Orang Terhormat

“Saya adalah manusia terhormat!” kata Abah, seorang kiai pesantren.

Para santrinya diam. Tak berani membantah, bahkan tidak berani bertanya.

“Tahu sebabnya kenapa saya berkata begitu?” kata si Abah pula.

“Tentu saja kami tahu,” seorang santri memberanikan diri.

“O ya? Apa?” sergah si Abah.

“Karena Abah pemilik pesantren, guru agama yang berilmu sangat tinggi, dan …”

“Salah!” potong si Abah. “Saya tidak pernah mengajar kalian supaya menyanjung-nyanjung saya seperti itu kan?”

Para santrinya terdiam lagi.

“Itu pe-er buat kalian,” kata si Abah kemudian. “Malam ini kalian boleh begadang untuk menemukan jawaban yang benar. Besok pagi, selesai shalat subuh, jawaban yang jitu sudah harus ditemukan.”

Si Abah pergi. Para santri termangu-mangu, saling pandang, kemudian bubar sambil berpikir dan saling tanya.

Esok paginya, setelah shalat dan memberikan kuliah subuh, si Abah bertanya, “Bagaimana? Sudah ditemukan jawaban untuk pertanyaan Abah kemarin?”

Satu demi satu puluhan santri mengajukan jawaban. Tak ada satu pun jawaban yang benar. Akhirnya si Abah berdiri, seperti hendak meninggalkan mereka. Tapi kemudian ia berbalik. “Jawaban untuk pertanyaan itu sebenarnya mudah sekali. Tapi mungkin kalian terlalu serius dan tegang, sehingga sulit menemukan jawaban yang sebenarnya sederhana dan sering kita temukan.”

Para santri menunggu dengan penasaran.

“Kalian, selama belajar di pesantren ini, pasti sering menerima surat ‘kan?”

Semua santri mengiyakan.

“Nah!” kata si Abah. “Saya juga sering menerima surat. Surat-surat itulah yang meyakinkan kepada saya bahwa saya adalah orang terhormat!” sambungnya sambil berjalan keluar.

Para santri bingung. Tapi kali ini di antara mereka ada yang berani mengejar si Abah untuk minta penjelasan.

“Dasar bodoh!” kata si Abah kepada si santri yang mengejarnya. “Bukankah setiap surat itu selalu dimulai dengan kata-kata kepada yang terhormat? Itulah yang meyakinkan bahwa saya adalah orang terhormat!”

Si santri terpaku beberapa saat. Setelah itu ia tertawa. Seolah baru sadar bahwa kiainya suka bercanda.

Comments
2 Responses to “Orang Terhormat”
  1. Ahmad Haes says:

    Sssst! Ini rahasia kita berdua. Jangan ssebar luaskan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: