasuh bayi. Ibu Brown sendiri, Manuella, merasa dirinya berpengalaman  mengurus bayi, sehingga ia selalu menghamburkan nasihat-nansihat.  Kadang-kadang rumah yang hanya mempunyai tiga kamar tidur itu tidak cukup luas untuk menampung seluruh anggota keluarga dan sanak-saudaranya serta segala pendapat mereka. Saat ini keadaan di  rumah terasa  lebih sumpek bagi Brown. Cinnamon libur  sekolah,  begitu juga Patti. Teristimewa malam ini, Brown benar-benar merasa tidak betah di rumah.

Di rumahnya Brown memiliki beberapa VCR dan perpustakaan  video  yang berisi 500 kaset video. Ia mempunyai  banyak  televisi, setengah lusin mobil, sebuah komputer seharga 9000 dolar,  berbagai  perlengkapan telepon mutakhir, dan  rumahnya  diiperlengkapi pula dengan sistem pengamanan yang rumit. Bila ada barang baru di toko, misalnya alat yang membuatnya bisa tetap berhubungan dengan anggota keluarganya ketika ia di luar rumah, ia pasti membelinya. Kegemarannya  yang utama adalah benda-benda elektronik. Namun  ia juga sangat suka mengoleksi batu-batu permata dan koin-koin langka, yang ditaruhnya dalam lemari seukuran kulkas. Selain itu,  ia juga  gemar mengoleksi senjata, baik senapan maupun pistol,  yang disimpannya di laci-laci dan kotak-kotak kecil. Ia senang  sekali berlatih menembak di pantai dekat Calico. Kemarin ia punya rencana  untuk berburu bersama semua anggota keluarganya,  tapi  gagal karena hujan. Brown bukan hanya punya hobi-hobi yang mahal,  tapi juga  punya perlengkapan dan waktu untuk melaksanakan itu  semua. Ia tahu cara mendapatkan dan menggunakan uang.

Namun ternyata Brown juga ‘penyakitan’. Ia sering sulit buang air besar, menderita gangguan liver, dan sulit bernapas namun terus  merokok. Kadang ia mengeluh sakit jantung, dan sering  mengkhawatirkan  dirinya mengidap kanker atau penyakit-penyakit  yang lain.

Lemari obatnya penuh dengan obat-obatan untuk berbagai penyakit. Semua dilengkapi resep dokter. Brown juga sering mengunjungi ahli  tulang punggung. Banyak orang yang menganggapnya  menderita hipokondria  (gelisah tak menentu), tapi banyak juga  yang  yakin bahwa ia benar-benar sakit. Usianya baru 32 tahun, tapi ia nampak jauh lebih tua.

Ketika  ia pulang, keadaan di sekitar rumahnya  nampak  sepi. Namun  ketika ia membuka pintu dan kemudian masuk ke ruang  tamu, Patti berdiri di hadapannya sambil memegang bayinya. Ia  menangis histeris.

Brown segera menelepon polisi, meminta ambulan. Katanya kepada polisi, “Ketika aku pulang berjalan-jalan adik istriku  nampak memegang bayiku sambil gemetaran di depan pintu. Ia bilang putriku  memegang pistol, dan ia menghilang setelah beberapa kali  menembak.”

“Berapa tahun usia putri anda itu?” tanya polisi.

“Empat belas, empat belas. O, Tuhan, kepalaku sakit.  Tekanan darahku mungkin di atas dua ribu,” keluh Brown. Kepada polisi  ia juga mengaku tidak berani masuk ke kamarnya untuk melihat keadaan istrinya.

Setelah  serombongan polisi datang, jelaslah bagaimana  nasib istrinya. Linda tewas karena tembakan pistol bermerk Smith & Watson  kaliber 38, yang ditemukan di lantai dekat tempat  tidurnya. Melihat  keadaan tempat tidurnya yang rapi, dapat ditarik  kesimpulan bahwa wanita itu ditembak tanpa sempat melakukan  perlawanan.

Cinnamon,  yang dikatakan oleh Brown dan Patti  sebagai  tersangka pelaku pembunuhan itu, ditemukan polisi bersembunyi di sebuah kandang anjing di halaman belakang rumah. Dari tubuhnya tercium bau pesing, dan ia nampak seperti baru muntah. Di  tangannya terpegang  secarik kecil kertas merah muda. Di situ  ada  tulisan berbunyi:  “Tuhanku, ampunilah aku. Aku tak bermaksud  menyakitinya.”

Petugas bernama Davis dan Halligan membawa gadis itu ke  kantor polisi. Dalam perjalanan ia bertanya, “Ayahku tidak apa-apa?”

Davis mengiyakan.

“Patti  juga tidak apa-apa?” tanya Cinnamon pula,  dan  Davis memberikan jawaban yang sama.

“Bagaimana  keadaan Linda?” tanya Cinnamon selanjutnya.  “Bagaimana keadaan Linda?”

Tak ada jawaban.

***

Pukul tujuh tiga puluh pagi Fred McLean dalam perjalanan  menuju kantor polisi. Di situ Cinnamon sudah dipotret, sudah menjalani pemeriksaan baik oleh polisi maupun petugas kesehatan. Bicaranya tidak jelas, kepalanya tertunduk, nampak seperti baru minum obat bius atau keracunan. Tekanan darahnya rendah, dan ia  nampak sangat mengantuk, namun para petugas kesehatan menganggapnya  tak perlu dikhawatirkan. Ia masih bisa bicara.

Sekitar  pukul delapan McLean menyalakan tape recorder,  lalu menanyai Cinnamon.

“Kau tahu apa sebabnya dirimu ada di sini?”

“Karena aku melukai Linda,” jawab gadis itu.

“Bagaimana caramu melukainya?”

“Dengan menembaknya.”

“Baiklah, Cinnamon, aku harus beri tahu kau tentang  hak-hakmu,” kata McLean. Ia kemudian mengatakan bahwa Linda sudah  mati. Cinnamon berhak untuk tutup mulut, namun bila ia bersedia bicara, segala kata-katanya akan digunakan untuk menuntutnya di pengadilan. Ia berhak menghubungi pengacara, diwakili pengacara, dan  boleh  menghadirkan pengacara sebelum dan selama pemeriksaan.  Bila ia  tidak mampu membayar pengacara, pengadilan  akan  menyediakan pengacara untuknya.

“Nah, Cinnamon, kau sudah mengerti tentang hak-hakmu yang baru kubacakan?” tanya McLean.

“Ya, kira-kira.”

“Kira-kira. Lalu apa yang tidak kaumengerti?”

Cinnamon mengatakan bahwa ia merasa sakit.

“Kau mengerti bahwa Linda mati?”

“Yah.”

“Kau mengerti bahwa kau tidak harus bicara padaku?”

“Yah.”

“Kau mengerti bahwa aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu yang terjadi antara dirimu dengan Linda malam lalu?”

“Yah.”

“Yah.”

McLean  menanyakan tentang di mana Cinnamon  pernah  tinggal, kapan ia pindah ke rumah di Ocean Breeze, dan di mana bersekolah. Setelah Cinnamon menjawab semua pertanyaan itu dengan jelas,  McLean bertanya, “Mengapa kau tidak tinggal bersama ibu kandungmu?”

“Karena ia terlalu sering membentak, sehingga aku menjadi gelisah.”

“Kenapa ibumu membentakmu?”

“Karena aku nakal.”

“Apa bentuk kenakalanmu?”

“Aku pergi ke pantai setiap hari,” kata Cinnamon dengan suara yang  kian pelan dan lemah. Ia menceritakan pada McLean bahwa  ia pergi  ke  pantai bersama teman terbaiknya, Krista  Taber,  untuk berjemur sambil menonton orang-orang yang berselancar di laut.

“Apa  yang terjadi antara kau dengan Linda, atau  antara  kau dengan ayahmu kemarin?”

“Hubunganku dengan ayahku baik sekali, tapi Linda pernah  mengatakan  bahwa ia tak menghendaki aku ada di rumah  itu.  Karena itu aku pindah ke trailer.”

Cinnamon  berbicara tak jelas, kemudian ia  menyatakan  bahwa Linda pernah mengancam untuk membunuhnya.

“Linda mengatakan bahwa ia akan membunuhmu?” tanya McLean dengan nada penuh penasaran.

“Ya.  Aku bertengkar hebat dengannya. Aku tak tahu kenapa  ia memulai pertengkaran itu.”

“Kau tidak tahu?”

“He’eh.”

“Kenapa Linda menghendaki kau pergi?”

“Ia bosan padaku. Ia… tidak menyukaiku.”

“Kenapa?”

“Kadang-kadang  ia memukul Krystal, dan itu membuatku  sangat marah…”

“Kau tidak senang ia bertindak kasar pada bayi itu?”

Cinnamon tidak menyahut.

“Cinnamon?”

“Ya, aku mendengarmu. Oh, sudahlah, aku letih.”

“Cinnamon, kau harus menjawab pertanyaanku.”

“Aku… Aku berusaha melihatmu, tapi mataku… Aku tak  tahan untuk membuat mataku terus melek.”

“Kau bisa bicara tanpa membuka mata.”

“Baiklah.”

McLean terdiam sebentar, kemudian mengalihkan pertanyaan pada soal lain.

“Pistol siapa yang kaugunakan untuk menembak?”

“Punya ayahku,” sahut Cinnamon. “Aku mendapatkannya di laci.”

“Di laci kantor?”

“Di sebuah kotak darurat.”

“Kantor itu terdapat di dalam rumah?”

“Yah.”

“Kantor ayahmu?”

“Kantor setiap orang.”

“Pernahkah kautanya seseorang tentang cara menggunakan pistol itu?”

“Tidak. Aku… menembak tiga kali.”

“Kau menembak tiga kali?”

“Ya.  Sekali di kamarku bersama Patti, dan kemudian di  kamar Linda.”

Cionnamon mulai batuk-batuk. McLean memberikan kertas  tisyu. Setelah batuknya reda, McLean mulai bertanya lagi.

“Kenapa kau pergi ke kamar Patti membawa pistol itu?”

“Sebab ada sesuatu yang tersangkut, dan aku tidak bisa menyalakan lampu di kamarnya karena ia akan terbangun.”

“Apa yang tersangkut?”

Cinnamon bicara tidak jelas.

“Bagaimana kau bisa tahu cara menggunakan pistol itu?”  tanya McLean pula. “Pernahkah sebelumnya kau menggunakan senjata  besar atau senjata kecil?”

“Pistol-pistol  kecil,” kata Cinnamon, “karena tidak  terlalu berbahaya. Tak ada orang yang terluka.”

“Di mana kau menembakkan senjata-senjata itu?”

“Menembak siapa?”

“Hah?”

“Menembak siapa?”_

Jelaslah bahwa gadis itu semakin tidak bisa mengendalikan diri,  karena  mengantuk. McLean menghentikan  pemeriksaan  setelah waktu menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit. Kurang dari  empat jam setelah pembunuhan itu, sang detektif merasa  bahwa ia  telah  mendapatkan segala yang dibutuhkannya  untuk  menyusun dakwaan.  Sebelum mereka meninggalkan ruang  wawancara,  Cinnamon mengatakan  padanya bahwa ada sesuatu yang lain  yang  membuatnya sangat mengantuk: pagi-pagi sekali ia telah meminum delapan puluh

butir  pil  atau kapsul obat. Entah obat apa.  McLean  mengatakan bahwa darah gadis itu harus diperiksa.

“Oh Tuhan!” keluh Cinnamon.

“Belum pernah periksa darah?”

“Belum.”

“Tidak sakit. Hanya ditusuk peniti. Sama sekali tidak sakit.”

Dengan sebuah ambulan Cinnamon dibawa ke Garden Grove Medical Center.  Di  situ ia mengaku kepada Pam French,  seorang  polwan, bahwa ia telah membunuh Linda. Gadis itu kemudian dipriksa dokter lebih banyak lagi, ditempatkan pada sebuah tempat tidur, kemudian

tertidur.  Siangnya seorang pengacara yang disewa  ayahnya,  Alex Forgette, datang ke rumah sakit itu untuk berbicara dengannya setelah gadis itu bangun. Cinnamon baru bangun beberapa jam kemudian. Ia menjalani lagi beberapa kali pemeriksaan darah, dan  kemudian berbicara dengan Forgette sampai pukul enam sore.

Hari berikutnya, sementara polisi masih sibuk melakukan pemeriksaan  dan penyelidikan, Brown menemui mantan istrinya,  Brenda Sands.  Ia mengatakan pada Brenda bahwa Cinnamon  terlalu  banyak minum obat, sehingga ia membunuh Linda. Ini sulit dipercaya  oleh Brenda,  juga  oleh  banyak orang yang  mengenal  Cinnamon.  Kata Brown,  belakangan  Cinnamon menjadi sangat  murung.  Kemurungan, itulah  yang  selalu dikatakan Brown sebagai  penyebab  timbulnya tindakan jahat Cinnamon. Ia minta agar Brenda mengatakan hal  itu juga  kepada polisi. Tentu saja Brenda keberatan. “Aku cuma  akan mengatakan  segala yang kuketahui tentang Cinnamon,” kata  Brenda kepada mantan suaminya itu.

McLean juga kemudian menemui Brenda pada hari Selasa. Dua hari  sebelum kejadian, kata Brenda kepada sang detektif,  Cinnamon mengatakan  ingin  tinggal lagi bersama ibunya.  Itu  mengejutkan Brenda, namun tentu saja peristiwa pembunuhan itu jauh lebih  mengejutkan. Aneh, katanya, karena setahunya Cinnamon dapat bergaul baik dengan Linda, meski tidak cocok dengan Patti. Mereka  sering bertengkar, dan Cinnamon sering mengeluh bahwa dirinya merasa seperti pembantu di rumah ayahnya, karena ia harus melakukan pekerjaan lebih banyak daripada Patti. Cinnamon memilih tinggal  dalam trailer bukan saja karena Linda, tapi juga karena ingin berjauhan dengan  Patti. Setahu Brenda, Cinnamon bukan gadis yang  menyukai obat  bius, bahkan ia selalu menasihati para pemakai  obat  bius.

Selain  itu, ada lagi hal penting yang disampaikan Brenda  kepada detektif McLean. Yaitu bahwa beberapa bulan sebelum kejadian Cinnamon bercerita padanya bahwa ia mendengar Linda berbicara dengan saudara  kembarnya, Alan Bailey, tentang bagaimana cara  menyingkirkan Dave (David Brown).

McLean jadi semakin bingung. Soalnya keterangan Patti, Brown, dan Cinnamon satu sama lain saling bertentangan. Patti, misalnya, mengatakan bahwa sebelum penembakan itu Cinnamon masuk ke  kamarnya,  dan menanyakan cara menggunakan pistol yang dibawanya.  Sementara Brown mengatakan bahwa sepulangnya dari berjalan-jalan ia tidak  mengetuk pintu sebelum masuk rumah, tapi Patti  mengatakan ia  mengetuk pintu. Ketika McLean bertanya kepada  mereka,  Patti menangis  histeris, Brown nampak tergoncang,  sementara  Cinnamon seperti orang mabuk obat bius.

Ingatan adalah sesuatu yang rumit, dan dalam situasi  seperti sekarang  keadaannya bisa lebih rumit dari biasa.  Ketika  McLean meninggalkan rumah Brenda, ia merasa dirinya ada di tengah situasi  ganjil. Ia merasa bahwa peristiwa pembunuhan itu sudah  terusut, namun ia juga merasa bahwa ia belum tahu apa-apa tentang kejadian itu, terutama tentang pembunuhnya. Satu-satunya  tersangka telah mengaku berulang-ulang. Itu seharusnya membuatnya lega. Namun  gadis remaja itu bagi McLean sama sekali  tidak  mengesankan sebagai pembunuh.

Tiba  di kantornya, McLean menemukan hal-hal lain  lagi  yang makin membuatnya penasaran. Joe Luckey yang melakukan pemeriksaan atas jenazah Linda menyimpulkan bahwa wanita itu ditembak dua kali dari jarak antara tiga sampai enam inci, dan dari jara  antara dua belas sampai delapan belas inci. Dalam darahnya ditemukan sedikit kokain. Para pemeriksa di laboratorium juga telah  mengetahui bahwa Cinnamon menelan tiga botol Darvocet, yang bisa mengancam jiwanya.

Hari  selasa pagi, McLean sibuk lagi memeriksa Cinnamon,  sementara  para  petugas lain melakukan  peckerjaan-pekerjaan  lain yang berhubungan dengan kasus itu, di antaranya ada yang  melakukan pemeriksaan di rumah Brown.

Pagi  hari tanggal 19 Maret, McLean bertemu  dengan  saudarasaudara  Patti, antara lain Cheri. Ia tidak berhasil  mendapatkan banyak  informasi, namun ia jadi tahu bahwa keluarga Linda  tidak

menyukai  Brown, dan bahwa Brown menikahi Linda dua  kali.  Brown seorang pemurung dan senang menyendiri. Ia selalu memaksakan  kehendaknya,  terutama pada istrinya. Cheri, kakak perempuan  Linda tertua,  mengatakan bahwa beberapa jam sebelum  pembunuhan  Linda meneleponnya sambil menangis. Linda mengatakan bahwa ia akan pergi  ke Riverside besok, dan Cheri yakin bahwa adiknya itu  mempunyai rencana untuk meninggalkan suaminya.

“Kalau begitu, mungkinkah Brown yang membunuh Linda, dan  bukan Cinnamon?” tanya McLean.

“Saya benci untuk mengatakannya,” jawab Cheri, “tapi  rasanya ya.”

Rick Bailey, seorang kakak lelaki Linda, bahkan berbicara lebih tegas dari Cheri ketika ia datang ke kantor polisi siang itu. “David Brown itu orang sinting. Ia takut pada bayangannya  sendiri. Kelakuannya sering tidak masuk akal,” katanya.

Mary, istri Rick yang juga hadir di kantor polisi, mengatakan bahwa tindakan ganjil Brown antara lain berupa kepergiannya  dari rumah pukul tiga dini hari itu, dan bahwa Cinnamon baru-baru  ini

saja tinggal dalam trailer. Menurut Mary, Cinnamon justru sengaja disuruh ayahnya untuk tinggal di trailer supaya ia tidak mengetahui  segala yang terjadi di rumah. Sementara Patti  disebut  Mary

sebagai orang taklukan Brown, yang siap melakukan apa saja  untuk lelaki  itu.  Mary juga mengatakan bahwa kira-kira  setahun  lalu Patti  pernah berusaha diri dengan cara meminum banyak  pil,  dan penyebabnya jelas karena pertentangannya dengan Brown.

Jelas,  selain  Cinnamon yang dikatakan dan  mengaku  sebagai pembunuh,  polisi juga patut mencurigai Brown dan Patti, dan  lebih-lebih Patti yang waktu itu ada di rumah.

Ketika memeriksa tangan mereka untuk pengambilan sidik  jari, polisi  dibuat heran karena ternyata pada tangan Brown dan  Patti mereka menemukan residu tembakan, sebaliknya tangan Cinnamon justru  bersih. Barangkali tangan Cinnamon sudah bersih dari  residu tembakan  karena air seni anjing, tapi mengapa justru residu  itu terdapat pada tangan Brown dan Patti? Selain itu, pemeriksaan mayat Linda juga tidak membuktikan adanya sperma pada tubuh  Linda, padahal  Brown mengatakan bahwa malam itu ia sempat bercinta  dengan istrinya.

Tiga  hari setelah peristiwia pembunuhan, suatu  acara  untuk mengenang Linda diadakan di Mettler Chapel, Garden Grove.  Sehari sebelumnya Brown dan Patti pergi ke sebuah toko untuk membeli pakaian  penguburan. Setelah mereka menemukan pakaian  yang  cocok, Brown  meminta Patti untuk mencobanya, untuk mengetahui pas  atau tidaknya bagi Linda. Patti menolak, karena tidak enak  mengenakan pakaian yang nanti akan pada dikenakan orang mati. Brown  membeli baju  itu, yang kemudian dipakaikan pada tubuh Linda, oleh  orang lain.

Brown menyewa mobil limousine yang dinaikinya bersama  Patti. Ia  juga membayar seorang pendeta untuk berpidato di  depan  peti mati.

Kepala Linda diletakkan di atas bantal berwarna anggur. Setiap tamu diberi setangkai mawar merah untuk diletakkan di atas tubuh  wanita itu sambil mereka berjalan melalui peti mati  sebagai

permulaan  upacara. Ketika menunggu giliran untuk meletakkan  bunga,  Patti terjatuh dan hampir pingsan. Brown  menjauhkan  Patti dari  mayat kakaknya, lalu diajaknya berkeliling sebentar  dengan limousine  sewaannya, memberinya obat penenang, sementara  orang-orang  di  gereja semua menanti mereka kembali.  Setelah  upacara perkabungan  itu selesai, Brown meminta ruangan dikosongkan,  sehingga ia bersama Krystal bisa tinggal beberapa menit di situ.

Dalam upacara itu keluarga dekat Linda tidiak ditempatkan  di dekat mayat mendiang tapi di tepi ruangan bertirai, sehingga  mereka tidak terlihat oleh para tamu. Upacara berjalan mulus,  sampai kemudian pendeta yang berpidato menyebutkan bahwa  perkawinan antara Brown dan Linda memang agak ‘bergelombang’. Satu kata  ini sudah  cukup untuk menimbulkan sambutan riuh dari orang-orang  di balik tirai. Brown memberi isyarat agar sang pendeta menghentikan pidatonya dan kembali ke tempat duduk. Sang pendeta mengikuti perintah itu dengan sikap yang nampak sangat malu. Kemudian, selama beberapa  menit ia berbicara dengan Brown di balik sebuah  tirai. Ketika ia muncul kembali, ia meminta maaf kepada para tamu karena katanya tadi ia keseleo lidah. Ia meralat ucapannya dengan mengatakan bahwa perkawinan Brown dan Linda berjalan hampir sempurna.

tubuh Linda dikremasi, dan abunya kemudian ditempatkan di pemakaman mahal bergaya spanyol di Paciifik View Memorial Park yang terletak  di sebuah bukit di atas Newport Beach. Udara di  tempat ini bersih. Dari sini pandangan mata bisa langsung ditebarkan  ke Lautan  Pasifik dan ke Fashion Island, sebuah pusat  perbelanjaan yang menjadi lambang kemakmuran daerah ini. Abu jasad Linda diletakkan  di  sebuah tempat yang berdekatan dengan  peti-peti  mati terbuat dari marmer.

Pemakaman  itu terpelihara baik. Orang-orang yang  berkunjung ke  situ selalu bermobil Cadillac dan Mercedes. Di masa  hidupnya Linda mungkin tidak pernah membayangkan untuk dimakamkan di situ. Masa remajanya dilaluinya dengan penuh kesulitan sebagai anak  orang  miskin. Ia tak pernah menamatkan SMA. Sebelum  terbunuh  ia berencana untuk mendapatkan ijazah SMA dengan cara mengikuti  pelajaran privat.

***

Comments
2 Responses to “Pengorbanan Seorang Anak”
  1. Fabre says:

    Great write-up, I am a big believer in leaving comments on websites to help the blog writers know that they’ve added something advantageous to the world wide web!

  2. Marechal says:

    Many thanks for sharing this first-class piece. Very interesting ideas! (as always, btw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: